
Nick menatap anak buahnya yang berdiri dihadapannya. Ia ingat mereka yang bertugas mengawasi klan Nattawin. Kenapa mereka ada disini?
"Apa mau kalian? Kenapa tidak berjaga disana?" Tiga vampir itu tampak ragu dan juga takut untuk mengatakannya.
"Kalian hanya akan diam seperti ini?" Ketiganya langsung berlutut.
"Tuan kami ingin memberitahu jika ada seseorang yang keluar dari klan Nattawin"
"Siapa?" Ketiganya saling mendorong untuk berbicara.
"Dia raja Gulf" Ucap salah satunya dengan suara yang pelan.
"Apa?! Dan kalian tidak menangkapnya?" Nick mengikat ketiganya dengan kekuatannya sehingga mereka tercekik sampai tubuhnya terangkat ke atas.
"Maaf akh.. tuan. Tapi- sebelumnya anda.... mengatakan jika hanya mengawasi dan jangan bertindak"
"Dasar tidak berguna!!" Nick menambah kekuatannya sehingga mereka mati dengan kepala yang terlepas dari tubuhnya.
Nick terdiam, ia masih kesal dengan bawahannya itu tapi dia juga senang setelah mendengar Gulf kembali. Ia pun bergegas keluar untuk mencarinya.
...****************...
Aula besar yang menjadi tempat pertemuan para petinggi dan raja Up. Suasananya cukup menegangkan. Belum ada yang berbicara kecuali Up yang mengungkapkan kekesalannya karena Weir yang bisa kabur dari penjara.
"Jadi, kalian hanya akan bungkam seperti ini?! Tuan Pakorn, kau yang sebelumnya selalu memintaku membebaskannya. Apa sebenarnya kau yang mengeluarkannya? Bukankah kau mengirim seseorang ke penjara?" Tuan Pakorn langsung berlutut dengan wajah yang ketakutan. Semua orang terkejut dengan tindakan tuan Pakorn.
"Tidak yang mulia. Aku memang salah, aku mengaku memang berencana seperti itu. Tapi sungguh kali ini bukan aku yang membebaskannya"
"Lancang! Tuan Pakorn! Kau tahu tindakanmu itu melanggar hukum. Walaupun bukan kau yang mengeluarkannya. Tapi jika hal ini tidak terjadi pun kau akan mengeluarkannya. Benarkan?" Tuan Pan meneriakinya.
"Yang mulia tolong ampuni aku!"
"Yang mulia. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia sudah merencanakannya. Kita harus menahannya! Aku yakin yang lainnya juga setuju. Walaupun yang mulia tidak memiliki wewenang untuk menahan seseorang di kerajaan ini. Aku akan menahannya atas putusan dari para petinggi lainnya!" Beberapa petinggi langsung menyetujuinya.
"Aku bersedia diberi hukuman yang mulia" Tuan Pakorn tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Up sudah mengetahui rencananya. Ia pun langsung dibawa pergi oleh beberapa pengawal.
"Aku sepertinya melihat ada seseorang yang tidak hadir disini" Semuanya langsung memeriksa orang-orang disekitarnya.
"Tuan Nat tidak hadir yang mulia. Aku dengar dia sedang sakit jadi tidak bisa hadir disini" Up melihat beberapa orang tampak gugup saat ditanyai itu.
"Benarkah? Kau, periksa di kediamannya" Up langsung memerintahkan seorang prajurit untuk pergi.
"Baiklah. Aku ingin kalian mencarinya, jika seseorang berpura-pura tidak mengetahuinya, maka-"
Brakk!
Pintu besar itu terbuka menghentikan Up yang tengah berbicara dan menghadirkan Mew yang terengah-engah setelah berlari secepatnya.
"Siapa dia?" Beberapa petinggi tidak mengenalinya.
"Tuan Mew, ada apa?" Tanya Perth. Mew tampak mencari seseorang yang dikejarnya. Hingga ia melihatnya, Mew mengeluarkan pedangnya dan langsung melemparkannya ke arah Up. Up langsung sedikit menunduk menghindari pedang itu. Semua orang terkejut termasuk Perth yang langsung berdiri di depan Up untuk melindunginya.
"Kau! Pengawal tangkap dia! Dia berusaha membunuh yang mulia! " Para prajurit langsung mendekatinya.
"Tidak! Tunggu! Tuan Mew apa yang kau lakukan? Pedangmu hampir mengenai yang mulia" Perth tahu jika bukan itu maksud Mew. Mew tidak bisa menjawab, ia sibuk mengeluarkan kertas mantranya dan membaca mantra yang segera dilempar ke arah Up, tepatnya ia melemparkannya kepada seorang vampir yang berada dibelakang Up. Kao berusaha mendekati Up, namun Mew yang terus mengganggunya. Kao terus menghindari kertas mantranya.
"Perth lindungi yang mulia, dia akan membunuhnya!" Perth sedikit mengerti, ia langsung mengeluarkan pedangnya membawa Up pergi dengan mengayunkan pedangnya ke segala arah. Orang-orang disitu sama sekali tidak mengerti dan sebagiannya saling berpandangan. Rencana pembunuhan Up sepertinya gagal, mereka pun segera keluar untuk selanjutnya melakukan rencana cadangannya. Mew mengejar Kao yang kabur.
Up dan Perth pergi keluar untuk mencari tempat yang aman. Perth tidak pernah berhenti mengayunkan pedangnya begitupun Up yang juga mengayunkan pedangnya ke segala arah. Hingga mereka melihat Bright yang mendekatinya.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Gawat! Aku rasa seorang vampir datang dan ingin menyerang yang mulia. Aku harus membawanya ke tempat yang aman"
"Apa?! Ikut aku!" Ketiganya pergi ke tempat para pemburu beristirahat.
"Tuan aku minta bantuanmu. Jaga yang mulia Up. Aku rasa ada vampir yang ingin menyerangnya" Bright segera menyerahkan yang mulia Up kepada beberapa pemburu.
"Apa?!"
"Tuan Mew sedang mengejarnya sekarang. Aku ingin kalian membantunya" Ucap Perth dan para pemburu pun bergegas berpencar untuk mencari keberadaan Mew dan vampir itu.
"Perth kau sebaiknya disini. Aku harus membantu mereka" Perth mengangguk dan membawa Up kedalam.
Bright selalu siap dengan pedangnya, ia hanya bisa menggunakan instingnya untuk merasakan seseorang yang mendekatinya. Hingga ia merasakan langkah kaki seseorang. Bright berbalik dan hampir menebas bawahannya.
"Jenderal gawat!"
"Ada apa?"
...****************...
Sementara ditempat lain, Gulf sampai disebuah desa yang sibuk dengan aktifitas mereka. Beberapa diantaranya menatapnya aneh karena ia berpakaian sangat tertutup. Tiba-tiba dari belakang orang-orang berlari melewatinya. Gulf tidak mengerti dengan orang-orang yang tampak terburu-buru, hingga ia menahan seseorang.
"Ada apa?"
"Seseorang menemukan mayat seorang wanita lagi disana. Aku ingin melihatnya, karena ini sudah kesekian kalinya banyak orang-orang yang terbunuh" Orang itu langsung pergi. Gulf yang penasaran pun ikut pergi untuk melihat.
Gulf berdiri dibelakang diantara orang-orang yang tengah berkumpul melihat mayat yang tengah diangkat oleh prajurit yang bertugas di desa itu. Gulf bisa mencium bau seorang vampir disekitarnya. Ia langsung meyakini jika orang yang terbunuh itu adalah ulah dari seorang vampir.
Gulf mencoba mengedarkan pandangannya mencari keberadaan vampir itu, hingga ia melihatnya. Gulf memfokuskan pandangannya. Vampir itu mulai merasa kesakitan dan ia terkejut saat menatap Gulf. Ia ketakutan melihat Gulf, saat itu juga vampir itu berlari menjauhi orang-orang dan ia menusuk dadanya sendiri hingga mati.
Gulf berhasil menanganinya dan ia melihat mayat itu yang melewatinya. Orang-orang yang berkumpul pun bubar setelah mayat itu dibawa pergi. Hingga ia melihat seseorang yang dikenalnya, dengan cepat ia memakai tudung jaketnya untuk menutupi wajahnya.
Kenapa anak itu ada disini?
Perjalanannya menuju istana tertunda karena ia penasaran dengan kejadian di desa itu. Ia harus membunuh vampir-vampir yang berkeliaran disana.
...****************...
Mew mengejar Kao yang terus membawanya memasuki hutan. Hingga ia pun berhenti, Mew melempar lingkaran mantra untuk menahannya, namun Kao dengan cepat menghindarinya.
Mew mengeluarkan pedangnya, berbalik untuk menebas Kao. Kecepatan Kao tentu saja melebihinya sehingga dengan mudah ia menghindar. Kao terus mencoba mendekatinya, Mew berusaha menghindari serangannya.
Sreet!
Sreet!
Sreet!!
Kao tidak berhasil untuk menebasnya dan hanya menyayatnya di beberapa bagian. Mew meringis, berusaha terus menghindarinya dan menyerangnya.
"Manusia seperti kau tidak akan pernah bisa menyerangku" Mew menggenggam erat pedangnya, darah mengucur menuju pedangnya.
"Dimana Weir?" Diam-diam Mew menyalurkan kekuatannya memasuki pedangnya membuat sebuah lingkaran yang mengelilinginya.
"Kau pikir aku akan memberitahumu? Lebih baik kau mati!" Kao berpindah dengan kecepatannya mendekati Mew. Belum sampai menyentuh Mew, Kao terpental dengan keras membentur sebuah pohon hingga roboh. Kao meringis, Mew dengan cepat menyegelnya sampai Kao pun tidak bisa bergerak. Mew mendekatinya.
"Aku tanya sekali lagi, dimana Weir?" Kao tetap bungkam menatapnya marah.
"Kau cari sendiri!"
Jlebb!
Mew menusuk jantungnya dalam dengan penuh emosi. Kao berteriak kesakitan hingga ia pun mulai tak sadarkan diri dan mati.
...****************...
Sementara itu di kota orang-orang tampak heboh setelah mendengar kabar ada pertarungan antar prajurit di istana.
Bright tidak menyangka akan ada pemberontakan, ia mengenal pasukan prajurit yang menyerang istana. Mereka adalah orang-orang tuan Pakorn. Tanpa persiapan, penjaga gerbang istana tewas akibat penyerangan itu. Bright bertarung di depan istana, berusaha menahan mereka masuk dan menunggu pasukannya datang.
...****************...
Para petinggi yang berada di istana sudah diamankan di sebuah ruangan. Mereka tampak khawatir, dan sebagian lagi berwajah pucat. Pengikut Weir khawatir dan takut dengan kejadian yang sedang terjadi. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Atau jika mereka melawan, nyawa mereka akan melayang.
"Kalian! Katakan, kalian tahu tentang ini?" Tuan Pan menatap mereka yang bersikap aneh sejak tadi.
"Tidak. Aku tidak tahu, aku bahkan terkejut dengan kejadian ini. Bagaimana bisa ada pemberontakan seperti ini? Dan siapa orang yang menerobos tadi? Dia berusaha membunuh yang mulia Up"
"Tidak. Dia mencoba melindungi yang mulia"
"Tuan Pan sepertinya kau ragu. Kita semua tadi melihatnya melempar pedang ke arah yang mulia, jika tidak menghindar mungkin pedang itu akan mengenainya"
"Benar. Dia mungkin orang luar yang ingin membunuh raja kita dan merebut kerajaan ini" Semuanya langsung berpikir Mew dalang dari semua kejadian ini.
...****************...
"Phi kau terluka" Ucap Sean yang bertemu Mew.
"Dimana yang lainnya?"
"Semuanya sedang mencari vampir lain dan juga membantu jenderal Bright untuk melawan pasukan yang tiba-tiba datang menyerang istana"
"Apa?! Ayo kita bantu mereka"
"Tapi kau terluka phi"
"Aku tidak apa-apa. Ayo" Keduanya pun pergi.
...****************...
Banyak orang-orang yang terluka tergeletak di halaman istana yang luas dan juga orang-orang yang masih bertarung. Bright terus mengayunkan pedangnya, beberapa orang menghapirinya sekaligus. Bright menebas orang-orang itu. Karena Bright yang sulit dikalahkan prajurit itu terus berdatangan membuatnya hampir kewalahan.
Sreet!
Mew menebas seseorang yang hampir menyerang Bright. Saat itu juga pasukan Bright akhirnya datang, dan prajurit yang memberontak pun sebagian bertarung dan sebagian lagi mundur.
"Bright kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Kau terluka, sebaiknya kau pergi ke tempat yang aman obati lukamu"
"Kau harus melindungi yang mulia Up. Aku rasa mereka berencana untuk membunuhnya. Biar aku yang tangani disini" Bright mengangguk dan langsung pergi menuju tempat Up dengan sebagian pasukannya.
Benar saja, Bright melihat Perth dan Up bertarung melawan beberapa prajurit yang mendatangi mereka. Tidak hanya datang dari pintu gerbang depan, para prajurit itu juga mengambil jalan lain.
"Kalian berpencar! Dan pergi ke penjara jangan sampai tuan Pakorn bebas" Pasukannya berpencar, Bright membantu Perth dan Up melawan prajurit yang menyerang.
...****************...
Semuanya sudah dibereskan, bersyukur Up tidak terluka. Bright mengumpulkan pasukannya dan memerintahkan untuk membereskan mayat-mayat yang tergeletak dan membawa orang-orang yang terluka. Seorang bawahannya terburu-buru menghadapnya.
"Jenderal tuan Pakorn tidak ada di penjara. Aku rasa mereka membebaskannya" Bright menghela nafasnya, ia sudah tahu hal ini akan terjadi. Ia pun mengangguk dan membiarkan bawahan itu membantu yang lainnya.
...****************...
Mew selesai mengobati lukanya sendiri. Louis sibuk menangani orang-orang yang terluka parah. Tak lama kemudian Bright datang untuk mengecek kondisi Mew dan yang lainnya.
"Tuan kau baik-baik saja?"
"Ya aku sudah mengobatinya. Bagaimana yang mulia Up?"
"Dia sedang beristirahat di kamarnya sekarang. Tidak terluka sama sekali"
"Syukurlah. Saat sampai di kamarku tadi aku berniat untuk menghirup udara segar diluar, tidak kusangka aku melihat vampir itu yang dengan santainya memasuki istana"
"Lalu bagaimana dengan vampir itu?"
"Aku sudah membunuhnya. Aku rasa hanya dia vampir yang ikut serta dalam kejadian ini. Besok aku akan mencoba mengerahkan semua pemburu untuk mencari keberadaan Nick. Aku rasa Weir pun sedang bersamanya"
"Baiklah. Aku mohon bantuanmu tuan. Jika kau membutuhkan orang kau bisa mengatakannya padaku" Mew pun hanya mengangguk.