
Kediaman tuan Pan penuh dengan penjagaan, banyak prajurit yang datang menggeledah setiap ruangan untuk mencari barang bukti yang bisa ditemukan. Bright berjalan mengendap-endap, berharap para prajurit itu tidak menemukannya. Hingga seseorang berjalan melewati tempat persembunyiannya yang langsung ia tarik untuk ikut bersembunyi.
"Jenderal?!" Ucap Win tidak menyangka Bright dihadapannya sekarang.
"Kenapa banyak sekali prajurit disini?" Tanya Bright pelan.
"Sedang ada pemeriksaan. Ada yang mengatakan jika salah satu dari para petinggi membantumu"
"Apa?! Lalu bagaimana dengan tuan Pan?"
"Tenang. Kami tidak ketahuan. Jadi ada apa kau kemari?"
"Aku harus menemui ayahmu" Win melihat tubuh Bright yang cukup tidak terurus. Apalagi luka-luka yang masih belum sembuh.
"Ayo ikut aku" Ajak Win menarik tangan Bright.
...****************...
Keduanya sampai di kamar Win. Ia mengambil kotak obatnya dan duduk di sebelah Bright.
"Kenapa kita kesini?"
"Tidak mungkin kau menemui ayahku saat prajurit sedang bersamanya bukan? Sembari menunggu kita obati lukamu. Lihat, kau bahkan tidak mengganti perbanmu, ini masih perban yang aku pasangkan waktu itu" Bright pun tidak bisa berkata lagi dan hanya diam.
"Bagaimana bisa kau peduli pada yang mulia tapi pada diri sendiri pun kau tidak peduli" Bright menatap Win.
"Kenapa kau banyak omong sekali?" Win tidak mempedulikannya dan fokus mengobatinya.
...****************...
"Aku ingin meminta bantuanmu tuan" Ucap Bright yang kini tengah berhadapan langsung dengan tuan Pan dan juga Win disampingnya.
"Bantuan apa?" Bright menyerahkan surat yang diberikan Gulf padanya. Tuan Pan pun membacanya.
"Yang mulia sudah ditemukan?" Tanya Win.
"Ya. Dia di tempat yang aman sekarang"
"Kau memintaku untuk membantumu keluar?" Bright mengangguk.
"Sepertinya akan sulit untuk saat ini. Kau sendiri pasti sudah tahu disekitaran perbatasan semuanya dijaga dengan ketat oleh para prajurit"
"Pho kenapa kita tidak membawanya keluar bersama kereta barang yang sering kita kirim keluar" Ucap Win.
"Itu benar! Aku bisa masuk didalam kereta barang yang kalian bawa" Ucap Bright semangat.
"Tapi walaupun itu barangku, tapi para prajurit tetap akan memeriksanya"
"Pho jangan khawatir, aku akan ikut" Ucap Win.
"Apa?! Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Kau sangat dekat dengan First. Jika kau pergi dia akan mencurigaimu"
"Aku bisa berpura-pura sakit" Bright dan tuan Pan hanya menatapnya tidak mengerti.
"Baiklah. Kau boleh menaiki kereta barang, tapi aku tidak akan bertanggung jawab jika kau sampai ketahuan" Bright mengangguk. Seperti semua para petinggi, tuan Pan juga pasti tidak ingin dirinya rugi.
...****************...
First melipat tangannya menatap curiga Win yang berbaring di kasurnya. Ia tidak percaya Win bisa sakit sampai kesulitan untuk bangun.
"Jadi kau benar-benar sakit?" Tanya First yang kini berada di kamar Win.
"Maafkan aku tidak bisa menemanimu uhukk uhuuk"
"Hah.. Sudahlah. Kenapa kau begitu lemah. Dasar pecundang! Benar-benar mengesalkan" Win duduk dari tidurnya.
"Kenapa? Kau tampak gelisah"
"Aku muak harus disuruh-suruh oleh orang aneh itu. Bahkan sekarang dia melarangku untuk menemui ayahku, memangnya siapa dia? Kenapa ayahku begitu tunduk padanya. Dia hanya terus menyuruhku untuk mencari jenderal payah itu" Win sedikit menegang, sedikit melirik tempat bersembunyi Bright yang kini ada di dalam lemarinya.
"Orang aneh siapa maksudmu?"
"Aku tidak tahu dia berasal darimana? Tapi aku pernah diam-diam melihatnya bersama ayahku di rumah sebelumnya. Kenapa begitu mencurigakan? Ayahku selalu mengiyakan apapun permintaannya, termasuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Bukankah itu sama saja dengan raja aneh itu"
Dug!
Walaupun pelan First maupun Win mendengar suara itu yang langsung mengalihkan perhatian First.
"Kau mendengarnya?" Win hanya menggeleng cepat.
"Baru saja aku mendengar suara"
"Oh itu paling hanya kucing liar. Kau tahu sendiri banyak kucing liar disini" Ucap Win sedikit gugup. First menatap Win sedikit mencurigakan, namun Win berusaha untuk tetap tenang.
"Huh kalau begitu cepatlah sembuh dan segera temui aku" Ucap First langsung pergi keluar. Win melihat kepergian First hingga ia menghilang dari pandangannya.
Brakk!
Bright membuka pintu lemari Win dengan sedikit kasar, ia kesal karena First menyebutnya payah, apalagi mengatakan rajanya aneh. Win langsung menahannya yang akan menyusul First.
"Aku harus menghajar anak kecil itu!" Ucap Bright penuh dengan penekanan.
"Tenanglah. Rencana kita tidak akan berhasil jika kau menghajarnya sekarang" Bright menatapnya.
"Jadi dia benar-benar menemuimu begitu tahu kau sakit? Bagaimana kau bisa berteman dengannya? Dia sendiri mengataimu didepan langsung"
"Yah. Aku rasa dia hanya kesepian dan butuh teman. Aku tidak terlalu mempedulikan perkataannya"
"Dia tidak akan mendapatkan teman dengan sifat keras kepalanya itu" Ucap Bright yang masih kesal.
"Ya ya lupakan. Jadi bagaimana? Besok kita bisa berangkat?" Bright mengangguk.
"Terimakasih kau membantuku"
"Bukankah terlalu dini untuk berterimakasih" Ucap Win tersenyum dan meninggalkan Bright.
...****************...
"Siapa dia?" Tanya Mew.
"Dia Win anak dari tuan Pan. Dia akan membantuku keluar dan ini untukmu. Jika kau butuh bantuan datanglah ke kediaman tuan Pan" Ucap Bright memberikan tanda pengenalnya.
"Bagaimana cara kalian keluar?"
"Ayahku punya bisnis pengiriman, biasanya setiap hari akan ada pengiriman barang keluar. Tuan Bright bisa masuk bersama barang yang akan dikirim"
"Kalau begitu aku juga akan ikut keluar untuk membawa para pemburu masuk"
"Apa? Jika menyembunyikan satu orang mungkin aku bisa membantu tapi untuk banyak orang, aku tidak menjaminnya. Mereka akan curiga" Ucap Win.
"Kita belum tahu jika belum mencoba. Aku akan membawa beberapa orang untuk melakukan formasi sihir"
"Win kau bisa membantu kan?" Bujuk Bright yang akhirnya Win pun mengangguk.
"Baiklah bagus. Boat kau tetap jaga disini. Tunggu aku membawa yang lainnya" Ucap Mew.
...****************...
Gulf memejamkan matanya mencoba untuk mengumpulkan kekuatannya. Sedangkan disisi lain Apo tampak mengawasinya. Kemajuan Gulf sangat pesat walaupun baru beberapa hari. Ia pun membuka matanya dan keluar dari kolam tempat latihannya.
"Kau cepat menguasainya" Puji Apo.
"Aku sedikit mengingat ketika tubuhku diambil alih. Lagipula aku harus secepatnya kembali ke istana"
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Apo.
"Yah semua orang tidak menyukaiku, jadi tidak heran jika banyak yang memberontak di kerajaanku"
"Apa karena kematian Gil?"
"Emm. Aku yang membunuhnya"
"Tidak sepenuhnya salahmu. Aku sudah mendengar kejadian saat itu. Aku sudah mengatakan pada mereka jika kau perlu dilatih sejak masih kecil, tapi selalu saja mereka mengatakan jika menginginkan kau hidup normal seperti manusia pada umumnya. Aku mengerti maksudnya tapi tidak bisa dipungkiri jika kau setengah vampir" Gulf menatap Apo meminta penjelasan lebih.
"Kau mungkin tidak ingat, tapi saat kau masih bayi aku membawamu kesini. Aku berniat akan mengurusmu dulu sampai kau bisa mengendalikan kekuatanmu, tapi Min mendatangiku dan membawamu kembali ke istana. Dia benar-benar keras kepala"
"Kau tidak ingin berurusan dengan kerajaan hanya karena itu? Benar-benar kekanakan"
"Tidak. Ada yang lebih penting. Mungkin ini saatnya kau mengetahui hal ini" Raut wajah Apo menjadi serius.
"Sebenarnya bagus kau membunuh ayahmu itu. Dia begitu kejam dan tidak masuk akal. Dia hanya orang gila yang merelakan istrinya untuk dijadikan tumbal" Gulf mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti.
"Apa? Tumbal apa maksudmu?"
"Kau sendiri mungkin ingat dulu kerajaanmu itu tidak seluas sekarang, bahkan kerajaanmu bisa dibilang hanyalah kerajaan kecil. Kau pikir kenapa bisa menjadi luas dalam waktu yang singkat?"
"Bukankah kami berhasil memenangkan peperangan dan wilayah kerajaan lain berhasil kami kuasai"
"Ya memang. Tapi itu berkat bantuan dari para vampir. Ibumu memiliki kekuatan penghancur yang sangat langka, sehingga dilakukan ritual darah vampir. Dia diikat darahnya dipaksa keluar dan ribuan vampir yang bersiap untuk berperang berebut untuk meminum darahnya. Saat itu aku terlambat menolongnya. Mick menghalangiku, dia cukup kuat. Aku tidak bisa membunuhnya" Hanya mendengarnya saja membuat Gulf kesal.
"Bukankah Mae meninggal karena ia sakit?"
"Kau pikir setelah ayahmu melakukan itu, ia akan berkata jujur padamu?" Gulf terdiam. Ia kesal selama ini ia telah dibohongi.
"Lalu, aku dengar Mick sudah mati. Siapa yang membunuhnya?"
"Tidak ada yang berhasil membunuhnya. Sebenarnya ada hal yang tidak dia ketahui mengenai ritual itu. Vampir yang meminum darah ibumu semuanya mati termasuk Mick. Karena ibumu sangat kuat, darah yang seharusnya menjadi penguat tapi beberapa bulan setelahnya menjadi racun untuk mereka yang meminunya"
"Benarkah? Itu bagus. Dia terlalu bodoh"
"Kau berhati-hatilah atau kau juga mungkin akan menjadi tumbal selanjutnya. Jika aku dengar apa yang terjadi di kerajaanmu itu, mungkin nanti orang yang bernama Weir itu akan membutuhkanmu sebagai tumbal. Atau bahkan Nick sendiri yang akan menjadikanmu sumber kekuatannya"
"Tidak akan terjadi, jika dia mencariku saat itu juga aku akan membunuhnya"
"Ya sekarang fokuslah untuk berlatih dan jangan lupa minum darahmu" Ucap Apo menepuk pundak Gulf untuk menyemangatinya. Gulf yang menjadi sangat semangat pun langsung meminum habis sebotol darah yang sedari tadi dia diamkan. Baginya masih belum terbiasa meminum darah langsung dan ia pun kembali berlatih.
...****************...
Bright dan Mew melihat orang-orang yang sibuk menaikan barang ke kereta kuda, hari ini rencana mereka haruslah berhasil.
"Kau siap?" Tanya Mew.
"Sangat siap" Win menghampiri keduanya mengajak mereka untuk segera menaiki kereta barang.
...****************...
Semuanya berangkat Win menggunakan kudanya, hingga mereka sampai di gerbang perbatasan.
"Oh tuan muda Win" Sapa salah satu prajurit membungkuk hormat.
"Ayahku menyuruhku untuk mengawasi pengiriman hari ini. Kau tahu sendiri barang yang ku kirim untuk kali ini tidak perlu diperiksa bolehkan? Aku buru-buru, waktuku tidak banyak harus segera kembali ke asrama" Ucap Win.
Sedangkan Bright maupun Mew terdiam mendengarkan obrolan Win.
"Tentu tuan muda tidak masalah. Buka gerbangnya!" Ucap penjaga itu. Win lega mendengarnya, ia tidak menyangka bisa melewatinya dengan mudah.
"Tunggu!" Teriak seseorang menghentikan beberapa kereta barang yang dibawa Win.
"Kenapa kau tidak memeriksanya?" Tegur jenderal yang bertugas di gerbang perbatasan itu.
"Maaf jenderal. Ini pengiriman barang keluarga tuan Pan. Sudah sering kami periksa lagipula tuan muda Win sedang terburu-buru dan harus segera kembali ke asramanya tuan" Jenderal itu menatap Win.
"Maaf atas ketidaknyamanannya tuan muda tapi ini perintah dari istana. Kami harus melaksanakannya"
"Tapi ini hanya barang yang biasa kami kirim. Akan sangat lama untuk pemeriksaan" Ucap Win.
"Hanya sebentar. Tuan muda mohon tunggu. Buka penutupnya!" Win memperhatikannya dengan khawatir. Beberapa penjaga langsung mendekati kereta barang itu. Sedangkan didalam kereta, Bright maupun Mew bersiap untuk mengeluarkan pedangnya.