KING GULF

KING GULF
Chapter 35



Sreek


Dari sisi lain terdengar suara gesekan dedaunnan, semakin membuatnya yakin jika kini di tempat itu tidak hanya dia seorang.


"Siapa kau?! Keluar!" Seseorang melompat mendekati punggungnya namun dengan cepat Mew berbalik dan menebasnya. Benar saja beberapa vampir mengawasinya, bagaimana bisa ia tidak merasakannya.


Serangan Mew hanya menggoresnya sehingga vampir itu kembali bangun dan akan kembali menyerangnya. Mew merapalkan mantranya hingga vampir itu tidak bisa bergerak, namun vampir lain mulai menyerangnya.


...****************...


Sementara itu di klan Nattawin, Gulf melihat Pete yang tengah melatih para vampir liar. Sesekali Gulf mengerjainya dengan mengendalikan salah satu vampir itu. Ia hanya tertawa saat Pete sudah mulai merasa kesal. Hanya ini hiburan untuknya sekarang.


"Bukan aku Pete. Sungguh aku sedang berlatih sekarang" Pete menatapnya tidak bisa berkata-kata karena terlalu kesal.


"Baiklah baiklah. Maafkan aku oke. Aku hanya sedang bosan sekarang"


"Jika kau bosan. Kau bisa membantuku"


"Ah aku malas, sudah sangat melelahkan dengan latihanku sendiri. Tapi aku tidak menyangka penampilanmu terlihat sangat bodoh tapi ternyata kau sangat kuat" Kata-kata dari Gulf seperti ejekan dan juga sebuah pujian. Entah Pete harus merasa senang atau kesal.


"Kau mengataiku bodoh?"


"Tidak. Aku mengatakan kau kuat, apa kau menjadi tuli sekarang?" Seseorang menghampiri keduanya.


"Tuan Pete ada keributan di luar perbatasan"


"Boleh aku lihat?"


"Tidak! Kau sebaiknya kembali berlatih. Aku akan segera kembali" Gulf menekuk wajahnya. Ia sedikit kesal, ia merindukan orang-orang di istana. Entah bagaimana sekarang kondisinya.


...****************...


Pete dapat melihat dari dalam jika Mew tengah kewalahan melawan beberapa vampir, hingga ia pun segera membuka penghalang. Pete mengeluarkan pedang-pedang kecilnya dan melemparkan pedang itu hingga langsung mengenai titik fatal para vampir itu.


"Tuan Mew kau tidak apa-apa?" Mew hanya mengangguk, ia terlalu sibuk untuk membalas pertanyaannya. Wajah Mew sudah terlihat pucat, kondisinya masih lemah. Beberapa pengawal di klan Nattawin membantu melawan para vampir itu dan Pete segera membawa Mew masuk ke dalam.


Tubuh Mew terluka dan darahnya bisa mengundang kekacauan untuk para vampir liar yang belum terlatih. Pete langsung membersihkan lukanya dan juga membalut luka Mew. Setidaknya luka tersebut tertutup.


"Dimana Gulf? Dia baik-baik saja?"


"Ya dia sangat baik. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Ku dengar kau ditahan di istana" Mew terdiam. Mendengarkan perkataan Pete membuatnya semakin gugup untuk bertemu dengannya.


"Ayo, aku sudah membalutnya" Mew terdiam, dia sedikit ragu sekarang.


"Kenapa? Ada yang sakit?" Mew menggelengkan kepalanya.


"Apa Gulf akan marah aku baru mendatanginya?"


"Aku rasa dia akan senang bisa melihatmu lagi. Dia selalu membicarakanmu. Ayo sebaiknya kau hilangkan pikiran-pikiran anehmu itu. Gulf menunggumu" Mew pun memantapkan hatinya dan mengikuti Pete.


...****************...


Pete membuka kamar Gulf, namun ia tidak melihatnya hanya kamar kosong. Pete mengajaknya ke tempat lain.


Keduanya memasuki sebuah gua tempat Gulf berlatih, dan benar saja Gulf ada disana. Mew menatapnya dari kejauhan, kemampuannya sudah sangat meningkat, bahkan ia sedikit tidak percaya orang yang ia lihat adalah Gulf.


"Kau masuklah. Aku tahu kalian butuh waktu berdua. Aku masih harus mengurus vampir-vampir itu" Pete menepuk pundak Mew menyemangatinya.


Perlahan langkah Mew mendekati Gulf yang membelakanginya. Ia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan rasa senangnya, hingga ia pun langsung memeluk Gulf dari belakang membuatnya terdiam.


Gulf membeku jantungnya langsung berdebar, tanpa melihat pun ia tahu siapa pemilik tangan yang melingkar di tubuhnya.


"Aku merindukanmu" Suara berat yang sudah sangat lama tidak Gulf dengar.


"P'Mew... Kau..." Gulf berbalik dan melihat langsung wajah Mew yang tersenyum padanya. Ia menyentuh pipinya membuat Mew memejamkan matanya. Benar, Mew telah kembali. Gulf menariknya ke dalam pelukannya dengan erat.


"Ku kira kau sudah mati" Mew tertawa membalas pelukannya.


...****************...


Gulf membawa Mew ke kamarnya. Mew menyerahkan pedang suci milik Gulf.


"Dokter Louis memintaku memberikannya padamu" Gulf mengambilnya.


"Terimakasih dan kau... Apa kau baik-baik saja?" Pertanyaan yang sedari tadi Gulf tahan akhirnya bisa keluar. Mew mengangguk.


"Maaf karena rencanaku gagal dan malah terkurung oleh pelindungmu ini" Mew menunjukkan kalungnya.


"Tapi aku sangat berterimakasih. Jika kau tidak meminjamkan kalung ini, mungkin aku sudah tidak bisa melihatmu lagi" Mew tersenyum menatapnya, entah kenapa membuat Gulf sedikit salah tingkah. Mew melepaskan kalung itu dan memberikannya pada Gulf.


"Aku sudah berjanji untuk mengembalikan ini" Gulf hanya menatap kalung itu. Ia pun menyodorkan kembali kalung itu.


"Pakailah lagi. Itu bisa menolongmu dalam keadaan darurat kan"


"Apa? Tapi ini kalung pemberian ibumu bukan?"


"Ya memang. Dari dulu aku tidak menyukainya jadi lebih baik kau yang memakainya"


"Baiklah, tapi aku ingin kau memakaikannya padaku"


"Merepotkan" Walaupun menggerutu, Gulf masih melakukannya. Ia berdiri di belakang Mew untuk memakaikan kalungnya. Dengan cepat ia kembali ke tempat duduknya. Ia sedikit gelisah dengan tatapan Mew saat ini padanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan"


"Aku... Boleh aku berbaring ditempat tidurmu? Aku lelah" Seketika Gulf terdiam tidak bisa berpikir. Ia kira Mew akan mengatakan sesuatu hal yang penting. Benar-benar bodoh kau menunggunya berbicara, memang apa yang kau harapkan?


Gulf ingin memarahinya tapi melihat Mew yang dari tadi berkeringat dengan wajah pucatnya, ia pun segera menyuruhnya untuk istirahat dulu.


"Tidurlah dulu. Nanti aku suruh Pete membawa makanan kesini" Mew benar-benar lelah dan ia pun langsung tertidur.


Gulf menatap pedangnya, ia pun mengeluarkannya melihat pantulannya wajahnya di pedang itu. Sejak pertama Mew menyerahkannya, ia sudah merasa ada yang berbeda dengan pedangnya itu. Ia sangat tahu, ada seseorang yang berani mengubah pedangnya. Tapi siapa?


Gulf menyentuh pedangnya mencoba mengalirkan energinya. Sebaiknya ia memurnikan pedang itu, ia tidak tahu apa yang kini ada di pedangnya jadi dengan dimurnikan sesuatu yang bukan pada tempatnya akan menghilang.


...****************...


Mile beristirahat setelah membersihkan dirinya. Pikirannya kini tertuju pada pelindung yang dulu pernah ia buat di kerajaan Poompat. Saat itu ia bersama pemburu dari pusat sebelum ia diusir. Dan sekarang pelindung itu rusak, bagaimana bisa? Siapa yang merusaknya? Vampir tidak mungkin merusaknya karena mereka bahkan tidak bisa menyentuhnya. Lalu siapa?


Boat mengantarkan secangkir kopi panas untuk Mile.


"Minumlah phi"


"Kenapa kau yang mengantar?"


"Aku sudah tidak apa-apa. Sekarang pun aku sudah bisa berburu kembali"


"Benarkah? Kalau begitu bisa ikut denganku?"


"Kemana?"


"Ke kerajaan Poompat. Kita memiliki tugas disana"


"Tentu. Kapan kita kesana?"


"Besok. Siapkan juga beberapa orang lagi" Boat pun mengangguk dan segera pergi.


...****************...


Sementara itu di tempat lain, Nick dan Kao menghentikan langkahnya setelah Nick bertemu seseorang yang di kenalnya. Kao tidak tahu siapa orang dihadapannya yang bisa membuat tuannya itu menampakkan wajah marahnya.


"Wah siapa yang aku temui ini? Kukira kau sudah mati. Apa Mew gagal? Tentu saja, jika berhasil aku tidak akan bertemu denganmu. Benarkan?" Nick mengepalkan tangannya kesal. Terakhir kali bertemu dengan orang dihadapannya tidak berjalan dengan baik. Ia hampir mati terbunuh saat itu.


"Tuan siapa dia? Dia manusia kan?" Kao tidak dihiraukan. Nick hanya menatap tajam orang di depannya.


"Menyingkir dari jalanku Vegas!"


"Kau masih mengingatku? Bagus! Sebaiknya kita lanjutkan pertarungan saat itu" Vegas mengeluarkan kertas mantranya dan melemparkannya pada Nick. Kao berusaha menebas kertas-kertas mantra itu dan Nick keluar dari lingkaran yang di buat kertas mantra tadi. Ia mengeluarkan pedangnya untuk menyerang Vegas yang terlihat sangat santai menghadapinya.


Vegas bisa dikatakan pemburu yang cepat. Ia dengan mudahnya menghindari serangan Nick. Dengan sekali pukulan keras Nick langsung terpental, Kao yang terkejut ikut maju untuk melawan. Namun tentu saja Kao pun hanya mendapat luka.


"Kemampuanmu masih seperti ini? Hah.. Membosankan. Sebaiknya kau ikut denganku, seperti dulu kau bisa berlatih denganku. Bagaimana?" Nick enggan untuk mengikutinya. Mengingat dulu ia pernah tertangkap oleh para pemburu dan hanya menjadi mainan mereka.


Nick kembali berdiri, jiwa seorang vampir yang marah tidak bisa di remehkan. Matanya memerah dengan cepat ia menyerang Vegas, beberapa kali Vegas mendapat luka cakaran. Kecepatan Nick bertambah membuat Vegas sedikit terkejut. Ia membaca beberapa mantra penghancur dan melemparkannya pada Nick, tapi dengan mudah Nick menghindarinya dan membalas dengan melempar kekuatannya ke arah Vegas.


Boomm!!


Satu ledakan yang langsung memblokir pandangan Vegas. Debu dan asap menghalangi pandangannya dan saat itu juga ia tahu jika Nick melarikan diri.


"Sialan! Dasar makhluk menjijikan!"


...****************...


Beberapa vampir sudah dikumpulkan, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka mulutnya saat ditanyai. Mereka bahkan lebih memilih disiksa hingga mati daripada berbicara dengannya.


"Tuan mereka benar-benar keras kepala"


"Lenyapkan saja mereka. Aku rasa Nick yang mengirim mereka"


Gulf datang melihat vampir-vampir yang tengah di lenyapkan oleh beberapa orang disana.


"Kenapa mereka dibunuh?"


"Mereka anak buah Nick, beberapa hari terakhir mereka mengawasi kita dan juga mereka yang menyerang Mew saat datang kesini" Gulf cukup terkejut, kini ia tahu kenapa Mew datang dengan banyak perban yang melilitnya.


"Benarkah? Sialan! Berani-beraninya mereka!"


Salah satu vampir mencoba menyerang dan membuat beberapa orang dari klan terluka. Mata Gulf menatapnya hingga vampir itu seketika menjadi tenang dan saat itu juga ia menusuk dadanya sendiri sampai akhirnya ia tergeletak mati. Apo sedikit kagum melihat Gulf melakukannya dengan tenang.


"Pengendalianmu bagus. Kau berlatih dengan baik" Puji Apo.


"Hancurkan tubuhnya dan aku ingin ada yang berjaga diluar. Jika mereka mengganggu lagi, langsung bunuh saja"


"bagaimana dengan manusia itu?"


"P'Mew masih tertidur. Aku rasa ia terlalu memaksakan diri untuk datang kesini"


"Pete bisa kau antarkan makanan manusia ke kamarku?"


"Tentu yang mulia"


"Phi aku akan melihatnya dulu"


...****************...


Gulf masuk ke dalam kamarnya dan tidak mendapati Mew di dalam. Kemana dia?