
Win berjalan dengan sedikit kesal. Padahal ia masih ingin melihat bagaimana para pemburu itu bekerja. Hampir sampai, Win bisa melihat dari kejauhan First yang tengah berada di depan rumahnya. Ia pun mengambil langkah cepat untuk segera menemuinya.
"Maaf tuan muda tapi saat ini tuan muda Win-"
"Eoh First kau datang?" Ucap Win yang ada dibelakangnya. Penjaga itu pun bisa bernafas dengan lega melihat tuan mudanya telah kembali.
"Darimana kau? Bukannya kau sedang sakit?" Tanya First.
"Oh aku bosan di rumah terus, Lagipula aku sudah sembuh jadi aku pergi jalan-jalan sebentar. Kenapa kau masih disini ayo masuk" Ajak Win merangkul bahu First.
"Tunggu. Kau sebaiknya menghukumnya. Dia tadi menahanku untuk masuk. Apa dia tidak tahu aku siapa?" Penjaga itu menunduk meminta maaf.
"Haha kau tenang saja nanti aku akan menghukumnya. Ayo masuk" Ucap Win menyeretnya masuk.
...****************...
Seorang pelayan menyajikan teh dan beberapa camilan di depan Win dan First.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Kau tampak kesal"
"Apa aku salah meminta tambahan pasukan untuk mencari orang-orang yang hilang? Ayahku malah memarahiku dan menyuruhku untuk fokus mencari jenderal bodoh itu. Sial! Apalagi sekarang dia semakin dekat dengan orang aneh itu"
"Siapa maksudmu?"
"Seseorang bernama Nick. Aku tidak tahu jelasnya dia darimana. Pakaiannya pun aneh, aku curiga dia bukan berasal dari kerajaan ini. Tapi kenapa dia bisa sangat dekat dengan ayahku? Apa yang mereka rencanakan sebenarnya?" Mendengar nama Nick, Win teringat obrolannya bersama Mew saat perjalanan pulang tadi. Ia ingin melihatnya, namun sedikit bergidik takut, mungkin saja jika ia bertemu dengannya itu akan menjadi pertemuan pertama dan terakhirnya.
"Kau tidak menanyakannya?"
"Aku selalu tidak mencapai obrolan itu, setelah aku selesai bicara aku selalu mendapat tamparan terlebih dahulu"
"Apa sekarang di dalam istana banyak orang-orang yang tidak kau kenal?" Tanya Win. First meliriknya dan jika dipikirkan ia memang melihat para penjaga istana yang sangat asing untuknya.
"Darimana kau tahu?"
"Aku hanya bertanya. Aku dengar dari ayahku" Ucap Win.
"Apa menurutmu aku harus mencari tahunya sendiri?" Tanya First sedikit membuat Win terkejut.
"Aku rasa kau tidak perlu mencari tahu" First menatap Win curiga.
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Haha bukan apa-apa. Hanya saja mungkin sebaiknya kau fokus melakukan tugas yang diberikan ayahmu"
"Hah... Kau memang pengecut" Ucap First. Win tidak terlalu mempedulikannya.
...****************...
Mew dan beberapa pemburu lainnya tengah menyiapkan tanda untuk membuat formasi sihir. Tidak mudah karena mereka harus diam-diam membuatnya tanpa diketahui para penjaga dan juga mereka harus membuat tanda itu mengelilingi istana.
Setelah selesai Mew kembali untuk melihat kondisi Boat.
"Bagaimana kondisimu?"
"Sudah lebih baik phi. Semuanya sudah selesai?"
"Ya tinggal beberapa lagi. Nanti malam kau bisa melakukannya?"
"Tentu. Berkat obat yang diberikan Win rasa sakitnya sudah berkurang"
"Baiklah bagus. Masih ada waktu untukmu istirahat" Boat mengangguk. Mew naik ke atas ranting pohon untuk beristirahat sebentar. Ia mengeluarkan kalung pemberian Gulf dari balik bajunya. Ia merindukannya sekarang.
'Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Maaf aku belum bisa menemuimu' Batinnya. Ia menggenggam erat kalung itu.
...****************...
Malam hari pun datang Mew dan pemburu lainnya berkumpul.
"Berhati-hatilah saat kalian menuju posisi kalian. Lihat jamnya jika sudah menunjukkan tepat pukul satu malam, kalian mulai merapalkan mantranya. Kalian mengerti?" Semuanya mengangguk.
"Ohm, bagaimana? Sudah kau periksa?" Tanya Mew.
"Ya. Nick ada di dalam istana sudah aku pastikan"
"Bagus. Baiklah semuanya ayo" Ucap Mew. Semuanya pun berpencar menuju posisi masing-masing.
...****************...
Mew menuju tanda yang sudah ia siapkan tadi siang. Sesampainya disana ia melihat jamnya, tinggal beberapa menit lagi menuju jam satu. Ia pun menghembuskan nafasnya berharap semuanya akan berjalan lancar sesuai rencananya.
...****************...
Jam menunjukkan pukul satu malam. Mew merapalkan mantranya dan cahaya muncul dari tanda yang digambarnya tadi yang langsung meluncurkan cahaya ke atas. Mew menatap langit dan bertahap pantulan cahaya lain pun muncul, tanda pemburu lain pun merapalkan mantranya. Dari atas terlihat, titik-titik tanda itu saling terhubung mengelilingi istana. Mew memejamkan matanya memfokuskan pikirannya.
...****************...
Sedangkan dalam istana beberapa vampir berteriak kesakitan karena tiba-tiba tubuh mereka terikat erat dari kaki hingga kepala semakin erat ikatan itu hingga menghancurkan tubuh mereka. Nick yang ada di ruangannya pun tak lepas dari ikatan itu, ia tentu saja merasakan sakitnya, namun ia berusaha untuk melepaskan ikatan itu dan akhirnya berhasil. Ia berjalan keluar tapi ikatan itu seakan terus ingin mengikatnya, berkali-kali ia menghancurkan ikatan itu. Ia melihat orang-orangnya yang mati karena ikatan itu. Ia berusaha untuk keluar dari wilayah istana.
...****************...
Sementara itu di tempat lain Ohm sedang dalam posisinya, seseorang mendekatinya perlahan, dan saat itu juga ia merasakan punggungnya yang tertusuk sebuah pedang, ia terjatuh sehingga dalam detik itu juga formasi sihir pun rusak dan langsung menghilang. Ohm berbalik dengan mengeluarkan pedangnya siap bertarung.
"Berani-beraninya kau!" Ucap Kao yang langsung menyerang Ohm bersama beberapa vampir lainnya.
...****************...
Mew membuka matanya terkejut.
"Sial!!!" Ia langsung pergi mencari yang lainnya.
...****************...
Mew semakin dekat dengan suara pertarungan, ia melihat Ohm yang tengah kewalahan melawan para vampir. Mew pun berlari secepatnya dan langsung membunuh beberapa vampir dan diikuti Boat yang baru datang bersama dengan pemburu lainnya.
Boomm!
Semua pemburu terpental jauh, Nick datang. Ia mendekati Mew yang tengah meringis kesakitan setelah punggungnya membentur batang pohon dengan keras. Nick mencengkram leher Mew mengangkatnya hingga kini kakinya pun tidak menginjak di tanah. Mew berusaha melepaskan tangan Nick, namun cengkramannya semakin kuat, hingga sebuah cahaya merah keluar dari balik baju Mew. Cengkramannya pun terlepas, Mew terjatuh tak sadarkan diri dengan diselubungi sebuah pelindung.
"Apa ini?" Nick menyentuh sesuatu yang menyelubungi Mew. Seketika tangannya langsung hancur.
"Akh!!! Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi?" Ia meringis kesakitan, namun tangannya kembali pulih dengan cepat, ia melihat kalung yang keluar dari baju Mew cukup mengejutkannya.
"Bagaimana dia mendapatkan kalung itu?" Kao mendekati Nick.
"Tuan semuanya kabur kecuali satu pemburu yang sudah terbunuh"
"Panggil dua orang manusia, suruh mereka memindahkannya. Kurung dia dan kejar pemburu-pemburu itu. Aku ingin mereka mati!! Cepat!!" Ucap Nick. Kao pun langsung pergi.
...****************...
Gulf membuka matanya ketika ia merasa sesak di dadanya. Entah kenapa ia langsung teringat dengan Mew, ia merasa khawatir. Pete datang menghampiri Gulf dengan membawa beberapa botol darah segar.
"Minumlah. Kau butuh energi saat berlatih"
"Pete, P'Mew belum datang lagi kesini?" Pete menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kau merindukannya?" Ucap Pete mencoba menggodanya.
"Aku serius. Aku rasa terjadi sesuatu dengannya"
"Kau hanya terlalu khawatir. Dia seorang pemburu yang sangat kuat, aku bisa merasakannya. Setiap aku dekat dengannya selalu membuatku bergidik" Gulf tampak berpikir.
"Apa kau belum pergi keluar lagi?"
"Tidak. Pekerjaanku banyak disini, jadi aku tidak ada waktu untuk keluar. Kenapa?" Gulf terdiam. Pete pun menuangkan darah ke dalam gelas dan memberikannya pada Gulf.
"Minumlah dan jangan terlalu banyak berpikir. Aku sangat yakin sekarang dia tidak apa-apa" Pete keluar meninggalkan Gulf. Sedangkan Gulf terdiam, ia pun beranjak pergi keluar dari ruang tempat ia berlatih, sedikit mengendap-endap karena ia berencana untuk pergi tanpa ketahuan.
...****************...
Gulf tampak bingung jalan keluar dari tempat itu, ia belum sempat berkeliling selama tinggal disana. Ia berjalan tanpa arah, hingga seseorang muncul di hadapannya yang membuatnya mematung.
"Kau mau kemana?" Tanya Apo.
"Aku harus keluar sekarang, ada yang harus aku lihat"
"Pemburu itu? Kenapa kau sangat peduli pada manusia itu?"
"Dia orang kepercayaanku. Dia sudah banyak sekali menolongku. Aku hanya merasa jika sesuatu terjadi padanya. Bisakah kau menunjukan jalan keluar dari sini?"
"Bisa" Ucap Apo yang membuat Gulf bersemangat.
"Jika kau bisa mengalahkanku" Lanjutnya. Raut wajah Gulf yang senang pun seketika menghilang. Sangat jelas jika Apo tidak mengizinkannya pergi. Dengan kemampuannya saat ini, ia belum bisa mengalahkan Apo.
"Kau bercanda? Mana mungkin aku bisa mengalahkanmu"
"Kalau begitu kau tidak bisa pergi" Ucap Apo berjalan melewati Gulf yang terdiam.
"Tunggu! Akan aku coba" Gulf berbalik menghadap Apo yang tengah melihatnya. Ia pun berusaha untuk konsentrasi, namun detik itu juga,
Bugh!
Serangan dari Apo langsung ia terima, hingga membuatnya terpental jauh.
"Aku belum mulai!" Ucap Gulf sedikit meringis.
"Kau pikir saat pertempuran, lawanmu akan dengan senang hati menunggumu? Kau terlalu lambat"
Bugh!
Apo terus menyerang Gulf dengan menembakkan kekuatannya.
"Setiap detik berharga untukmu"
Bugh!
"Jika kau lengah sedikit saja, kau akan kalah"
Bugh!
Tidak ada perlawanan, Gulf hanya meringis kesakitan.
"Cepat lawan aku, kenapa kau hanya diam menerima seranganku ini? Lawan!!!" Berkali-kali Gulf terluka namun dengan cepat ia sembuh.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Apo terus menerus menyerangnya, hingga serangannya hanya mengenai batang pohon karena Gulf langsung melompat untuk menghindar. Dengan cepat ia mengeluarkan kekuatannya, ia bisa membuat pedang dengan kekuatannya sendiri dan bersiap untuk menyerang Apo, namun Apo pun dengan santai menghancurkan pedang Gulf yang membuatnya terdiam.
"Berlatihlah lagi. Masih kurang cepat dan juga buat pedangmu lebih kuat. Setelah itu kau bisa pergi" Ucap Apo pergi meninggalkan Gulf yang terdiam, ia kesal, merasa dirinya sangatlah lemah.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, akhirnya Bright sampai di kerajaan Poompat.
Up yang merupakan seorang raja dari kerajaan Poompat tengah sibuk membaca bukunya, hingga pengawalnya pun mendekatinya dan membungkuk memberi hormat.
"Yang mulia, Bright dari kerajaan Traipipattanapong ingin menemuimu. Sekarang dia sedang menunggu di ruang tamu" Up menutup bukunya.
"Kerajaan Traipipattanapong?" Ia cukup terkejut mendengar kerajaan itu setelah sekian lama.