KING GULF

KING GULF
Chapter 34



Beberapa orang membuat masalah di depan istana. Perth masuk ke ruangan rajanya, ia melihat rajanya itu tengah memandang ke luar jendela. Up dapat melihat beberapa orang berkumpul di depan.


"Apa yang terjadi?"


"Yang mulia orang-orang ingin mengetahui keberadaan yang mulia raja Gulf, dan aku rasa ini penyebabnya" Perth menunjukan selembaran resmi kerajaan yang ia dapat saat berjalan di jalanan kota.


Dalam selembaran itu tertulis jika keberadaan raja Gulf telah ditemukan, dan juga rakyat yang diminta untuk menyiapkan acara penyambutan kedatangannya. Dalam kondisi sekarang, semua orang tengah membenci Gulf. Apalagi orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya karena insiden saat itu. Up maupun Perth tidak tahu siapa yang menyebarkan berita itu.


...****************...


Bright mendatangi kerumunan warga yang sedari tadi berkumpul di depan gerbang istana. Mereka cukup terkejut melihat Bright. Beberapa hari terakhir, dia adalah orang yang paling dicari, tapi sekarang dia ada di hadapan mereka. Sebenarnya reputasi Bright baik di mata orang-orang, seorang jenderal yang paling terkenal karena telah memimpin perang di usia muda dan juga selalu memenangkannya. Bahkan kerajaan lain segan dengannya, sehingga ia pun menjadi kebanggaan kerajaan. Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana, hanya saja mengingat Bright selalu membela raja Gulf, reputasinya sedikit menjadi rusak sekarang.


"Jenderal katakan, dimana yang mulia raja?"


"Apa maksud kalian?" Seseorang langsung memberinya selembaran. Cukup membuatnya terkejut karena selembaran itu terdapat cap resmi istana.


Siapa yang melakukannya?


Yang mulia Up tidak mungkin melakukannya.


"Jenderal kami tidak akan membencimu jika kau memberi tahu kami" Bright menatapnya tajam.


"Kalian kembalilah. Informasi yang kalian dengar tidak benar"


"Jenderal sampai kapan kau akan menyembunyikannya? Kami rakyat kerajaan ini berhak tahu. Atau pemikiranmu sudah berubah sekarang? Jenderal yang kami agung-agungkan sekarang membenarkan sebuah pembunuhan?" Bright mulai tersulut emosi, ia mencengkram kerah orang itu membuat beberapa orang lainnya ketakutan.


"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalian sebagai rakyat kerajaan ini, tunggu dan bersabar kami semua sedang berupaya untuk kerajaan kembali seperti dulu. Kau mengerti? Jadi sebaiknya jangan memperkeruh masalah. Kau bisa dihukum karena menyebarkan berita palsu" Aura Bright yang menakutkan membuat orang itu bungkam. Bright pun pergi setelah menyuruh beberapa pengawal untuk mengusir mereka.


...****************...


Beberapa pengawal sudah dikerahkan untuk mencari tahu siapa yang membuat selembaran itu, dan semua informasi tertuju pada Weir. Hingga ia pun langsung dipanggil ke istana.


...****************...


Weir berlutut dihadapan raja Up. Tangannya mengepal kesal karena ia dibawa secara paksa dari rumahnya dan itu terlihat seperti ia seorang penjahat.


"Jadi kau yang membuat semua ini?"


"Yang mulia, informasi tentang keberadaan yang mulia raja adalah kabar baik untuk kerajaan. Aku hanya-" Up melempar selembaran itu padanya hingga membuat salah satu kertas menggores pipinya. Weir hanya bisa terdiam.


"Tapi tidak dengan kondisi saat ini! Kau sengaja atau memang kau bodoh hah?!"


"Dengar, aku tidak punya wewenang untuk menahan seseorang disini, tapi kau sudah berlebihan. Aku rasa Gulf tidak akan keberatan jika aku menjebloskanmu ke penjara" Weir membulatkan matanya terkejut menatap raja Up.


"Apa?! Tidak! Maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu jadinya akan seperti ini. Aku kira semua orang akan senang jika raja Gulf segera kembali. Aku mohon ampuni aku yang mulia. Raja Gulf akan memaafkanku dengan kesalahan seperti ini. Kau bisa menghukumku tapi jangan kurungan"


"Kesalahanmu hanya itu? Kau pikir kami tidak tahu tentang kau dan para vampirmu itu?" Weir membeku. Sebelumnya tidak ada yang tahu tentang urusannya dengan para vampir. Apa pemburu itu yang memberi tahu?


"Kenapa diam? Kau menangkap orang-orang untuk menjadikan mereka makanan para vampir" Weir menatap Up dengan raut wajah yang tidak bersalah. Weir seketika menjadi tenang seakan raut wajah ketakutan tadi tidak pernah ada.


"Yang mulia, apa.... Apa maksudmu? Aku tidak-"


"Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Bright kau bisa membawanya ke penjara" Bright pun tanpa rasa kasihan langsung menarik Weir yang memberontak. Tentu saja kekuatan Weir tidak sebanding dengan kekuatan seorang jenderal hingga ia pun hanya terseret sekeras apapun ia memberontak.


...****************...


Bright memasukkannya ke dalam penjara, ia mendorongnya hingga Weir tersungkur.


"Tidak. Jenderal Bright, kau tahu raja Gulf tidak akan melakukan ini padaku!" Bright tidak mendengarnya, ia mengunci penjaranya.


"Bright! Kau dengar aku?" Bright menatapnya tajam.


"Kau tidak tahu apa-apa tentang yang mulia. Beruntung yang mulia Up hanya menjebloskanmu ke penjara. Jika itu perintah yang mulia Gulf, dia akan langsung memenggal kepalamu. Kau pikir kesalahan yang kau buat itu hal kecil? Tunggulah hingga yang mulia Gulf benar-benar memerintahkan untuk memenggalmu" Kata-kata tajam Bright membuatnya bungkam. Ia terduduk lemas. Ia kesal bagaimana bisa disaat seperti ini Nick meninggalkannya.


"Hahahaha" Suara tawa seseorang mengalihkan perhatiannya.


Weir menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Wajah orang itu tak terlihat karena posisinya yang menunduk dan lagi pencahayaan di malam hari sangat minim di penjara.


"Siapa kau?" Orang itu tidak menanggapinya dan hanya menertawakannya.


"Jawab aku!" Suara tawanya benar-benar membuat Weir semakin kesal. Orang itu menghentikan tawanya dan mendongak menatapnya tajam.


"Kau tidak ingat aku?" Sedikit membuat Weir terkejut. Orang yang saat itu ia jebloskan ke penjara karena ia berani menyerang Weir untuk membela rajanya Gulf.


"Jadi begini akhirnya? Kau juga berakhir disini? Hahahaha"


"Diam! Aku tidak akan sepertimu"


"Hahaha ya benar. Kau tidak akan sepertiku, karena raja Gulf akan membebaskan orang yang tidak bersalah. Sedangkan kau, berdoalah semoga kau memiliki sedikit keberuntungan hahahaha" Weir sungguh ingin menghajarnya, tapi jeruji besi ini benar-benar menghalanginya. Ia pun hanya bisa bersabar menunggu Nick mengeluarkannya.


...****************...


"Kau yakin akan pergi kesana?"


"Ya aku tidak ingin membuatnya terlalu lama menunggu"


"Kalau begitu biarkan aku ikut. Tubuhmu masih lemah aku akan menjagamu"


"Tidak phi. Aku baik-baik saja"


"Tapi Mew-"


Tok tok


"Masuk" Perth membuka pintu kamar Mew.


"Tuan Mile, yang mulia raja Up ingin bertemu dengan anda" Mile menatap Mew khawatir, selain itu juga ia ingin bertemu dengan Gulf.


"Pergilah phi. Aku akan segera kembali nanti" Mile pun hanya mengangguk dan mengikuti Perth.


...****************...


Mew keluar dari kamarnya, walaupun tubuhnya masih terasa lemas tapi keinginannya untuk segera bertemu Gulf lebih besar. Dokter Louis yang mendengar Mew akan pergi menghampirinya dengan membawa sesuatu.


"Tuan Mew kau akan pergi sekarang?"


"Ya. Aku tidak mau membuatnya menunggu"


"Kalau begitu bisakah kau berikan ini padanya?" Louis memberikannya pedang suci milik Gulf yang sudah terbungkus.


"Aku rasa akan aman jika pedang ini bersama yang mulia. Walaupun Weir sudah ada dipenjara tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti kan" Mew menyimpannya di punggung, ia mengikatnya dengan erat tidak ingin sampai pedang itu terlepas dari tubuhnya.


"Baiklah aku akan memberikannya. Kalau begitu aku pergi sekarang"


"Berhati-hatilah tuan" Mew tersenyum dan pergi.


...****************...


Perth memasuki ruangan Up diikuti Mile dibelakangnya.


"Oh tuan Mile silahkan duduk" Mile memberi hormatnya dan duduk di sebuah sofa berhadapan langsung dengan Up.


"Ada apa anda memanggil saya yang mulia?"


"Santai saja tidak perlu seformal itu. Aku ingin bertanya, apa dulu kau pernah pergi ke kerajaan Poompat?"


"Kerajaan Poompat? Emm... Ya aku pernah kesana tapi itu sudah lama sekali" Mile menatapnya sedikit curiga.


"Benarkan? Aku tidak pernah salah mengenali seseorang. Kau datang bersama beberapa orang saat itu. Dan untuk urusan apa kalian datang ke kerajaanku?"


"Oh itu ayahmu yang meminta kami memeriksa pelindung di seluruh kerajaan"


"Hanya itu?" Mile mengangguk. Entah kenapa jawaban Mile kurang memuaskan untuk Up.


"Baiklah. Sebenarnya bukan hal itu yang ingin aku bicarakan. Aku ingin meminta bantuan para pemburu"


"Bantuan seperti apa?"


"Beberapa bulan terakhir ini kerajaanku kemungkinan di serang oleh vampir. Aku ingin pemburu vampir seperti kalian melenyapkannya. Bisakah kau mengirim orangmu kesana?"


"Kerajaan Poompat diserang? Seharusnya kerajaanmu aman karena kami sudah memasang pelindung di sepanjang perbatasan. Tapi kenapa vampir bisa masuk kesana? Kau yakin itu vampir?"


"Ya kami melakukan otopsi dan korban-korban itu dipastikan mati karena kehabisan darah, juga terdapat gigitan di lehernya" Jelas Perth. Mile sendiri bingung kenapa kerajaan itu bisa dimasuki para vampir. Apa pelindungnya rusak?


"Baiklah aku akan kembali ke mansion sekarang dan menyiapkan orang-orangku"


"Terimakasih tuan. Maaf aku tidak bisa menemanimu kesana. Gulf belum kembali, jadi aku tidak bisa meninggalkan kerajaan ini"


"Ya aku mengerti. Kalau begitu aku pamit" Mile berdiri dan memberikan hormatnya. Ia pun pergi untuk segera menuju mansionnya.


...****************...


Mew turun dari kudanya, perjalanannya cukup membuatnya kelelahan tapi akhirnya ia sampai di gerbang menuju klan Nattawin. Jantungnya mulai berdebar, ia gugup bercampur senang karena akan bertemu Gulf.


Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh penghalang di depannya. Menunggu seseorang membukakan penghalangnya dari dalam. Namun


Sreek..


Mew berbalik ke belakangnya setelah mendengar suara. Tidak ada siapapun. Mew mengeluarkan pedangnya bersiaga jika seseorang menyerangnya.