KING GULF

KING GULF
Chapter 55



Mile sampai di tempat berlatih para pemburu. Dia mencari Mew yang seharusnya ada ditempat itu, namun ia tak menemukannya dan hanya melihat Boat. Sebelum menemui Gulf, ia ingin bertanya pada Mew tentang pemburu yang sudah terbunuh itu.


"Boat, dimana Mew?"


"Phi darimana saja kau? Aku mencarimu tadi dan sekarang, p'Mew sedang mencarimu"


"Mencariku?" Mile segera pergi tanpa menghiraukan Boat.


"Kenapa mereka tampak sibuk?"


Mile mencari keberadaan Mew, namun ia tak menemukannya bahkan di kamarnya pun Mew tak ada.


...****************...


Mew memasuki istana dan segera berjalan menuju ruangan Gulf. Tanpa permisi ia pun membuka pintu ruangan Gulf yang di dalamnya Gulf tengah berdiskusi dengan jenderal Nodt dan Bright sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Phi, apa yang kau lakukan disini?" Mew tak menghiraukan para jenderal itu dan ia pun mendekati Gulf untuk segera memeluknya erat. Mengejutkan untuk jenderal Nodt yang baru pertama kali melihatnya. Siapa dia? Kenapa dia bersikap seperti itu pada rajanya? Ia hendak menyingkirkan Mew namun Bright segera menahannya dan menariknya keluar.


"Phi?"


"Ah aku bersyukur kau baik-baik saja" Gulf tak mengerti dan ia pun melepaskan pelukannya dan menatap Mew.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Ada apa?"


"Aku bertanya tentang pemburu yang menyerangmu pada p'Mile, dan aku rasa dia tahu tentangnya tapi dia tidak mau memberitahuku. Kemudian tadi aku mendengar p'Mile tengah mencari seseorang, aku tidak tahu siapa yang dia maksud. Tapi mungkin itu pemburu lainnya"


"Benarkah? Lalu kenapa kau begitu khawatir dan mendatangiku?"


"Aku rasa mereka mencarimu. Bagaimana jika kau di serang lagi oleh pemburu itu?" Gulf tertawa melihat kekasihnya itu.


"Phi jika mereka menyerang aku bisa melawan mereka. Kau tidak perlu khawatir"


"Seorang pemburu mungkin kau bisa. Tapi bagaimana jika mereka membawa banyak orang?" Gulf bisa melihat wajah Mew yang begitu khawatir terhadapnya.


"Phi jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Percayalah" Mew menghela nafasnya, ia tahu kekasihnya itu sangat kuat tapi dia tetap mengkhawatirkannya. Gulf membawa Mew ke dalam pelukannya.


"Aku bisa melawan mereka. Jika tidak, bukankah aku bisa meminta bantuan kekasihku yang seorang pemburu ini?" Mew tertawa membalas pelukannya.


"Aku akan melindungimu" Gulf tersenyum, namun pikirannya kini sibuk memikirkan hal lain. Jika Mile tahu kenapa dia tidak membiarkan Mew tahu?


...****************...


"Kau yakin akan menginap disini? Bukankah P'Mile akan mencarimu?" Mew dan Gulf kini berada dikamar Gulf.


"Aku bisa mengatakannya besok"


"Baiklah. Tapi malam ini aku harus pergi"


"Kau akan pergi? Kemana?"


"Aku masih harus mencari seseorang bernama Amphol"


"Kalau begitu aku akan menemanimu"


"Tidak. Kau..." Perhatian Gulf teralihkan oleh seseorang yang ia lihat jauh diluar sana.


"Gulf aku ikut oke" Gulf menatap Mew.


Cup!


Gulf melingkarkan tangannya di leher Mew dan menempelkan bibirnya di bibir Mew. Mew sedikit terkejut dengan tiba-tiba Gulf menciumnya. Ia hendak melepaskannya sebentar untuk menanyakannya, namun Gulf menekan kepalanya tidak membiarkan ciuman keduanya terlepas. Gulf mendorong Mew menghimpitnya di dinding kamarnya. Bibirnya ******* lembut bibir Mew.


Mew yang terbawa suasana pun memeluk pinggang Gulf membalasnya dengan menghisap pelan bibir Gulf. Gulf membuka matanya dan melihat ke arah luar. Merasa orang itu sudah pergi, Gulf melepaskan ciumannya. Mew yang belum puas pun menarik tengkuknya dan kembali menempelkan bibirnya namun dengan segera Gulf melepaskannya.


"Phi aku harus pergi" Mew menatap Gulf.


"Kenapa kau tiba-tiba menciumku? Bukankah karena kau merindukanku?" Gulf sedikit kebingungan untuk menjawab. Ia sendiri dengan refleks menciumnya ketika melihat seseorang.


"Tentu saja, sebelum pergi aku harus mengisi energiku darimu" Sedikit tidak biasa kata-kata seperti itu keluar dari mulut Gulf, tapi Mew menyukainya. Mew mengangkat tubuh Gulf dan membawanya untuk berbaring di kasur. Bagaimana jika sudah seperti ini?


Mew menenggelamkan kepalanya di leher Gulf untuk mencium dan sesekali menghisapnya pelan. Gulf pun menerimanya, ia akan pergi setelah berurusan dengan kekasihnya ini.


...****************...


Mile dalam perjalanan kembali ke mansion, setelah berencana untuk menemui Gulf, namun yang ia lihat Gulf tengah bersama Mew. Ia sudah mengira jika Mew bersama dengan Gulf. Melihat kedekatan keduanya, ia semakin bingung untuk menjalankan rencananya. Namun jika ia tidak cepat, mungkin Gulf akan mati sebelum ia mendapatkannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


...****************...


Mew berpindah ke samping Gulf setelah ia menyelesaikan gairahnya. Gulf mengatur nafasnya sembari memejamkan matanya. Mew pun memeluknya erat, sesekali mencium pipinya gemas.


"Phi aku harus ke kamar mandi"


"Aku tahu setelah itu kau akan pergi kan?"


"Apa?" Mew menatapnya.


"Aku akan ikut denganmu kali ini"


"Baiklah baiklah kau memang keras kepala. Menyingkirlah aku harus bersiap, kau juga sebaiknya bersiap" Mew dengan semangat bangun dan mengangkat Gulf menuju kamar mandi.


...****************...


Malam sudah sangat larut. Karena aktivitas keduanya, Gulf berangkat saat waktu sudah lewat tengah malam. Mew menggenggam tangan Gulf dan sedari tadi tidak melepaskannya.


"Phi bisakah kau lepaskan dulu peganganmu?"


"Tidak. Jika ada bahaya lebih mudah menarikmu" Gulf sedikit kesal. Apa kini kekasihnya itu menganggapnya seseorang yang lemah?


"Phi kau seorang pemburu vampir kan? Bagaimana dengan kecepatanmu?"


"Kau ingin mengujiku?" Gulf tersenyum, ia melepaskan genggaman tangan Mew dan langsung berlari menjauh. Mew yang mengerti pun mengejarnya.


Gulf berlari dengan cepat dan ia melihat Mew yang tak jauh darinya. Ia cukup kagum, Mew yang seorang manusia bisa mengimbangi kecepatannya. Sebelumnya ia tidak terlalu memperhatikannya tapi sekarang ia semakin mengaguminya.


Keduanya berlari tanpa arah, hingga Gulf melupakan tujuannya untuk keluar. Gulf menghentikan larinya ketika ia merasakan sesuatu dan dengan cepat Mew menangkapnya.


"Aku berhasil menangkapmu"


"Ssttt diam phi" Mew melepaskan pelukannya.


"Ada apa?" Mew mengedarkan pandangannya dan tidak melihat apapun.


"Kau tidak merasakan seseorang sedang mengawasi kita?" Mew melompat menaiki dahan pohon, berharap ia bisa melihat dari tempat yang tinggi.


"Gulf aku tidak melihat siapapun-" Mew melihat Gulf yang berlari ke arah lain. Mew dengan cepat turun dan mengikutinya.


Gulf melihat sebuah bayangan hitam di depannya dan ia pun dengan cepat mengejarnya.


"Gulf!" Mew berteriak memanggilnya namun seperti Gulf tidak mendengar Mew, ia terus berlari tanpa menghiraukan Mew.


Semakin jauh Gulf mengejarnya dan semakin jauh bayangan itu, sampai akhirnya Gulf kehilangannya. Ia berhenti dengan terengah.


"Sial! Siapa dia?" Mew mendekatinya.


"Aku melihat seseorang dan sekarang dia sudah menghilang"


"Benarkah? Haruskah kita mencarinya lagi?"


"Tidak phi. Aku rasa dia mungkin suatu hari akan kembali mengawasiku. Ayo kembali"


Mew memperhatikan Gulf yang tampak sibuk berpikir.


"Gulf. Apa mungkin itu para pemburu?" Langkah Gulf terhenti.


"Menurutmu begitu phi?" Mew mengangguk dan Gulf seketika tertawa membuat Mew tidak mengerti.


"Kenapa kau tertawa?"


"Tidak, aku semakin tidak bersabar bertemu mereka. Apakah mereka sepertimu atau lebih kuat darimu? Mereka cukup berani ingin menyerangku"


"Tentu saja aku lebih kuat" Mew tidak mau dianggap lebih lemah dari pemburu lainnya. Gulf merangkul bahu Mew.


"Ya, kekasihku pemburu paling kuat di dunia ini" Mew otomatis menarik pinggang Gulf dengan sebuah senyuman terukir di wajahnya.


"Ayo lanjutkan pencarian kita"


...****************...


Sepanjang perjalanan, Mew menjelaskan tentang para pemburu dan Gulf fokus mendengarkannya.


"Kau mengerti?"


"Ya, kalian seperti manusia dengan kekuatan vampir. Lalu formasi saat kalian mengalahkan Nick, itu benar-benar luar biasa"


"Formasi itu jarang digunakan karena membutuhkan energi yang besar"


"Tapi kau bisa melakukannya"


"Tentu saja karena aku pemburu terkuat" Gulf tersenyum menggelengkan kepalanya. Mew menahan langkah Gulf.


"Ada apa?"


"Ada sebuah rumah disana" Gulf melihatnya. Keduanya penasaran karena rumah itu berdiri di tengah hutan dan akhirnya mereka pun menghampirinya.


Rasanya akan tidak sopan saat bertamu di larut malam. Tapi Mew mencoba mengetuk pintu, berharap pemilik rumah itu membukanya. Sedangkan Gulf memeriksa sekeliling rumah dan ia berhenti ketika melihat sebuah garasi. Apa pemilik rumah ini seorang pandai besi?


Tak lama seseorang membuka sedikit pintu rumah itu.


"Siapa?"


"Ah maaf tuan kami mengganggumu larut malam seperti ini. Hm... Tunggu sebentar. Gulf!" Gulf yang merasa dipanggil pun menghampirinya dan ia melihat seseorang di dalam rumah. Tak terlalu jelas karena orang itu membuka sedikit pintu.


"Tuan kau tinggal di rumah ini?"


"Ya, aku tinggal disini"


"Apa mungkin kau seorang pandai besi?"


"Apa maumu?"


"Aku sedang mencari seseorang bernama Amphol. Apa mungkin kau mengenalnya?"


"Untuk apa kau mencarinya?"


"Ada sedikit urusan dengannya mengenai pedangku"


"Siapa kalian?"


"Aku Mew dan ini Gulf kami hanya-"


"Kau raja Gulf?!"


"Kau mengenalku?" Orang itu langsung membuka pintu lebih lebar. Gulf sedikit familiar dengan wajah orang yang kini ada dihadapannya.


"Mungkinkah.... Kau...."


"Masuklah" Mew menatap Gulf meyakinkan untuk masuk ke dalam.


Ketiganya berkumpul di ruang tengah rumah itu. Gulf bisa melihat beberapa pajangan pedang di dinding ruangan.


"Apa kau Amphol?" Mew menatap Gulf. Kenapa ia mengatakan orang itu Amphol?


"Ya itu aku. Maaf aku tidak menyambutmu dengan baik yang mulia"


"Sangat jarang melihat seseorang langsung mengenaliku sebagai seorang raja. Apa kau sebelumnya pernah melihatku?"


"Tentu. Aku pernah datang ke istana saat kau masih kecil. Jadi ada apa dengan pedangmu?" Gulf hanya mengangguk.


"Pedangku patah jadi aku harap kau bisa memperbaikinya"


"Mana pedang itu?"


"Ada di istana, besok aku akan membawanya"


"Oh benarkah?" Mew sedikit melirik Gulf. Bukankah Gulf membawa pedangnya?


Gulf dan Mew berpamitan, tidak ingin mengganggunya terlalu lama.


"Gulf, bukankah kotak di punggungmu itu adalah pedang?"


"Ya. Aku hanya merasa mungkin lebih baik besok aku memberikannya"


"Bagaimana kau bisa tahu jika dia orang yang kau cari?"


"Apa kau tidak merasa asing dengan wajahnya?"


"Ya..... Aku rasa.... seperti wajah yang pernah aku lihat?"


"Dia ayah kandung Bright"


"Ayah jenderal Bright?"


"Hm dan aku akan mempertemukan mereka besok" Mew melihat Gulf yang diam-diam tersenyum. Gulf sedikit tidak sabar untuk melihat reaksi Bright saat bertemu ayahnya.


"Kau akan kembali sekarang?"


"Hm. Aku sudah menemukan orang yang aku cari. Kau juga kembalilah" Gulf berjalan mendahului Mew namun langkahnya terhenti ketika Mew menahannya.


"Lalu bagaimana jika orang tadi kembali?"


"Bagus jika dia kembali, aku bisa menghabisinya langsung. Beristirahatlah aku kembali ke istana" Gulf mengecup bibir Mew dan dengan cepat menghilang dari pandangan Mew.


...****************...


Hari ini Bright dibuat tidak mengerti oleh rajanya itu. Gulf memintanya untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini dan malah mengajaknya pergi keluar.