KING GULF

KING GULF
Chapter 47



Mile dan pemburu lainnya selesai dengan tugasnya. Mereka kini dalam perjalanan untuk kembali pulang. Mereka beristirahat dengan mendirikan sebuah tenda dan semuanya sibuk untuk menyiapkan makan malam. Mile yang tengah menghangatkan diri di depan api unggun sesekali melirik Boat. Ia sedikit khawatir karena sikap Boat sedikit berubah padanya dan ia tahu pasti karena beberapa pertanyaannya yang tidak bisa Mile jawab.


Perhatiannya teralihkan karena salah satu pemburu membawa seseorang ke perkemahannya.


"Jenderal Perth?"


"Oh tuan Mile. Ternyata benar, dia orangmu? Aku hanya memeriksa jika dia bukan orang mencurigakan"


"Tidak apa-apa. Kenapa kau disini? Kau sendiri?"


"Aku bersama yang mulia raja Up. Perkemahan kami ada di sebelah sana. Kami dalam perjalanan kembali ke kerajaan"


"Raja Gulf sudah kembali?" Mile tidak tahu situasi sekarang di kerajaan Traipipattanapong, tapi ia harus segera menemui Gulf.


"Ya. Tugas yang mulia sudah selesai jadi kami harus kembali ke kerajaan. Bagaimana denganmu?"


"Sudah selesai kuperbaiki dan aku meninggalkan beberapa orangku untuk tinggal disana. Hanya untuk mengawasi apakah masih ada vampir di kawasan kerajaan" Perth mengangguk.


"Boleh aku bertemu yang mulia Up? Aku ingin memberi salam padanya" Perth membawa


Mile ke perkemahannya. Dari kejauhan Boat menatap kepergiannya. Hingga Song menegurnya karena tidak mendengar panggilannya.


"Boat ada apa denganmu? Kenapa kau sering melamun sekarang?"


"Tidak. Tidak apa-apa. Ayo lanjutkan" Boat sedikit ragu untuk menceritakan pada salah satu temannya itu, yang ia butuhkan sekarang adalah berbicara langsung dengan Mew. Karena Mew adalah orang yang paling ia percayai sekarang.


...****************...


"Oh tuan Mile kau disini? Bagaimana?" Mile memberi hormat pada Up.


"Aku sudah menyelesaikannya. Tapi untuk berjaga-jaga aku meninggalkan beberapa orangku disana. Dan juga sebaiknya kau menyelidiki orang yang merusak tanda pelindung itu. Aku rasa tanda itu sengaja dirusak"


"Baiklah aku akan memperlakukan orangmu dengan baik. Terimakasih kau membantu kerajaanku"


"Aku dengar raja Gulf sudah kembali. Bagaimana kabarnya?"


"Gulf sangat baik. Sekarang aku bisa merasakan aura yang sedikit berbeda dengannya. Tapi itu bagus, dia tampak lebih kuat dan juga dia lebih bisa mengendalikan emosinya" Up melihat Mile yang tersenyum senang.


"Kenapa?"


"Tidak. Aku ikut senang raja Gulf kembali"


"Kalau begitu aku harus kembali ke kemahku. Mereka sudah menungguku. Jangan ragu untuk meminta bantuan lagi yang mulia" Mile memberi hormat dan kembali ke tempat kemahnya.


...****************...


Gulf menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mew yang masih mengikutinya.


"Kenapa kau mengikutiku? Kembali ke kamarmu dan istirahat"


"Aku hanya ingin memastikan kau tidur. Cepat masuk" Mew mendorongnya memasuki kamar Gulf.


Mew dan Gulf berbaring bersama. Biarkan kali ini Gulf mengalah, ia hanya diam dipelukan Mew. Baru kali ini ia merasakan kenyamanan seperti ini, setelah lelah berlatih dan membereskan beberapa masalahnya. Ia butuh mengisi energinya untuk menghadapi masalah lainnya.


"Gulf"


"Hmm?"


"Bagaimana perasaanmu terhadapku?" Gulf yang sedari tadi memejamkan matanya, kini ia pun membuka mata. Bagaimana? Ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya.


"Aku...tidak tahu"


"Hm?"


"Aku sungguh tidak tahu. Aku tidak pernah memikirkan tentang itu sebelumnya"


"Baiklah aku mengerti. Tapi dengan kau yang tidak mendorongku lagi... Aku cukup mengerti perasaanmu" Gulf menatap Mew yang menahan tawanya. Bagaimana dia bisa mengerti? Bahkan ia sendiri tidak mengerti.


...****************...


Keesokan harinya.


Tak lama setelah disebarkannya sebuah selembaran yang menjelaskan tentang raja Gulf, keadaan kota tampak sedikit kacau. Orang-orang saling berdebat hingga terjadi perkelahian. Mereka tidak menyangka sebelumnya memiliki ratu yang merupakan seorang vampir dan kini mereka memiliki raja seorang vampir. Kebanyakan orang mengutuknya karena vampir merupakan makhluk yang sesat kejam dan tidak memiliki perasaan. Para prajurit turun langsung untuk mengamankan kota.


...****************...


Sementara itu di istana, Gulf tampak kesal karena tuan Pond dan yang lainnya melaporkan jika mereka tidak menemukan tuan Weir dimana pun dan hanya membawa mayat tuan Nat yang sudah membusuk. Gulf berusaha untuk tenang ketika mendapat laporan yang terjadi di kota. Apalagi kejadian dimana ia yang membunuh ayahnya kini kembali diperdebatkan.


Sesuai perkiraan Gulf, rakyatnya mendesak memasuki istana dengan teriakan yang menyuarakan rajanya untuk turun tahta dan memilih salah satu petinggi untuk menjadi raja. Rakyatnya pun berkumpul di halaman luas di dalam istana menunggu untuk bertemu dengan rajanya.


Mew tampak khawatir melihat Gulf. Sedari tadi ia selalu berada disamping Gulf dan tidak pernah meninggalkannya. Mew memegang tangan Gulf yang menyadarkannya dari lamunan.


"Aku tidak apa-apa phi. Ayo temui mereka"


"Itu dia! Makhluk yang telah menyebabkan semua masalah dikerajaan ini!" Bright dan yang lainnya berusaha menenangkan orang-orang itu. Gulf hanya melihat orang-orang di depannya yang kini memiliki pandangan kebencian terhadapnya.


"Diam!!" Teriak Gulf. Semua orang langsung terdiam. Mereka merasakan tekanan yang diberikan Gulf.


"Aku tahu bagaimana perasaan kalian. Kalian ingin aku turun tahta dan mengganti raja dengan salah satu petinggi disini? Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan itu. Ini kerajaanku daerah kekuasaanku. Aku sudah ditugaskan untuk memimpin kerajaan ini. Walaupun aku seorang vampir, aku masih memiliki darah seorang manusia. Aku dibesarkan layaknya seorang manusia. Aku tidak berniat untuk membohongi kalian karena aku pun baru mengetahui tentang ini"


"Yang mulia kalau begitu kejadian raja sebelumnya..."


"Aku memang membunuhnya dengan kekuatan vampir yang aku miliki. Itu karena kelemahanku yang belum mengetahui jika aku memiliki kekuatan seperti itu. Tapi aku tidak menyesalinya. Kalau pun saat itu aku tidak membunuhnya, aku masih akan membunuhnya di waktu lain" Semua orang terkejut dan ketakutan. Apalagi melihat raut wajah Gulf yang tampak puas. Bagaimana bisa seorang anak tega membunuh ayahnya dan tidak memiliki penyesalan?


Mew melihatnya, setiap perkataan yang diucapkan Gulf selalu membuatnya khawatir. Ia takut jika Gulf kehilangan kendalinya seperti dulu.


"Dia seorang manusia yang lebih kejam dari seorang vampir. Aku tidak keberatan jika kalian membenciku, tapi biarkan aku mempertahankan dan membangun kerajaan ini. Karena kerajaan ini berkembang oleh kekuatan manusia dan juga vampir" Raut wajah Gulf langsung berubah ketika mengingat ibunya. Tidak terbayangkan olehnya bagaimana perasaan ibunya saat itu.


"Ibuku.... Sang ratu kalian pasti tahu, dia adalah ratu yang dikenal sangat baik dan dermawan di masyarakat. Dia harus mati karena orang itu dengan kejamnya menumbalkan istrinya! Aku ingin meluruskan ini, ibuku tidak meninggal karena penyakit, tapi mati karena ayahku menjadikannya tumbal untuk sebuah ritual. Ritual itu bisa memperkuat pasukan sehingga kita bisa maju untuk berperang walaupun dengan jumlah pasukan yang lebih kecil dari kerajaan lain" Semua orang terkejut mendengar fakta yang sebenarnya. Mereka memang mencintai sang ratu karena kedermawanannya. Ratu yang tidak ragu untuk menolong rakyatnya. Semua orang terdiam, kembali merenungkannya. Mereka tidak menyangka ratu yang baik itu adalah seorang vampir.


"Dan kali ini, kita memiliki musuh seorang vampir yang bekerja sama dengan tuan Weir. Jangan terkejut, orang yang kalian inginkan untuk menjadi penggantiku sedang berusaha menghancurkan kerajaan ini dan memperbaharuinya menjadi kerjaan yang dia inginkan. Jika itu terjadi, bagaimana dengan kalian? Kita tidak tahu dia akan memperlakukan kalian seperti apa. Untuk itu aku ingin mengajak kalian untuk mempertahankan kerajaan kita, rumah kita" Hening tidak ada yang menanggapinya membuat Gulf menjadi sedikit gugup.


Apa begini akhirnya?


Aku tidak bisa membuat mereka percaya padaku.


Kau payah Gulf!!


"Lindungi kerajaan kita!!!" Teriak seseorang ditengah kerumunan. Membuat yang lainnya pun ikut menyorakannya. Sorakan-sorakan yang terus menerus membuat kepercayaan diri Gulf meningkat kembali. Orang-orang yang berjuang bersamanya pun ikut bangga dengan Gulf. Bright ikut bergabung dengan kerumunan orang-orang.


"Hidup yang mulia raja!!!" Teriak Bright memberi hormat dan diikuti oleh orang-orang dibelakangnya. Mew yang ada disampingnya pun ikut berlutut memberi hormat. Gulf tidak bisa mengungkapkan betapa senangnya perasaannya sekarang.


Mae aku berhasil membuat mereka percaya padaku!


...****************...


Di tempat lain Nick bersama Weir mendatangi sebuah gubuk yang dulu pernah ia kunjungi.


"Tuan tempat apa ini?"


"Jangan banyak bicara ikuti aku saja"


Nick membuka pintu gubuk itu dan seseorang di dalamnya langsung menatapnya tersenyum. Weir tampak terkejut melihat benda-benda yang ada di dalam gubuk itu, seketika ia menjadi mual karena melihat beberapa potong tubuh manusia.


"Kau sudah datang" Perhatiannya langsung tertuju pada tangan Nick.


"Ada apa dengan tanganmu? Dan kau membawa seorang manusia? Untukku?" Vampir gila itu hendak menarik tangan Weir, namun Nick langsung menghalanginya.


"Bukan urusanmu dan jangan menyentuhnya. Dimana barang permintaanku?"


"Tidak seperti kau yang sebenarnya. Kau yakin hanya ingin barang itu?" Nick tidak menjawab dan hanya menatapnya.


"Baiklah baiklah. Akan aku bawa, padahal tadinya aku akan menolong tanganmu"


"Tunggu!!" Vampir itu diam diam menahan senyumnya.


"Apa yang kau tahu?"


"Kau ingin tahu? Boleh saja tapi... Ceritakan padaku siapa yang melakukan ini padamu?"


Tawa vampir gila itu pecah setelah mendengar penjelasan Nick.


"Raja Gulf? Apa dia setengah vampir?"


"Kau tahu?" Nick menatapnya curiga.


"Tidak. Aku baru mendengarnya" Ia beranjak menuju sebuah rak dan mengambil botol obat.


"Kau tahu kenapa pertumbuhan tanganmu sangat lambat? Ini karena pedang yang menebasmu ditempa dengan menggunakan api abadi"


"Api abadi? Apa itu berpengaruh?"


"Tidak jika digunakan oleh vampir murni, tapi yang menebasmu adalah seseorang yang memiliki darah setengah vampir" vampir itu membuka perban yang membalut tangan Nick dan memberikan obat yang dibawanya. Seketika tangannya kembali tumbuh. Weir yang melihatnya sedikit tidak percaya.


Vampir itu memberikan sebuah benda berbentuk tabung kepada Nick.


"Kau hanya perlu melempar ini ke penghalangnya, dan itu akan menghancurkannya"


"Baiklah, aku akan pergi sekarang" Nick dan Weir melenggang pergi.


"Dasar tidak tahu terimakasih" Gerutunya melihat Nick yang semakin menjauh.


...****************...


Beberapa hari ini kerajaan tampak damai. Mew yang sedari tadi menunggu di depan pintu akhirnya pintu ruangan Gulf terbuka dengan orang-orang yang keluar. Mew melihat ke dalam dan ia dapat melihat Gulf tampak kelelahan, ia pun masuk dan menutup pintu.


"Bright bisakah kau ambil minumanku"


"Dimana minumanmu? Biar aku ambilkan" Gulf mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang.


"P'Mew. Aku kira Bright yang datang. Tak apa biar aku ambil sendiri" Gulf berdiri dari kursinya, namun Mew menahan bahu Gulf dan menyuruhnya untuk tetap duduk. Mew mengambil sebuah gelas dan menuangkan darah yang terdapat dalam sebuah botol.


"Terimakasih phi" Gulf langsung meminumnya.


"Kau tidak terganggu?"


"Apa?"


"Ya kau tidak merasa menjijikan melihat seseorang meminum darah?"


"Aku sudah sering melihat seorang vampir meminum darah bahkan meminumnya langsung dari tubuh manusia" Gulf sedikit tertawa.


"Akhir-akhir ini kau sangat sering tersenyum"


"Tentu saja. Aku berhasil membuat mereka percaya padaku" Gulf berdiri dari kursinya dan memandang ke arah jendela. Ia bisa melihat kota dari jendela ruangannya. Mew memeluknya dari belakang.


"Aku dengar p'Mile akan segera sampai di mansion aku harus menemuinya. Apa kau mau ikut?"


"P'Mile kembali?" Mew mengangguk. Tentu saja Gulf harus menemuinya. Ia memiliki banyak pertanyaan untuk Mile.


...****************...


Tanpa permisi Bright membuka pintu ruangan Gulf menampilkan wajah yang khawatir.


"Yang mulia dia-" Kalimatnya terpotong ketika seseorang terburu-buru memasuki ruangannya. Gulf cukup terkejut dengan orang yang mendatanginya.


"Yang mulia kau harus menolongku!" Ucapnya membuat Gulf menatapnya khawatir.