KING GULF

KING GULF
Chapter 40



Gulf diam-diam memasuki kawasan kantor keamanan di desa itu. Banyak prajurit yang berjaga, namun ia melewati pagar untuk memasukinya. Mengintip dari balik dinding, ia dapat melihat mayat yang berjajar tengah di identifikasi oleh beberapa orang. Gulf melihat First yang sibuk mengikuti proses identifikasi.


First lagi-lagi melihat mayat dengan kondisi yang sama persis. Luka gigitan di leher para korban, mengingatkan ia dengan para vampir yang akhir-akhir ini ia dengar. First sudah memberitahukan jenderal yang bertugas disitu, namun mereka tidak mempercayainya. Untuk membuktikannya pun, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia belum melihat secara langsung vampir yang membunuh korbannya.


"Jenderal sudah kubilang, ini teror para vampir"


"Itu hanya sebuah cerita fiksi. Kau sebaiknya lebih banyak membaca buku-buku pengetahuan yang nyata jangan hanya dongeng yang kau baca"


...****************...


First memisahkan diri untuk berpikir. Setelah meninggalkan kota ia pergi tanpa tujuan hingga ia berakhir di desa ini setelah mendengar beberapa kasus pembunuhan yang terjadi.


Seperti apa wujud mereka? Diantara orang-orang tadi pasti vampir itu ikut berbaur.


First benar-benar tidak tahu mengenai vampir. Vampir yang pernah ia temui mungkin hanya Nick dan baginya dia tampak seperti manusia lainnya.


Srek!


First menatap kawasan hutan setelah mendengar suara.


"Siapa disana?!" First menggenggam pedangnya bersiap untuk mengeluarkannya. Seorang laki-laki tua keluar dari hutan itu dengan jalan yang sedikit pincang. Dengan sigap First menghampirinya membantunya untuk berjalan.


"Tuan kenapa kau keluar dari hutan itu? Kau tersesat?" Orang itu terdiam dan mulai tertawa, menatap tajam First yang membuatnya terkejut.


"Ya dan aku kelaparan!" Leher First langsung dicengkramnya dan mendorongnya hingga terhimpit di sebuah pohon. First berusaha membebaskan diri. Ia dapat melihat jika orang yang ada dihadapannya bermata merah dengan taring yang mulai keluar.


Apa ini yang disebut vampir? Sial! Dia begitu kuat.


Vampir itu mendekati leher First untuk segera menghisap darahnya. Namun


Jlebb!


Ia melihat vampir dihadapannya sudah mati dengan luka tusukan didadanya. Vampir itu membunuh dirinya sendiri.


First menatap seseorang dengan mata merah yang menyala berada jauh darinya. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena suasana yang gelap membatasi penglihatannya. Orang itu hendak berbalik untuk pergi, namun First dengan cepat melempar pedangnya yang hampir mengenainya.


"Siapa kau?"


Gulf terdiam memunggunginya. Ia tidak berniat menolongnya tapi saat kondisinya semakin mendesak, tubuhnya seakan bergerak sendiri. Ia tidak mempedulikannya dan hendak segera pergi ketika sebuah tangan menahannya.


"Aku tanya sekali lagi. Siapa kau?"


"Bukan siapa-siapa" Cengkraman di lengannya semakin kuat.


"Kau yang membunuh vampir itu?" Gulf tidak menjawab, ia masih bungkam. Hingga First dengan paksa membuka tudung jaketnya. First penasaran dengan orang dihadapannya ini.


"Kau.....!!!" Cengkraman tangannya terlepas ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya.


"Yang mulia" First memberinya hormat. Ia tidak berpikir akan bertemu dengan Gulf. Hingga ia pun tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia membencinya tapi dia tidak bisa menunjukkan langsung dihadapan orangnya. Gulf menghela nafasnya dan berbalik menatapnya.


"Kenapa kau ada disini? Desa ini cukup jauh dari kota. Apa Weir yang menyuruhmu datang?"


"Tidak. Aku datang sendiri karena keinginanku"


"Benarkah? Kenapa? Seharusnya kau belajar di sekolahmu" Gulf menatapnya curiga.


"Aku tidak lagi sekolah disana. Yang mulia boleh aku tanya sesuatu?" First berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya. Membahas tentang dirinya, bagi First tidaklah penting dan ia tidak ingin mengungkitnya.


"Kau ingin bertanya apa aku seorang vampir atau bukan kan?" First cukup terkejut Gulf mengetahui maksudnya.


"Ya aku seorang vampir, tapi aku juga seorang manusia"


"!!!"


"Kenapa? Rasa bencimu padaku semakin besar karena aku seorang vampir bukan?"


"Yang mulia! Aku-"


"Tidak apa-apa. Banyak orang yang membenciku. Lupakan tentang ini. Sejak kapan pembunuhan ini terjadi?"


"Dari informasi yang aku dapat. Di desa ini memang sering terjadi pembunuhan, tapi akhir-akhir ini dalam sehari semakin banyak korbannya. Aku tahu semua ini ulah para vampir tapi tidak ada yang mempercayaiku"


"Kalaupun mereka percaya padamu. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh kalian. Manusia biasa tidak bisa melihatnya saat mereka menghilangkan keberadaannya"


"Lalu bagaimana mengatasinya? Kita tidak bisa membiarkan korbannya semakin bertambah" Gulf menatap First yang terlihat sangat serius. Sorot matanya mengungkapkan rasa khawatirnya terhadap orang-orang. Gulf tidak menyangka jika orang yang selama ini ia kira memiliki niatan tersembunyi, tapi ia dapat merasakan ketulusannya. Apalagi saat ia melihat First membantu orang tua yang kesusahan berjalan tadi, ya walaupun itu ternyata vampir yang First tolong.


"Kau sebaiknya urus korban-korban itu. Aku akan membunuh vampir-vampir itu"


"Apa?! Kau bisa terluka, mereka sangat kuat" Gulf tertawa menatapnya.


"Aku tidak selemah itu. Aku seorang vampir, ingat? Yang perlu kau tahu, tidak semua vampir membunuh manusia. Aku pergi" Detik itu juga dengan kecepatannya Gulf menghilang dari pandangan First tanpa sempat ia berbicara lagi. First terdiam, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Orang yang ia benci malah menolongnya.


...****************...


Prang!


Sebuah gelas melayang pada orang-orang yang tengah berlutut dihadapannya.


"Melakukan tugas seperti itu pun kalian tidak bisa?!! Dan dimana Kao?"


"Maafkan kami tuan. Seseorang menghancurkan rencananya. Kami juga tidak tahu keberadaan tuan Kao"


"Siapa?"


"Aku dengar dia seorang pemburu. Dia tiba-tiba menerobos ke dalam aula istana"


"Lagi-lagi mereka melibatkan pemburu. Sial! Kita hanya bisa berharap rencana cadangan kita berhasil"


...****************...


"Aku sudah menyebar orang-orangku untuk mencari keberadaannya dan juga para pemburu ikut membantu"


"Yang mulia sebaiknya kau istirahat sekarang. Semalaman kau tidak tidur karena memikirkan masalah ini. Tenang saja semuanya akan berjalan dengan baik"


"Aku baik-baik saja. Kalian bisa pergi"


Brak!


Pintu ruangan itu terbuka dengan seseorang yang terjatuh tak bisa menopang tubuhnya sendiri.


"Kara kau baik-baik saja?" Up terkejut dengan kondisinya. Ia langsung membantunya untuk duduk.


"Yang mulia akh-"


"Dia keracunan" Ucap Bright yang melihat tanda-tanda keracunan di wajahnya.


"Apa?!"


"Cepat panggil dokter Louis!" Perintah Bright pada pengawal yang berjaga. Perth langsung membawa Kara ke kamar terdekat.


...****************...


Kara berbaring tak sadarkan diri, dengan nafas yang cepat dan ia terus mengiris kesakitan. Louis memberinya obat penawar racun.


"Yang mulia aku sudah mengambil sample darahnya. Aku harus mengecek racun apa yang ada dalam tubuhnya" Up mengangguk dan ia duduk di kursi sebelah kasur menatap Kara khawatir. Bright memasuki kamar.


"Yang mulia aku mendengar kesaksian orang-orang dapur. Mereka mengatakan jika sebelumnya Kara tidak apa-apa dan akan mengantarkan makanan untukmu. Aku juga menanyai orang terdekat Kara. Dia bilang sebelum mengantarkan makanan, ia selalu mencicipi makanan yang akan disajikan. Aku rasa seseorang berniat meracunimu, tapi karena Kara yang memakannya jadi dia yang terkena racun" Up mengepalkan tangannya. Ia marah jika salah satu orangnya terluka.


"Selidiki siapa yang menaruh racun dan aku ingin Weir segera ditemukan" Bright dan Perth pamit pergi setelah memberinya hormat.


...****************...


Bright menyerahkan sebagian pasukannya untuk dipimpin Perth. Keduanya harus segera menemukan keberadaan Weir.


"Kau yakin sudah mengerahkan seluruh pasukanmu?"


"Ya. Sebagian pasukan ini aku ambil dari camp pelatihan. Aku mendengar banyak kasus pembunuhan sehingga aku menyebarkan pasukanku ke seluruh wilayah kerajaan. Tapi kau pasti bisa memanfaatkan pasukan yang sedikit ini bukan?" Bright sedikit menggodanya saat ini.


"Kau meragukanku?" Perth langsung pergi mengajak pasukan barunya pergi.


...****************...


Setelah memakan waktu beberapa hari, akhirnya Mile sampai di istana Poompat. Sebelumnya saat memasuki kawasan kerajaan Poompat, ia sudah tidak merasakan keberadaan pelindung itu dan ia pun langsung memeriksa sekitaran perbatasan.


Seseorang menyambut Mile, dia adalah orang kepercayaan Kaisar Gan atau ayah dari Up. Selama Up pergi, dialah yang menggantinya walaupun tidak sepenuhnya, karena ia tetap harus menanyakan keputusan Kaisar Gan. Mile dibawa langsung ke kamar raja untuk menghadap, sedangkan pemburu lainnya menunggu di ruangan lain.


"Kau... Mile?" Mile tersenyum mengangguk.


"Ini sudah bertahun-tahun tapi anda masih mengingatku"


"Tentu saja, walaupun dulu kau masih kecil tapi aku masih mengingat wajahmu"


"Bagaimana kabar anda yang mulia?"


"Yah. Aku sudah tidak bisa memimpin kerajaan ini lagi jadi aku menyerahkannya pada anakku. Kau pasti sudah bertemu dengannya bukan"


"Yang mulia Up sangat berani untuk datang ke kerajaan Traipipattanapong. Dia berkata jika pelindung ini rusak sehingga para vampir dengan mudah masuk ke kawasan kerajaan ini"


"Benar. Jadi bagaimana menurutmu? Kenapa pelindung itu bisa rusak? Sudah bertahun-tahun pelindung itu tidak goyah"


"Sebelum datang ke istana ini, aku memeriksa terlebih dahulu dan beberapa tanda rusak. Entah disengaja atau tidak tapi itu perbuatan manusia karena vampir tidak akan bisa menyentuhnya"


"Lalu kau bisa memperbaikinya?"


"Ya tentu aku sudah membawa bahan-bahan untuk membuat tanda jadi aku ingin meminjam tempatmu"


"Tentu. Fern kau bantu dia" Fern memberi hormat dan mengajak Mile pergi.


...****************...


Tumpukan mayat di sebuah hutan, lebih tepatnya mayat vampir yang sudah Gulf kumpulkan. Ia memastikan jika di desa itu sudah tidak ada lagi vampir yang berkeliaran sehingga ia tidak mendengar lagi adanya pembunuhan di desa itu. Gulf menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan mayat-mayat itu sampai menjadi abu. Ia tidak ingin meninggalkan jejak.


Selama berada di desa itu, ia juga memperhatikan kerja First. Ia cukup kagum dan sedikit iri karena First begitu membantu rayatnya yang kesulitan sehingga warga disana begitu menerimanya dan sangat dekat dengannya. Sangat mirip Weir yang selalu cekatan menyelesaikan urusan istana namun First dalam versi yang baik, tidak ada maksud jahat dan hanya terlihat ketulusan dari tindakannya. Namun ia tidak bisa mempercayai sepenuhnya karena menurutnya First masih berhubungan dengan Weir.


Gulf melompat dan mendarat tepat di depan First yang membuatnya sangat terkejut.


"Yang mulia. Kenapa kau ada disini?" First menatap sekitarnya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat.


"Aku sudah membereskan vampir-vampir itu. Jadi seharusnya desa ini sekarang aman. Aku juga sudah memperhatikanmu" First terkejut karena Gulf memperhatikannya. Padahal ia sama sekali tidak merasa ada orang yang membuntutinya.


Apa dia benar-benar membunuh vampir-vampir itu?


Tapi memang akhir-akhir ini tidak ada lagi pembunuhan.


Gulf menepuk pundaknya.


"Kerjamu sangat bagus. Jika kau tidak berhubungan dengan Weir, mungkin aku akan menjadikan kau orang kepercayaanku. Tapi walaupun begitu, aku minta bantuanmu untuk menolong orang-orang yang membutuhkan" First tidak percaya dengan kata-kata Gulf. Ini pertama kalinya ada orang yang menghargai kerja kerasnya apalagi sampai memujinya.


"Kenapa yang mulia berkata seperti itu? Aku tidak sebaik itu. Lagipula sudah ada orang-orang yang bertugas disetiap desa"


"Ya memang. Tapi tidak ada yang sebaik kau. Aku berharap lebih padamu. Aku harus pergi sekarang" First masih terdiam, sampai Gulf pergi pun ia masih mematung di tempatnya.