KING GULF

KING GULF
Chapter 36



Seseorang menepuk pundak Gulf dari belakang cukup membuatnya terkejut hingga hampir menyerangnya.


"Kenapa kau begitu terkejut?"


"Kau menghilang, ku kira kau diserang vampir"


"Aku hanya mandi. Tubuhku begitu lengket tadi. Ada apa?"


"Tidak. Kau baik-baik saja?"


"Ya setelah istirahat tubuhku kembali berenergi"


"Baguslah. Ada yang ingin aku tanyakan"


Keduanya duduk saling berhadapan, Mew melihat Gulf yang tampak serius.


"Kau ingin tahu tentang kerajaanmu?" Gulf mengangguk, banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan hingga ia bingung harus menanyakan yang mana dulu.


"Yang mulia Up berhasil mengusir Weir dan mengembalikan semuanya seperti semula. Tapi, saat ini aku tidak tahu Nick dimana. P'Mile mencoba mencari tahu di kediaman Weir, tapi mereka sama sekali tidak menemukan jejak para vampir itu. Menurutmu kemana mereka pergi? Apa karena Weir sudah di usir dari istana, Nick memilih untuk pergi?"


"Entah pergi kemana, tapi aku yakin dia akan kembali. Dia masih menyimpan orang-orangnya disini"


"Oh ya dan juga yang mulia Up memasukan Weir ke dalam penjara dengan tuduhan penculikan dan pembunuhan juga tanpa seizinmu dia membuat pengumuman dengan cap resmi istana"


"Apa?! Dia hanya di masukan ke penjara? Bisa saja dia kabur lagi. Banyak orang yang menjadi bawahannya di istana"


"Yah aku tidak tahu karena Bright yang mengurusnya saat ini" Gulf terdiam berpikir. Keinginannya untuk segera keluar dari sini semakin besar. Ia ingin menghukum orang-orang yang membuat kekacauan di kerajaannya. Memikirkan hukuman yang akan ia berikan, memberinya sebuah perasaan senang di hatinya. Selalu ada kepuasan sendiri saat Gulf memberi orang-orang itu hukuman.


"Saat aku kembali nanti. Perintah pertama yang akan aku layangkan adalah memenggal kepalanya. Tidak, bukankah itu terlalu mudah? Bagaimana jika menyiksanya secara perlahan? Seperti para korban itu, aku akan memeras darahnya. Bagaimana menurutmu?" Raut wajah Gulf seketika berubah saat memikirkan hukuman yang pantas untuk Weir dan orang-orangnya. Mew menatapnya, wajah yang mengerikan itu muncul pada seseorang yang ia cintai. Mew menangkup wajah Gulf menghentikan pikiran Gulf dan membuatnya bingung dengan tindakan Mew.


"Apa menyenangkan memikirkan hukuman untuk seseorang?"


"Apa maksudmu?" Gulf sedikit tidak suka dengan pertanyaan yang diberikan Mew padanya.


"Sikapmu langsung berubah saat memikirkan tentangnya. Menjadi seseorang yang tidak aku kenali" Gulf tertawa mendengar kalimat Mew.


"Kau takut padaku?" Gulf melepaskan tangan Mew yang menyentuh pipinya.


"Sudah sewajarnya ia mendapat siksaan yang lebih menyakitkan daripada korban-korban yang ia tangkap. Kenapa? Kau berpikir aku lebih kejam daripada dia? Itu benar. Untuk memenangkan sebuah pertarungan kau harus lebih kejam dari musuhmu. Apa kau selalu bersikap lunak pada musuhmu?" Entah kenapa Gulf menjadi emosi sedikit kesal dan marah ketika membahas tentang Weir.


"Gulf ada apa denganmu? Pikirkan rakyatmu. Apa yang akan mereka pikirkan tentang kau yang menyiksa Weir? Kau tahu sendiri jika dia sangat dihormati oleh rakyatmu"


"Aku tahu! Kau tidak perlu mengajarkanku! Beginilah aku memberi hukuman pada orang yang bersalah. Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan, yang penting aku melakukan tugasku sebagai raja. Lagipula ini semua untuk mereka"


"Itu yang harus kau perbaiki! Kau ingin orang-orang percaya padamu tapi kau bahkan tidak memberitahu alasan kau menghukum mereka yang bersalah. Itu akan memberikan pemikiran jelek terhadapmu" Gulf meraih kerah baju Mew mencengkramnya kuat hingga ia terdorong. Rasanya Mew sedikit kesulitan untuk bernafas saat ini.


"Cukup!! Aku tahu! Kau tidak perlu mengingatkanku! Dengar, semua orang sudah menyebutku sebagai raja yang kejam. Penjelasan pun tidak ada gunanya, karena aku bahkan membunuh ayahku di hadapan mereka. Dan kau berharap aku menjelaskan setiap tindakan yang aku ambil?! Mereka tidak akan percaya! Mereka telah melihat kekejamanku!" Gulf menatapnya. Mew bisa melihat tatapan menyakitkan yang di pancarkan mata Gulf.


Cklek..


"Hah mengesalkan, butuh banyak waktu untuk meyakinkan mereka" Pete masuk ke kamar Gulf tanpa permisi ataupun mengetuk pintu cukup membuatnya terkejut dengan pemandangan dihadapannya.


Dari sudut pandang Pete terlihat Gulf yang seperti menindih tubuh Mew. Gulf tidak berniat untuk mengubah posisinya. Mew sedikit mendorong Gulf ketika menyadari Pete datang. Pete bisa merasakan kondisi yang sangat canggung saat ini. Karena sehabis berdebat dengan orang-orang di dapur, ia sampai lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ah maaf aku mengganggu kalian. Aku hanya ingin mengantar ini" Pete dengan buru-buru menyimpan nampan berisi makanan dan segera pergi setelah memberi hormat. Gulf masih menatap Mew marah. Namun melihat wajah Mew yang sedikit pucat, ia menghela nafasnya menenangkan dirinya dan melepaskan Mew.


"Ayo makan. Tenang saja ini makanan manusia" Gulf mencoba menghilangkan suasana canggungnya. Mew hanya mengikutinya melihat Gulf yang terdiam memakan makanannya.


...****************...


Bright meminum tehnya setelah mendengar Win yang bercerita tentang First. Ia kini mengerti tentang First. First yang tidak tahu masalahnya hanya berada di posisi yang sulit untuknya. Ayahnya selama ini hanya menyuruh ini dan itu tanpa First tahu yang sebenarnya untuk apa ia melakukan perintah itu.


"Jadi sekarang dia pergi kemana?"


"Aku tidak tahu. Yang pasti aku rasa dia tidak akan membuat masalah" Bright mengangguk. Mungkin ia harus membiarkannya untuk melihat sendiri kondisi sebenarnya yang dialami kerajaannya.


"Soal vampir itu. Kemana mereka? Sekarang tuan Weir ada dipenjara, lalu bagaimana vampir-vampirnya?"


"Aku tidak tahu. Tuan Mile mengatakan jika tidak ada jejak keberadaan mereka di rumah Weir. Jadi aku rasa mereka sudah pergi dari sisinya"


"Lalu dimana tuan Mew? Bagaimana kondisinya?"


"Dia mengunjungi yang mulia. Terakhir aku lihat kondisinya masih lemah, tapi ia bersikeras untuk menemui yang mulia"


"Huh kapan dia mengajakku ke mansion para pemburu lagi?"


"Untuk apa kau kesana?"


"Karena aku ingin menjadi seorang pemburu" Ucapnya dengan semangat.


"Aku sangat ingin berhadapan langsung melawan para vampir" Bright menatapnya. Win memiliki ambisi sendiri, semua orang tahu jika dia tidak pernah tertarik dengan urusan istana. Tapi saat membahas tentang vampir, Win begitu bersemangat.


"Kenapa kau tidak langsung kesana sendirian?"


"Oh soal itu.... Kudengar terlalu berbahaya seorang manusia datang kesana sendiri"


"Kau takut?"


"Tidak! Hanya saja..." Bright menahan tawanya melihat sikap Win saat ini.


"Yah kudengar dihutan sering kali muncul vampir-vampir liar"


...****************...


Mew bersiap untuk kembali. Ia masih merindukan Gulf, setelah makan siang tadi tidak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Gulf langsung pergi untuk berlatih meninggalkannya sendiri di kamar. Bahkan saat ia akan kembali pun dia belum melihat Gulf.


Pete mengantar kepergian Mew.


"Kau yakin tidak ingin melihatnya?" Mew ragu, ia ingin tapi mungkin saja Gulf tidak ingin menemuinya.


"Aku..."


"Kau tidak akan berpamitan padaku?" Suara yang diharapkan pun ia dengar. Mew berbalik dan melihat Gulf yang kini tengah menatapnya.


"Gulf. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu"


"Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku" Pete menatap keduanya bergantian. Ia tidak mengerti apa yang sedang keduanya bahas. Ia juga penasaran apa yang menyinggung Gulf, padahal yang ia lihat tadi bukankah mereka sedang melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pasangan?


Mew tersenyum. Lega rasanya bisa kembali berbaikan, kini ia bisa pergi dengan tenang.


"Aku pasti akan mengunjungimu lagi nanti" Gulf mendekatinya menepuk pundaknya.


"Ya. Aku juga masih membutuhkanmu sebagai seseorang yang menyampaikan informasi di kerajaanku" Mew hanya tertawa.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu. Apa itu?" Gulf menjadi sangat serius sekarang.


"Apa kau tahu siapa yang menyimpan pedangku saat aku tidak ada?"


"Pedangmu aman di mansion pemburu. Aku menitipkannya pada P'Mile"


"P'Mile?"


"Ya. Kenapa?" Gulf tampak berpikir. Selama ini Mile baik padanya dan sangat membantu kerajaannya. Tidak mungkin dia yang mengubah pedangnya. Apa ada orang lain?


"Siapa saja yang mengetahuinya?"


"Hanya aku P'Mile dan dokter Louis"


"Ada apa?"


"Tidak. Aku hanya bertanya. Kau bisa pergi sekarang. Sampaikan salamku pada P'Mile" Walaupun mengatakan seperti itu dengan senyumannya, tapi Mew dapat melihat raut wajah Gulf yang tampak berpikir keras. Mew tidak bisa berlama-lama lagi, Pete mengantar ia keluar. Pikirannya masih tertuju dengan pertanyaan Gulf tadi. Apa ada masalah?


...****************...


Perth memberi sebuah surat pada Up yang langsung dibacanya.


"Baguslah, para pemburu sudah berangkat menuju kerajaan kita"


"Yang mulia, kapan yang mulia Gulf akan kembali?"


"Kenapa? Kau mulai bosan ada disini?"


"Tidak. Hanya saja aku khawatir dengan kerajaan kita"


"Bersabarlah. Semoga secepatnya Gulf akan kembali"


...****************...


Sesampainya di mansion Mew langsung disambut oleh orang-orang disana. Mereka lega akhirnya bisa bertemu dengan Mew.


"Dimana p'Mile?"


"Oh p'Mile pergi bersama beberapa orang pemburu menuju kerajaan Poompat. Baru tadi pagi mereka berangkat"


"Untuk apa mereka kesana?"


"Aku tidak tahu pasti tapi sedikit yang aku dengar mengenai pelindung yang rusak. Entahlah aku tidak mengerti" Mew sedikit tidak mengerti, namun ia berencana akan pergi ke istana besok untuk bertanya. Tidak biasanya ia tidak diberitahu tentang sesuatu yang sedang dilakukan oleh Mile.


...****************...


Seorang pengawal membawa makanan untuk para tahanan.


"Tuan katakan pada yang mulia raja. Aku rakyat yang setia padanya. Katakan padanya untuk melepaskanku. Aku ditangkap oleh orang itu" Orang itu berusaha menahan pengawal yang memberinya makanan. Weir hanya menatapnya jijik.


"Lepaskan!" Pegangan orang itu begitu kuat tidak ingin melepaskannya.


"Tuan biarkan aku bertemu dengan yang mulia raja"


"Yang mulia belum kembali jadi sebaiknya kau menunggu" Setelah penjelasan itu akhirnya pegangannya melemah. Pengawal itu hanya menatapnya tidak mengerti. Dengan sedikit kasar ia melepaskan tangan orang itu yang kemudian mengantar makanan pada Weir.


"Tuan makananmu. Jika kau butuh sesuatu kau bisa memanggilku" Weir menatapnya. Pengawal itu begitu baik terhadapnya, ia tidak mengenalnya tapi ia yakin jika pengawal itu ada dipihaknya.


"Kau tunggu!" Weir menghentikan pengawal itu yang hendak pergi.


"Siapa yang mengutusmu?" Pengawal itu sedikit melirik orang disebelah penjara Weir.


"Jangan pedulikan dia. Kau bisa bicara" Pengawal itu mendekati sel penjara Weir.


"Maaf jika aku tidak sopan tuan. Aku dikirim kesini oleh tuan Pakorn untuk menjagamu. Dia belum bisa mengeluarkanmu, karena yang mulia raja Up begitu sulit untuk ditemui dan juga ia tidak ingin berbicara dengan siapapun. Tapi tuan Pakorn masih berusaha untuk mengeluarkanmu. Jika usahanya untuk membujuk yang mulia raja Up tidak berhasil, maka aku akan mengeluarkanmu" Weir tertawa. Ia kira semua orang benar-benar meninggalkannya, nyatanya masih ada orang yang berada di pihaknya.