
Hanya hembusan angin yang terdengar di antara keheningan yang tengah melanda First dan Win. First memperhatikan Win yang tampak gugup.
"Win! Kau dengar?!"
"Oh aku hanya penasaran siapa yang dibawa mereka pada malam itu. Bagaimana? Kau sudah menemui ayahmu?" First menatapnya curiga. Ia penasaran dengan tingkah Win yang menurutnya sedikit berbeda. Namun, untuk sekarang ia akan membiarkannya karena suasana hatinya sedang kurang baik sekarang.
"Tidak. Aku tidak akan menemuinya, kau pikir aku harus mengatakan apalagi jika yang dia harapkan hanya pedang suci itu. Ayo kembali aku sudah membawa beberapa buku dari perpustakaan" Win pun mengangguk dan pergi mengikuti First, sesekali ia melirik ke belakang. Ia penasaran apa yang terjadi pada malam itu dan dimana para pemburu lainnya.
...****************...
Sementara itu, di klan Nattawin. Pete beristirahat setelah selesai dengan pekerjaannya untuk melatih para vampir liar yang tertangkap. Dari kejauhan Apo mendekatinya, yang langsung diberi hormat oleh Pete.
"Dia masih belum keluar?" Tanya Apo.
"Belum. Aku rasa dia terlalu memaksakan diri, jika aku tidak mengantarkan darah untuknya, dia tidak akan minum darahnya" Apo melihat ke ruang latihan Gulf.
"Baguslah. Dia akan menguasainya dengan cepat"
Boom!!!
Ruangan tempat Gulf berlatih meledak membuat semua orang terkejut begitu pun Pete yang langsung menghampiri Gulf untuk memeriksa keadaannya.
Apo melihat Gulf dengan sedikit aura liarnya namun masih bisa ia kendalikan. Ia tidak menyangka Gulf akan belajar dengan cepat.
"Baguslah. Kau berlatih dengan baik" Gulf menatapnya.
"Sebaiknya kau istirahat dulu. Pete bawa dia" Ucap Apo berbalik.
"Tidak!" Tolak Gulf menghentikan Apo, ia pun melepaskan tangan Pete.
"Yang mulia. Walaupun kita seorang vampir, tapi jika terlalu memaksakan diri. Kau bisa saja kehilangan kendali lagi" Apo kembali berbalik menghadap Gulf.
"Dia benar. Jika kau kehilangan kendalimu, kau bisa membunuh kekasihmu itu"
"Dia bukan kekasihku!"
"Ya ya terserah. Sekarang kau menghancurkan tempat tinggalmu. Pete antar dia ke kamar dekat danau" Ucap Apo meninggalkannya. Pete sangat terkejut, ia pernah membuat kesalahan karena tidak sengaja masuk ke dalam kamar itu dan sekarang malah di suruh masuk dengan sengaja. Padahal dulu Apo pemimpinnya itu tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk mendatangi kamar itu. Gulf melihatnya sedikit khawatir.
Apa aku akan dipindahkan ke tempat yang mengerikan?
Pete mengantar Gulf ke kamar barunya. Perhatian Gulf langsung tertuju pada gambar seorang wanita yang sangat ia rindukan.
"Ini..."
"Ya ini kamar nona Min. Ibumu" Gulf menyentuh gambar itu, ibunya begitu cantik dan ia sangat merindukannya sekarang. Seakan mendapat semangat yang entah berasal dari mana, ia yang tadinya merasa lelah kini sudah tidak merasakannya lagi.
"Pete bagaimana menurutmu? Apa aku sudah cukup kuat?"
"Ya. Kau memang mirip dengan nona Min"
"Ibuku?"
"Iya sang ratu. Dia seorang vampir yang sangat kuat"
"Kau mengenalnya?"
"Tidak. Aku hanya mendengar cerita dari para senior" Gulf hanya mengangguk.
"Pete bisakah kau memberitahuku jalan keluar dari sini?" Ia masih terpikirkan Mew yang tidak ada kabar sama sekali.
"Kenapa? Kau ingin pergi lagi? Jika tuan Apo tahu, dia pasti akan memarahimu lagi"
"Aku hanya khawatir terjadi sesuatu padanya. Dia bilang akan sering datang kesini, tapi sampai sekarang sekalipun dia tidak datang"
"Mungkin dia sibuk. Belum sempat datang"
"Tapi dia tidak pernah mengingkari janjinya. Sesibuk apa pun dia, dia pasti akan menepati janjinya"
"Baiklah baiklah. Bagaimana jika besok aku yang pergi. Kau tetap disini"
"Kau bisa?"
"Ya tentu" Gulf sudah menunggu Mew terlalu lama. Ia tahu Mew tidak mungkin tidak mengunjunginya dalam waktu yang lama, kecuali ia memiliki kesulitan.
...****************...
Win mengerjakan tugasnya dengan fokus, sedangkan di sisi lain First menatapnya. Ia sedang berpikir sekarang, merasa sikap Win berbeda akhir-akhir ini. Win merenggangkan tangannya setelah selesai menulis dan melihat First yang tengah menatapnya.
"Ada apa?"
"Aku hanya penasaran. Akhir-akhir ini kau bersikap aneh" Win sedikit menegang mendengarnya.
"Aneh bagaimana? Aku masih sama seperti sebelumnya"
"Kau biasanya tidak tertarik dengan urusan istana, tapi sekarang bahkan kau melihat orang yang di tahan di bawah tanah. Kau mengenalnya?"
"Sudah kubilang aku hanya penasaran. Kau terlalu banyak berpikir" Ucap Win membereskan buku-bukunya.
"Tidak hanya itu. Aku juga berpikir jika kau yang membebaskan jenderal Bright" Win berhenti, ia kira First tidak akan terpikir sampai kesana.
"Dia kabur tepat setelah kita berkunjung kesana dan saat itu kau terlambat keluar. Apa yang kalian bicarakan?" Win masih terdiam. Apa yang harus dia bicarakan sekarang.
"Aku tersesat karena kau meninggalkanku saat itu. Mana mungkin aku membebaskannya"
"Oh ayolah Win. Jalan menuju penjara itu hanya satu jalur, mana mungkin tersesat. Kau pikir aku bodoh?" Ucap First sedikit keras.
...****************...
Pagi sekali Pete keluar dari wilayah klannya untuk memenuhi janji yang ia buat. Ia harus melihat kondisi di istana sekarang. Namun langkahnya terhenti, ia mencium seorang vampir di dekatnya. Ia pun mengedarkan pandangannya mencari ke seluruh pepohonan. Namun tak lama kemudian, seseorang mencengkram bahunya yang membuatnya terkejut dan langsung menjauh melepaskan cengkramannya.
"Siapa kau?" Tanya pete menodongkan pedangnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku" Ucap Kao langsung menyerangnya. Dengan sigap Pete menahannya. Keduanya bertarung dengan sengit.
"Kau anak buah Nick?" Tanya Pete, namun tidak ada jawaban. Kao terus menyerangnya yang membuatnya muak. Ia tidak bisa membuang-buang waktunya sekarang. Pete pun memasukan kekuatannya ke dalam pedangnya dan dengan cepat menyerang Kao. Walaupun masih bisa menahannya, sangat terlihat Kao begitu kewalahan menangani Pete. Hingga Pete mengeluarkan pedang-pedang kecilnya yang langsung menyerang Kao. Semua pedang kecil itu menancap di punggung Kao. Pete siap untuk melenyapkannya, namun dengan sisa kekuatannya Kao pun pergi dengan cepat.
"Benar-benar merepotkan!" Gumamnya. Ia akan melaporkannya setelah kembali dari kota. Pete melanjutkan perjalanannya.
...****************...
Pete sampai di tengah kota, ia merasa suasananya sedikit berbeda dari sebelumnya. Pete menatap ke arah istana, ia bisa mencium bau vampir yang cukup pekat disana.
Pete sudah menghilangkan keberadaannya, namun yang ia lihat tidak hanya manusia yang menjaga istana ternyata banyak juga dari mereka yang merupakan seorang vampir.
"Apa Nick berniat mengambil alih istana?" Gumamnya. Ia ingin masuk tapi jika ada vampir lain akan sulit untuknya masuk sekarang. Ia pun pergi kembali ke kota, setelah ia memeriksa sekeliling istana yang tidak menemukan apapun.
"Dimana sebenarnya tuan pemburu itu? Apa dia ada di mansionnya? Aku tidak mungkin pergi kesana kan? Ah itu terlalu menakutkan" Gumamnya. Ia melihat pak tua yang ia kenal karena dulu pernah bekerja dengannya.
"Paman" Panggilnya. Pak tua yang tengah membereskan tokonya pun menoleh.
"Ah Pete. Darimana saja kau?"
"Maaf aku pergi begitu saja tanpa memberikan kabar. Ada urusan mendesak di tempat tinggalku jadi aku harus segera kesana"
"Syukurlah kau terlihat sangat baik sekarang" Pete tersenyum.
"Paman bagaimana kabarmu? Kau tidak merindukanku?" Tanya Pete sembari membantu membereskan dagangannya.
"Aku baik seperti biasa. Tentu saja aku merindukanmu, kau menghilang selama beberapa hari" Pete tentu saja senang mendengarnya, hingga ia merasakan sebuah benda yang runcing menyentuh pinggangnya yang membuatnya terkejut. Kini ada seseorang dibelakangnya.
"Oh tuan ada yang bisa saya bantu?" Tanya pak tua itu.
"Ikut aku dan jangan memberontak" Bisik orang itu pada Pete yang menegang. Pete melihat pak tua itu, ia belum tahu siapa yang sekarang ada di belakangnya, namun dengan benda tajam yang siap membunuhnya itu, tidak mungkin ia membiarkan pak tua itu melihatnya.
"Paman, dia temanku. Ada yang harus kami bicarakan sebentar" Ucap Pete sedikit gemetar. Orang itu pun langsung menyeret Pete keluar.
Pete terus dipaksa berjalan menuju tempat yang sepi. Ia tidak bisa melawan saat kini banyak orang disekitarnya.
"Siapa kau? Lepaskan aku!" Ucap Pete.
"Diam! Apa yang kau rencanakan? Kau berniat membunuh pak tua itu?"
"Tunggu! Aku mengenalnya. Tidak mungkin aku membunuhnya"
"Percuma kau berbohong! Sebentar lagi kau akan mati. Dasar vampir menjijikan"
"Kau seorang pemburu?"
"Apa itu penting sekarang?" Tanya Boat melempar Pete setelah keduanya sampai di tempat yang sepi. Boat bersiap untuk membunuh Pete dengan belatinya. Pete yang panik pun mundur, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
"Tunggu! Tuan! Jangan bunuh aku! Aku mengenal tuan Mew. Kau seorang pemburu pasti mengenalnya juga kan?" Boat berhenti, kini ia dengan jelas melihat wajah Pete, begitu pun Pete yang melihat Boat.
"Kau... Vampir dari klan itu kan?"
"Kau pemburu yang bersama tuan Mew. Akhirnya kau mengingatku" Ucap Pete bersyukur, akhirnya ia bisa terbebas dari kematian.
"Kenapa kau ada disini?"
"Yang mulia memintaku untuk melihat kondisi istananya. Dan juga dia sangat mengkhawatirkan tuan Mew. Padahal aku sudah bilang dia pasti baik-baik saja" Boat terdiam.
"Dimana tuan Mew sekarang?" Tanya Pete penasaran.
"Ritual kami untuk membunuh para vampir di istana gagal. Kao, vampir yang selalu disamping Nick menghancurkan formasinya. Sehingga kita semua kehilangan seorang pemburu dan juga p'Mew aku tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang. Mereka menahannya"
"Itu gawat! Di istana penuh dengan para vampir, sangat berbahaya untuknya dan pasti akan sulit untuk bertahan. Apa yang akan aku katakan nanti pada yang mulia?" Pete tidak berani membayangkan bagaimana kondisi Mew di tengah para vampir sekarang. Entah ia masih hidup atau sudah mati. Juga memikirkan Gulf saat ia mendengar berita ini, pasti akan membuat keributan lagi di klannya.
"Kau tenang saja, aku rasa p'Mew baik-baik saja sekarang. Sebenarnya saat itu dia hampir terbunuh, tapi ada sesuatu yang melindunginya. Kulihat sebuah kalung yang dipakainya bersinar dan itu membuat sebuah pelindung yang mengelilinginya. Selain itu, saat Nick menyentuh pelindung itu tangannya langsung hancur. Jadi aku rasa dia baik-baik saja sekarang selama dia masih memiliki pelindung itu" Pete lega mendengarnya, namun masih ada rasa kekhawatiran karena ia belum melihatnya langsung.
"Bagaimana kondisi yang mulia Gulf sekarang?"
"Dia baik. Semakin baik dan sekarang ia berlatih setiap hari" Boat hanya mengangguk.
"Lalu dimana para pemburu sekarang?"
"Kami bersembunyi di pegunungan. Aku datang kesini untuk membeli makanan dan beberapa obat-obatan"
...****************...
Kao sedikit ragu untuk masuk ke ruangan Nick. Namun, tak lama kemudian pintu itu terbuka membuatnya terkejut.
"Mau sampai kapan kau berdiri disitu? Kenapa kau ada disini?" Tanya Nick. Kao langsung berlutut.
"Maaf tuan. Aku ingin melaporkan jika sudah dipastikan itu adalah gerbang menuju klan Nattawin. Aku bertemu dengan salah satu anggota klannya. Tapi... Dia cukup kuat jadi aku-"
Brukk!!
Sebelum Kao menyelesaikan penjelasannya, ia sudah terlempar jauh karena Nick menendangnya.
"Apa gunanya kau melaporkan ini?! Dasar tidak berguna! Tangkap dia! Buat dia jadi sandera untuk membuat klan Nattawin keluar!" Kao pun buru-buru pergi dari hadapan Nick. Sementara Nick masuk kembali ke ruangannya, meminum darahnya dengan rakus namun langsung melempar gelasnya hingga pecah. Ia menatap foto Gulf yang ada di ruangannya.