
Apo dan Gulf duduk saling berhadapan. Gulf tampak acuh padanya. Ia kesal karena harus terus berada ditempat ini.
"Bisakah aku keluar dari sini? Disini sangat membosankan" Ucap Gulf mengetuk-ngetuk meja.
"Kau bisa keluar asalkan kau sadar siapa dirimu" Gulf menghela nafasnya, ia bersandar di kursinya melipat kedua tangannya menatap Apo.
"Itu lagi, kalian menginginkan aku seperti apa? Aku sudah sadar" Ucap Gulf kesal. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang orang-orang inginkan darinya, terlebih ia tidak bisa mengingat apa-apa sejak ia sadar.
"Jika kau sudah sadar, kau tidak akan menyakitinya" Gulf mengerutkan alisnya.
"Siapa? Manusia sialan tadi? Apa hubungannya denganku? Lagipula, manusia hanyalah makanan untuk seorang vampir"
"Jangan mengganggunya. Kau sendiri juga manusia" Gulf menatapnya dan langsung tertawa mendengar ucapan Apo.
"Aku? Hahaha apa kau menjadi bodoh sekarang? Aku seorang vampir"
"Kau hanya setengah vampir. Kau tidak percaya? Lalu apa yang kau percayai? Bahkan kau pun tidak ingat apapun" Tawa Gulf langsung menghilang, ia tidak bisa menyangkal karena memang ia tidak mengingat apapun sekarang. Pintu kembali terbuka, Mew masuk ke dalam dan langsung mendapat tatapan tidak suka dari Gulf.
"Sebaiknya aku pergi, dia akan menemanimu. Jadi jangan kau sakiti dia atau kau akan aku kurung lagi" Ucap Apo langsung pergi.
Hening, keduanya terdiam. Gulf menyangga dagunya sembari menatap keluar jendela, ia kesal ruangan yang ia tempati diberikan penghalang oleh Apo.
"Apa bedanya dengan dikurung di tempat gelap itu" Gumamnya. Mew menghampiri Gulf dan memegang tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Jangan mendekatiku. Aku tidak akan menjamin keselamatanmu" Ucap Gulf sedikit acuh.
"Aku ingat sesuatu. Waktu itu aku pernah menyatakan perasaanku padamu, tapi aku belum mendapatkan jawabanmu" Gulf mengangkat alisnya sebelah.
'Ada apa dengan manusia ini?' Batinnya. Mew mengeratkan genggamannya.
"Cepatlah kembali, semua orang membutuhkanmu. Kerajaanmu sekarang membutuhkanmu atau semuanya akan mati" Tak ada jawaban, Gulf hanya menatap Mew tak mengerti. Mew menghela nafasnya, ia tahu percuma berbicara dengan Gulf yang sekarang.
"Aku manusia, jadi aku butuh tidur. Ingat jangan menyerangku atau pamanmu itu akan mengurungmu" Mew sedikit tertawa dengan candaannya sendiri, sementara Gulf hanya meliriknya tak peduli. Mew berbaring di kasur meninggalkan Gulf masih duduk di kursi menatap keluar jendela.
Mew menatap punggung Gulf, perlahan ia menyentuhnya, sedikit mengelusnya. Gulf terdiam, ia tidak mengerti kenapa ia bahkan tidak tega untuk menyingkirkannya sekarang. Ia pun membiarkan Mew.
"Aku dengar kutukanmu sudah hilang. Aku senang mendengarnya. Sebelumnya aku sangat khawatir terjadi sesuatu padamu hingga aku memaksa p'Mile untuk segera mencari solusinya"
"Singkirkan tanganmu, atau aku akan mematahkannya sekarang juga" Ucap Gulf penuh dengan penekanan, Mew hanya tersenyum. Ia sungguh merindukannya sekarang.
...****************...
Sampai tengah malam Gulf masih dengan posisinya, hingga sesuatu mengalihkan perhatiannya. Gulf mencoba menangkap asap yang beterbangan itu.
"Apa ini? Benar-benar mengganggu" Kesal Gulf. Asap itu langsung berubah menjadi seorang wanita yang menatapnya dari dekat, membuat Gulf tersentak. Gulf mematung ia memegang kepalanya dengan nafas yang tidak teratur. Seketika itu matanya terus berganti warna dari merah ke hitam dan kembali ke merah. Kini kesadaran manusia Gulf mencoba kembali mengambil alih.
Mew yang merasa terganggu pun terbangun dan melihat Gulf yang membuatnya khawatir.
"Gulf. Kau kenapa?!" Mew memegang tangan Gulf. Ia berteriak seperti kesakitan yang semakin membuatnya khawatir, hingga Gulf yang bermaksud menyingkirkan tangan Mew agar tidak menyentuhnya, dengan kekuatan yang cukup besar Mew terlempar hingga menghantam tembok.
Seketika ia yang tadinya gelisah pun terdiam, nafasnya kembali teratur. Tangannya yang tadi berada di kepalanya perlahan turun dan menatap orang yang sedang meringis kesakitan. Gulf terkejut melihat Mew dan langsung mendekatinya.
"P'Mew kau tidak apa-apa?" Walaupun sakit, Mew tersenyum senang karena Gulf telah kembali. Ia pun langsung menarik Gulf ke dalam pelukannya. Ia seketika ingat, dialah yang membuat Mew terlempar.
"Aku tahu kau akan kembali" Gulf terdiam. Ia pun mendorong Mew melepaskan pelukannya. Mew menatap Gulf yang menghela nafasnya dengan sangat berat.
"Aku... Aku yang membuatmu terluka dan juga aku membunuh rakyatku. Aku seorang monster. Kau seharusnya tidak berdekatan denganku" Ucap Gulf mengepalkan tangannya erat, air matanya mengalir. Mew mengusap air matanya, menangkup pipinya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa, kau pasti hanya tidak sengaja melemparku. Bukan kau yang membunuh mereka. Kau hanya dikendalikan oleh dendam dari pedang yang kau ambil"
"Tapi tanganku sendiri yang membunuh mereka!"
"Aku tahu. Tapi itu bukan karena keinginanmu. Kau pasti berjuang untuk sadar saat itu"
"Kau tidak mengerti! Mereka pasti akan lebih membenciku, raja macam apa aku ini!" Teriaknya kesal.
"Jika kau menjelaskannya pada mereka-"
"Kau pikir mereka akan percaya?! Kau tahu? Kenapa semua orang membenciku?! Karena aku membunuh raja sebelumnya, aku membunuh ayahku sendiri!!" Teriak Gulf, Mew terdiam ia terkejut dan baru tahu tentang hal ini.
"Kenapa monster sepertiku harus dilahirkan" Ucap Gulf pelan. Mew menggenggam tangannya erat. Sekarang bukan saatnya untuk bertanya. Yang harus ia lakukan adalah menenangkan Gulf sekarang.
"Jika kau tidak ingin menjadi monster, sebaiknya kau berlatih mengendalikan kekuatanmu" Ucap Apo yang tiba-tiba masuk setelah mendengar suara Gulf. Gulf menatapnya.
"Akhirnya kau sudah sadar. Istirahatlah, walaupun kau seorang vampir tapi kau juga seorang manusia yang butuh istirahat. Jangan berpikir hal lain dulu. Besok kita bicarakan dan jangan buat keributan" Ucap Apo langsung pergi. Gulf menatap Mew, meminta penjelasan.
"Yang dia katakan benar. Ayo tidur. Banyak hal yang harus dilakukan besok" Gulf menurutinya, ia pun berbaring bersama Mew. Pikirannya kini entah ada dimana, ia hanya menatap langit-langit kamar itu. Mew melirik Gulf yang ternyata masih belum tidur, ia pun memiringkan badannya dan memeluk Gulf. Gulf melihat Mew yang memejamkan matanya. Keberadaannya sedikit membuatnya tenang sekarang.
"Tidurlah" Gulf pun memejamkan matanya.
...****************...
Mew Gulf dan Apo tengah berkumpul sekarang. Gulf masih tampak terdiam dengan pandangan kosongnya membuat Mew sedikit khawatir.
"Karena dia sudah sadar aku akan membawanya kembali. Aku akan melatihnya" Ucap Mew.
"Bagaimana seorang manusia melatih seorang vampir?" Tanya Apo menatap Mew. Mew sendiri masih bingung, ia berencana untuk meminta bantuan Mile saat ia membawa Gulf kembali.
"Aku yang harus melatihnya, biarkan dia disini. Kau bisa menjemputnya setelah beberapa bulan"
"Tapi-"
"Jika kau tidak ingin kejadian sebelumnya terjadi, maka kau harus percayakan dia padaku" Ucap Apo.
"Gulf" Panggil Mew meraih tangan Gulf.
"Dia benar. Lagipula tidak ada yang menginginkanku di istana" Ucap Gulf.
"Apa maksudmu? Bright masih menunggumu dan rakyatmu juga. Walaupun sekarang mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka membutuhkan pertolonganmu" Gulf terdiam tak menjawab.
"Nick? Dia anak angkat Mick"
"Kau benar. Gulf dia sekarang sedang menguasai kerajaanmu, Weir bekerjasama dengannya selama ini. Bahkan istana dijadikan tempat untuk mengumpulkan orang-orang yang akan dibunuh dan darah mereka akan diperas untuk para vampir itu" Gulf mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Weir berhubungan dengan seorang vampir?
"Bukankah itu tugas kalian para pemburu vampir untuk melenyapkannya?" Mengingat apa yang rakyatnya pikirkan, Gulf rasanya tidak ingin mempedulikan mereka, namun mendengar penjelasan Mew, hatinya terbakar karena kesal.
"Aku tahu. Tapi sudah beberapa hari para pemburu tidak diperbolehkan untuk masuk kawasan kerajaan. Kini aku, rekanku dan Bright menjadi orang-orang yang dicari. Aku rasa Nick mulai menyadari jika beberapa anak buahnya menghilang karena aku dan Boat setiap hari selalu membunuh beberapa dari mereka" Gulf terdiam.
"Phi, kau bisa membantuku?" Tanya Gulf.
"Aku hanya bisa membantu melatihmu, tapi jika harus ikut campur dalam urusan kerajaan, aku tidak bisa. Aku tidak ingin berurusan dengan kerajaan lagi" Ucap Apo. Ketiganya terdiam.
"Gulf itu kerajaanmu. Kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri" Gulf menatap Apo. Seketika ia mulai bangkit, walaupun ia masih kesal dengan dirinya sendiri. Tapi ia masih mencintai rakyatnya.
"Latih aku phi" Apo mengangguk.
"Kau yakin?" Tanya Mew. Gulf mengambil sebuah kertas dan ia menulis dua buah surat.
"Phi berikan ini pada Bright. Dia akan tahu apa yang harus dilakukan" Mew menghembuskan nafasnya.
"Baiklah. Jaga dirimu disini aku janji akan sering berkunjung" Ucap Mew menatap Gulf. Ia meraih pipinya menyatukan keningnya dengan Gulf. Apo sedikit canggung melihat keduanya.
"Ekhem. Sebaiknya kita jangan buang-buang waktu" Ucap Apo berdiri dan langsung pergi. Mew menatap Gulf, sedikit tidak rela baginya untuk berpisah kembali.
"Aku pergi" Gulf menatap punggung Mew yang semakin menjauh.
"P'Mew tunggu!" Mew berhenti dan membalikan badannya. Gulf tampak melepaskan sesuatu dilehernya. Ia pun mendekati Mew dan memasang sebuah kalung di leher Mew.
"Jangan pernah lepaskan kalung ini. Aku rasa kalung ini bisa melindungimu" Mew tersenyum senang.
"Untukku?" Gulf tampak gugup.
"Tidak! Mana mungkin, itu pemberian ibuku. Aku hanya meminjamkannya padamu, kau harus mengembalikannya nanti. Jadi jangan sampai menghilangkannya" Mew berusaha menahan senyum senangnya, ia tahu Gulf tengah mengkhawatirkannya sekarang. Ia tidak sanggup melihat Gulf yang tampak begitu manis saat ini.
"Pergilah" Ucap Gulf meninggalkan Mew yang masih betah melihatnya.
...****************...
Bright dan Boat masih berada di tempat persembunyian. Bright sama sekali tidak bisa tidur.
"Tuan sebaiknya kau istirahat dan obati luka-lukamu itu" Ucap Boat melihat Bright yang sedari tadi mondar mandir.
"Tidak ada waktu. Aku khawatir, kenapa tuan Mew begitu lama? Apa terjadi sesuatu? Bukankah kita harus memeriksanya?"
"Tenanglah. P'Mew adalah pemburu yang kuat, pasti tidak akan terjadi apa-apa"
Pintu terbuka membuat keduanya langsung bersiaga dengan pedang mereka, namun saat melihat orang yang masuk mereka pun langsung menghampirinya.
"Tuan mana yang mulia?" Tanya Bright. Mew menatap Bright dan mengajaknya untuk duduk.
"Sementara ini aku tidak bisa membawanya kesini. Dia akan berlatih untuk mengendalikan kekuatannya"
"Dimana dia sekarang?"
"Dia aman bersama klan vampir"
"Apa? Klan vampir? Bagaimana jika mereka membunuhnya?" Tanya Bright panik.
"Kau lupa dia juga vampir? Tenang saja dia bersama pamannya" Bright terdiam, ia hampir lupa dengan fakta jika rajanya itu seorang vampir.
"Dia memintaku memberikan ini padamu" Ucap Mew. Bright langsung membuka surat yang diberikan.
...****************...
Bright tampak tengah bersiap-siap dengan mengenakan jubahnya. Tak banyak yang harus ia bawa, karena kini ia tidak punya apa-apa. Hanya kantong obat dan pedang yang akan ia bawa untuk perjalanan.
"Aku harus pergi sekarang" Ucap Bright setelah membaca surat dari Gulf.
"Kemana?" Tanya Boat.
"Aku harus pergi ke kerajaan Poompat. Yang mulia menyuruhku meminta bantuan"
"Tapi bagaimana? Kau tahu sendiri semua gerbang perbatasan di jaga dengan ketat" Ucap Boat. Bright hampir melupakan tentang itu. Beberapa rencana langsung muncul di kepalanya namun juga ia memiliki resiko jika harus meminta bantuan rekan-rekan prajuritnya.
"Kenapa harus kesana?" Tanya Mew.
"Karena raja disana adalah sepupu yang mulia. Aku harus meminta bantuan mereka" Mew mengangguk.
"Oh ya aku harus meminta bantuan tuan Pan. Mungkin dia bisa membantuku keluar"
"Kau yakin?" Tanya Mew.
"Ya. Sebelumnya merekalah yang menolongku keluar dari penjara. Aku akan kesana sekarang" Bright bergegas langsung pergi.
"Dia bahkan tidak peduli dengan lukanya" Ucap Boat melihat kepergian Bright.
"Lalu apa selanjutnya?" Tanya Boat.
"Jika Bright keluar, kita harus menyelundupkan para pemburu itu kesini" Ucap Mew. Boat sedikit terkejut dan khawatir. Bagaimana bisa pikiran itu langsung terlintas di pikirannya?
...****************...
Bright berjalan di sepanjang jalanan kota untuk menuju kediaman tuan Pan. Ia melihat orang-orang yang masih terlihat murung, tidak seperti sebelumnya. Hatinya bergejolak melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sampai di depan kediaman tuan Pan. Ada beberapa penjaga, namun ia pun menuju jalan rahasia yang pernah ditunjukan.
...****************...
Bright memasuki halaman yang cukup luas, sial baginya karena sekarang ada banyak prajurit di rumah itu, ia hanya bisa menunggu. Namun tak lama kemudian, seseorang melintas di depannya dan dengan sigap ia menariknya dan langsung membekap mulutnya membuatnya kaget.