KING GULF

KING GULF
Chapter 37



Mew memasuki istana, ia melihat Bright yang cukup sibuk kesana kemari. Hingga ia melihat keberadaan Mew, Bright langsung menghampirinya.


"Kau sudah kembali? Bagaimana yang mulia?"


"Dia baik-baik saja. Juga dia sudah menjadi sangat kuat"


"Benarkah? Kalau begitu yang mulia akan cepat kembali?"


"Ya aku rasa begitu" Bright sangat senang setelah mendengarnya.


"Oh ya boleh aku bertemu dengan yang mulia raja Up?"


"Tentu. Ayo aku akan mengantarmu"


"Tunggu jenderal!" Seseorang menghentikan keduanya. Bright sedikit kesal melihat orang dihadapannya sekarang.


"Tuan Pakorn. Sudah kubilang yang mulia raja Up sibuk tidak bisa menemuimu"


"Tapi aku dengar dia akan bertemu dengan yang mulia. Bahkan dia hanya orang luar dan bisa bertemu dengan yang mulia? Sedangkan aku rakyat kerajaan ini tidak bisa?" tuan Pakorn sangat gigih hingga Bright tidak bisa menyangkal lagi dan mengajaknya untuk masuk menemui Up.


...****************...


Ketiganya diizinkan masuk oleh Up dan kini saling berhadapan. Mew masih terdiam, ia tidak bisa bicara jika masih ada tuan Pakorn bersamanya. Ia pun hanya membiarkannya untuk berbicara terlebih dahulu.


"Yang mulia terimakasih telah memberiku waktu. Aku hanya ingin meminta permohonan untuk membebaskan tuan Weir. Dia orang yang sangat berpengaruh, semua rakyat menghormatinya. Untuk kesalahan yang ia perbuat, biarkan dia memperbaikinya dan mengklarifikasi semuanya pada orang-orang"


"Kenapa kau sangat bersikeras terhadapnya? Kau lebih suka dia menjadi rajamu?"


"Tidak yang mulia. Rajaku hanya yang mulia raja Gulf, aku selalu setia padanya. Hanya saja banyak rumor yang beredar diluar sana jika anda mencoba untuk mengambil alih kerajaan ini. Dengan mengeluarkan tuan Weir kita bisa menghilangkan rumor itu" Up mendengar penjelasannya. Ini baru pertama kalinya ia mendengar tentang rumor itu, ia menatap Perth meminta konfirmasinya. Perth pun mengangguk. Perth tahu tentang rumor itu, namun ia tidak memberitahukan Up karena ia tahu jika rajanya itu tidak akan peduli dengan rumor seperti itu.


"Jadi ada rumor seperti itu?"


"Iya yang mulia. Mohon yang mulia untuk mempertimbangkannya"


"Heh sangat lucu mendengar pemikiran orang-orang. Tapi aku tidak peduli mereka mau berpikir apa tentangku. Aku hanya membantu Gulf disini. Dan kau, lebih baik jangan terlalu mengurusi tentang orang lain. Pikirkan dirimu sendiri. Kau tidak tahu seperti apa orang yang selama ini kau dukung itu" Tuan Pakorn sedikit tidak mengerti tapi ia sudah terlanjur menjadi pengikut Weir. Ia harus membantu Weir bagaimana pun caranya.


Berapa kali pun menjelaskan, Up tetap tidak menerimanya. Hanya orang bodoh yang akan mengeluarkan Weir begitu saja. Tuan Pakorn pun diminta untuk kembali dan kini pandangan Up tertuju pada Mew yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Dan kau, ada apa menemuiku? Kudengar kau baru mengunjungi Gulf, bagaimana dia sekarang?"


"Dia sangat baik dan juga semakin kuat"


"Benarkah? Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya"


"Yang mulia, aku dengar kau mengirim p'Mile ke kerajaanmu. Untuk apa?" Mew dan Up langsung menjadi sangat serius.


"Kenapa? Kau tidak diberitahu olehnya?"


"Tidak. Saat aku kembali ke mansion, mereka sudah pergi dan orang-orang yang tinggal di mansion tidak ada yang tahu untuk apa p'Mile pergi"


"Kau tenang saja. Aku hanya memintanya untuk memperbaiki pelindung di kerajaanku. Sebelumnya dia dan beberapa orang lainnya yang selalu merawat pelindung itu, sehingga kerajaanku aman tanpa serangan dari vampir. Sampai diketahui jika ada vampir yang menyerang dikerajaanku, aku pun harus meminta bantuannya" Mew tidak mengerti. Ini pertama kalinya ia mendengar tentang pelindung itu. Selama bersama dengan Mile ia tidak pernah mendengar jika dia pernah ke kerajaan Poompat. Dan lagi kenapa terkesan disembunyikan? Biasanya p'Mile akan memberitahu orang-orang di mansion. Mew mengusap wajahnya, ia harus bertanya langsung padanya. Berpikir sendiri membuatnya menjadi berpikir negatif. Mungkin ada alasan kenapa orang-orang tidak diberi tahu.


...****************...


Sudah berjam-jam Gulf berlatih tapi fokusnya hanya pada pedangnya. Ia pun berhenti dan mengamati pedangnya. Apo yang baru datang menghampirinya.


"Kau sedang apa? Tidak berlatih?" Gulf tersadar dengan kedatangan Apo.


"Oh aku sedang berlatih. Hanya mengambil minumku" Gulf meminum darahnya dengan sedikit melirik Apo yang tengah memperhatikannya. Apo pun melihat pedang Gulf.


"Itu pedangmu?"


"Ya. Itu pedang kerajaanku. Simbol untuk seorang raja" Apo mengambilnya dan mengeluarkannya dari sarung pedangnya.


"Ini hanya pedang yang dibuat manusia kan?"


"Hmm. Pedang yang harus di turunkan pada setiap raja di kerajaanku"


"Pedang ini baru dimurnikan?"


"Bagaimana kau tahu?"


"Kenapa?"


"Aku hanya merasa ada yang berbeda dengan pedang itu"


"Kau seharusnya menghancurkan pedang ini"


"Apa?"


"Pedang ini berbau busuk vampir. Berapa banyak vampir yang sudah dibunuh oleh pedang ini?"


"Itu hanya pedang biasa. Ayahku hanya seorang manusia. Siapa yang membunuh vampir dengan pedang itu?"


"Yah tidak ada yang tahu. Mungkin ayahmu bisa membunuh seorang vampir? Aku hanya menyarankan. Tapi jika kau bersikeras, aku akan membawanya untuk di tempa kembali"


"Bisa di tempa kembali?"


"Ya. Tidak baik seorang vampir menggunakan pedang yang telah digunakan untuk membunuh banyak vampir"


"Baiklah aku serahkan padamu phi"


"Hmm berlatihlah lagi. Aku rasa kau sudah cukup kuat untuk mengendalikan kekuatanmu. Setelah pedang ini selesai di tempa kau bisa kembali ke istanamu" Apo membawa pedang itu pergi. Gulf menatapnya, perkataan Apo terlalu tiba-tiba. Ia sedikit ragu sekarang. Bagaimana ia bertemu dengan rakyatnya nanti?


...****************...


Kao menghampiri Nick dengan menyeret seorang manusia yang sudah tak bernyawa. Keduanya kini berada di sebuah penginapan.


"Tuan kau bisa meminum darahnya" Nick dengan cepat merebut manusia itu dan menghisap habis darahnya.


"Tuan, orang-orang kita yang mengawasi klan Nattawin semuanya tertangkap. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Kita akan segera menyerang mereka, jadi untuk sekarang cukup dengan diawasi oleh beberapa orang saja dari kejauhan. Jangan bertindak ataupun menyerang" Kao mengangguk mengerti.


"Dia Vegas seorang pemburu yang sangat kuat. Kau ingat dulu aku sempat menghilang beberapa tahun, itu karena aku ditangkap oleh pemburu-pemburu itu. Mereka menyiksaku, dengan alasan berlatih para pemburu itu bergantian menyiksaku tanpa belas kasihan. Sampai suatu hari aku berhasil kabur dengan luka yang parah aku hampir mati saat itu, hingga aku bertemu Weir. Demi kelangsungan hidupku aku terpaksa membuat kontrak bersamanya"


"Apa?! Jadi itu alasanmu tidak bisa melenyapkannya?"


"Ya. Aku tidak punya pilihan lain, bahkan aku sudah tidak punya tenaga untuk menyerangnya saat itu. Jika aku tidak melakukannya mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini"


Kao sudah berkali-kali mengutuk Weir karena kesal, untung dia tidak sampai bertindak melukainya. Sekarang ia mengerti kenapa tuannya begitu banyak berpikir jika tentang manusia itu.


"Lalu kesepakatanmu dengannya?"


"Aku berjanji untuk membantunya menjadi seorang raja dan karena kebetulan dia berasal dari kerajaan Traipipattanapong aku menyetujuinya. Aku tahu pedang ayahku berada dikerajaan ini dan aku harus mendapatkannya" Kao benar-benar tidak habis pikir. Ia saat itu mengira jika tuannya itu memang pergi untuk berlatih, tapi siapa yang menyangka tuannya itu mendapatkan masalah dengan para pemburu.


"Soal tuan Weir, aku dengar dia di penjara. Apa aku harus membebaskannya?"


"Terserah. Kau bisa lakukan sesukamu" Kao dengan segera pergi untuk menemui Weir. Setelah mendengar cerita tuannya itu, Kao bertekad untuk melindungi Weir.


...****************...


Mew membaringkan tubuhnya setelah sampai di mansionnya. Kepalanya sibuk memikirkan beberapa hal. Hingga sebuah ketukan pintu menyadarkannya.


"Masuk" Khom memasuki ruangan Mew dengan membawa nampan berisi makanan.


"Phi kau pasti lapar, makanlah. Atau kau mau makan bersama kami?"


"Maaf aku lelah. Jadi aku rasa akan makan disini saja"


"Ya aku tahu. Makanlah aku harus kembali"


"Tunggu Khom. Selama beberapa hari ini apa kegiatan p'Mile?"


"Oh dia selalu ada diruangannya bersama seseorang"


"Siapa?"


"Ku dengar dia temannya. Tapi..."


"Apa? Jelaskan padaku"


"Ya orang-orang di mansion sedang menggosipkannya jika orang yang dibawa p'Mile adalah seorang pemburu seperti kita. Aku pernah bertemu dengannya dan bertatapan langsung. Auranya benar-benar menekan hingga aku tidak berani menatap matanya lagi"


"Ada pemburu lain selain kita?"


"Aku rasa begitu" Mew mengangguk dan menyuruh Khom kembali.


Siapa orang itu?


P'Mile tidak pernah menceritakan tentang seorang teman pemburu.


...****************...


Weir terdiam memandang kosong ke depannya. Hingga ia mendengar suara langkah kaki, tapi ia sama sekali tidak melihat ada orang disana.


"Tuan Weir" Akhirnya Weir dapat melihat Kao yang datang merusak kunci pintu penjaranya. Ia melirik orang disebelahnya yang sudah tertidur lelap.


"Maaf aku baru bisa mengeluarkanmu. Ayo sebaiknya kita segera pergi dari sini. Untuk penjelasannya kita bicarakan nanti" Weir tentu saja tidak menolak dan tanpa kata lagi, ia mengikuti Kao.


Para pengawal yang menjaga penjara sudah tak sadarkan diri. Weir melihat orang-orang itu tergeletak dimana-mana, entah mereka masih hidup atau sudah mati.


...****************...


Beberapa saat kemudian Bright di ikuti Perth berlari menuju penjara setelah mendengar laporan bawahannya.


"Sialan dia benar-benar kabur!"


"Siapa yang berani menolongnya untuk keluar?!" Bright membantu untuk mengangkat orang-orangnya, beruntung mereka hanya tak sadarkan diri.


"Bagaimana mereka bisa pingsan seperti ini? Tidak ada tanda-tanda perlawanan dari mereka" Perth mencoba untuk mengidentifikasi orang-orang yang tak sadarkan diri.


"Jenderal tolong aku" Bright melirik orang yang memanggilnya dari dalam penjara.


"Kau ingat aku? Aku Bon yang membantu di desa Khon" Bright mengingatnya dan langsung mendekatinya.


"Kau lihat siapa yang membebaskan Weir?" Bon hanya menggelengkan kepalanya, ia sendiri tidak tahu bahkan tidak mendengar Weir keluar dari penjara.


"Maaf jenderal saat itu aku sudah tertidur" Bright menghela nafasnya, ia pun kembali beranjak. Ia harus menyelidiki kepergian Weir.


"Jenderal tolong keluarkan aku dari sini. Tuan Weir yang memasukanku kesini karena aku membela yang mulia Gulf" Bright tidak ingin bertanya lagi dan menyuruh orangnya untuk membebaskan Bon dari penjara.


...****************...


Perth menghampiri Bright yang terdiam.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Aku sudah menyuruh pasukanku untuk menyelidikinya"


"Mungkinkah vampir itu yang membebaskannya?"


"Ya sepertinya Nick telah kembali" Bon yang baru keluar mendekatinya.


"Jenderal terimakasih sudah membebaskanku" Bright hanya mengangguk tanpa melihatnya. Terkesan sangat sombong tapi kini pikirannya sedang fokus pada Weir.


"Oh ya Jenderal. Seseorang membantu tuan Weir selama dipenjara. Pengawal itu begitu baik dengannya, dan aku dengar tuan Pakorn yang mengirimnya"


"Siapa yang kau maksud?" Bon mencoba mengedarkan pandangannya mencari seorang pengawal yang saat itu mendatangi Weir.


...****************...


Bon tidak bisa menemukannya dan Bright pun mengajaknya ke ruang perawatan dimana para pengawal yang tadi tidak sadarkan diri dikumpulkan disana.


"Dia. Dia orangnya, aku ingat. Saat itu mereka merencanakan pembebasan tuan Weir. Mungkinkah dia hanya berpura-pura jadi korban setelah membebaskan tuan Weir?" Terdengar masuk akal. Bright menatap pengawal itu, ia benar-benar kesal sekarang, apalagi mengingat usaha tuan Pakorn akhir-akhir ini yang bersikeras untuk mengeluarkan Weir.