
Gulf selesai dengan latihannya hari ini. Ia melihat Pete yang masuk ke kamarnya. Akhirnya ia bisa segera mendengar apa yang terjadi di istananya.
"Bagaimana?" Tanya Gulf tanpa basa basi.
"Aku tidak terlalu yakin tapi aku rasa dia baik-baik saja"
"Apa maksudmu?" Pete sedikit bergidik melihat Gulf yang menatapnya. Ia tahu, laporannya ini pasti tidak akan membuat Gulf puas.
"Tadi aku bertemu dengan pemburu lain. Dia mengatakan jika formasi sihirnya saat itu gagal. Mereka ketahuan dan di serang. Lalu tuan Mew ditangkap oleh mereka" Sedikit ragu untuk mengatakannya sehingga ia berbicara dengan pelan. Gulf yang tadi antusias, kini memasang wajah yang sangat muram. Gulf menarik baju Pete membuatnya terkejut.
"Apa kau bilang?! Dia ditangkap?! Dan kau bilang dia baik-baik saja?!"
"Yang mulia maafkan aku. Aku tidak bisa masuk istana sekarang. Jika hanya para manusia yang menjaga aku bisa menanganinya tapi sekarang banyak vampir yang berjaga disana. Lagipula pemburu yang aku temui itu mengatakan jika tuan Mew dilindungi oleh sebuah kalung" Gulf terdiam dan melepaskan cengkramannya.
"Kalung?"
"Kau mengetahuinya?" Tanya Pete penasaran.
"Aku yang memberikan kalung itu. Itu pemberian ibuku. Dia berkata jika kalung itu akan melindungiku saat aku terdesak. Kukira itu hanya lelucon tapi itu benar-benar.... Pete menurutmu bagaimana cara membebaskannya?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku rasa kita harus menyerangnya dengan beberapa vampir, karena aku rasa di dalam istana masih lebih banyak vampir. Apalagi kita juga harus bisa mengalahkan Nick" Gulf terdiam ia khawatir jika banyak vampir di istana, bagaimana jika nanti Up dan Bright datang kesana? Apa mereka akan aman?
"Sebenarnya apa yang diinginkan Nick? Kenapa dia bisa bekerjasama dengan Weir?"
"Dia menginginkan pedang Mick dan juga kau" Ucap Apo yang baru datang.
"Dia ingin membunuhku? Jangan harap! Sebaliknya, aku yang akan membunuhnya!"
"Kita belum tahu apakah dia akan membunuhmu atau tidak"
"Apa maksudmu?"
"Kau keturunan Min. Walaupun kau setengah vampir, kau cukup kuat. Apalagi kau bisa mengendalikan para vampir liar"
"Apa? Aku?"
"Ya benar, saat aku melatih para vampir liar, mereka seperti menjadi gelisah jika kau sedang berlatih" Ucap Pete. Gulf sendiri tidak tahu jika ia bisa mengendalikan vampir liar.
"Oh ya tuan aku hampir lupa menyampaikan sesuatu" Apo menatap Pete.
"Saat tadi aku keluar dari gerbang luar. Aku bertemu dengan seorang anak buah Nick. Aku rasa mereka sudah tahu keberadaan kita"
"Apa mereka disekitar sini?" Tanya Gulf.
"Tenang. Penghalangnya terlalu kuat untuk mereka rusak. Nick tidak akan berani untuk menyerang langsung, ia tidak sekuat itu. Pete sebaiknya kau kirim beberapa orang untuk memantau perbatasannya. Jika anak buah Nick berulah, langsung bunuh mereka" Pete pun mengangguk dan segera keluar.
...****************...
Satu minggu kemudian, Weir mengumpulkan semua para petinggi untuk dilakukan rapat.
"Tuan ada apa kau mengumpulkan kami?" Tanya tuan Pan.
"Sudah berapa lama kerajaan kita tidak dipimpin oleh seorang raja? Raja kita Gulf Kanawut. Sampai sekarang entah ada dimana keberadaannya. Kita sudah berusaha mencarinya dan tidak pernah menemukannya. Jadi karena jabatan tuan Weir yang tertinggi dan yang mulia Gulf tidak memiliki saudara, maka tuan Weir yang akan menggantikan raja kita" Ucap salah satu petinggi.
Kini para petinggi terbagi dua. Kubu yang setuju dan kubu yang menentang. Kubu yang setuju tentu saja mereka adalah orang-orang yang bekerja sama dengan Weir.
"Mana bisa begitu? Tuan bukan berarti aku tidak setuju kau diangkat menjadi raja kami. Tapi, kita harus menemukan yang mulia raja Gulf dulu. Kita bahkan tidak tahu kondisinya sekarang"
"Jika dia kembali. Apa yang akan rakyat kita katakan? Dia sudah membunuh rakyatnya sendiri. Dia pantas untuk digulingkan. Bahkan harusnya dia tidak diangkat sebagai Raja saat kita tahu dia yang membunuh yang mulia raja terdahulu"
"Kenapa kau membahas itu? Bukankah kita sepakat untuk tidak membahas tentang yang mulia raja terdahulu?" Semuanya terdiam seketika hening dalam sesaat.
"Tapi sudah lama kita mencarinya. Bahkan petunjuk tentang keberadaannya pun tidak kita temukan"
"Apa kalian tidak tahu? Berita tentang hilangnya yang mulia raja sudah terdengar oleh kerajaan lain? Tanpa seorang raja, kerajaan kita sekarang lemah"
"Lalu bagaimana dengan pedang suci? Jika tuan Weir di angkat menjadi raja, dia harus memiliki pedang itu" Weir mengangkat tangannya, memerintahkan semuanya untuk diam.
"Beberapa hari yang lalu aku bertanya dengan jenderal Bright dan dia bahkan tidak memberitahuku. Sehingga aku mengurungnya sebagai hukuman. Yang mulia melakukan kesalahan besar terhadap rakyatnya sendiri. Dia terlalu egois dengan kesetiaannya pada yang mulia Gulf tanpa memikirkan kerajaan dan rakyat kita. Bukan berarti aku tidak setia dengan yang mulia raja, tapi aku melihat dari situasinya saat ini. Aku dengar ada seorang diantara kalian yang membebaskannya. Siapa? Mengakulah dan katakan dimana jenderal itu?" Para petinggi saling menatap satu sama lain. Tuan Pan tampak tenang. Ia tahu jika hal ini akan dibahas. Namun ia sudah bersiap agar tidak bersikap mencurigakan.
"Tidak ada yang mau mengaku? Baiklah. Kalau begitu-"
Seorang pengawal tiba-tiba masuk ke ruangan itu, menghentikan Weir yang tengah berbicara.
"Berani-beraninya kau masuk tanpa meminta izin?!" Weir menatapnya curiga.
...****************...
Up bersama dengan orang-orangnya dan juga Bright memasuki ruangan itu. Weir yang tadinya duduk di kursi kebesaran Gulf sudah kembali kebawah berjajar dengan petinggi yang lain.
Up duduk di kursi tempat Gulf, menatap orang-orang yang ia ketahui mereka adalah para pemberontak. Para petinggi melihat Bright yang berdiri disamping Up. Bright sedang menjadi orang yang paling dicari sekarang, namun jika dia bersama dengan Up orang-orang itu tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa menunggu lain waktu untuk menangkapnya kembali.
"Yang mulia raja Up selamat datang di kerajaan kami. Maafkan kami tidak menyambut anda dengan baik. Kami tidak tahu anda akan datang kemari" Semuanya memberikan hormat.
"Tidak apa-apa. Bagaimana jika kita langsung saja, aku dengar Gulf akan digantikan. Apa itu benar?" Mereka bungkam.
"Kami hanya khawatir dengan kerajaan kami yang beberapa waktu ini tidak memiliki seorang raja. Dan juga... Raja kami telah membunuh beberapa rakyat. Semua orang setuju untuk menggantinya dengan tuan Weir"
"Tidak yang mulia. Kami masih membahasnya. Tidak semua orang menyetujui itu"
"Tapi mau sampai kapan kita menunggu yang mulia raja? Mungkin saja sekarang kerajaan lain sedang merencanakan penyerangan ke daerah kita. Tuan Weir bisa menggantikannya, dia layak untuk menjadi seorang raja" Up hanya mendengar orang di depannya berdebat. Ia ingin mendengarkan pendapat mereka. Hingga ia pun dapat melihat sekarang siapa yang mendukung Gulf dan siapa yang mendukung Weir.
"Kenapa menurutmu Weir pantas menjadi seorang raja? Kenapa bukan kau?" Tanya Up. Orang itu bungkam, melirik Weir khawatir. Ia salah satu pendukung Weir, tidak menyangka akan diberikan pertanyaan seperti ini.
"Tuan aku tidak pantas menjadi seorang raja"
"Tapi menurutku kau lebih pantas. Kudengar kau menguasai hampir seperempat pertahanan di kerajaan ini. Dan juga kau terlahir di kerjaan ini. Sedangkan Weir, dia memang bagus dalam mengurus semua urusan kerajaan. Tapi, dia hanya orang luar yang diselamatkan oleh pamanku dan menjadi orang kepercayaannya" Semua orang menatap Weir yang hanya terdiam.
"Untuk menjadi seorang raja, tentu saja dia harus seorang keturunan dari raja sebelumnya. Gulf tidak memiliki saudara jadi jika dia menghilang artinya keluarga kerajaan sudah tidak ada. Jadi siapa yang akan menjadi raja selanjutnya?" Up menatap orang-orang di depannya yang tengah mendengarkan penjelasannya. Ia sedikit melirik Weir. Wajahnya yang tampak tak peduli dan angkuh sedikit membuatnya kesal.
"Seorang rakyat yang terlahir di kerajaan ini, dan juga sudah mendedikasikan diri untuk kerajaan inilah yang pantas menggantikannya. Tapi kalian lebih memilih orang luar?" Semuanya terdiam. Mereka melupakan fakta bahwa Weir bukan berasal dari kerajaan ini. Saat pertama kali ia menginjakkan kaki di kerajaan Traipipattanapong, Weir di pandang sebelah mata dan sangat dibenci. Tapi tidak lama setelah itu, karena Weir sangat dekat dengan raja Gil, para penjilat pun mulai mendekatinya.
...****************...
Selagi orang-orang itu berdebat. Bright melihat sekitarnya. Ia penasaran dimana para vampir itu. Setelah pertemuan selesai, Bright mengantar Up ke kamar yang sudah disiapkan.
"Yang mulia jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa memanggilku"
"Kau Kara?" Pelayan itu berhenti.
"Ayahku yang mengirimmu kesini?" Kara berbalik dan membungkuk hormat. Ia kira rajanya itu tidak akan mengetahuinya.
"Maaf aku tidak memberi salam dengan benar yang mulia. Kara memberi hormat pada yang mulia raja Up. Saya sangat senang bisa bertemu dengan anda lagi, bagaimana dengan kaisar?"
"Dia masih terbaring di tempat tidurnya. Tapi sekarang sudah lebih baik"
"Senang mendengarnya. Dulu aku datang dengan yang mulia untuk menjenguk sang ratu. Tapi... Tidak menyangka jika yang mulia menyuruhku tetap disini untuk menjaga yang mulia Gulf"
"Sudah kukira pak tua itu tidak mungkin sebenci itu padanya. Baiklah kau bisa kembali, aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu" Kara pun mengangguk dan pergi.
...****************...
Bright keluar dari kamar Up. Ia kembali ke tempat sebelumnya, dan dapat dilihat semua orang masih berkumpul di tempat yang sama.
"Jenderal Bright, kau sebagai tahanan harusnya ada di penjara. Bagaimana kau keluar? Siapa yang mengeluarkanmu" Bright hanya menatapnya tajam.
"Bagaimana bisa kau membawa yang mulia raja Up kemari? Apa ini rencanamu supaya raja Gulf bertahan? Kau tahu dia sudah menjadi penjahat"
"Apa begini sikap kalian terhadap yang mulia? Kalian hanya melihat dari permukaannya dan hanya mendengar dari orang lain. Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi"
"Apa?! Kau berani berbicara seperti itu?! Sudah jelas dia membunuh orang-orang. Pengawal! Bawa dia kembali ke penjara!" Bright mengeluarkan pedangnya dan langsung menodongkannya tepat di depan lehernya.
"Kau berani?! Kau bisa memasukanku ke penjara tapi aku tidak yakin setelah itu kau akan selamat. Kalian tahu kenapa yang mulia Up datang kesini? Semuanya adalah perintah yang mulia raja! Tahu apa kalian?!" Semuanya tampak terkejut terutama Weir. Tampangnya yang tenang kini tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Apa?! Yang mulia sudah di temukan? Dimana dia?"
"Dasar orang-orang licik!!" Bright kembali memasukan pedangnya dan melenggang pergi tanpa menjawab. Ia sudah muak melihat wajah para pemberontak itu. Panggilan yang keras tidak didengarnya. Ia kini fokus untuk melihat kondisi istana dan juga ia penasaran dimana Mew berada. Sepanjang perjalanan menuju istana ia tidak menemukannya.
...****************...
Berjalan sekeliling istana, beberapa diantara para penjaga tidak dia kenal. Ia pun mendekati seorang penjaga yang langsung mendapatkan hormat.
"Siapa mereka? Aku tidak pernah melihatnya?"
"Oh mereka pengawal tuan Nick. Mereka sangat membantu terutama saat jam jaga di malam hari"
"Nick? Dia masih ada disini? Dimana dia?" Tanya Bright mendesaknya. Ia tidak menyangka Nick masih ada disini. Ia berpikir apa rencana Mew gagal? Rasa khawatir muncul, dia tidak tahu bagaimana kondisi Mew sekarang.
"Kau mencariku?" Bright membeku karena suara seseorang dibelakangnya.