
Di suatu tempat yang jika dilihat dari kejauhan tampak seperti desa biasa, namun jika lebih diperhatikan banyak yang sedikit aneh dengan suasananya. Di salah satu bagian terdengar teriakan yang tiada henti sementara di sisi lainnya banyak orang-orang atau sebenarnya yang ada di desa itu bukanlah manusia melainkan para vampir tengah beraktivitas, entah berlatih ataupun berburu.
Seseorang pria berjalan menuju sebuah mansion besar. Ia terlihat sangat disegani karena orang-orang yang dilewatinya memberikan hormat sepanjang jalan.
...****************...
Gulf membuka matanya, ia langsung terbangun ketika ia tidak mengenali tempat yang ia tempati sekarang.
"Yang mulia anda sudah bangun" Gulf menatap seseorang yang tengah duduk di sebuah sofa.
"Pete? Dimana aku?"
"Tenang. Kau ada di wilayah klanku sekarang" Gulf terdiam, samar-samar ia mengingat kejadian sebelum ia ditangkap. Ia menatap tangannya, ia menyesal karena sudah membunuh rakyatnya sendiri. Bagaimana bisa seorang raja membunuh rakyatnya. Ia mencengkram rambutnya erat.
"Yang mulia tenanglah" Pete menahan tangan Gulf.
"Apa yang terjadi?" Tanya seseorang yang tiba-tiba masuk. Gulf menatapnya, ia tidak mengenal orang itu.
"Eoh tuan. Yang mulia Gulf telah sadar" Ucap Pete. Gulf menatap Pete seakan meminta penjelasan padanya.
"Oh ini tuan Apo. Aku pernah menceritakannya padamu kau ingat? Aku bilang auramu mirip dengan seseorang. Tuan Apo yang aku maksud, pemimpin klan kami. Dia menyelamatkanmu. Jika tidak, mungkin kau akan membunuh lebih banyak orang" Gulf hanya memperhatikannya. Apo terlihat sangat muda dan seperti berumur tidak jauh dengannya. Namun mengingat dia seorang vampir, Gulf tidak tahu usia Apo sekarang.
"Beruntung setelah kau pergi ke istana, seseorang menjemputku kembali kesini. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang" Lanjutnya. Gulf masih terdiam hanya mendengarkan.
"Yang terjadi kau akan membunuh semua orang hingga tidak bersisa. Pete kau keluarlah" Ucap Apo yang langsung dituruti oleh Pete.
Apo menatap Gulf yang sedari tadi terdiam.
"Jadi kau anaknya? Sudah kuduga memiliki setengah darah vampir akan sangat merepotkan" Ucap Apo. Gulf tidak mengerti dan menatapnya meminta penjelasan.
"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?" Tanya Apo.
"Siapa kau?" Tanya Gulf.
"Yah jika harus menuruti urutan saudara di kaum manusia mungkin aku pamanmu? Aku adalah kakak dari ibumu. Kau mengerti?" Gulf tidak menyangka ia masih memiliki keluarga walaupun mereka adalah vampir.
"Jadi bisa kau jelaskan?"
"Aku sendiri tidak tahu aku hanya ingat tubuhku yang tidak bisa aku kendalikan, dan aku.... Membunuh semua orang" Ucap Gulf sedikit berat.
"Kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu, sehingga sangat mudah kau dikendalikan. Karena sekarang kau disini, kau harus melatihnya. Tidak ada istirahat, cepat bangun" Gulf melongo, ia mengira jika ia akan dibiarkan untuk istirahat selama beberapa hari. Sekarang ia merasa tidak memiliki tenaga untuk melakukan apapun.
"Ayo cepat!" Tegur Apo yang melihat Gulf masih terdiam. Melihat pamannya yang begitu tegas, ia pun bangun.
"Dimana pedang itu?"
"Kau masih menanyakannya? Untuk apa? Kau ingin menghancurkan semuanya lagi?"
"Aku hanya bertanya" Ucap Gulf pelan.
"Aku sudah menyegelnya. Bagaimana bisa pedangnya ada disana?" Ucap Apo tidak mengerti, ia pun pergi diikuti Gulf.
...****************...
Di mansion yang sangat besar ini, beberapa orang menatapnya. Ia tidak menyadarinya, sekarang pikirannya entah ada dimana. Gulf hanya menunduk dengan tatapan kosong.
"Pete ikut denganku" Ucap Apo tanpa melihatnya. Pete pun mengekori keduanya.
...****************...
Keduanya pun sampai di sebuah gua yang begitu gelap. Gulf menatap sekitarnya, ia tersadar karena energi yang kental di gua itu.
"Dimana ini?" Tanya Gulf.
"Ini gua yang biasanya dijadikan tempat berlatih atau tempat pengobatan" Ucap Pete.
"Buka bajumu" Ucap Apo.
"Apa?!"
"Cepat buka. Atau kau ingin aku yang membukanya?" Gulf mulai sedikit kesal dengan kelakuan pamannya itu. Ia pun menurutinya dan Apo langsung membalikan badannya melihat tanda kutukan di punggung Gulf.
"Kau akan menghilangkannya?" Tanya Gulf, namun tak dijawab oleh Apo.
"Pete! Masukan dia ke kolam dan Ikat dia" Gulf maupun Pete terkejut.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan?!" Ucap Gulf sedikit panik, ia bertanya-tanya kenapa ia harus diikat. Walaupun ragu, Pete hanya bisa mematuhi perintah pemimpinnya itu. Gulf di masukkan ke dalam kolam yang ada di gua itu.
...****************...
Tangan maupun kaki Gulf kini sudah terantai, ia tidak bisa bergerak.
"Lepaskan aku!!" Teriak Gulf.
"Diam! Aku hanya ingin menghilangkan kutukan itu" Ucap Apo yang membuatnya terdiam.
"Kau bisa?" Tanya Gulf namun tidak dihiraukan oleh Apo yang hanya fokus entah sedang membacakan mantra apa. Seketika Gulf merasakan sesuatu yang terasa menyengat dari kolam itu mulai menyentuhnya dan merayapi tubuhnya, terasa sangat sakit untuknya hingga ia pun tidak sadarkan diri.
"Ayo tinggalkan dia" Ucap Apo. Pete yang tidak tega menatap Gulf, namun ia pun harus menuruti Apo dan keluar meninggalkan Gulf.
...****************...
"Gulingkan raja Gulf!! Gulingkan raja Gulf!! Hukum mati raja itu!! Dia sudah membunuh rakyatnya sendiri!!" Teriak semua orang. Weir mendatangi para warga dan langsung diberi hormat oleh orang-orang itu.
"Tenang semuanya. Kami minta maaf atas apa yang telah terjadi. Raja kita Gulf sekarang entah berada dimana. Kami masih mencari keberadaannya. Namun untuk mempertahankan kerajaan ini saya Weir untuk sementara akan menggantikannya dulu"
"Kenapa tuan tidak menjadi raja kami saja? Kami tidak ingin mempunyai raja yang bahkan membunuh rakyatnya sendiri. Benarkan semuanya? Kalian setuju?"
"Ya hidup raja Weir! Hidup raja Weir!!" Teriak semua orang. Dalam hatinya Weir merasa sangat puas, walaupun ia tidak tahu apa yang terjadi, namun selama itu menguntungkan untuknya, ia hanya akan menerimanya dengan senang hati.
"Tenang semuanya. Aku hanya sementara. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum raja kita kembali. Dan juga jika aku ingin kalian angkat sebagai raja selanjutnya harus ada ritual penyerahan pedang suci padaku. Kalian tahu itu bukan?" Semuanya langsung terdiam. Memang dalam hal pengangkatan seorang raja haruslah mewarisi sebuah pedang suci yang sudah turun temurun di berikan para raja-raja terdahulu. Ini yang menghambat Weir dengan keinginannya. Pedang itu tidak ditemukan dimana pun, karena tanpa pedang itu ia tidak akan diakui sebagai raja oleh kerajaan lain.
"Aku ingin sekarang kalian kembalilah ke rumah masing-masing, tunggu kabar dari istana. Kami pasti akan menemukan raja Gulf secepatnya. Mohon untuk para rakyat kerajaan ini untuk ikut membantu pencarian juga" Semua orang bersorak dan kerumunan itu pun akhirnya bubar.
"Bawa Bright padaku!" Ucap Weir dengan raut wajah yang kesal selepas semua orang pergi.
...****************...
Mew memacu kudanya setiap hari ke semua tempat yang ia lewati untuk mencari keberadaan Gulf. Hatinya begitu sakit karena Gulf kembali meninggalkannya.
Hari ini ia akan menemui Bright di gerbang perbatasan, namun ia langsung menghentikan kudanya ketika melihat Bright yang di bawa paksa oleh beberapa prajurit. Ia pun memacu kudanya dengan cepat dan membuat beberapa prajurit menghindarinya.
"Apa yang kalian lakukan?!" Teriak Mew.
"Siapa kau?" Tanya First yang menjadi utusan dari Weir untuk membawa Bright.
"Tuan Mew. Hentikan aku tidak apa-apa" Ucap Bright. Mew menatap Bright.
"Kau tidak perlu tahu aku siapa. Lepaskan dia!" First hanya tertawa.
"Oh aku ingat. Kau cukup sering datang kesini dan kulihat kalian sangat dekat. Dan juga kau bukan berasal dari kerajaan ini. Apa ini? Tuan Bright, apa anda menjadi orang dalam untuk mata-mata ini?" Ucap First menimbulkan emosi Mew, ia pun turun dari kudanya dan langsung mencengkram kerah baju First. Beberapa prajurit ingin menyerangnya, namun langsung dihentikan oleh First.
"Siapa yang kau sebut mata-mata? Aku hanya berteman dengannya. Jangan berbicara omong kosong atau akan ku hajar kau!" Tegas Mew menatap tajam First.
"Hahaha kau mau menghajarku? Silahkan, kau pikir dengan menghajarku akan membuatmu aman?"
"Kau pikir aku takut?" First kesal melihat tatapan Mew yang meremehkannya. Ia pun melepaskan cengkraman Mew dengan kasar.
"Baiklah lupakan. Kau hanya membuang-buang waktuku. Aku hanya ingin membawa Bright sesuai perintah tuan Weir. Ini tidak ada urusannya denganmu sebaiknya kau pergi" Ucap First membalikan badannya untuk pergi, Mew yang belum puas ingin menghajarnya namun Bright menghentikannya.
"Aku akan baik-baik saja. Kau bisa menemuiku lagi nanti" Ucap Bright. Mew pun hanya terdiam melihat Bright yang dibawa oleh para prajurit itu.
Mew kembali menaiki kudanya, ia merasa khawatir ketika Bright dibawa paksa oleh para prajurit. Tiba-tiba ia merasa seseorang tengah mengawasinya, ia melihat ke beberapa pohon disekitarnya.
"Siapa disana? Keluarlah!" Teriak Mew. Orang yang sedari tadi gugup untuk keluar pun akhirnya menampakkan dirinya.
"Kau.... Dokter Louis?" Louis pun hanya mengangguk.
"Maaf apa aku mengejutkanmu? Aku harus bersembunyi dari orang-orang itu"
"Tidak apa. Ada apa kau menemuiku?" Louis melihat sekitarnya memastikan tidak ada orang lain yang melihat keduanya. Ia pun menyerahkan sebuah bungkusan panjang yang sedari tadi dibawanya.
"Apa ini?"
"Itu pedang suci milik yang mulia Gulf. Tuan Weir sedang mencari pedang ini sekarang untuk menjadikannya seorang raja. Aku ingin kau menyimpannya selama yang mulia belum kembali. Ingat! Jangan berikan pedang ini pada siapa pun" Ucap Louis.
"Kau mempercayaiku? Aku bukan berasal dari kerajaan kalian"
"Karena yang mulia mempercayaimu, maka aku juga akan percaya padamu"
"Darimana kau tahu dia percaya padaku?"
"Karena dia mengajakmu ke tempat rahasia itu dan kulihat kalian sangat dekat" Mew tidak bisa berkata lagi. Ia pun mengambil pedang sucinya.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus kembali sebelum orang-orang disana mencurigaiku. Berhati-hatilah" Mew pun mengangguk.
...****************...
Bright di paksa masuk ke dalam istana dan ia melihat kursi kebesaran yang biasanya di duduki oleh Gulf.
"Apa yang kau lakukan?! Itu tempat raja Gulf!" Ucap Bright tidak terima. Weir tertawa melihat Bright.
"Kalian! Kenapa hanya diam saja? Raja kalian Gulf! Bukan Weir!" Teriak Bright pada para penjaga yang ada di ruangan itu, namun semuanya hanya terdiam tidak merespon Bright. Weir tertawa, ia pun mendekati Bright.
"Dengar! Sekarang aku rajanya. Dimana rajamu itu? Walaupun dia kembali, semua orang tidak akan ada yang menerimanya. Tidak ada yang mau mempunyai seorang raja pembunuh" Ucap Weir. Bagai seseorang yang telah berbuat salah, Bright dipaksa berlutut di hadapan Weir.
"Kau tidak akan bisa menjadi raja tanpa pedang suci!"
"Itu yang kubutuhkan sekarang. Dimana pedang suci itu?" Bright tentu saja menertawainya.
"Jawab!!" Teriak Weir mencengkram kerah baju Bright.
"Kau begitu sombong ingin menjadi seorang raja, tapi kau tidak tahu dimana pedang suci itu? Benar-benar seperti lelucon. Hahaha sangat lucu" Weir yang kesal pun langsung menendang dada Bright dengan keras, hingga ia tersungkur ke belakang. Weir meraih dagunya.
"Kau pasti tahu dimana itu. Katakan!!" Teriak Weir, namun Bright hanya tersenyum.
"Aku tidak tahu! Kau cari sendiri bajingan pengkhianat sialan!!" Teriak Bright.
"Kurung dia dan buat dia bicara!!" Teriak Weir yang kesal. Para prajurit itu pun segera menyeret Bright menuju penjara.