
Gulf bersama Bright keluar dari istana untuk segera menuju kantor keamanan.
Semua prajurit memberi hormat dan membawa Gulf ke sebuah ruangan.
Gulf membuka kain yang menutupi mayat itu dan sebuah pemandangan mengerikan pun langsung terlihat. Mata yang terbelalak, tubuh sepenuhnya menjadi hitam dan terdapat lubang gigitan vampir di lehernya.
"Apa yang terjadi dengannya?"
"Aku tidak tahu saat pintu dibuka kondisinya sudah seperti ini"
"Kenapa badannya menjadi hitam seperti ini?" Bright baru kali ini melihat seseorang mati dengan tubuh yang menghitam.
"Kapan dia mati?"
"Kemarin sore yang mulia" Gulf sedikit mengerti dan ia pun menyuruh prajuritnya untuk segera menguburkannya.
Tak lama setelah melihat mayat Weir, Gulf segera kembali ke istana. Ia seperti mengingat sesuatu dan ia perlu memastikan di ruangannya.
...****************...
Gulf membuka pintu rahasia yang ada di ruangannya.
"Sudah ku kira kau ada disini" Gulf sedikit terperanjat mendengar seseorang di belakangnya.
"Kau mengejutkanku. Kenapa kau tidak beristirahat? Bagaimana dengan lukamu?"
"Aku bosan lagipula lukaku sudah lebih baik. Kau mau masuk ke dalam?"
"Ya. Mayat Weir ditemukan sedikit tidak wajar, aku ingin mencari sesuatu" Gulf dan Mew berjalan menuju ruang rahasia.
Gulf melihat buku-buku yang berjajar di sebuah rak buku.
"Bagaimana keadaan mayatnya?"
"Tubuh menghitam dan juga bekas gigitan vampir di lehernya. Aku perkirakan dia mati bersamaan dengan waktu kematian Nick. Apakah saat itu ada vampir yang mendatanginya lalu membunuhnya?"
"Aku rasa mereka melakukan sebuah kontrak"
"Kontrak apa?"
"Seorang manusia dan vampir bisa melakukan kontrak. Biasanya mereka melakukan itu untuk bekerjasama. Supaya lebih bisa dipercayai maka mereka membuat kontrak. Kita semua tahu mereka bekerja sama, tapi aku tidak menyangka seorang Nick yang kuat membuat kontrak dengannya"
Gulf mencoba membuka beberapa buku yang ada disebuah meja, ia pun menemukan sebuah keterangan.
"Kau benar phi. Kematiannya karena kontrak yang mereka lakukan. Disini dikatakan jika salah satu terluka maka yang lainnya akan ikut terluka juga. Jadi dia mati karena Nick mati"
"Buku apa ini?" Mew melihat buku itu.
"Aku tidak tahu. Menurutmu siapa yang menulis tentang ini?"
"Bukankah ini tempat ayah dan ibumu?"
"Ya. Apa ayahku yang membuatnya?" Mew hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
...****************...
Setelah memiliki waktu istirahat di istana, Mew bersiap untuk kembali ke mansion.
"Ku kira kau akan ikut denganku"
"Aku akan kesana nanti. Aku juga harus mencari tahu tentang pedangku"
"Hmm baiklah" Gulf menatapnya. Ia tidak tega melihat raut wajahnya yang murung. Gulf menangkup wajahnya
Cup!
Ia mencium bibir Mew sedikit menekannya.
"Jangan menampilkan wajah seperti itu. Jarak mansion pemburu dan istana tidak terlalu jauh. Aku bisa berlari kesana dalam sekejap" Mew tertawa mendengar kata-kata Gulf.
"Aku mencintaimu Gulf"
"Iya aku tahu. Pergilah, sampaikan salamku pada p'Mile" Mew memeluk Gulf erat sebelum keduanya keluar dari kamarnya.
Gulf melihat kepergian Mew dan para pemburu yang sudah keluar dari gerbang istana.
"Waktu berjalan begitu cepat. Kini tuan Weir dan vampir bernama Nick itu sudah mati. Bukankah seharusnya kita tidak memiliki gangguan lagi?"
"Tapi aku yakin diluar sana masih banyak yang mengincar kerajaan kita. Kita harus tetap waspada" Gulf menepuk pundak Bright. Ia pun berbalik untuk kembali masuk ke dalam istana. Bright mengikutinya dari belakang.
"Yang mulia, kulihat kau dan tuan Mew semakin dekat. Apa kalian memiliki hubungan spesial sekarang?" Langkah Gulf terhenti yang membuat Bright tersentak.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Ya... Kau bahkan membiarkan dia tidur di kamarmu"
"Bright aku rasa sebaiknya kau siapkan kuda untukku sekarang. Aku akan berganti pakaian dulu"
"Yang mulia, kau tidak perlu malu. Aku akan mendukung kalian jika kalian bersama"
"Bright!" Bright menahan tawanya dan langsung pergi.
...****************...
Gulf sudah bertanya kepada beberapa orang yang ia percaya di istananya, tapi tidak ada yang tahu pembuat pedang suci itu. Selama ia mendapat pedang itu pun, Gulf sendiri yang merawatnya begitupun dengan ayahnya dulu yang selalu merawatnya sendiri.
Gulf bersama Bright memutuskan untuk bertanya ke beberapa pandai besi yang ada dikota dan tidak satu pun dari mereka yang tahu bahkan mereka tidak mengenali pedang itu. Karena hari sudah larut, Gulf pun kembali ke istananya dan akan melanjutkannya besok hari.
...****************...
"Mew" Mew tersenyum dan langsung memeluknya.
"Bagaimana kabarmu phi? Sudah lama kita tidak bertemu"
"Aku baik. Bagaimana denganmu?"
"Tidak pernah sebaik ini" Mile melihat sekitarnya.
"Ada apa phi?"
"Ah tidak. Ayo masuk kita bicara di dalam"
Mile menyajikan segelas teh untuk Mew. Sudah sangat lama keduanya tidak mengobrol bersama.
"Kapan kau sampai?"
"Sekitar 3 hari yang lalu aku rasa. Kau tidak datang bersama Gulf?"
"Tidak. Dia masih ada urusan lain" Mile pun hanya mengangguk.
"Phi ku dengar kau ke kerajaan Poompat untuk memperbaiki sebuah pelindung. Perlindung seperti apa?" Mile sudah tahu Mew pasti akan menanyainya.
"Oh itu. Hanya pelindung biasa supaya tidak ada vampir yang memasuki kawasan kerajaan Poompat. Maaf aku tidak sempat memberitahumu atau yang lainnya. Saat itu aku harus segera menuju kesana sebelum semakin banyak vampir yang masuk"
"Ada pelindung seperti itu? Bagaimana caranya? Aku baru mendengar tentang pelindung ini"
"Tidak terlalu sulit hanya membuat beberapa tanda dan membacakan beberapa mantra"
"Kalau begitu kita bisa membuatnya untuk kerajaan Traipipattanapong?"
"Kita tidak bisa. Gulf seorang vampir, jika pelindung itu dibuat. Dia tidak akan bisa bertahan hidup di kerajaannya dan juga bukankah klan Nattawin ada di daerah kerajaannya"
"Ah kau benar juga"
"Hari sudah larut. Tidurlah, kita bisa bicara lagi besok" Mile berdiri untuk segera menuju kamarnya.
"Phi aku melihat sebuah foto dibukumu. Siapa mereka?" Langkah Mile terhenti. Ia masih belum tahu jawaban apa yang harus diberikan padanya.
"Itu foto lama bersama teman-temanku dulu"
"Lalu dimana mereka sekarang?"
"Aku sendiri tidak tahu. Kami sudah sangat lama tidak berkomunikasi"
"Begitukah? Oh ya seseorang yang-"
"Mew bisakah kita bicarakan besok? Aku sedikit tidak enak badan. Kau juga harus segera istirahat" Mile memotong pembicaraannya dan langsung pergi keluar. Mew menatapnya sedikit curiga.
...****************...
Hari ini Gulf kembali berkeliling untuk mencari pandai besi lainnya. Sampai menjelang sore hari pun hasilnya masih sama. Bright menyarankan untuk memerintahkan prajurit lain menanganinya, tapi Gulf langsung menolak. Ia harus mencarinya sendiri karena tidak ada yang boleh mengetahui tentang pedang sucinya yang patah. Gulf tidak menyerah, ia masih terus mencari pandai besi lainnya. Hingga ia sampai disebuah desa yang jika dilihat hanya sedikit penghuni desa ini. Gulf baru menyadari ada sebuah desa seperti ini di wilayahnya. Dari rumah satu ke rumah lainnya pun memiliki jarak yang jauh. Walaupun begitu, Gulf cukup terkejut ada seorang pandai besi di desa itu. Mereka pun mendatanginya.
Seorang laki-laki tampak sibuk tengah menempa sebuah pedang.
"Permisi. Tuan boleh kami bertanya sesuatu?" Laki-laki itu meliriknya dan sedikit terkejut melihat Bright. Saat melihat wajah Bright, ia seperti mengenali seseorang.
"Ada apa?"
"Oh tuanku ingin bertanya apakah kau bisa memperbaiki pedang ini?" Bright menunjukkan pedangnya.
"Ini..." Laki-laki itu menatap keduanya.
"Siapa kalian? Darimana kalian mendapatkan pedang ini?"
"Apa? Kami.."
"Siapa namamu?"
"Aku Bright"
"Tuan apa kau mengetahui sesuatu? Aku perlu mengetahui siapa yang membuat pedang ini" Laki-laki itu menghela nafasnya dan mengajak keduanya masuk ke dalam rumahnya.
...****************...
Gulf dan Bright dengan tenang duduk menunggu laki-laki itu untuk membawa sesuatu hingga ia membawa bungkusan panjang. Ia pun membukanya di depan Bright dan Gulf.
"Kalian lihat apa ada kesamaan pedang ini dengan pedang itu?" Bright dan Gulf mengamatinya.
"Ukiran kedua pedang ini sama dan memiliki tanda yang sama juga. Apa pembuat pedang ini sama dengan pembuat pedangku?"
"Pedang ini pemberian dari guruku. Apa kalian tahu dengan orang yang bernama Amphol?"
"Siapa dia?"
"Dia guruku. Dia yang mengajariku membuat sebuah pedang"
"Dimana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu pasti. Dulu dia tinggal disini tapi dia pindah tanpa memberitahuku. Aku tidak tahu dimana dia" Gulf yang awalnya menemukan harapan pun kembali menghela nafasnya.
"Baiklah aku akan mencoba untuk mencarinya. Kalau begitu kami pamit. Terimakasih tuan sudah meluangkan waktunya" Gulf dan Bright pun berdiri untuk segera pergi.
"Tuan Bright boleh kita bicara sebentar?" Bright melihat Gulf yang langsung mengizinkannya. Gulf pergi keluar, ia tahu sedari tadi laki-laki itu selalu memperhatikan Bright. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
Setelah melihat Gulf keluar, Bright menatapnya.
"Siapa kau?" Sebelum laki-laki itu bicara, Bright lebih dulu menanyainya.