KING GULF

KING GULF
Chapter 45



Mew menghela nafasnya, ia tidak bisa marah terlalu lama padanya, lagipula ia juga salah karena bertindak tanpa berpikir. Mew menyentuh pipi Gulf.


"Maafkan aku. Aku terlalu terkejut tadi. Harusnya aku tahu kau tidak mungkin membunuh tanpa alasan" Gulf tersenyum. Mew sedikit terkejut, baru pertama kali ia melihat Gulf tersenyum padanya.


"Kau tersenyum padaku?" Senyum Gulf langsung hilang, ia sendiri tidak menyadarinya ketika ia tersenyum. Gulf menepis tangan Mew, kembali mengontrol ekspresi wajahnya dan duduk disamping Mew.


"Aku tidak tersenyum" Katakanlah ia bodoh karena menyangkalnya. Tapi, ia terlalu malu sekarang. Mew menahan tawanya dan membenarkan duduknya untuk menghadap Gulf. Ia hanya menatap wajahnya.


"Terimakasih" Ucap Gulf, ia harus membuka pembicaraan atau wajahnya akan semakin memanas.


"Untuk apa?"


"Kau mengatakan apa pada mereka tentangku?"


"Mereka siapa?"


"Tadi aku bertemu dengan keluarga korban yang aku bunuh saat itu"


"Benarkah?! Kau bertemu mereka? Apa yang mereka lakukan padamu? Kau tidak apa-apa?" Cukup mengejutkan Gulf menemui rakyatnya itu.


"Aku tidak apa-apa. Mereka memaafkanku. Jadi kau mengatakan apa?"


"Memaafkanmu? Aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya sedikit... memujimu aku rasa" Gulf menatap Mew curiga. Tidak mungkin hanya karena itu, orang-orang dengan mudah memaafkannya.


"Saat aku berkeliling, aku beberapa kali mengobrol dengan orang-orang. Hanya obrolan biasa tapi entah bagaimana mereka berakhir dengan membicarakan tentangmu. Mereka menyebutmu raja pembunuh. Aku terus mendengarkan mereka sampai aku tahu mereka adalah keluarga dari orang-orang yang tidak sengaja kau bunuh dan... " Mew sedikit melirik Gulf, ia ragu untuk melanjutkan pembicaraannya.


"Aku menghajar mereka" Lanjut Mew dengan pelan.


"Apa?!" Mew sedikit tersentak, ia tahu Gulf akan marah.


"Dengar, aku bisa jelaskan. Mereka terus menjelekanmu. Aku tidak tahan mendengarnya. Itu hanya supaya mereka sadar. Aku hanya mengatakan betapa beruntungnya mereka memiliki raja sepertimu. Kebutuhan mereka selalu terpenuhi. Hanya karena beberapa pihak kebaikanmu tidak tersampaikan pada mereka dan membuat kau dicap sebagai raja yang tidak peduli pada rakyatnya. Bagaimana bisa orang-orang langsung percaya dengan rumor yang beredar tanpa mencari tahu kebenarannya. Beruntung ada yang mengenalmu saat kejadian penyakit yang menyerang desa Khon membuat beberapa orang lainnya bungkam"


"Lalu kenapa kau juga memberitahu mereka tentang kutukan yang mengenaiku?"


"Oh itu... Aku tidak sengaja mengatakannya. Kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Maaf" Gulf mengangguk. Ia juga tidak bisa memarahi Mew karena hal seperti ini.


"Yah.. Apapun itu terimakasih"


"Ah aku baru ingat"


"Apa?" Gulf meliriknya.


"Apa kau sudah melihat mayat yang dibawa oleh para pemburu?"


"Kalian membawa mayat?"


"Ya dan itu mayat tuan Pakorn yang kabur dari penjara saat terjadi pemberontakan. Aku bisa melihat jika ia mati karena seorang vampir. Dia ditemukan di hutan jadi aku menyuruh Khom kembali kesana untuk menyelidikinya lagi" Bertepatan dengan itu, Bright datang dan Gulf tahu apa yang akan dia laporkan padanya.


"Baiklah aku akan melihatnya dulu. Tunggulah phi aku akan segera mengeluarkanmu" Gulf berdiri, namun sebuah tangan menahannya.


"Kenapa?" Mew sangat jarang memiliki waktu berdua dengan Gulf, saat ia akan pergi Mew sedikit tidak rela. Tapi ia tidak bisa menahannya juga. Mew pun menggelengkan kepalanya.


"Hati-hati" Gulf mengangguk dan segera keluar dari penjara.


...****************...


Gulf memperhatikan mayat tuan Pakorn.


"Di hari pemberontakan itu, tuan Pakorn ditahan karena berencana untuk mengeluarkan tuan Weir di penjara tapi karena kekacauan itu, dia kabur. Aku rasa mungkin dia menemui Weir"


"Serahkan saja pada keluarganya. Supaya dia segera dikuburkan"


Tak lama kemudian Khom menghampiri keduanya dan langsung memberikan hormat.


"Anda pasti yang mulia raja kan? Aku Khom seorang pemburu" Gulf melihatnya, ia ingat Mew pernah menyebut namanya.


"Khom bagaimana penyelidikannya? Kau menemukan sesuatu?"


"Aku tidak menemukan apa-apa. Tapi tempat itu terlalu bersih untuk dikatakan tempat kejadian. Maksudku disekitarnya tidak ada tanda-tanda perlawanan entah itu jejak kaki atau cakaran bahkan darah pun tidak ditemukan di tempat itu. Aku rasa dia dipindahkan dari tempat lain" Gulf mengangguk. Sudah jelas Weir dan Nick yang membunuhnya.


...****************...


Dua hari berlalu.


Bright memasuki kamar Gulf dan ia melihat Gulf yang tengah membuka pakaiannya.


"Yang mulia kenapa bajumu sangat kotor? Kau pergi lagi?" Gulf hanya mengangguk menanggapinya.


"Apa semuanya sudah siap?"


"Kau bereskan. Aku akan mandi dan bersiap dulu. Aku akan segera kesana" Bright langsung pergi undur diri.


...****************...


Sementara itu seorang pengawal membuka sel penjara Mew kembali memborgolnya dan memaksanya untuk keluar.


"Kalian mau membawaku kemana?" Tak ada jawaban Mew pun hanya akan melihat apa yang terjadi.


Mew digiring menuju lapangan luas dan sudah banyak orang-orang yang berkumpul termasuk para pemburu juga Gulf yang duduk disebuah kursi. Mew tidak mengerti apa yang Gulf rencanakan sekarang bahkan kemarin Gulf tidak menemuinya.


"Lepaskan dia!! Phi Mew tidak bersalah!" Teriak Khom penuh emosi. Mew dipaksa berlutut di depan Gulf. Mew melihatnya namun sejak tadi Gulf sama sekali tidak menatapnya.


"Tuan Mew kau telah bersikap tidak sopan dan memiliki niatan untuk menghabisi raja kami dan itu sebuah kesalahan besar apalagi kau bukan bagian dari kerajaan ini. Maka dari itu, kau akan menerima hukuman mati" Jelas tuan Pond.


"Apa?! Apa maksudnya ini Gulf?! Jelaskan padaku!" Gulf sedikit malas untuk menjelaskannya tapi semua orang tengah mengawasinya sekarang.


"Seperti yang dijelaskannya, kau akan dihukum mati atas perbuatanmu. Jadi terimalah" Mew terkejut dengan ucapan Gulf. Apa dia benar-benar akan mati sekarang?


"Yang mulia jika kau membunuhnya, kami para pemburu tidak akan segan-segan untuk melawan!" Para pemburu yang ingin menolong Mew ditahan oleh beberapa prajurit.


"Benarkah? Bagaimana kalian melawan kami? Bahkan jumlah kalian lebih sedikit" Gulf tampak tertawa.


"Khom! Diam! Dan jangan membuat masalah!" Teriak Mew yang membuat Khom terdiam. Ia tidak percaya Gulf akan membunuhnya. Para petinggi terlihat sangat puas melihat pemandangan di depan mereka saat ini. Hingga Gulf pun mememerintahkan untuk segera memulai hukumannya.


Mew menahan tubuhnya yang dipaksa untuk menunduk. Ia menatap tajam Gulf, matanya mulai berkaca-kaca namun Gulf tidak sedikitpun meliriknya.


...****************...


Satu hari sebelumnya.


Gulf mengumpulkan beberapa petinggi ke ruangannya. Mereka tampak gugup setelah mendapat panggilan, pasalnya mereka melihat orang yang dipanggil adalah orang-orang yang mendukung Weir. Bagaimana rajanya itu bisa mengumpulkan orang-orang ini tanpa tertinggal satu pun?


"Yang mulia ada apa kau memanggil kami?" Gulf belum menatap mereka dan sibuk dengan pedangnya yang tengah ia bersihkan. Merasa diabaikan, mereka semakin gugup dan beberapa yang lainnya tampak ketakutan melihat Gulf yang memegang pedangnya. Bright yang berada disampingnya tampak kasihan melihat orang-orang didepannya.


"Kalian pasti sudah tahu aku memenjarakan pemburu itu kan? Hukumannya akan dilakukan besok. Bagaimana? Kalian sudah puas? Atau aku harus membunuhnya juga?"


"Yang mulia dia orang luar yang entah darimana asalnya. Jika kau membunuhnya itu sangat bagus karena dia sudah bersikap tidak sopan padamu. Dan lagi kita tidak tahu apakah dia mengambil keuntungan dengan datang ke kerajaan kita" Gulf mengangguk mengerti.


"Tapi harusnya kalian tahu seberapa besar dia membantu kerajaan ini, dan juga kali ini saat pencarian Weir, aku meminta bantuannya untuk mencari keberadaan Weir. Tapi kenapa tidak ada dari kalian yang menanyakannya? Padahal kerajaan ini memiliki banyak prajurit" Semuanya bungkam. Gulf menatap mereka.


"Kenapa kalian diam? Kalian tahu sesuatu?"


"Yang mulia kami tidak bertanya karena kami percaya padamu. Kau memanggil mereka pasti untuk hal yang baik, supaya tuan Weir segera ditemukan" Gulf tertawa, terdengar menggelikan mendengar kata-kata mereka.


"Baiklah baiklah aku mengerti. Aku akan menjatuhkan hukuman mati padanya, tapi ini permintaan kalian jadi jangan sampai menyesalinya" Orang-orang dihadapannya itu terlihat sangat senang mendengar Mew akan di hukum mati. Mereka berpikir jika Mew selalu menjadi penghalang rencana mereka.


...****************...


Kini hanya Bright dan Gulf di ruangan itu.


"Yang mulia, apa aku harus memberitahu tuan Mew tentang ini?"


"Tidak! Biarkan semuanya berjalan semestinya" Bright sedikit khawatir dengan rencana Gulf sekarang, tapi ia juga harus mempercayainya.


...****************...


Hari hukuman.


Gulf pun memerintahkan untuk segera memulai hukumannya. Mew dipaksa untuk menunduk, Gulf pun memejamkan matanya. Seorang algojo pun mengangkat pedang besar untuk segera memenggalnya, namun..


"Tolong! Ada serangan dari luar!" Gerbang terbuka dengan segerombol vampir yang tampak kelaparan. Para pemburu langsung menyadarinya dan langsung menyerang mereka dibantu dengan para prajurit yang ada. Untungnya mereka tidak menyembunyikan keberadaannya.


Para petinggi ketakutan dan vampir mulai mendekati mereka. Mew melihat keributan itu, ia merasa ada yang aneh dengan vampir yang menyerang. Biasanya mereka tidak pandang bulu dan langsung membunuh mangsanya, tapi sekarang mereka tampak bertarung. Entah itu hanya menghajar orang-orang atau hanya sedikit mencakarnya. Mew melihat ke arah Gulf, ia tampak santai dengan memainkan pedangnya.


Mew melihat borgolnya yang terlepas dan ia menatap orang yang harusnya memenggal kepalanya tadi, kini malah melepaskannya.


"Phi!" Mew menatap Gulf yang memanggilnya.


"Bisa kau menolong mereka?" Gulf melemparkan pedangnya pada Mew yang langsung ditangkap olehnya.


"Aku pinjamkan pedangku" Mew sedikit tidak mengerti namun ia pun hanya menurutinya. Dengan cepat ia membunuh vampir-vampir yang menyerang para petinggi.


Dengan cepat Mew membunuh beberapa vampir dan orang-orang disekitarnya melihat kemampuan Mew yang membuat mereka terkagum.


Seorang vampir menyerang tuan Pond yang berusaha sekuat tenaga menahannya. Vampir itu berusaha untuk menggigitnya. Tidak ada yang menolongnya karena orang-orang sibuk dengan vampir lainnya.


"Tolong! Tolong aku! Hey kau! Singkirkan dia!" Tuan Pond berteriak meminta tolong pada Mew yang tidak jauh darinya. Mew yang mendengar hanya menatapnya, ia tidak tahu harus menolongnya atau membiarkannya. Padahal beberapa menit yang lalu, orang itu bersikeras untuk Mew segera dipenggal.