
Gulf menatap Mew. Terlintas dipikirannya, mengenai para pemburu. Walaupun mereka sangat membantu kerajaannya selama ini, tapi tidak banyak yang ia ketahui tentang mereka. Mew senang dengan kedatangan Gulf, ia pun segera bangun dan menghampirinya.
"Besok pagi aku harus kembali. Kau tidak merindukanku? Sudah sangat lama kita tidak bertemu" Mew menarik pinggangnya untuk membuatnya semakin dekat.
"Jika waktuku luang, aku pasti akan datang ke tempatmu"
"Selalu itu yang kau katakan, tapi kau tidak pernah datang" Mew tampak merajuk. Bagaimana bisa seorang pria kuat di hadapannya ini membuat ia gemas?
"Oh ayolah phi. Kau tahu pekerjaanku sangat banyak" Mew sangat tahu itu. Kau tidak bisa menjadi egois ketika kekasihmu seorang raja dari kerajaan yang besar bukan?
"Baiklah. Aku akan selalu menunggumu datang dan juga akan aku usahakan selalu mendatangimu" Mew memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya. Ia mencoba mengisi energinya. Hidung keduanya saling bersentuhan.
"Apa yang kau lakukan?" Mew menatapnya dari dekat.
"Kau tahu apa yang ku inginkan bukan?" Gulf tersenyum, ia pun melingkarkan tangannya di leher Mew dan menempelkan bibirnya di bibir Mew.
Mew memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman keduanya. Gulf mendorongnya mundur hingga Mew duduk dipinggiran kasurnya. Ia pun duduk dipangkuannya dan kembali menarik dagunya untuk meraih bibir Mew. Tangan Mew menyelinap masuk ke dalam baju Gulf dan menyentuh halus punggung Gulf. Ia pun membuka semua kancing baju Gulf dan segera melepaskannya.
Mew menarik tubuh Gulf untuk berbaring tanpa melepaskan ciumannya, sampai kini posisi Gulf berada di atas Mew. Gulf maupun Mew masih menikmati ciuman keduanya. Ia ******* bibir Mew dan sesekali menghisap lidah Mew yang memasuki mulutnya. Tak lama Mew membalikan posisinya menjadi ia yang berada di atas. Karena itu, ciuman keduanya terlepas dan membuat mereka saling bertatapan. Mew tersenyum dan langsung menenggelamkan kepalanya di leher Gulf.
...****************...
Pagi sekali Mew dan Gulf sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama.
"Berhenti menekuk wajahmu. Kau sendiri yang mengatakan harus segera kembali dipagi hari" Mew tak meresponnya dan hanya menatap makanannya. Pagi ini, Gulf sedikit memaksa Mew untuk bangun, padahal ia masih mengantuk dan lelah setelah melakukan aktifitas malamnya bersama Gulf.
"Phi sampai kapan kau akan mendiamkanku? Kalau begitu aku tidak akan datang lagi ke mansion" Gulf melihat reaksi Mew yang sedikit terkejut dan langsung menatapnya. Tentu saja ucapannya itu hanya gurauan supaya Mew melihatnya lagi.
"Apa?!" Gulf tidak bisa menahan tawanya, melihat ekspresi wajah Mew yang menurutnya sangat lucu.
"Aku hanya bercanda oke. Aku sejak tadi bicara denganmu, tapi kau mengabaikanku. Cepat selesaikan makanmu"
"Kau tidak meminta maaf padaku?" Gulf menghela nafasnya. Ia tidak pernah memikirkan jika suatu saat ia harus membujuk seorang pria dewasa yang tengah marah padanya.
"Baiklah maafkan aku phi. Kau puas sekarang?"
"Kau tampak tidak tulus" Mew kembali memandang makanannya. Gulf beranjak dari kursinya dan mendekati Mew. Ia pun menarik dagu Mew dan mengecup bibirnya.
"Maafkan aku phi" Mew akhirnya tidak bisa menahan senyumnya.
"Itu lebih baik" Mew pun mulai memakan makanannya. Gulf hanya menggelengkan kepalanya dan kembali ke kursinya. Bagaimana bisa ia mencintai seseorang sepertinya?
Gulf meminum darah yang ada digelasnya.
"Phi apa kau tidak merasa mual melihat seseorang meminum darah saat kau makan?" Gulf memperhatikan Mew yang makan dengan lahap tanpa terganggu dengannya yang hanya meminum darah.
"Aku sudah terbiasa. Bahkan aku sering melihat para vampir yang meminum darah langsung dari tubuh manusia" Gulf hanya mengangguk.
"Bagaimana dengan Win?"
"Dia masih melatih fisiknya. Menjadi seorang pemburu harus memiliki fisik yang kuat dan juga harus berusaha menjadi cepat. Jika dia sudah kuat, maka selanjutnya p'Mile akan memberikan kekuatan pemburu padanya"
"Hm. Aku harus mengunjunginya" Tak lama Bright menghampirinya.
"Yang mulia tuan Pan dan First sudah menunggumu" Gulf pun hanya mengangguk mengerti.
...****************...
Gulf melihat kepergian Mew yang memacu kudanya dengan cepat.
"Yang mulia, aku ingin-"
"Bright ayo ikut denganku" Dengan cepat Gulf memotong pembicaraan Bright dan melenggang pergi menuju ruangannya. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Bright padanya, jadi lebih baik menyuruhnya untuk melakukan hal lain.
...****************...
Gulf menandatangani berkas yang langsung ia berikan pada First.
"Kau belajar dengan cepat disini. Apa sekarang saatnya aku mengangkatmu menjadi salah satu petinggi muda?" First membulatkan matanya terkejut. Ia tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. First merasa senang, tapi menyadari dirinya masih memiliki banyak kekurangan ia menjadi sedikit tidak percaya diri.
"Yang mulia, anda terlalu memujiku. Saya masih harus banyak belajar"
"Kau bisa belajar dari pengalamanmu" First bungkam, ia tentu saja akan sangat senang jika disandingkan dengan para petinggi lainnya.
"Tentu. Pilihan anda tidak salah yang mulia. Dia memang sangat berbakat"
"Kau dengar? Tuan Pan aku ingin kau memberi tugas pada Jun untuk mempersiapkan pengangkatannya" Tuan Pan mengangguk mengerti. First pun memberi hormat.
"Terimakasih yang mulia. Saya akan bekerja keras untuk membantu rakyat dan memastikan tidak akan mengecewakanmu" Gulf tertawa, baginya sedikit lucu mendengar kalimat itu dari seseorang yang membencinya.
Setelah urusan mereka selesai, First dan tuan Pan pun pergi meninggalkan Gulf dan Bright.
"Yang mulia aku ingin meminta izin pergi ke kamp pelatihan" Gulf menatapnya.
"Akhir-akhir ini kau sering datang kesana. Apa yang kau lakukan?"
"Aku ikut membantu melatih prajurit baru"
"Oh benarkah? Tapi tugasmu untuk menjadi pengawalku, itu artinya kau harus selalu ada disampingku. Lagipula disana sudah ada yang bertugas untuk melatih mereka"
"Jika yang mulia tidak mengizinkan, aku..."
"Pergilah dan jangan terlalu lama" Gulf mengalihkan pandangannya, ia tak ingin melihatnya lagi. Bright memberi hormat pada rajanya itu. Gulf melihat Bright yang pergi, ia kesal karena Bright tidak bicara yang sebenarnya. Ia tahu jika selama ini bukan kamp pelatihan yang menjadi tujuannya melainkan ia tengah mencari keberadaan orang bernama Amphol.
Di hari saat Gulf dan Bright mengunjungi Saran. Gulf tidak hanya keluar dan menunggu Bright bicara dengan Saran, tapi ia mendengar semua pembicaraan keduanya. Ia yakin kemungkinan besar orang bernama Amphol itu memang ayah kandung Bright.
...****************...
Mew sampai di mansionnya dan dia pun langsung menuju tempat pelatihan.
"Oh Mew kau sudah datang" Mew mendekati Mile yang tengah melihat beberapa pemburu baru yang sedang berlatih.
"Kau tidak bersama Gulf?"
"Tidak. Dia terlalu sibuk sekarang"
"Tentu saja. Menjadi seorang raja pasti akan membuatnya sibuk. Bagaimana acaranya? Klan Nattawin benar-benar datang?"
"Ya, Gulf ingin memberitahu jika Apo pemimpin klan itu merupakan anggota keluarga kerajaan" Mile tidak menyangka Gulf akan melakukan hal seperti itu. Ia mengenalkan para vampir pada manusia yang sebelumnya tidak mengetahui hal itu, mengingatkannya pada suatu tempat yang tak asing baginya.
"Kembalilah phi, aku yang akan mengawasi mereka" Mile mengangguk dan menepuk pundak Mew sebelum pergi.
...****************...
Sementara itu di istana, Gulf sudah siap dengan pakaian biasanya. Malam ini ia akan pergi untuk mencari tahu sesuatu. Seperti biasa, dia keluar dari jalan rahasia di kamarnya.
Tujuannya adalah kediaman Saran. Tak butuh waktu lama, Gulf pun sudah sampai di tempat tujuannya.
Seseorang membuka pintu.
"Siapa?"
"Kau tidak mengingatku? Aku pernah datang bersama Bright kesini" Saran yang mengingatnya pun membiarkan Gulf masuk ke rumahnya.
Sedikit menjadi canggung saat hanya ada berdua di ruang tamu. Saran menyuguhinya secangkir teh hangat dan duduk dihadapannya.
"Aku tidak akan lama, hanya ingin bertanya apakah Bright datang kemari?"
"Tidak. Tapi dia pernah datang satu hari setelah kalian datang bersama" Benar tebakannya. Sejak dulu Bright selalu sendiri, tidak ada yang tahu siapa keluarganya dan kini saat ada informasi tentang keluarganya, Bright tentu saja akan mencarinya walaupun informasi masih itu belum ia yakini sepenuhnya.
"Benarkah? Apa yang dia lakukan?"
"Hanya bertanya dimana tempat terakhir guruku terlihat"
"Lalu? Dimana?"
"Sudah ku katakan sebelumnya, dia meninggalkanku tanpa berpamitan. Jika kau bertanya terakhir aku melihat, tentu saja di tempat ini"
"Baiklah. Maaf mengganggumu malam-malam. Kalau begitu aku harus pergi" Gulf pun segera pergi dari kediaman Saran.
...****************...
Gulf berjalan menyusuri jalan yang tampak sepi. Hanya ada pepohonan yang berjajar dengan penerangan yang hanya mengandalkan cahaya bulan. Sepanjang jalan ia hanya memikirkan kemana saja Bright mencari orang itu.
Langkahnya terhenti ketika ia merasa seseorang tengah mengikutinya. Gulf melirik tanpa berbalik ke belakang, ia sangat yakin jika kini ada seseorang dibelakangnya.