
Mew mengeratkan giginya dan langsung melepaskan cengkramannya. Saat itu juga Mew pergi keluar dari aula pertemuan. Ia membanting pintu aula itu sehingga membuat semuanya terkejut dengan suara yang keras. Melihatnya pergi dengan raut wajah yang kecewa membuat Gulf sedikit merasa sakit di dadanya.
Gulf mencoba untuk tidak memikirkannya dulu dan kembali ke kursinya. Orang-orang saling berbisik. Mereka semakin tidak mengerti dengan rajanya itu. Bagaimana bisa ia tidak berbuat apa-apa dan hanya membiarkan orang itu? Dimana rajanya yang kejam sekarang?
"Yang mulia kau tidak apa-apa?" Bright khawatir dengan Gulf, baru kali ini ada yang memperlakukan rajanya seperti itu. Bright sedikit marah dengan tindakan Mew, tidak sepantasnya Gulf diteriaki di depan orang-orang. Gulf menghela nafasnya.
"Yang mulia, kita harus menangkapnya! Dia berperilaku seenaknya di istana" Seseorang memprovokasi dan yang lainnya menyetujui. Tindakan Mew terhadap Gulf memang tidak dibenarkan. Semua orang menganggap Mew tidak menghormati raja mereka. Gulf menatap tajam tuan Pond.
"Kau berani memerintahku?!" Tuan Pond yang terkejut langsung berlutut untuk meminta maaf. Sedangkan yang lainnya hanya terdiam, mereka tidak berani untuk berkomentar sekarang.
"Apa kalian berpikiran sama dengannya? Menganggapku seseorang yang kejam?" Tidak ada yang berani menjawab.
"Tidak apa-apa kalian berpikir seperti itu. Tapi harusnya kalian tahu alasanku membunuhnya"
Dengan berani tuan Pan menghadap Gulf.
"Yang mulia. Dia memang pantas dihukum, tindakanmu sudah benar. Aku dengar beberapa tahun terakhir dia mengkorupsi uang kerajaan dan juga uang yang harusnya diberikan pada rakyat. Dia juga menculik beberapa wanita untuk dijualnya"
"Benar. Memang seharusnya dia dihukum sejak dulu" Gulf menatap curiga orang-orang di depannya. Ia sedikit tidak mengerti, beberapa orang itu menganggap tindakannya benar.
"Lalu bagaimana dengan aku yang membunuh orang-orang saat itu?" Gulf mengganti topik lain. Walaupun sedikit sulit diucapkan, tapi dia ingin tahu bagaimana reaksi orang-orang terhadapnya.
"Yang mulia raja Up sudah menjelaskan semuanya pada kami. Bukan kau yang membunuh mereka. Dia mengatakan jika yang mulia saat itu dikendalikan oleh sesuatu"
"Dan kalian percaya dengan penjelasannya? Bahkan dia tidak ada di tempat kejadian saat itu"
"Yang mulia anda mempercayainya begitupun kami percaya dengan ucapannya dan juga kami mempercayaimu. Kau tidak mungkin membunuh tanpa alasan" Bright tersenyum mengangguk menatap Gulf. Ia senang kini orang-orang membela rajanya. Situasi yang aneh bagi Gulf.
...****************...
Sementara itu, Mew duduk disebuah bangku. Ia mencoba menenangkan pikirannya saat ini. Ia sangat kecewa dengan sikap Gulf yang seperti ini. Ia sempat berpikir jika mungkin itu karena dia seorang vampir jadi sikapnya tidak stabil. Namun Gulf yang sekarang beda dengan yang dulu. Kini ia sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri harusnya Gulf tidak bersikap seperti itu.
Seseorang menghampiri Mew yang tengah terdiam menundukkan kepalanya.
"Phi. Kami menemukan seorang mayat laki-laki dan sudah dipastikan dia mati karena seorang vampir. Mereka yang mengenalnya mengatakan jika mayat itu adalah tuan Pakorn. Kau tahu dia?"
"Apa?! Tunjukkan padaku"
...****************...
Setelah pertemuan dengan para petinggi selesai Gulf masih berada di aula untuk menunggu orang yang telah dia undang. Ia tampak gelisah berada di kursinya, hingga tak lama kemudian Bright masuk diikuti beberapa orang lainnya. Setelah melihat mereka Gulf dengan segera beranjak dari kursinya dan langsung menghampiri mereka. Mereka adalah keluarga korban yang tidak sengaja ia bunuh. Gulf sengaja menyuruh Bright untuk memanggil mereka ke istana.
Mereka hendak memberi hormat, namun Gulf menahannya dan dengan segera ia sedikit menunduk memberi hormat membuat semua orang terkejut. Gulf menatap orang-orang didepannya.
"Yang mulia, kenapa kau memberi hormat pada kami? Seharusnya kami yang memberi hormat"
"Aku tahu ini sangat terlambat, tapi aku ingin meminta maaf secara langsung pada kalian. Karena aku, kalian kehilangan anggota keluarga. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya tapi saat itu sesuatu mengendalikanku. Aku tahu itu bukanlah sebuah pembelaan karena bagaimana pun tidak ada yang bisa mengubah fakta jika tanganku sendiri yang membunuh mereka. Saat itu aku masih lemah tidak bisa menghindari sesuatu yang negatif. Tapi sekarang aku sudah berlatih dengan keras. Aku akan berusaha melindungi semua orang. Maaf aku belum bisa menjadi raja yang baik untuk kalian. Tapi percayalah aku masih berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kalian semua"
"Yang mulia itu sudah berlalu. Kami sepakat untuk memaafkanmu" Lagi-lagi Gulf dibuat terkejut dengan respon orang-orang. Dalam pikiran Gulf, ia berpikir jika mereka akan menghajarnya ataupun membunuhnya untuk balas dendam. Atau mereka akan mencibirnya dan lebih membencinya lagi. Tapi yang ia lihat sekarang adalah mereka memaafkannya.
Bright sedikit tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat saat ini. Sangat jarang melihat Gulf yang bersikeras ingin menemui rakyatnya untuk menjelaskan kesalahannya.
"Seorang pemuda mengatakan jika saat itu anda kesakitan dan berusaha untuk sadar. Saya dengar anda juga mendapatkan sebuah kutukan dari seseorang dan itu bisa merenggut nyawamu. Yang mulia saya tahu anda seorang raja yang baik. Berita yang mengatakan kau raja yang kejam dan tidak peduli dengan rakyatmu, semua itu hanyalah kebohongan. Maafkan aku karena sempat percaya dengan rumor seperti itu tanpa mencari tahu kebenarannya. Tapi untunglah saya saat itu bertemu denganmu saat kejadian di desa Khon. Aku melihatmu begitu tulus membantu orang-orang tanpa rasa jijik sedikit pun dan juga anda selalu memberi kami makanan yang sehat setiap harinya juga dokter-dokter yang hebat. Beberapa orang disini juga memiliki kerabat di desa itu dan mereka ingin berterimakasih padamu. Kau sudah menanggung beban yang sangat berat sendirian. Seharusnya kami sebagai rakyat tidak semakin mempersulitmu. Mulai sekarang kami akan memperbaiki rumor-rumor yang tidak benar" Semua orang langsung berlutut di depan Gulf yang masih terdiam tanpa kata-kata.
"Yang mulia kami memberi hormat padamu. Semoga anda panjang umur dan diberikan kesehatan. Semoga anda menjadi raja yang agung dan menyayangi rakyatnya" Sebuah senyuman tulus terukir dibibirnya, ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya. Beban yang sedari dulu terasa berat dipundaknya kini berangsur-angsur menjadi lebih ringan. Bright yang ikut terharu pun ikut berlutut memberi hormat. Ia sangat bangga memiliki raja seperti Gulf.
...****************...
Mew melihat mayat yang sudah mulai membusuk. Setahunya dia kabur saat pemberontakan itu terjadi, dan kini saat ditemukan tuan Pakorn sudah meninggal.
"Dimana kau menemukannya?"
"Kami menemukannya di hutan. Apa mungkin ini ulah vampir liar? Tapi sepanjang aku berkeliling aku tidak melihat satupun dari mereka yang muncul"
"Bisa saja. Sebaiknya selidiki lagi tempat kau menemukan mayat ini. Mungkin ada petunjuk yang akan kau temukan. Aku akan melaporkan hal ini pada jenderal Bright"
Tak butuh Mew yang menghampiri Bright, karena Bright sendiri yang datang. Bright penasaran dengan sesuatu yang baru mereka pindahkan, namun ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan.
"Bright, kebetulan sekali. Aku baru akan menemuimu, Ini tentang-"
"Tuan Mew maaf menyela. Tapi aku datang kesini untuk membawamu" Mew terdiam, ia melihat raut wajah Bright yang tidak biasa. Bright langsung memerintahkan bawahannya untuk membawa Mew. Ia terkejut karena kini tangannya terborgol dan juga dua orang yang menyeretnya.
"Bright! Apa maksudnya ini?!" Bright terdiam. Ia sendiri tidak bisa mengatakannya.
"Bright! Aku bicara denganmu!"
"Maaf tuan Mew. Yang mulia raja yang akan menjelaskannya"
"Gulf?" Mew sedikit tidak percaya Gulf memenjarakannya.
...****************...
Sedikit ragu untuk menemui Mew, Gulf masih terdiam diluar gerbang penjara.
"Yang mulia, keputusanmu sudah benar. Aku yakin tuan Mew akan mengerti jika kau menjelaskannya" Gulf tak meresponnya dan ia pun segera masuk.
Pandangannya langsung tertuju pada Mew yang tengah duduk terdiam, dengan keberadaannya pun Mew tampak tak peduli.
"Bright" Bright yang mengerti pun langsung pergi meninggalkan keduanya. Gulf membuka pintu penjara dan memasukinya mendekati Mew. Ia berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.
"Phi maafkan aku"
Mew menatap Gulf di depannya.
"Bright bertemu dengan beberapa petinggi, mereka mendesakku untuk menghukummu. Mereka merasa tidak adil jika aku tidak melakukannya. Semua orang mencibirmu aku tidak tahan mendengarnya. Tunggulah sebentar aku akan segera mengeluarkanmu" Gulf menyentuh tangannya.
"Dan juga aku ingin minta maaf membuatmu kecewa. Aku punya alasan sendiri membunuhnya dan semua orang tahu tentang kesalahannya. Bukan hanya karena ia memfitnahmu, tapi sebagai pengurus keuangan istana dia tidak bekerja dengan benar dan mengambil uang yang seharusnya untuk rakyat. Seharusnya aku sudah menghukumnya tapi beberapa kejadian membuatku tidak bisa menghukumnya saat itu" Mew melihat tangan Gulf yang menggenggamnya.