
Orang yang baru saja keluar dari toko itu pun mematung. Ia terkejut melihat Gulf dan Mew ada dihadapannya sekarang.
"Siapa kau?" Gulf merasa tidak asing dengan wajahnya.
"Win?" Panggil Mew yang langsung mengenalinya.
"Kau mengenalnya?" Gulf langsung menatap Mew curiga.
"Dia Win anak dari tuan Pan. Dia sudah sangat membantu saat kau tidak ada, tapi kenapa kau ada disini?" Win tidak menghiraukan pertanyaan Mew. Ia dengan buru-buru menghampiri keduanya dan langsung berlutut.
"Aku Win Mettawin putra dari tuan Pan memberi hormat pada yang mulia" Mew menatap Gulf dan ia merasa raut wajah Gulf tidak senang melihatnya, hingga ia menarik kerah baju Win membuat Mew terkejut.
"Kau bagian dari mereka? Apa yang kau lakukan disini? Dimana Weir?" Win sedikit kesulitan untuk berbicara, cengkraman Gulf begitu kuat.
"Gulf tenanglah. Kita bisa bicara baik-baik oke. Lepaskan dia" Mew memegang tangan Gulf berharap ia cepat melepaskannya. Gulf yang kesal pun melepaskannya hingga Win tersungkur. Mew dengan sigap menolongnya, membantunya untuk bangun. Gulf tidak suka melihat pemandangan didepannya dan ia pun pergi ke tempat lain.
...****************...
Kini ketiganya berada di tempat yang sangat sepi dan tersembunyi. Gulf masih menatapnya tidak suka.
"Jadi, kenapa seorang pelajar sepertimu ada ditempat itu saat malam hari?" Desak Gulf.
"Aku sedang menyelidiki sesuatu" Win sedikit ragu untuk menjelaskannya.
"Win kau melihat orang-orang yang masuk ke dalam?"
"Orang-orang siapa? Aku tidak melihat siapa pun"
"Lihat! Dia bohong! Kau sengaja menyembunyikannya kan?!"
"Gulf tenang!" Mew mengambil alih, ia membiarkan Gulf berada dibelakangnya.
"Bisa kau jelaskan apa yang sedang kau selidiki?"
"Setelah mendengar pemberontakan itu, aku khawatir karena ayahku ada di istana. Aku hendak menyusul ke istana, tapi beberapa prajurit menahanku. Aku sangat bersyukur ketika ayahku kembali ke rumah dengan selamat. Ayahku mengatakan jika ia mencurigai beberapa petinggi. Dari sikap yang dia lihat mereka tampak ketakutan. Besoknya aku kembali ke asrama sekolah dan aku bertemu dengan Daw dia anak dari tuan Nat. Wajahnya tampak sembab seperti telah menangis sepanjang hari. Saat aku tanya dia berkata jika ayahnya tidak pernah kembali setelah pergi untuk menemui seseorang. Itu di hari sebelum pemberontakan terjadi. Dia mengatakan jika pada siang itu ayahnya diam-diam pergi. Ia yang penasaran mengikutinya dan ia melihat ayahnya memasuki toko pakaian itu. Setelah Daw masuk kedalam ia tidak menemukannya. Jadi aku mencoba mencari tahu apa yang ada di toko pakaian itu. Tapi aku tidak menemukan apapun, itu hanya toko biasa"
"Aku dengar tuan Nat sakit"
"Tidak. Itu hanya cerita yang dibuat untuk menutupi hilangnya tuan Nat. Daw mengatakan jika ayahnya tidak pernah kembali lagi"
"Sudah jelas dia mati" Gulf yang sudah tenang pun akhirnya ikut menanggapi percakapan keduanya.
"Apa?! Benarkah?"
"Sepertinya Weir mengungkapkan vampirnya pada pengikutnya"
"Sebaiknya kita kembali dulu ke istana. Bukankah pagi ini yang mulia Up akan pergi? Kau juga Win kembalilah terlalu berbahaya jika kau menyelidikinya sendiri. Ayo Gulf" Mew menarik Gulf untuk pergi. Ia pun berjalan melewati Win dengan tatapan yang penuh curiga.
...****************...
Gulf dan yang lainnya berkumpul di depan istana untuk mengantar kepergian Up dan Perth. Para petinggi pun ikut mengantar kepergiannya.
"Kau yakin tidak ingin tinggal disini lebih lama? Kita bisa berlatih bersama. Sekarang aku sudah kuat jadi pasti bisa mengalahkanmu"
"Walaupun kau sudah kuat tapi aku lebih kuat lagi. Aku masih bisa mengalahkanmu" Gulf dan Up tertawa dan Up pun memeluk Gulf dengan erat yang langsung dibalasnya.
"Jika kau perlu bantuan, kau bisa menemuiku"
"Tentu. Dimana Kara?"
"Harusnya dia sudah ada disini" Bright mencari Kara disekitarnya.
Tak lama Kara datang dengan sebuah tas besar.
"Kenapa dia disini? Bukankah harusnya dia istirahat?"
"Dia akan ikut bersamamu. Sudah cukup dia menjagaku selama ini. Dia pasti mempunyai keluarganya sendiri"
"Benarkah? Tapi Kara dikirim oleh ayahku dan dia tidak mengatakan bahwa Kara sudah boleh kembali"
"Katakan padanya aku yang menyuruhnya. Jadi jangan salahkan dia" Gulf melirik Kara, orang yang sudah merawatnya dengan baik. Gulf menatapnya, ia sedikit tidak rela melihatnya pergi.
"Yang mulia jaga kesehatanmu. Aku sangat senang bisa melayanimu selama ini. Terimakasih karena kau memperlakukanku dengan baik disini" Kara memberi hormat pada Gulf.
"Baiklah kalau begitu kita berangkat!" Perintah Up.
"Bukankah terlalu pagi untuk mengumpulkan orang-orang ini?" Bisiknya sembari menepuk pundak Gulf sebelum ia menaiki keretanya. Gulf hanya tersenyum, tentu saja ia tidak ingin membuang-buang waktu. Ia harus segera menyelesaikan masalahnya. Setelah Up jauh dari pandangannya, ia pun merubah raut wajahnya. Para petinggi yang menyadarinya, cukup terkejut dan mulai bergidik ketakutan.
Gulf berbalik membuat para petinggi terkesiap.
"Gulf, kalau begitu aku harus kembali berkeliling untuk menyelidiki" Mew yang merasa hanya orang luar pun harus segera mengundurkan diri.
"Phi kau akan ikut denganku. Bright bawa semuanya ke aula" Semuanya terkejut, rajanya itu juga mengajak orang luar untuk pertemuannya. Gulf berjalan lebih dulu dengan Mew yang mengekorinya.
...****************...
Semua mata tertuju pada Mew yang berdiri disebelah kursi Gulf. Semua orang berbisik, mereka bertanya-tanya kenapa seseorang yang mereka anggap adalah dalang dibalik semua kejadian yang hampir mencelakakan raja Up itu berada di samping rajanya.
"Yang mulia kami senang setelah mendengar jika anda telah kembali. Bagaimana kabar anda?" Tuan Pan mencoba untuk membuka pembicaraan.
"Aku lebih baik sekarang. Tidak perlu basa basi, aku tidak menyukainya. Langsung saja, apa kalian mengenalnya?" Mew melirik Gulf.
Apa maksudnya ini?
Dia menanyakan apakah mereka mengenalku?
Mew terdiam, ia masih tidak mengerti maksud Gulf. Gulf melihat respon orang-orang dihadapannya. Sebagian mengangguk dan sebagian lagi menggelengkan kepalanya.
"Yang mulia aku pernah melihatnya di istana tapi aku tidak tahu siapa dia"
"Aku tidak mengenalnya yang mulia"
"Bukankah dia seorang pemburu?"
"Yang mulia aku mengenal tuan Mew. Dia seorang pemburu, namun karena kemampuannya dia sering membantu kerajaan kita" Hanya tuan Pan yang benar-benar mengenalnya.
"Aku mendengar jika kalian menuduhnya sebagai dalang dari kejadian kemarin. Siapa yang mengatakannya seperti itu?" Semua mata langsung tertuju pada tuan Tanawat.
"Gulf ini...." Mew berbisik mencoba menghentikannya namun Gulf mengangkat tangannya, mengisyaratkannya untuk diam. Mew sempat mendengar rumor tentang dirinya dan itu sedikit menyulitkannya saat bertugas untuk berkeliling mencari keberadaan Weir. Saat ia bertanya pada orang-orang, kebanyakan dari mereka menolaknya dan juga mengusirnya.
"Yang mulia. Aku hanya mengatakannya tanpa berpikir saat itu. Pada hari itu aku terlalu takut dan terkejut dengan kejadian yang terjadi. Tuan Mew maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud memfitnahmu"
"Tidak apa-apa. Aku cukup mengerti" Gulf sedikit tidak mengerti kenapa Mew dengan mudahnya memaafkan orang itu. Setelah mendengar penjelasan Bright saat itu, tentu saja ia marah karena orangnya telah difitnah. Mew hanya bisa memaafkan. Dia cukup mentoleransinya karena memang dalam pandangan orang biasa mungkin seperti dia yang ingin membunuh Up saat itu.
"Tapi ucapanmu itu sudah menyebar dengan cepat" Tuan Tanawat langsung berlutut untuk meminta pengampunan. Saat itu dia hanya ingin mengalihkan sasarannya saja, sehingga tidak ada yang berpikir tentang Weir.
"Baiklah lupakan, tuan Mew sudah memaafkanmu. Aku akan bertanya hal lain padamu. Dimana Weir?" Tuan Tanawat sedikit tersentak. Bagaimana ia harus menjawabnya?
"A-aku tidak tahu yang mulia. Setelah ia kabur dari penjara aku tidak mengetahui keberadaannya" Gulf mengangguk paham. Untuknya, berbicara lebih banyak pun tidak akan ada gunanya. Ia seketika berdiri dari kursinya dan menghampiri tuan Tanawat yang menunduk.
"Kau yakin tidak mengetahuinya?" Tuan Tanawat bergetar ketakutan.
"Sungguh. Yang mulia aku tidak-"
Sreet!
Semua orang tersentak, darah terciprat kemana-mana. Termasuk Mew, ia terkejut Gulf menebas leher orang itu dihadapan semua orang. Ia tidak sempat mencegahnya karena Gulf dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan langsung menebas tuan Tanawat. Kejadian yang hanya sekejap itu benar-benar tidak bisa dicegah.
"Ah... Bajuku menjadi sangat kotor sekarang" Mew tidak tahan dengan kelakuan Gulf yang seenaknya membunuh orang. Ia menghampirinya dan langsung menarik kerah baju Gulf.
"Gulf apa yang kau lakukan?!" Gulf tentu saja terkejut begitupun dengan orang-orang disekitarnya, termasuk Bright yang juga mendekati keduanya. Namun Gulf dengan segera menghentikan Bright. Gulf sedikit tidak suka dengan nada bicara Mew yang membentaknya.
Gulf mencengkram tangan Mew.
"Lepaskan aku!" Ucap Gulf penuh dengan penekanan. Keduanya saling bertatapan.
"Yang mulia! Hey kau! Lepaskan tanganmu! Kenapa kalian hanya diam? Jauhkan dia dari yang mulia!" Tuan Pond memerintahkan pengawal yang berjaga untuk melindungi Gulf. Namun para pengawal sedikit ragu untuk mendekati keduanya. Begitu pun Bright yang memiliki jarak terdekat, ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
"Diam!" Gulf menunjuk tuan Pond tanpa menatapnya.
"Tuan Mew, Lepaskan aku!" Sekali lagi Gulf menyuruhnya untuk melepaskan tangannya. Namun Mew semakin mengeratkan cengkramannya.
"Kau dengan mudahnya membunuh orang di depan semua orang?! Apa seperti ini kelakuanmu sebenarnya?!" Gulf tertawa dan menatap tajam kearah Mew.
"Kau bisa tanya pada semua orang disini. Inilah caraku. Kau keberatan? Aku rajanya disini, jadi terserah apa yang ingin aku lakukan" Mew mencengkram lebih erat. Bagaimana bisa orang dihadapannya ini mengatakan hal seperti itu?