KING GULF

KING GULF
Chapter 38



Weir menghampiri Nick dengan wajah senangnya. Dengan sombong ia melipat tangannya di depan dada sembari menatap Nick yang tampak tak mempedulikannya.


"Kukira kau sudah melupakanku. Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku. Tapi setidaknya jika kau pergi, beritahu aku dulu" Nick menatapnya tajam, membuat Weir yang tadinya sombong kini sedikit mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak sanggup untuk menatap mata Nick sekarang.


"Oh ya terimakasih kau telah membebaskanku" Nick tampak tak mempedulikannya.


"Tuan Weir kau makanlah" Kao datang dengan membawa makanan untuk Weir. Ia pun memakannya, Kao memberinya makanan yang cukup mewah hingga membangkitkan nafsu makannya. Tidak seperti makanan di penjara yang menurutnya makanan untuk orang miskin.


"Tuan Nick bolehkah aku membawa orangmu ini bersamaku?" Kao sedikit terkejut, ia terbiasa ada di sisi Nick dan tidak pernah terpikirkan olehnya, akan melayani seorang manusia yang seharusnya jadi mangsanya.


"Terserah kau" Jawaban Nick membuat Weir senang. Ia masih kesal dengan orang-orang yang menghindarinya dan ia berencana untuk memberi mereka pelajaran.


"Tuanmu sudah mengizinkannya, jadi besok aku ingin kau ikut denganku" Kao tidak bisa berkata lagi jika Nick sudah bicara. Ia pun akan menurutinya.


...****************...


Byurr!


Siraman air langsung menyadarkan seorang prajurit yang sudah terikat di sebuah kursi.


"Jenderal ada apa ini kenapa aku diikat?"


"Katakan dimana Weir?" Prajurit itu tampak kebingungan, ia sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi tadi malam.


"Jenderal apa maksudmu? Bukankah tuan Weir ada dipenjara?"


"Jangan bohong! Bukankah kau berencana untuk mengeluarkannya? Kau suruhan tuan Pakorn. Benarkan?" Pengawal itu terdiam khawatir dan penasaran darimana Bright mengetahuinya.


"Jenderal aku sungguh tidak mengeluarkannya. Semalam aku seperti biasa berjaga tapi ada yang aneh. Orang-orang sekitarku satu persatu terjatuh tak sadarkan diri. Hingga aku merasakan seseorang memukulku dari belakang dan aku tidak ingat apa-apa lagi" Bright berhenti mendesaknya. Kesaksiannya sama persis dengan apa yang ia dengar dari prajurit lainnya. Membuatnya semakin yakin jika Nick yang melakukannya. Bright meninggalkan tempat itu dan menyuruh orangnya untuk memenjarakan prajurit itu.


Bright keluar dengan perasaan yang masih kesal. Jika Nick yang membawanya, bagaimana ia menanganinya? Lagi-lagi ia harus meminta bantuan para pemburu. Seseorang menghampirinya.


"Jenderal, tuan Pakorn tidak ada dikediamannya. Kami sudah mencarinya tapi tidak menemukan jejaknya"


"Apa?! Cari lagi!" Prajurit itu pun kembali.


...****************...


Sementara itu ditempat lain, terlihat aktifitas seperti biasa. Orang-orang membeli beberapa pakaian di toko ini. Namun di sisi lain toko itu, terdapat ruangan rahasia. Beberapa orang mulai berdatangan memasuki ruangan itu. Para petinggi yang mendukung Weir untuk menjadi raja berkumpul setelah mendapat undangan. Namun beberapa diantaranya memandang Weir dengan sedikit acuh. Setelah mendengar perkataan Up saat itu dan juga peluang Weir untuk menjadi raja berkurang, orang-orang itu mulai tidak mempercayainya dan menjauhinya.


"Tuan bukankah kau dipenjara? Bagaimana bisa kau bebas dan ada disini sekarang?"


"Tuan Nat kau tidak suka aku berada disini?"


"Tidak. Aku hanya penasaran" Weir menatapnya tidak suka. Sangat jelas jika tuan Nat tidak menyukainya sekarang.


"Aku mengumpulkan kalian, untuk mengetahui siapa saja yang akan tetap bersamaku. Karena aku merasa kalian mulai menjauhiku. Tapi aku juga tidak memaksa kalian untuk bersamaku"


"Tuan. Aku sudah memikirkan ini, tindakan kita tidak dibenarkan. Kita harus menghentikannya"


"Aku tanya padamu, kau berkata seperti itu karena kau takut atau kau berpikir kau hanya mendukung orang luar sepertiku?"


"Apa maksudmu? Kau sudah menjadi bagian dari kerajaan ini kan?"


"Ya tapi aku tidak lahir di kerajaan ini. Bisa saja aku menghancurkan orang-orang kerajaan ini" Semua orang terdiam.


"Tuan kau layak menjadi seorang raja. Aku percaya kau tidak akan melakukan hal yang merugikan rakyat kerajaan ini. Aku akan membantumu walaupun dengan seperempat pasukan yang kumiliki, kita bisa memanfaatkannya" Weir menatap tuan Pakorn.


"Maafkan aku yang tidak bisa mengeluarkanmu. Tapi aku senang mendengar kau sudah bebas"


"Aku hargai usahamu. Kau sampai mengirim seseorang ke penjara" Tuan Pakorn memberinya hormat. Sebagiannya menatap tuan Pakorn tidak percaya padahal semuanya sudah sepakat untuk meninggalkan sisi Weir.


"Selain itu, aku memiliki sebuah rencana. Karena kepemimpinan sekarang dipegang penuh oleh raja Up. Aku ingin melakukan rencana pembunuhan untuknya"


"!!!" Semua orang terkejut dengan pemikiran Weir yang bisa dibilang sangat berani.


"Tuan, kau berlebihan! Dengan membunuhnya, kerajaan kita dan kerajaan Poompat akan perang!"


"Benar! Kau harus memikirkan kerajaan ini. Kerajaan Poompat cukup kuat. Kita bisa saja kehilangan kerajaan ini" Weir tertawa mendengar orang-orang dihadapannya panik.


"Kalian takut? Kalian bisa pergi dari ruangan ini jika tidak ingin ikut dalam rencananya" Semuanya terdiam hingga perlahan satu persatu bangkit dari duduknya dan berniat pergi. Tuan Nat paling pertama dan paling depan berjalan menuju pintu keluar. Weir memberi kode pada Kao yang sedari tadi ada disampingnya.


Craat!!!


Seketika leher tuan Nat tertebas hingga darah memuncrat ke segala sisi. Semua orang berteriak karena terkejut dan takut. Apalagi melihat Kao yang tidak bisa mengendalikan diri ketika melihat darah yang mengucur, ia pun mengangkat tubuh itu dan menghisap darahnya.


"Siapa orang itu?! Dia meminum darahnya!"


"Monster!!" Orang yang hendak pergi tadi seketika mundur menjauhi Kao.


"Tuan Weir siapa dia?!"


"Oh aku lupa mengenalkannya pada kalian. Dia pengawal baruku. Bukankah dia sangat hebat? Kuharap kalian mengerti setelah melihat ini" Orang-orang itu kembali ke kursi masing-masing dengan perasaan takut. Weir tersenyum senang.


"Senang melihat kalian begitu mendukungku"


...****************...


Sebelum berangkat Mew bersiap menyiapkan pakaiannya dan keperluan lainnya. Mew pergi ke ruangan Mile untuk mengambil beberapa kertas mantra. Ia mengambil sebanyak yang ia temukan, hingga ia menyenggol sebuah buku di meja sampai buku itu terjatuh. Ia mengambil buku itu dan juga sebuah foto yang terselip. Ia melihat foto Mile dan beberapa orang yang tidak ia kenal, Mew hendak membuka buku yang terjatuh tadi namun seseorang memasuki ruangan itu.


"Phi semuanya sudah siap. Ayo berangkat" Mew mengangguk, ia ingin melihat buku itu tapi tidak ada waktu. Mew tidak terlalu memikirkannya dan langsung menyusul untuk segera berangkat menuju kerajaan Traipipattanapong.


...****************...


Apo menyerahkan pedang Gulf yang selesai ditempa ulang. Gulf mengambilnya, ia bisa merasakan pedangnya yang terasa berbeda. Terasa lebih kuat dan bau menyengat yang selalu keluar dari pedangnya pun sudah tidak tercium lagi.


"Phi. Pedang ini..."


"Ya aku meminta ahli besi untuk memperkuatnya. Pemurnian yang sebelumnya kau lakukan tidak bisa menghilangkan bau busuknya" Pete melihat keduanya bergantian.


"Apa itu artinya yang mulia Gulf akan keluar sekarang?" Gulf tentu saja ingat perkataan Apo padanya. Ia menatap Apo.


"Ya. Kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu, kau bisa memperkuatnya dengan bertarung dengan musuh-musuhmu nanti" Apo mencengkram bahu Gulf.


"Aku tahu pasti berat untukmu. Tapi kau harus menghadapinya. Sebagai seorang raja kau harus lebih terbuka pada rakyatmu. Walaupun mereka tidak mempercayaimu, kau tidak boleh menyerah untuk mendapat kepercayaannya" Gulf terdiam mendengarkan Apo. Sebagai pamannya, walaupun ia tampak tak peduli dengan Gulf namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya disaat seperti ini. Apalagi ia sering mendengar percakapan Gulf bersama Mew. Banyak beban yang Gulf tanggung sendiri.


"Bawa ini bersamamu" Apo menyerahkan sebuah pisau kecil dengan ukiran indah disarungnya.


"Apa ini?" Gulf mengeluarkan pisau itu dari sarungnya, ia bisa merasakan kekuatan yang sangat tebal di dalam pisau itu.


"Karena kau memberikan kalung pemberian ibumu pada manusia itu, maka aku berikan kau pisau itu. Itu milik ibumu jaga itu dan jangan memberikannya lagi pada orang lain" Gulf sedikit gugup karena Apo tahu tentang kalung yang ia berikan. Ia pun mengangguk.


"Terimakasih kau telah banyak melatihku. Setelah kerajaanku aman, aku akan mengundangmu untuk datang" Apo tersenyum menepuk pundaknya sebagai tanda ia menyemangatinya. Apo berbalik untuk segera pergi dari hadapan Gulf.


"Tunggu phi! Bagaimana dengan pedang Mick?"


"Aku masih menyegelnya. Kenapa? Kau ingin mencoba menggunakannya?" Ada sedikit rasa takut dihatinya. Ia tidak ingin menyentuh pedang itu lagi. Walaupun sekarang ia sudah merasa kuat tapi jika teringat pedang itu, ia juga akan teringat orang-orang yang telah ia bunuh. Gulf menggelengkan kepalanya.


"Aku serahkan pedang itu padamu"


Gulf menatap foto besar ibunya yang ada di kamarnya sembari menggenggam pisau yang tadi diberikan Apo.


Ini saatnya. Aku harus menyelamatkan rakyatku.


"Yang mulia sekarang saatnya kau kembali ke istanamu" Pete dan Gulf sudah berada di depan gerbang perbatasan.


"Ya. Terimakasih kau selalu membantuku Pete"


"Tidak masalah. Ini" Pete memakaikan Gulf sebuah gelang.


"Itu dapat digunakan untuk membuka penghalang  gerbang ini. Kau bisa kapanpun datang kemari. Tuan Apo yang memberikannya. Aku rasa dia sangat mengkhawatirkanmu tapi terlalu malu untuk mengungkapkannya" Gulf tertawa.


"Baiklah aku keluar sekarang" Pete mengangguk. Gulf menghela nafasnya dan dengan keyakinan penuh ia pun keluar dari gerbang itu.


Hutan lebat gelap yang menyambutnya. Baru beberapa langkah ia keluar dari penghalang klan Nattawin. Tapi ia langsung mencium bau beberapa vampir.


Disisi lain vampir-vampir yang diperintahkan Nick untuk mengawasi, terkejut melihat Gulf yang keluar.


"Bukankan itu orang yang menjadi incaran tuan Nick. Apa yang harus kita lakukan? Menangkapnya?"


"Tidak. Dia tampak berbeda, kau lihat dia. Dia memancarkan aura yang sangat menekan melebihi tuan Nick. Lagipula kita  ditugaskan untuk mengawasi dan jangan bertindak"


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Sepertinya dia mengetahui keberadaan kita"


"Gawat. Ayo semuanya kita mundur dulu dan menemui tuan Nick" vampir-vampir itu memutuskan untuk pergi dengan cepat.


Gulf merasakan vampir yang mengawasinya menjauh.


"Dasar pengecut!" Gulf melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin membuang energinya untuk vampir rendahan.


...****************...


Pagi hari Mew dan orang-orangnya baru sampai di istana. Kali ini ia membawa cukup banyak pemburu, mengingat kejadian saat itu ia tidak ingin kehilangan orangnya lagi. Bright menyambutnya dan melihat orang-orang yang dibawa Mew.


"Apakah aku membawa terlalu banyak orang?"


"Tidak. Lebih banyak orang itu lebih baik. Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian, perjalanan kesini pasti melelahkan kalian bisa istirahat sambil menunggu sarapan siap. Ayo" Mew pun mengikutinya dari belakang.


Mew melihat sekitarnya. Banyak sekali pelayan yang sibuk kesana kemari.


"Semua orang tampak sibuk"


"Ya. Yang mulia Up sedang mengumpulkan para petinggi untuk membahas kaburnya tuan Weir" Mew hanya mengangguk.


...****************...


Mew memasuki kamarnya, ia ingat kamar ini adalah kamar yang dulu ia tempati. Seketika ia mengingat saat dulu Gulf masih di istana. Mengingat Gulf membuatnya merindukannya, ia menggenggam erat kalung pemberian Gulf. Ia keluar untuk menghirup udara segar dan meregangkan tubuhnya yang lelah setelah berkuda. Sekilas ia melihat seseorang, walaupun sangat singkat ia sangat tahu orang itu.


"Dia..." Mew terkejut dan langsung menuju ke arah orang itu pergi.