
Gulf keluar dari rumah Saran, sesuai keinginannya. Tapi, tentu saja ia tidak akan menuruti semuanya. Ia melirik rumah itu.
"Aku Saran. Bolehkah aku bertanya siapa orangtuamu?"
"Kenapa?"
"Hanya saja kau mirip dengan orang yang aku kenal"
"Aku dibesarkan di panti asuhan. Aku tidak tahu orang tuaku dimana"
"Kau benar-benar tidak tahu seseorang bernama Amphol?" Bright menggelengkan kepalanya, bahkan ia baru mendengar nama itu.
"Aku merasa kau mirip dengannya"
"Aku tidak mengenalnya. Mungkin hanya kebetulan aku mirip dengannya. Maaf tuan aku tidak punya waktu untuk bicara. Tuan ku sudah menunggu" Bright pun pamit pergi keluar, meninggalkan Saran yang masih terdiam. Ucapan Saran sedikit mengganggunya sekarang.
...****************...
Mew seharian ini diberi tugas untuk berburu hewan liar. Ia bahkan belum bertemu dengan Mile hari ini. Ia merasa jika Mile sengaja membuatnya sibuk untuk menghindari pertanyaannya.
Mew memanah seekor rusa yang langsung mengenai tepat sasaran. Ia pun mendekati rusa itu dan segera mengikatnya.
"Phi kau disini"
"Boat ada apa?"
"Tidak. Masih sibuk berburu?"
"Ya seperti yang kau lihat. P'Mile menyuruhku berburu hari ini"
"Aku bantu phi" Boat mengangkat rusa yang sudah diikat.
...****************...
Keduanya berjalan menuju mansion.
"Bicaralah. Kau sepertinya agak jadi pendiam setelah pulang bersama p'Mile"
"Aku melihat pembuatan tanda yang digunakan sebagai pelindung. Tapi, aku tidak menyangka p'Mile menggunakan darah vampir untuk membuatnya"
"Apa?!"
"Aku tidak mengira jika darah vampir bisa digunakan. Dia menggunakannya sebagai bagian dari pembuatan tanda itu. Bukankah itu dilarang? Tugas kita membunuh vampir yang merugikan manusia dan tidak mengambil apapun dari vampir yang kita bunuh"
"Hmm akhir-akhir ini sikap p'Mile sedikit aneh. Kepada siapa saja kau mengatakan ini? Apa pemburu yang ikut kesana tahu?"
"Tidak. Aku hanya memberitahumu. Mereka tidak tahu karena saat itu aku tidak sengaja melihat p'Mile" Mew mengangguk mengerti, ia pun menepuk pundak Boat.
"Bagus. Jangan bicarakan dengan yang lain sebelum semuanya jelas. Ayo kembali" Sepanjang jalan menuju mansion ia sibuk dengan pikirannya. Ia harus diam-diam mendapatkan jawabannya sendiri. Mew sedikit menyesali pembicaraannya kemarin dengan Mile. Seharusnya dia tidak bertanya langsung.
...****************...
Mile dengan serius membaca sebuah surat yang baru saja ia dapat. Ia segera merobek kertas itu dan membakarnya untuk menghindari siapa pun yang membacanya.
Seseorang membuka pintu ruangannya yang sedikit membuatnya tersentak.
"Phi aku sudah selesai. Ah lelahnya. Kau benar-benar tega menyuruhku berburu. Padahal lukaku belum sepenuhnya sembuh" Mile berdiri dan mengambil sebuah minuman dingin dari kulkasnya. Ia kini harus bersikap seperti biasanya. Mew sedikit melirik meja Mile. Saat ia masuk Mile terburu-buru membuang sesuatu.
Mile tertawa dan memberikan Mew sebuah minuman.
"Maafkan aku. Karena kejadian kemarin, buruan kita berkurang dan banyak pelanggan dari beberapa tempat mengeluh" Mew pun hanya mengangguk dan meminum minumannya.
"Oh ya tentang pertanyaanmu semalam... Aku-"
"Tidak apa-apa phi. Aku tidak terlalu memikirkannya. Itu hanya teman lamamu kan? Wajar kau memiliki teman. Jika kau sudah tahu mereka ada dimana kenalkan padaku dan pemburu lainnya juga" Mile sedikit tidak menyangka Mew mengabaikan hal itu. Dia tidak tahu apakah Mew sengaja atau tidak melakukannya tapi ia pun tersenyum dan mengangguk.
"Akan ku kenalkan jika aku tahu keberadaan mereka sekarang. Bagaimana kabar Gulf?"
"Gulf? Ah iya aku hampir melupakannya. Dia dan aku sekarang menjadi sepasang kekasih. Bukankah itu sulit dipercaya?" Ucap Mew dengan antusias.
"Apa?!" Mile terkejut mendengar hal ini.
"Ada apa? Kenapa kau sangat terkejut?" Mile menyadari kesalahannya ia pun tertawa sedikit canggung.
"Haha tidak. Hanya saja aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia menerimamu?"
"Phi kau benar-benar! Memangnya aku kenapa? Aku tampan dan juga sangat kuat. Dia tidak akan menolakku. Kau tahu? Aku........" Mew menceritakan kejadian saat akhirnya dia bisa diterima oleh Gulf, namun Mile tidak dapat mendengarnya. Pikirannya sibuk memikirkan hal lain. Mile tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika kini Mew dan Gulf menjadi lebih dekat.
Tok tok tok
Seseorang menyadarkan Mile dari lamunannya.
"Phi seseorang menunggumu di bawah" Khom sedikit menahan tawanya dan langsung pergi. Mew penasaran dan ia pun pergi diikuti oleh Mile dibelakangnya.
...****************...
Setelah melihat orang yang menunggunya, ia langsung berlari memeluknya erat.
"Phi lepaskan aku. Mereka melihatnya" Gulf mencoba melepaskan pelukannya.
"Biarkan saja. Mereka sudah tahu kau kekasihku" Gulf dibuat kehabisan kata-kata dengannya. Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu dengan mudah.
"Gulf sudah lama tidak bertemu" Gulf sedikit mendorong Mew untuk tidak terlalu menempel dengannya.
"Ya phi. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Mew lepaskan dia, kau membuatnya tidak nyaman"
"Benarkah? Bukankah pelukanku adalah tempat paling nyaman untukmu Gulf?"
"Ya ya terserah" Mew yang senang pun mencium pipinya.
"Kalian bicaralah. Aku masih banyak pekerjaan"
"Ayo Gulf ke ruanganku" Mew menariknya, namun tatapan Gulf masih tertuju pada kepergian Mile.
Mew benar-benar tidak melepaskannya, tangannya tak sedikit pun melepaskan pinggang Gulf.
"Phi aku susah bergerak bisakah kau lepaskan aku?"
"Tidak. Apa kau tidak merasa diperhatikan? Semuanya melihatmu. Bagaimana jika mereka mengambil kau dariku?"
"Aku tanya padamu, bagaimana cara mereka mendapatkanku?"
"Baiklah baiklah. Kekasihku yang paling kuat. Jadi, kau datang cukup cepat"
"Kau tidak ingin aku datang?" Gulf berniat untuk berdiri yang langsung ditahan kembali oleh Mew.
"Tidak. Bukan itu maksudku, kau tidak sibuk dengan kerajaanmu?"
"Aku cukup sibuk. Tapi aku masih memiliki waktu luang" Mew menatapnya tersenyum, menarik kepalanya dan mencium bibirnya.
...****************...
Di ruangan lain Mile membuka sebuah kotak cincin. Ia hanya menatap cincin itu, sedikit ragu untuk mengambilnya. Hingga ia pun kembali menutupnya.
...****************...
Sepanjang perjalanannya ia mendengar orang-orang membicarakan kebaikan raja mereka. First penasaran apa yang dilakukan rajanya itu untuk membuat mereka percaya bahkan bisa menerima jika rajanya seorang vampir. Dalam perjalanan menuju rumahnya, dari kejauhan ia melihat seseorang yang berlari mendekatinya.
"Ternyata mereka benar. Mereka mengatakan jika kau sudah kembali ke kota" Win tampak terengah kelelahan. First tak peduli dan kembali berjalan menuju rumahnya.
"Tunggu First, raja Gulf ingin bertemu denganmu" Langkah First terhenti dan berbalik menatap Win.
...****************...
Win dan First berhadapan dengan Gulf di ruangannya.
"First tentang ayahmu-"
"Tidak apa-apa yang mulia. Dia pantas mendapatkannya"
"Ya kau benar. Bagaimana keadaan desa?"
"Baik. Orang-orang desa kini sedang membangun sebuah bendungan. Musim panas akan segera datang, mereka mengatakan jika pasokan air di desa tidak mencukupi saat musim panas datang"
"Itu bagus. Aku ingin kau mengawasinya dan juga aku akan mengangkatmu sebagai pekerja resmi istana. Bagaimana?"
"Apa?! Tapi aku bahkan sudah berhenti sekolah"
"Kau akan di ajari langsung oleh ahlinya. Kau mau?" First sangat suka membantu orang-orang disekitarnya dan kini kesempatannya terbuka dengan semangat ia pun menerimanya.
"Mulai besok kau temui Jun, dia akan membantumu dan jika kau perlu sesuatu, kau bisa katakan padanya"
...****************...
First dan Win berjalan kembali untuk pulang.
"Kau tidak kembali ke asrama?"
"Aku sudah keluar dari sekolah"
"Apa?! Kenapa?"
"Aku akan menjadi seorang pemburu vampir. Aku sudah membicarakannya dengan p'Mew dan ia akan melatihku"
"Kau? Seorang pemburu?" First menatapnya tidak percaya.
"Ya. Kau pasti tahu aku tidak terlalu suka dengan urusan istana" First pun mengangguk.
"Oh ya selamat akhirnya kau bisa bekerja di istana. Kau sangat hebat"
"Tentu saja. Aku sudah tahu raja Gulf akan mempekerjakanku di istana" Win menatapnya sedikit curiga, ia bisa melihat raut wajah senangnya.
"Sepertinya kau tidak membencinya lagi"
"Apa maksudmu? Aku masih sangat membencinya. Bagaimana bisa aku mempunyai raja seorang vampir" First berjalan cepat menjauhi Win.
"Hey First jangan bohong. Aku bisa melihatnya" Win pun berusaha menyamakan langkahnya dengan First. Akhirnya kedua teman itu kembali saling mendukung satu sama lain. Walaupun seperti biasa First selalu memberi kata-kata yang cukup tajam padanya.
...****************...
Gulf sibuk dimeja kerjanya, membaca beberapa laporan yang datang padanya.
Dug!!
Gedebuk!!
Gulf sedikit terkejut mendengar suara itu dan ia beranjak dari kursinya menuju jendela ruangannya. Ia tidak melihat apa-apa hingga ia melihat ke bawah Mew tengah meringis kesakitan. Gulf segera membuka jendela itu dan melompat ke bawah.
"Phi kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Gulf membantu Mew untuk bangun.
"Haha aku tidak apa-apa. Hanya mencoba menarik perhatianmu. Apa aku mengganggumu?" Gulf dibuat melongo dengan jawabannya. Mew tidak bisa mengatakan jika ia terpeleset saat mencoba untuk naik langsung ke ruangannya, itu terlalu memalukan. Bahkan kini di kepalanya terlihat benjolan karena terbentur tembok.
Gulf mencoba untuk mengompres kepala Mew. Ia tidak mengerti dengan kekasihnya itu. Padahal ada banyak pintu di istananya dan lagi sangat mudah untuk Mew masuk tidak perlu menunggu izinnya.
"Kenapa kau datang kesini? P'Mile tidak memberimu tugas?"
"Akhir-akhir ini dia menyuruhku terus berburu binatang. Aku bosan, jadi lebih baik aku datang kesini untuk melihatmu bukan?" Gulf menghela nafasnya.
"Ya ya terserah. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku" Gulf beranjak untuk kembali ke meja kerjanya.
"Aku belum melihat Bright hari ini, biasanya dia selalu menempel padamu. Kemana dia?"
"Dia meminta izin untuk pergi ke kamp pelatihan"
"Oh lalu bagaimana dengan pedangmu?"
"Aku masih belum menemukan orang yang membuatnya"
"Butuh bantuan?"
"Tidak perlu. Kau sudah terlalu banyak membantuku"
"Apa maksudmu? Sebanyak apapun kau meminta bantuan, aku akan dengan senang hati membantumu"
"Iya iya jika aku membutuhkanmu aku akan memeras tenagamu"
"Termasuk juga jika kau butuh bantuan saat kau di kamarmu" Bisiknya. Mew memeluknya dari belakang.
"Hey. Biarkan aku bekerja oke" Mew tidak mendengarnya dan hanya bermain-main dengan Gulf. Entah itu memainkan daun telinganya atau mencium beberapa bagian lehernya.
"Baik-baik. Aku hanya bosan. Kau tidak merindukanku?" Gulf melepaskan berkas yang sedang ia baca. Ia berbalik menatapnya dan mengecup bibirnya.
"Kau tunggu. Pekerjaannya sebentar lagi selesai"
"Kau merayuku lagi dengan sebuah ciuman?"
"Bukankah itu yang kau suka?" Mew mencium pipinya gemas.
"Baiklah cepat selesaikan" Mew memberi ruang untuk Gulf bekerja dan ia hanya melihat-lihat ruangan Gulf.
...****************...
Hari-harinya berjalan dengan lancar. Ia sesekali keluar istana untuk melihat keadaan kota dan desa di wilayah kerajaannya. Ia ingin orang-orang tahu wajah raja mereka kini. Karena selama ini Gulf selalu tertutup dengan rakyatnya dan hanya beberapa yang mengetahui penampilannya. Rakyatnya begitu mengagung-agungkannya, karena Gulf selalu membantu orang-orang. Kini pandangan orang-orang terhadapnya sama seperti sang ratu ibunya. Mereka tidak mencapnya sebagai raja yang kejam lagi tapi kini raja yang kuat dan dermawan.
Hubungannya dengan Mew berjalan dengan baik, bahkan kini Gulf sering membantunya untuk berburu saat ia memiliki waktu luang.
...****************...
Jauh di tempat lain seorang laki-laki tampak berlutut mendengarkan perintah dari pemimpinnya.
"Kau awasi dia. Kita harus mendapatkannya"
"Tentu aku akan membawanya padamu" Ia tersenyum puas setelah mendapat tugas itu.
-END SEASON 1-