
Gulf sengaja hanya berjalan untuk menempuh perjalanannya ke istana. Ia ingin melihat wilayah kerajaannya yang luas itu. Namun sepanjang jalan ia selalu melihat banyak prajurit yang berkeliaran dan juga banyak orang yang berbicara mengenai istana. Tidak jelas apa yang ia dengar, Gulf pun mendekatkan diri dan duduk dekat orang-orang yang tengah berkumpul.
"Kudengar ada pemberontakan diistana. Berita ini cukup cepat menyebar. Kalian tahu? Istana sudah seperti medan perang pada hari itu. Banyak prajurit yang bertarung dan diantaranya banyak juga yang mati"
"Bukankah kepemimpinan sekarang dipegang oleh raja dari kerajaan Poompat?"
"Ya, seseorang mengatakan jika salah satu petinggi berusaha untuk membunuhnya, supaya dia bisa merebut posisi raja"
"Siapa?"
"Entahlah. Tidak ada yang tahu siapa orangnya" Gulf mengeratkan tangannya, ia baru mendengar berita ini. Dan ia tahu siapa dalangnya, Gulf langsung penasaran bagaimana kondisi Up sekarang. Ia pun beranjak berdiri untuk segera menuju istana.
"Lalu bagaimana dengan raja kita? Apa dia belum kembali juga? Apa dia tidak tahu dengan kejadian di istananya?" Langkah Gulf terhenti, ia sedikit tertarik dengan obrolan mereka dan ia pun terdiam.
"Apa dia masih pantas di panggil seorang raja? Dia seperti menghindari masalah yang ada" Gulf tahu obrolan ini tidak baik untuk pikirannya. Ia harus mengesampingkan ini, kondisi istana lebih penting.
"Tidak!! Yang mulia Raja tidak seperti itu!" Seseorang menggebrak mejanya. Gulf sedikit meliriknya.
"Aku yakin dia bukan menghindari masalahnya. Tapi dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan kerajaannya. Kalian harus tahu, saat sebuah penyakit yang terjadi di desa sebelah beberapa waktu yang lalu. Yang mulia Raja datang dan ikut membantu. Beberapa orang yang mengenali wajahnya mengatakan jika ia tidak sungkan membantu dari pagi hingga malam hari. Dia raja yang baik. Dulu aku juga membencinya, orang-orang mengatakan jika dia raja yang kejam. Tapi dia pernah menolongku, dan aku bisa merasakan ketulusannya" Semua orang terdiam dan mengangguk menyetujuinya. Mereka menyadari jika mereka membenci Gulf hanya karena rumor yang beredar tanpa tahu rumor itu benar atau tidak.
...****************...
Nick sudah cukup jauh mencari Gulf di setiap tempat di kota hingga menghindari para pemburu yang berkeliaran, tapi ia tidak menemukan Gulf bahkan baunya pun tidak tercium. Yang Nick temukan adalah abu vampir yang ia yakini adalah Kao. Ia bisa mencium baunya, ia tidak menyangka jika salah satu orang kepercayaannya ternyata sudah mati. Tapi ia tidak terlalu mempedulikannya dan kembali berkeliling untuk mencari Gulf.
Apa benar mereka melihat Gulf keluar? Di istana pun dia tidak ada. Dimana dia?
Nick pun berbalik untuk mencari ke tempat lain, namun sebuah pedang melewatinya hingga menggores pipinya. Ia berbalik dan melihat Mew yang berlari mendekatinya.
"Merepotkan!" Nick sedikit lengah karena terlalu terfokus untuk mencari Gulf. Ia pun hanya terdiam untuk menunggu Mew menyerangnya.
Mew semakin dekat dengan Nick mengeluarkan beberapa kertas mantranya dan langsung melemparnya. Dengan mudah Nick menghindarinya menuju atas pohon.
"Kau cari mati?!" Nick mengeluarkan pedangnya menebaskannya ke udara yang langsung mengarah mendekati Mew. Ia menghindar, Nick cukup terkejut dengan kecepatan Mew. Mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia benci.
Mew tidak mundur berapa kali pun Nick membuatnya terjatuh ia terus bangkit dan mendesak Nick hingga ia berjarak satu meter dengannya, ia bersiap dengan mantra dan pedangnya yang siap menusuknya.
Nick memiringkan badannya dengan cepat memukul tangan Mew sehingga pedang yang ia pegang terlepas dan kini ia berakhir dengan Nick yang mencengkram lehernya mengangkat tubuhnya ke atas membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"Kau yang membunuh orangku, benar?" Mew menatapnya tertawa sembari berusaha melepaskan tangan Nick di lehernya.
"Itu.... balasan karena kalian- membunuh temanku" Nick mengeratkan cengkramannya hingga..
Srett!
Mew terjatuh bersama dengan tangan Nick yang terpisah dari tubuhnya. Nick melihat tangannya yang terpotong oleh sebuah pedang yang melayang. Darahnya keluar sampai membasahi pakaian yang ia kenakan. Dengan cepat ia mencari orang yang dengan berani menyerangnya.
Nick melihat seseorang yang dengan cepat berlarian, tidak jelas namun ia mencium bau Gulf. Hingga mereka pun saling bertatapan.
Sedangkan Mew melihat kearah pandangan Nick, dan tentu saja ia sangat terkejut dengan orang yang telah menolongnya.
"Gulf?"
Nick tersenyum setelah melihat orang dihadapannya sampai ia melupakan rasa sakit di tubuhnya.
"Kau Gulf. Akhirnya kita bisa bertemu" Gulf menatapnya tajam. Matanya berubah menjadi merah dan juga aura yang ia keluarkan sangat gelap dan menekan. Nick merasakan tubuhnya yang bergetar menandakan ia terpengaruh dengan tekanan yang diberikan Gulf. Namun entah bagaimana ia merasa senang bisa merasakannya.
"Aku sudah lama menunggu kedatanganmu. Jadi ikutlah bersamaku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik"
"Kau sudah banyak menyakiti orang-orangku. Jadi matilah!" Gulf mendekat dan mengeluarkan pisaunya. Ia menyerang Nick, namun Nick terus menghidari serangannya.
Gulf mengeluarkan kekuatannya dan melemparkannya ke arah Nick sehingga ia pun terikat. Gulf memanfaatkan kesempatan ini untuk segera menusuknya. Kekuatan Nick sangat besar sehingga Gulf gagal lagi untuk menusuknya dan ia mendapat serangan dari Nick sampai ia terpental jauh dan menghantam beberapa pohon.
"Gulf!" Mew kesal melihat Nick melempar Gulf, ia yang akan menyerang pun mendapatkan serangan dari Nick. Ia pun terpental jauh, membuatnya meringis kesakitan diseluruh tubuhnya.
"Sepertinya kau belum bisa menerimaku. Baiklah kita akan bertemu lagi nanti. Selamat tinggal Gulf" Nick tersenyum dan pergi dengan cepat. Ia tidak bisa seterusnya menahan kekuatan Gulf dengan kondisinya saat ini hingga ia pun memutuskan untuk kembali dulu.
Mew berlari menghampiri Gulf dengan khawatir.
"Kau tidak apa-apa?"
"Sialan! Dia malah kabur, harusnya aku membunuhnya" Gulf tak menjawab pertanyaan Mew karena masih terlalu kesal. Mew menatapnya sedikit tidak percaya Gulf ada dihadapannya. Gulf menatap Mew.
"Phi kau tidak apa-apa?" Mew tersenyum dan ia langsung memeluk Gulf.
"Ada apa?" Gulf sedikit tidak mengerti.
"Aku senang akhirnya kau kembali"
"Ya, p'Po sudah mengizinkanku kembali" Mew mengeratkan pelukannya, ia terlalu senang sekarang.
...****************...
Setelah mendengar cerita singkat Mew, Gulf berdiri untuk segera menuju istana diikuti oleh Mew dibelakangnya.
...****************...
Gulf dan Mew menuju kamar Kara dirawat. Orang-orang sekitar tidak ada yang menyadari kehadirannya, karena ia masih menutup kepalanya dengan tudung jaket yang ia pakai.
Tanpa permisi Gulf membuka pintu membuat perhatian orang yang ada di kamar itu tertuju padanya.
"Siapa kau?" Tanya Up, ia melirik Mew yang ada dibelakangnya. Gulf pun membuka tudung jaketnya membuat semua orang terkejut.
"Gulf! Itu kau?" Up sangat terkejut dengan orang dihadapannya. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengannya.
"Yang mulia. Kau kembali" Kara yang terbaring pun bangun untuk memberi hormatnya.
"Tidak perlu. Kau istirahatlah" Gulf menghampiri Up yang langsung mendapatkan pelukan darinya. Mew yang sedari tadi mengekorinya sedikit tidak suka melihat pemandangan di depannya, tapi ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Apa mereka sedekat itu?
"Bagaimana bisa setelah sekian lama tidak bertemu, sekalinya bertemu kondisimu seperti ini" Gulf tersenyum.
"Terimakasih kau telah membantuku"
"Kara bagaimana kondisimu?"
"Aku sangat baik yang mulia. Dokter Louis merawatku. Aku sangat senang melihat anda baik-baik saja"
...****************...
Mereka kini berkumpul di ruangan Gulf karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat Kara. Hingga
Brak!
Pintu terbuka dengan keras menampilkan Bright yang terengah-engah setelah berlari. Ia tahu itu tidak sopan sehingga ia langsung membungkuk meminta maaf. Tindakannya itu tanpa disadari setelah mendengar bahwa Gulf kembali ia langsung berlari menuju istana.
"Bright. Bagaimana kabarmu?" Tidak ada waktu untuk menjawab. Bright menghampirinya memeriksa apakah Gulf memiliki luka atau apapun yang membahayakannya.
"Orangmu benar-benar posesif terhadapmu" Sindir Up, dan Perth yang melihat sikap Bright terhadap Gulf, sedikit tidak menyangka sifat Bright yang keras begitu lembut terhadap rajanya.
"Bright! Kau tidak menjawabku!" Gulf sedikit meninggikan suaranya membuat Bright terkesiap.
"Maaf yang mulia aku hanya khawatir denganmu. Aku baik-baik saja" Up dan Perth hanya menahan tawanya melihat sikap Bright.
"Lebih baik kau perbaiki sikapmu itu. Aku tidak selemah itu" Bright membungkuk minta maaf. Ia bisa merasakan Gulf yang sedikit berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Ia merasa aura Gulf yang semakin kuat.
...****************...
Nick membalut lukanya yang terus mengeluarkan darah. Harusnya luka ditangannya cepat tertutup dan tangannya kembali tumbuh. Tapi entah mengapa tidak ada tanda-tanda tangannya akan kembali.
"Tuan tanganmu..." Weir sangat terkejut melihat Nick. Pantas saja tangannya terasa sakit tadi. Jadi ini karena kontrak itu? Bagaimana jika Nick mati? Apa dia juga akan mati? Ia langsung mendekatinya.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan luka seperti ini?" Weir sedikit panik melihat Nick terluka. Jika Nick mati, tidak akan ada yang membantunya lagi menyingkirkan orang yang menghalanginya.
"Berisik!" Nick muak melihat Weir saat ini. Dia tidak bisa menjaga orangnya dengan baik hingga ia harus kehilangan orang kepercayaannya.
Weir terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara mengobati seorang vampir.
"Tuan bukankah seharusnya vampir bisa menyembuhkan diri sendiri?"
"Ini semua karena dia! Pedang apa yang ia gunakan?" Weir tidak tahu siapa yang Nick maksud. Ia menatapnya berharap Nick melanjutkan ceritanya.
"Kau sudah menghilangkan orangku" Nick menatapnya tajam.
"Apa?! Aku sungguh tidak tahu Kao pergi kemana"
"Aku menemukan mayatnya yang sudah menjadi abu. Siapa lagi kalau bukan pemburu yang membunuhnya" Weir terkejut. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan Kao, baginya ia hanya sebuah senjata. Namun Kao sudah mati, tapi ia tahu bawahan Nick masih banyak, ia bisa menggunakan mereka sesukanya. Lagipula Nick sudah berjanji padanya untuk membantu mendapatkan kerajaan ini.
"Maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu. Aku menugaskannya untuk membunuh raja itu. Tapi bahkan orang-orangku tidak tahu keberadaannya setelah kejadian itu"
"Lupakan! Apa yang akan kau lakukan sekarang? Gulf sudah kembali"
"Apa?!!!" Tubuh Weir menegang. Ia tidak tahu tentang berita ini. Baru saja ia mendengar jika rencana cadangannya untuk menyingkirkan Up gagal. Tapi sekarang ia harus kembali berhadapan dengan Gulf.
"Tuan itu.... Tidak mungkin kan?" Weir seakan tidak ingin mempercayainya. Menghadapi Up mungkin mudah hanya tinggal membunuhnya, tapi jika Gulf, ia harus berusaha menjatuhkannya tanpa membunuhnya. Weir sangat tahu jika Nick menginginkan Gulf. Bahkan Nick sering memperingatinya untuk tidak sampai membunuh Gulf.
"Kau tidak percaya padaku?!" Nick meninggikan suaranya sehingga Weir membungkuk meminta maaf. Ia harus memikirkan rencana lain untuk menghadapinya.