KING GULF

KING GULF
Chapter 28



Up menatap Bright dari kejauhan, ia perkiraan jika ada masalah besar dengan kerajaannya karena Bright datang sendiri. Kini pikirannya tertuju pada Gulf. Apa dia baik-baik saja?


Up segera menghampiri Bright yang langsung berdiri memberinya hormat.


"Setelah sekian lama, aku baru mendengar lagi kerajaan Traipipattanapong disebut. Dan sekarang... Apa ini? Kau datang sendiri? Dimana Gulf?" Bright menyerahkan sebuah surat pada Up.


"Untuk penjelasannya kau bisa membaca surat dari raja kami yang mulia" Up sedikit tidak mengerti, namun ia pun membuka surat dan membacanya.


...****************...


Up menyimpan surat itu di meja dan langsung terdiam, sedangkan Bright menatapnya menunggu jawaban.


"Yang mulia" Panggil Bright.


"Dimana Gulf sekarang?"


"Di tempat yang aman"


"Perth, bawa jenderal Bright ke kamarnya"


"Yang mulia tidak ada waktu. Bagaimana? Kau bisa membantu?"


"Aku harus bicara dulu dengan ayahku. Jadi kau bisa istirahat dulu pasti perjalanan kesini tidaklah mudah" Up langsung pergi meninggalkan Bright.


"Jenderal Bright ayo" Ajak Perth. Bright tidak mengaharapkan ini, ia harus secepatnya membawa Up ke kerajaannya.


...****************...


Up masuk ke dalam kamar ayahnya yang kini masih terbaring di kasurnya.


"Pho bagaimana keadaanmu sekarang?" Ucap Up duduk di pinggir kasurnya.


"Ayahmu ini sudah meminum obat seperti biasa jadi tentu saja sudah lebih baik" Up tersenyum sedikit canggung.


"Ada apa dengan wajahmu? Urusan kerajaan menyulitkanmu?"


"Tidak pho. Hanya saja..." Ayahnya duduk untuk mendengarkan Up.


"Hanya saja apa?"


"Seorang utusan dari kerajaan Traipipattanapong datang kesini" Ayahnya langsung memasang wajah tidak suka.


"Kenapa dia diizinkan masuk? Kita sudah tidak ada hubungan lagi dengan kerajaan itu. Sebaiknya kau usir dia"


"Tapi pho, Gulf sedang dalam bahaya. Kau tahu Weir? Dia dengan seenaknya mengambil posisi Gulf, dan sekarang mereka sedang mencari pedang suci untuk menobatkannya menjadi raja. Kerajaaannya sedang kacau. Bukankah kita harus membantu? Dia keponakanmu"


"Jangan menyebutnya sebagai keponakan. Anak itu membunuh ayahnya sendiri, aku rasa sekarang karma yang datang untuknya. aku tidak menyukainya jadi biarkan saja"


"Aku sudah bersama dengan Gulf sejak kecil. Aku tidak bisa hanya diam saja. Sebaiknya aku kesana"


"Tidak! Kau memiliki kerajaan sendiri. Sekarang kau rajanya jadi kau tidak boleh meninggalkan kerajaanmu"


"Tapi pho..."


"Pergi dari sini dan usir orang itu" Ucap ayahnya. Up tidak bisa berkata lagi, ia pun keluar dari kamar ayahnya.


...****************...


Bright terdiam menunggu Up, hingga pintu ruang itu pun terbuka. Up dan Perth masuk ke dalam.


"Yang mulia, bagaimana? Kau bisa ikut denganku?" Tanya Bright antusias.


"Ayahku tidak mengizinkannya. Kau tahu sendiri sejak kejadian itu, kerajaan kita sedikit tidak akur. Ya walaupun aku tidak ada masalah dengan Gulf, tapi ayahku mungkin masih marah karenanya" Bright seketika terdiam. Ia tidak bisa kembali dengan tangan kosong.


"Lalu bagaimana? Haruskah aku bicara padanya?"


"Tidak. Akan aku coba lagi nanti. Ayahku masih dalam kondisi yang lemah, jadi bisakah kau menunggu?" Bright tentu saja menjadi bingung, ia juga tidak bisa menunggu Weir semakin berani di istana. Tapi jika bukan Gulf, hanya Up yang mungkin bisa menolong.


"Baiklah. Mohon bantuanmu" Ucap Bright. Up dan Perth pun pergi.


...****************...


Kao mengamati Mew yang masih tak sadarkan diri. Dia masih tidak bisa menghancurkan pelindung itu, bahkan dengan kekuatannya pun pelindung itu tidak tergores sedikitpun. Ia sudah mengerahkan vampir-vampir kuat, tapi masih tetap tidak hancur. Nick datang untuk melihat dan Kao pun langsung membungkuk hormat.


"Lupakan saja dia. Sebaiknya kau cari lagi keberadaan Gulf dan temukan pemburu-pemburu itu" Ucap Nick. Kao pun langsung pergi. Nick menatap Mew, mengeluarkan kekuatannya untuk menghancurkan pelindung itu, namun masih tetap tidak berhasil dan hanya membuatnya kesal.


"Setelah mati pun kau masih sangat merepotkan!" Ucap Nick menatap kalung yang melingkar di leher Mew.


...****************...


Win dan First keluar dari gerbang sekolahnya setelah menyelesaikan pelajarannya.


"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" Tanya Win.


"Harusnya aku kembali mencari jenderal itu, tapi aku tidak tahu lagi harus mencarinya kemana" Win hanya mengangguk, langkahnya langsung berhenti setelah First menghalanginya.


"Ada apa?"


"Lihat, itu Kao orang yang selalu ada disamping Nick" Win tampak terkejut melihat Kao yang masih terlihat baik-baik saja. Ia pun langsung terpikirkan Mew, ia belum mendapatkan kabar setelah terakhir mereka bertemu. Win pun kini tampak khawatir.


"Mau kemana dia?" Tanya Win.


"Ayo ikuti dia" Ajak First yang langsung diikuti Win.


First dan Win mengintip dari balik tembok. Keduanya melihat Kao yang tengah menanyai orang-orang dengan kasar. Membuat First tersulut emosi, Win menahan First yang akan menghampiri Kao.


"Jangan atau kau akan dapat masalah, bukankah kau bilang sendiri dia orang kepercayaan Nick"


"Tapi dia menyakiti orang yang tidak bersalah!" Kao pun pergi. Win dan First segera menghampiri orang tua itu.


"Tuan kau tidak apa-apa?" Tanya First membantunya untuk bangun.


"Apa yang terjadi?" Tanya Win.


"Orang itu setiap hari menemuiku dan bertanya tentang raja Gulf"


"Kenapa dia menanyaimu? Kau tahu dimana raja Gulf?"


"Tidak. Aku tidak tahu dimana dia, saat kejadian itu aku memang melihatnya, namun tiba-tiba dia menghilang dari pandanganku. Aku benar-benar tidak tahu"


"Menghilang?" Tanya First. Ia tidak mengerti maksudnya menghilang seperti apa. Sedangkan Win ia tahu pasti vampir yang membawanya.


"Aku harus kembali bekerja. Aku rasa aku tidak bisa bergantung lagi pada kerajaan ini. Hah... Apa aku harus pindah" Gumamnya sembari berjalan sedikit pincang meninggalkan First dan Win.


"Menurutmu apa maksudnya?" Tanya First.


"Aku tidak tahu" Ucap Win.


"Kenapa banyak sekali hal aneh yang terjadi"


"Beberapa hari yang lalu saat malam hari terjadi sesuatu di istana" Win mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Ada apa?"


"Saat itu aku baru kembali dari perpustakaan istana. Aku dengar banyak teriakan di halaman tempat Nick tinggal. Aku pun mencari tahu apa yang terjadi, dan yang kulihat saat itu orang-orang terlihat seperti orang gila mereka tampak kesakitan dan saat itu juga tubuh mereka terpotong-potong dan lenyap begitu saja" Win tampak menyimak, ia berpikir mungkin itu hal yang dilakukan Mew.


"Lalu bagaimana dengan Nick?"


"Aku sempat melihatnya berlari keluar entah ia mau kemana aku tidak bisa mengejarnya. Kemudian aku melihat beberapa prajurit yang mengangkut sesuatu dan membawanya ke penjara bawah tanah"


"Kau lihat apa yang mereka bawa?"


"Tidak jelas, tapi aku rasa aku melihat seseorang"


"Seseorang? Siapa?" Tanya Win semakin antusias.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau sangat bersemangat? Kau tahu sesuatu?" Tanya First curiga.


"Apa maksudmu? Aku hanya penasaran saja" Ucap Win sedikit gugup.


...****************...


Win terbangun dari tidurnya, ia perlahan keluar dari kamar asramanya dengan perlahan. Ia tidak ingin First yang ada disebelah kamarnya mendengar ia pergi.


...****************...


Win memacu kudanya di malam hari, ia masih penasaran dengan jenderal Nodt dan ia pun menuju perbatasan secepatnya.


...****************...


Beberapa penjaga memberi hormat ketika Win sampai, ia pun di bawa menuju ruangan jenderal Nodt.


"Suruh dia pergi!" Ucap Nodt. Win yang mendengarnya, tanpa menunggu ia pun langsung masuk.


"Jenderal aku sudah disini mana mungkin kau menyuruhku untuk kembali?" Para bawahan Nodt bingung harus bersikap bagaimana. Mereka juga harus sopan karena Win adalah anak dari tuan Pan. Nodt menatap Win sedikit tidak percaya.


"Kenapa kau sangat keras kepala? Sebaiknya kau kembali ke asramamu"


"Tidak! Sebelum kita bicara" Nodt menyerah, ia pun menyuruh bawahannya untuk pergi.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Jika ini berkaitan dengan jenderal Bright, lupakan. Anggap hal kemarin tidak terjadi"


"Kau tidak penasaran, kenapa kita pergi diam-diam?"


"Untuk apa? Tugasku hanya menjaga gerbang ini"


"Sekarang siapa yang keras kepala" Gumamnya pelan sedikit kesal.


"Kau bicara apa?"


"Tidak. Aku hanya ingin memastikan, apa kau akan melaporkan kami?"


"Aku akan menganggap tidak terjadi apa-apa. Jadi kau sebaiknya kembali"


"Baiklah baiklah aku akan percaya padamu. Tapi aku sudah jauh-jauh datang kesini dan hanya mendapatkan jawaban itu?" Win mendekati Nodt. Melihat sekelilingnya.


"Aku pernah mendengar rumor jika kau dan jenderal Bright selalu menjadi saingan. Tapi kau tidak pernah bisa mengunggulinya. Aku penasaran kenapa kau bisa menolong sainganmu itu? Bukankah kau akan menang jika kau menangkapnya?" Ucap Win sedikit berbisik. Nodt yang tengah menulis berhenti, mencengkram kuat alat tulisnya hingga patah yang membuat Win cukup terkejut.


"Apa aku harus memberitahumu? Aku hanya tidak ingin berhutang padanya. Jadi sekarang kita impas" Jelas Nodt menatap Win dengan tajam, yang membuat Win sedikit menjauh karena wajah jenderal Nodt sekarang sangat tidak bersahabat.


"Oh.. Baiklah"


"Jika kalian berbuat ulah lagi dan diketahui olehku, saat itu juga aku akan mengirim kalian ke penjara istana" Win terdiam, hening seketika. Ia pun mengangguk, suasana yang sangat canggung sekarang.


"Sepertinya sudah sangat larut. Aku.... Harus pergi sekarang. Terimakasih sudah menolong kami jenderal. Aku pamit" Ucap Win buru-buru keluar, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika lebih lama berada didalam sana.


...****************...


Up kembali menemui ayahnya untuk mengantarkan nampan berisi makanan.


"Dia sudah pergi?" Tanya Ayahnya, tak dapat jawaban ayahnya menatap Up.


"Kenapa kau diam? Dia masih ada disini?"


"Pho. Gulf sepupuku, aku harus menolongnya"


"Tidak. Disana terlalu berbahaya kau tidak akan bisa menanganinya"


"Setidaknya aku bisa mencegah Weir bertindak seenaknya. Hanya beberapa hari sampai Gulf kembali"


"Tidak! Kau tidak akan mengerti"


"Kalau begitu jelaskan apa yang membuatmu tidak mengizinkanku?!" Ayahnya menatap Up. Ia cukup terkejut, anaknya bisa meninggikan suaranya itu padanya.


"Orang itu tidak memberitahumu? Atau dia tidak tahu?"


"Memberi tahu apa?"


"Tidak. Lupakan. Pokoknya aku tidak mengizinkanmu pergi" Up terdiam, ia pun segera pergi untuk menemui Bright.


...****************...


Bright bersama Perth tengah melihat beberapa prajurit yang tengah berlatih.


"Aku dengar kau memiliki pasukan yang hebat. Bisakah nanti kita berlatih bersama?"


"Pasukanmu juga hebat. Tentu, setelah masalah dikerajaanku selesai. Kita adakan latihan bersama" Perth tersenyum.


"Sebenarnya masalah apa yang sedang terjadi?"


"Beberapa orang yang menjabat di istana mencoba untuk memberontak. Kini istana kacau dengan kepemimpinan tuan Weir. Aku berharap rajamu bisa membantu karena dia masih termasuk tamu istimewa kerajaan. Jadi dia punya tempat sendiri di istana" Perth mengangguk. Tak lama kemudian Up datang.


"Bright bisa kita bicara?" Bright menatap Up penasaran, ia pun mengangguk.


...****************...


Kini ketiganya berada di ruang kerja Up, suasananya tampak serius. Bright semakin penasaran dengan apa yang akan ditanyakan Up.


"Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Bright terdiam. Ia bertanya-tanya, mengapa Up bertanya seperti itu, padahal dia sudah membaca suratnya.


"Apa maksudmu yang mulia? Bukankah kau sudah melihat surat yang aku berikan?"


"Benar, tapi yang tertulis disana hanya masalah kerajaan yang kini di ambil alih oleh Weir dan juga Gulf yang kini tengah berada di tempat lain. Sejak kemarin aku penasaran, apa yang terjadi sampai Gulf harus tinggal di tempat lain. Dan dimana tempat yang kau maksud itu?" Bright terdiam, ia tidak menyangka jika Up akan menanyakan hal ini.


"Ceritakan semuanya, maka aku akan pergi" Bright menatap Up penuh harap. Apa ia harus menceritakan semuanya? Apa akan baik-baik saja?