KING GULF

KING GULF
Chapter 32



Bright berbalik setelah mendengar suara dibelakangnya, orang itu menatapnya dengan tersenyum. Ini pertemuan pertama mereka dan Bright bisa merasakan tekanan yang diberi Nick padanya.


"Kau... Nick?"


"Ya" Bright mengeratkan giginya dengan tangan yang mengepal. Rasanya ia ingin menghajarnya sekarang, namun itu tidak akan baik. Yang ada dia sendiri yang akan terbunuh.


...****************...


Bright dan Nick berada di dalam ruangan yang selama ini menjadi tempat tinggal Nick. Bright melihat ruangan itu yang sedikit aneh dan juga terpajang foto besar Gulf.


"Langsung saja. Apa maumu?"


"Aku? Hahaha aku hanya tamu tuan Weir disini"


"Aku sudah tahu semuanya. Termasuk kau seorang vampir" Nick menatapnya sedikit tidak menyangka. Detik berikutnya ia tersenyum mendekati Bright.


"Kau tahu aku seorang vampir, tapi kau masih berani menerima ajakanku? Kau manusia yang pemberani" Nick mendekati leher Bright membuat ia membeku, nafas Nick yang mengenai lehernya terasa mengerikan.


"Kau tahu bukan disini hanya ada seorang vampir dan seorang manusia. Menurutmu apa yang akan terjadi?" Bright terdiam dengan kesal. Ia tidak akan membiarkan Nick menghisap darahnya. Ia pun mengeluarkan pedangnya yang membuat Nick langsung menjauh.


"Baiklah. Lihat rajamu itu. Bukankah dia sangat cantik untuk ukuran seorang pria?" Nick berbalik menatapnya perlahan mendekatinya, membuatnya langsung bersiaga dengan pedangnya.


"Aku menginginkannya" Bisiknya dari dekat.


Srett!


Pedangnya menebas tangan Nick hingga darah mulai mengucur. Nick menatap lukanya yang mulai menutup kembali.


"Jangan berharap! Disaat kau menginginkannya, saat itu juga nyawamu akan menghilang. Segera pergi dari istana ini, aku rasa Weir tidak bisa menolongmu lagi. Seorang vampir berlindung pada seorang manusia? Huh... Aku rasa aku terlalu meninggikanmu" Bright langsung pergi meninggalkan Nick yang kesal.


Bagaimana bisa ia dipermalukan oleh seorang manusia?


Kao mendekatinya.


"Tuan kenapa kau tidak melenyapkannya? Kita juga bisa mengambil alih istana ini, Weir sudah benar-benar tidak berguna sebaiknya kita membunuhnya" Nick mengepalkan tangannya. Ia kesal sekarang, jika tidak memiliki kontrak dengan Weir, sudah dari awal dia akan melenyapkannya. Tapi sekarang dia dan Weir saling terhubung. Jika Weir mati, itu juga akan berpengaruh padanya begitu pun sebaliknya.


"Tidak. Lebih baik kau lindungi manusia licik itu, dan pergilah" Kao pun memberi hormat sebelum pergi.


"Tunggu. Bagaimana dengan klan Nattawin?"


"Aku sudah menempatkan beberapa orang disana. Tapi belum ada pergerakan apapun bahkan tidak ada yang keluar dari sana"


"Sialan! Kenapa mereka harus ikut campur?!!"


Kao tidak mengerti dengan tuannya itu. Tampak berbeda dari sebelumnya yang tanpa berpikir ia langsung membunuh orang-orang yang membuatnya kesal. Tapi kali ini dia terlalu banyak berpikir.


...****************...


Dengan perintah Up, Weir kembali ke kediamannya begitu juga Nick dan para vampir yang berjaga ikut bersama Weir. Up akan menjadi pemimpin sementara selama Gulf tidak ada dan tentu saja para petinggi setuju.


Bright melihat Weir yang pergi bersama petinggi yang lainnya.


"Terimakasih yang mulia" Bright membungkuk hormat pada Up yang mengangguk.


"Jadi dimana Gulf berada sekarang? Apa aku bisa bertemu dengannya?"


"Aku dengar dia di klan vampir bernama Nattawin, tapi aku tidak bisa kesana dan juga aku tidak tahu dimana tempat itu. Hanya tuan Mew yang pernah kesana, dia seorang pemburu. Aku harus segera menemuinya"


"Baiklah kau temui dia. Aku juga berharap bisa bertemu dengannya" Bright pun berpamitan untuk segera pergi. Perth menatap kepergian Bright. Berada di istana ini sedikit membuatnya bergidik. Ia menjadi semakin khawatir dengan rajanya.


"Yang mulia, apa kau yakin? Menurut Bright di antara para penjaga tadi, beberapa diantaranya seorang vampir. Aku bahkan tidak bisa membedakannya. Mereka terlihat sama"


"Apa kau takut?"


"Aku hanya mengkhawatirkanmu"


"Aku lumayan takut, tapi aku harus memberanikan diri. Jika bukan aku siapa lagi yang akan menolong Gulf. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku tidak selemah itu. Bahkan dulu saat berlatih bersama, Gulf selalu kalah dariku. Dia anak yang sering menangis" Up tertawa mengingat waktunya saat bersama Gulf. Keduanya begitu dekat, tapi setelah ayahnya melarang ke kerajaan Traipipattanapong, ia belum pernah bertemu dengannya lagi.


...****************...


Bright mencari ke tempat persembunyian Mew namun dia tidak menemukan siapapun disana. Ia semakin khawatir, dengan para vampir yang masih ada, ia berpikir pasti rencana Mew gagal. Bright pun pergi ke kediaman tuan Pan.


...****************...


"Oh tuan muda Win ada di asramanya" Ucap penjaga dikediaman tuan Pan. Bright mengangguk. Ia harus segera pergi ke sekolah tempat Win belajar, namun saat dia berbalik Bright melihat Win yang baru datang.


"Jenderal Bright?! Kau sudah kembali?" Win antusias melihatnya. Ia mendekatinya mencengkram lengan Bright.


"Bagaimana dengan para vampir di istana? Kau harus menolong tuan Mew. Dia ada di penjara bawah tanah" Bright terdiam karena terkejut. Dengan segera ia mengajak Win untuk kembali ke istana.


...****************...


"Apa ini?" Bright melihat sesuatu yang menyelubungi tubuh Mew.


"Aku juga tidak tahu. Saat aku melihat, dia sudah diselubungi oleh benda itu" Bright mencoba menyentuhnya. Sangat keras bagaikan kristal yang bening.


"Sudah kukira pasti sesuatu terjadi padanya. Nick harusnya sudah lenyap. Apa yang terjadi?"


"Aku pun tidak tahu. First yang memberitahuku jika pada malam itu, Nick dan yang lainnya membawa sesuatu dengan seseorang di dalamnya"


"Lalu bagaimana dengan pemburu yang lain? Apa mereka mati? Aku tidak bisa menemukan siapapun di tempat persembunyian mereka" Win menggelengkan kepalanya.


"Aku juga belum melihat pemburu yang lainnya"


"Tuan Mew! Tuan Mew!" Bright memanggilnya dengan keras namun tidak ada respon. Perhatiannya teralihkan oleh kalung yang melingkar di lehernya.


Itu kalung yang mulia. Bagaimana itu ada padanya?


"Bagaimana cara kita mengeluarkannya?"


Tang!


Suara kerikil yang mengenai jeruji besi membuat Bright dan Win terkejut. Bright langsung mengeluarkan pedangnya dan menyembunyikan Win di belakang punggungnya. Tidak ada siapapun, tapi jelas-jelas mereka mendengar suara.


"Siapa disana? Tunjukkan dirimu!" Teriak Bright.


Sebuah bayangan melesat hilang, walaupun sedikit tapi Bright masih bisa melihatnya. Ia pun langsung mengejarnya.


"First?" Win yang menyusulnya pun cukup terkejut dengan keberadaannya.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Win.


...****************...


Ketiganya kini ada di ruangan Bright. Sejak pembicaraannya saat itu dengan First, keduanya belum berbicara lagi. Win sedikit khawatir jika ia akan melaporkannya, tapi hingga saat ini First tidak bertindak apa-apa.


"Aku benar bukan? Kau yang saat itu membebaskannya. Dan juga kau bekerja sama dengannya. Apa kau lebih memilih berada di pihak raja pembunuh itu?" Karena ucapannya, sebuah pedang langsung mengarah ke lehernya. Ia langsung bungkam menatap Bright tidak suka.


"Jenderal turunkan pedangmu" Win sudah bersama dengan First cukup lama, hingga ia tahu First adalah orang yang hanya bermulut besar. Dalam kasusnya sekarang, ia hanya tidak tahu kebenarannya. Ia hanya ingin bekerja untuk keberlangsungan kerajaan ini. Win dapat melihat jika First sangat mencintai orang-orang di kerajaan ini.


"Kau tidak tahu apa-apa! Jadi jaga mulutmu itu! Dia masih rajamu. Kau bisa saja mendapatkan hukuman mati karena menghina rajamu" First tertawa melihat Bright yang memahan emosinya.


"Aku tidak pernah mengakuinya sebagai rajaku"


"KAU-" Win menahan Bright yang mengacungkan pedangnya bersiap untuk segera menebas First.


"First! Sudah cukup! Kau tidak tahu sebenarnya ayahmu yang lebih banyak membunuh orang-orang. Bahkan ia menumbalkan mereka untuk menjadi makanan para vampir" First terdiam. Tentu saja kini ia terkejut. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi vampir? Mereka hanya tokoh dalam cerita fiksi.


"Kau selalu mencari orang-orang yang hilang bukan? Kau tidak akan menemukan mereka, karena ayahmu membawa mereka ke istana. Mereka terbunuh dan darah mereka dihisap habis oleh para vampir" First berdiri dan langsung mencengkram kerah Win dengan kuat hingga ia sedikit kesulitan untuk bernafas. Bright mencengkram lengan First untuk segera melepaskannya, namun Win menahannya. Ia membiarkannya karena ia tahu First tidak akan pernah menyakitinya.


"Kau tahu itu dan kau tidak memberitahuku?!" Wajah First memerah karena menahan emosinya.


"Kau pikir jika aku beritahu apa yang akan terjadi? Kau hanya akan mati sia-sia. Bahkan ayahmu lebih mempercayai vampir itu dibandingkan denganmu" First kesal. Ia tidak bisa menyangkal pernyataan Win. Itu benar. Sekarang ayahnya lebih memilih Nick dibandingkan dengannya.


"Lalu apa kau lebih memilih diam saja karena kau takut mati?"


"Aku sudah berusaha. Aku mengirim beberapa orang untuk membebaskan mereka, tapi orang yang aku kirim tidak pernah kembali" Cengkraman First melemah dan akhirnya terlepas. Ia kembali duduk dengan lemas. Menenggelamkan wajahnya di tangannya. Ia kesal karena tidak bisa berbuat apapun.


"Apa orang yang bernama Nick itu benar-benar seorang vampir?" Tanyanya tanpa membuka wajahnya.


"Ya"


"Bagaimana cara membunuhnya?"


"Hanya para pemburu yang bisa membunuhnya. Tuan Mew salah satu pemburu itu" First membuka tangannya ia hanya mengangguk. Ia merasa menjadi orang yang paling bodoh karena tidak tahu hal yang sebenarnya. First berdiri dan pergi. Win menahan tangan Bright yang akan menyusulnya.


"Biarkan dia sendiri dulu" Bright pun hanya mengangguk.


...****************...


Mew sudah dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Bright berencana untuk membuka paksa benda yang menutupi Mew.


"Dia pemburu itu?" Tanya Up. Ia ikut memperhatikannya.


"Ya. Dia juga sangat dekat dengan yang mulia. Ayo mulai dan jangan sampai terkena orang di dalamnya" Bright menyuruh orang-orangnya untuk membukanya dengan menggunakan alat pahat dan beberapa bor kecil.


...****************...


Satu jam berlalu, benda itu bahkan tidak tergores sama sekali. Bright dan Perth sudah mencobanya dan tetap tidak berhasil.


"Sial! Bagaimana cara membukanya?!" Bright kesal tidak bisa menghancurkannya. Bahkan ia sudah mengeluarkan tenaganya tapi tetap tidak tergores.


"Jenderal mungkin benda ini memakai sihir" Ucap Louis.


"Sihir?"


"Ya. Bukankah benda ini pelindung yang keluar dari kalung milik yang mulia? Aku rasa yang bisa membukanya hanya yang mulia"


"Apa? Tapi aku tidak tahu klan Nattawin ada dimana" Hening semua orang berpikir.


"Bagaimana jika kita mencoba dengan pedang suci milik yang mulia?"


"Dimana kau menyimpannya?"


"Aku menitipkannya pada tuan Mew, tapi sepertinya ia menyimpannya di mansion para pemburu"


...****************...


Mile membuka surat yang dikirim Bright untuknya. Para pemburu sudah bisa kembali memasuki kawasan istana sehingga Mile diminta untuk datang membawa pedang suci milik Gulf.


"Dia pasti berhasil memusnahkan para vampir itu" Salah satu teman Mile bernama Vegas seorang pemburu yang kuat berasal dari mansion pusat, beberapa hari terakhir ia tinggal di mansion Mile untuk melihat perkembangan rencana temannya itu dan juga untuk melihat keadaan Mew.


"Tentu saja, kau pikir siapa yang melatihnya" Mile tampak bangga dengan Mew. Selama ini Mile yang mengajarkan semuanya pada Mew. Semuanya kembali normal dan akan menjadi masalah baru untuknya.


"Jadi kau akan kesana?"


"Ya. Sepertinya Gulf juga sudah kembali. Kau juga sebaiknya kembali, kita akan bertemu disana nanti" Vegas pun mengangguk dan berpamitan untuk pergi.


...****************...


Bright menyambut Mile yang datang sendiri dengan membawa bungkusan panjang di punggungnya. Mile langsung dibawa ke sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk latihan di dalam istana.


Mile sedikit tidak mengerti. Bukankah seharusnya ia dibawa ke ruangan Gulf? Namun perhatiannya teralihkan pada seseorang yang di kenalnya. Ia langsung berlari mendekatinya.


"Mew!" Panggil Mile, namun tidak ada respon dari Mew.


"Apa yang terjadi? Apa ini?"


"Ini sebuah pelindung. Mew gagal melakukan rencananya dan ia diserang oleh vampir-vampir itu. Untungnya ia memakai kalung milik yang mulia. Kalung itu melindunginya" Mile tampak khawatir. Jika gagal, dimana yang lainnya? Kenapa hanya ada Mew disini?


"Bagaimana cara mengeluarkannya?"


"Kami sudah berusaha tapi benda itu sama sekali tidak hancur. Dokter Louis mengatakan jika mungkin benda ini hanya bisa dibuka oleh yang mulia. Tapi yang tahu keberadaannya hanya tuan Mew. Karena itu kami ingin mencoba menggunakan pedang suci milik yang mulia" Mile langsung mengeluarkan pedang suci itu dan bersiap untuk menghancurkannya.


"Kau yakin pedang ini bisa membukanya?" Bright sendiri tidak tahu. Ia mempersilahkan Mile untuk mencobanya.


Mile berkonsentrasi dan memegang erat pedang suci itu.


Sreet!!


Tidak terjadi apa-apa. Mile dan Bright saling menatap terkejut karena pedang suci pun tidak bisa membukanya. Namun beberapa detik kemudian sebuah retakan muncul disertai cahaya yang menyilaukan mata.