KING GULF

KING GULF
Chapter 52 : Season 2



Beberapa kereta berjajar menyusuri jalan yang membentang membelah hutan. Jalan yang dibuat khusus untuk anggota kerajaan, menghubungkan langsung kota dan suatu tempat yang cukup dirahasiakan kepada orang-orang.


Di salah satu kereta, terlihat seorang putri dengan wajah yang menekuk karena kesal. Ia baru saja kembali dari kunjungannya ke suatu tempat atas perintah dari sang raja yaitu ayahnya. Pelayan pribadinya yang sedari tadi ada disampingnya tampak khawatir, ia sangat tahu perasaan sang putri. Ia sudah sangat sering mendengar sang putri yang mengeluhkan masalahnya, namun sebagai seorang pelayan tentu saja ia tidak bisa membantu apapun.


"Yang mulia, sebentar lagi kita akan sampai" Ucap pelayan itu.


"Benar-benar tidak masuk akal, pemikiran gila apa itu?! Aku tidak mengerti, kenapa selalu aku yang harus melakukannya?! Jika saja orang itu tidak bodoh!!" Sang pelayan tahu siapa yang dimaksud sang putri sebagai orang bodoh. Sudah sering kali ia mendengarnya, tapi tetap saja mengejutkan. Bagaimana bisa seorang adik mengatai kakaknya sendiri adalah seseorang yang bodoh?


"Yang mulia, saya yakin yang mulia raja melakukan hal ini untuk kebahagiaan anda"


"Kebahagiaanku, huh? Sungguh lucu! Jika memang seperti itu, dia tidak akan memaksaku" Sang pelayan bungkam. Ia selalu berusaha untuk menghibur walaupun hasilnya selalu gagal seperti ini.


...****************...


Jane May adalah seorang putri dari kerajaan Ratanaporn. Anak kedua dari dua bersaudara, ia memiliki seorang kakak bernama Kiet Sunan yang kini menjadi seorang putra mahkota di kerajaannya. Jane dikenal karena kebaikan dan kecantikannya yang membuat istana selalu mendapatkan beberapa lamaran dari orang-orang ternama di kerajaannya ataupun dari kerajaan lain. Namun selalu langsung ia tolak, bahkan untuk melihat orang yang melamarnya pun ia malas. Namun kali ini, sang raja yang merupakan ayahnya terus mendesak ia menerima perjodohan dengan orang yang telah ditetapkannya. Dengan alasan untuk membantu kerajaannya sendiri, ia harus menerima perjodohan itu.


Sesampainya di istana, Jane dengan cepat berjalan untuk segera menuju kamarnya. Ia lelah dan tidak ingin menemui siapapun. Seharusnya Jane langsung bertemu ayahnya, namun ia terlalu malas melihat ayahnya itu. Langkahnya terhenti ketika seseorang berpapasan dengannya.


"Akhirnya kau pulang" Jane menatap kakaknya yang tersenyum dengan hangat menyambutnya. Namun ia membenci hal itu, dulu kakaknya tidak seperti ini. Jane sangat bangga memiliki kakak yang selalu peduli padanya. Tapi, setelah terjadi sebuah kecelakaan kini kakaknya menjadi sangat berubah. Sikap kakaknya menjadi seperti anak kecil, ceroboh, bodoh dan tidak bisa diandalkan. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ayahnya mengangkat dia menjadi seorang putra mahkota.


"Hm" Jane melenggang pergi melewatinya begitu saja. Ia selalu menjauhinya dan sudah tidak berminat lagi untuk dekat dengannya. Kiet hanya menatap kepergian adiknya itu. Ia sedih, semakin hari adiknya terus menjauhinya.


...****************...


Jane terbangun dari tidurnya, ia sedikit membuka matanya. Cahaya yang masuk ke dalam kamarnya benar-benar sangat mengganggu. Kenapa waktu begitu cepat? Ia merasa baru saja memejamkan matanya, namun pagi sudah kembali datang.


"Yang mulia, anda harus segera bersiap untuk menemui yang mulia raja" Jane tak bergerak dan hanya menyembunyikan tubuhnya dibalik selimutnya yang tebal.


"Yang mulia-"


"Aku tahu! Aku akan bangun" Walaupun enggan, ia pun akhirnya bangun dari tempat tidurnya.


...****************...


Jane mengetuk pintu ruangan kerja ayahnya. Setelah ia diizinkan masuk, pintu pun terbuka dan beberapa orang di dalam cukup membuatnya terkejut. Jane menatap ayahnya tidak mengerti.


"Ayah, kenapa ada vampir disini?" Sang raja hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk masuk kedalam.


...****************...


Sementara itu jauh ditempat lain, kondisi istana kerajaan Traipipattanapong terlihat sibuk, para pelayan berjalan kesana kemari menata makanan dan juga beberapa dekorasi untuk menyambut tamu malam ini.


Sedangkan di ruangan lain, Mew tampak sibuk merapikan pakaian yang dikenakan Gulf. Ia juga mendudukan Gulf di sebuah kursi yang menghadap ke kaca rias. Mew dengan lihai mencoba menata rambut Gulf. Gulf hanya terdiam membiarkan Mew berbuat sesukanya.


"Kenapa sangat lama?"


"Kau seorang raja tentu saja penampilanmu harus terlihat bagus" Gulf hanya menghela nafasnya.


"Aku tidak mengerti, kau memiliki banyak pelayan. Bukankah biasanya seorang raja dilayani saat tengah bersiap?" Mew menyuruh Gulf berdiri dan menghadapnya. Ia melihat tampilan Gulf yang tampan didepannya dan merapikan beberapa hal kecil yang mengganggu pandangannya.


"Aku lebih nyaman melakukannya sendiri. Mereka cukup menyiapkan pakaianku"


"Baguslah. Tidak ada yang menyentuhmu"


"Bukankah sekarang kau menyentuhku?" Mew menarik pinggang Gulf dan memeluknya erat.


"Aku berbeda tentu saja. Lagipula aku sudah menyentuh semuanya" Mew mendekatkan kepalanya untuk meraih bibir Gulf. Gulf hanya menatapnya yang semakin mendekat.


...****************...


Bright berjalan cepat menuju kamar rajanya. Sebelumnya ia bisa langsung masuk, tapi kali ini ia tahu rajanya tidak sendirian berada di kamarnya. Ia pun mengetuk pintu menunggu rajanya itu mengizinkannya masuk.


Gulf mendorong Mew hingga ciuman keduanya terlepas.


"Lepaskan aku, pasti Bright yang ada dibalik pintu"


"Memangnya kenapa? Dia sudah tahu tentang kita" Mew beralih ke leher Gulf.


"Yang mulia" Terdengar suara Bright yang memanggilnya.


"Phi lepaskan aku" Gulf tidak terbiasa kedekatannya dengan Mew terlihat orang lain. Mew tidak melepaskannya dan kini menatapnya tajam.


"Tidak! Masuk!" Mew menyuruh Bright untuk masuk yang sedikit membuat Gulf terkejut. Posisinya sekarang sedang tidak baik karena Mew tengah memeluknya erat.


Bright masuk dan sebuah pemandangan yang sudah tidak mengejutkan lagi baginya kini terlihat. Ia sudah beberapa kali melihat rajanya itu bersama Mew tengah bermesraan.


"Ada apa?" Gulf mencoba untuk bersikap tenang dan Mew hanya menahan tawanya melihat Gulf.


"Yang mulia tamu kita hampir sampai. Sebaiknya kita segera bersiap menyambutnya"


"Baiklah. Aku akan segera turun" Tanpa banyak berbicara lagi, Bright memberi hormat dan kembali keluar.


"Wajahmu tampak merah, kau malu?" Mew kini mendapatkan tatapan tajam dari Gulf. Ia sangat senang ketika menggoda Gulf.


"Lupakan. Apa kau tidak merasa sikap Bright menjadi lebih tenang?"


"Benarkah? Dia terlihat sama seperti biasa" Beberapa hari terakhir ini Gulf merasa Bright menjadi sangat pendiam dan juga ia sering meminta izin untuk pergi ke kamp pelatihan.


...****************...


"Phi akhirnya kau sampai"


"Aku hanya berkunjung sebentar kesini, kenapa kau menyuruh orang-orangmu datang? Bahkan kau membuat acara disini" Gulf tersenyum.


"Tentu saja karena aku ingin menyambut anggota keluarga kerajaan. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Ayo masuk" Apo pun mengikuti Gulf masuk. Ia melihat megahnya istana yang dulu pernah ia datangi. Terlihat sedikit berbeda di beberapa tempat, namun semuanya tetap masih terasa sama.


...****************...


Gulf tampak menikmati beberapa penampilan yang telah disiapkan, berbeda halnya dengan Apo dan para petinggi. Keduanya tampak canggung dan beberapa diantara para petinggi sangat terlihat ketakutan melihat Apo dan orang-orangnya. Mereka sudah diberitahu jika Apo merupakan seorang vampir. Semua vampir tampak menikmati darah segar yang sudah disiapkan sedangkan untuk para manusia dihidangkan beberapa makanan. Namun belum ada satu pun yang menyentuh makanan itu.


"Gulf, seharusnya kau tidak melakukan ini. Lihatlah orang-orangmu, mereka sepertinya ketakutan melihat kami" Para petinggi langsung mendapat tatapan tajam dari Gulf. Ia melihat salah satu petinggi tampak gemetar menahan mual ketika melihat seorang vampir meneguk habis darah yang ada di gelasnya. Ia tidak bisa beranjak pergi, karena Gulf dengan tegas memerintahkan semua orang untuk tetap di tempat.


"Biarkan saja phi. Mereka harus terbiasa, karena nanti tamuku tidak hanya seorang manusia"


"Apa maksudmu?" Gulf tersenyum menatap Apo.


"Bukan apa-apa. Maksudku sepertimu. Kau sendiri bukan manusia kan?" Apo pun hanya membiarkannya. Bukan karena kasihan, tapi ia tidak suka orang-orang itu menatapnya dengan tatapan menjijikan.


...****************...


Mew dan Gulf berada di taman istana untuk menghirup udara segar. Melihat terlalu banyak orang membuat Mew pusing.


"Bukankah sedikit keterlaluan, kau melakukan itu pada mereka?"


"Kenapa? Kau membelanya?"


Apo berjalan kesebuah taman istana setelah ia mengunjungi makam sang ratu dan ia melihat Gulf yang tengah bersama Mew. Ia pun mendekatinya yang langsung mendapat perhatian keduanya.


"Gulf bisa kita bicara?"


"Tentu" Apo menatap Mew yang masih diam disamping Gulf.


"Baiklah baiklah, sepertinya pembicaraan kalian cukup serius. Jangan terlalu lama" Mew mengecup pipi Gulf yang membuatnya terkejut, bagaimana bisa kekasihnya itu melakukannya di depan orang lain. Mew dan Apo saling menatap sebelum Mew pergi meninggalkan keduanya.


"Kau masih bersama manusia itu?"


"Ya. Kau masih tidak menyukainya?"


"Dia seorang pemburu vampir dan kau sendiri seorang vampir. Seharusnya keduanya tidak bisa disatukan" Gulf hanya tertawa menanggapinya.


"Kau sudah mengunjungi ibuku?"


"Em dan sekarang aku harus kembali"


"Sekarang? Kenapa tidak menginap?"


"Aku tidak ingin meninggalkan klanku terlalu lama. Lagipula aku ingin bertanya padamu, kau menyuruhku datang bukan hanya untuk mengunjungi ibumu kan?" Sudah ia tebak jika Gulf terlalu memaksanya jika hanya untuk berkunjung.


"Apa maksudmu phi? Kau keluargaku tentu saja aku ingin kau sering datang ke istana"


"Jangan bercanda lagi. Apa maksud perkataanmu di depan manusia-manusia itu tadi? Apa ini ada hubungannya dengan pengakuanmu yang seorang vampir?" Gulf tak bisa mengelak lagi. Insting Apo terhadapnya memang selalu kuat. Bagaimana bisa ia seperti mengetahui semua tentang dirinya?


"Baiklah baiklah. Aku memang tidak bisa menyembunyikannya darimu"


"Bagaimana bisa kau mengaku seorang vampir pada semua orang? Kau tahu? Mungkin sekarang berita ini sudah tersebar ke seluruh dunia dan kerajaanmu akan menjadi incaran banyak orang. Apalagi para pemburu itu pasti mengincarmu" Gulf menatap Apo.


"Apa sekarang kau mengkhawatirkanku phi?"


"Tidak. Aku hanya bosan melihat peperangan"


"Oh ayolah jangan khawatir. Kekuatan kerajaanku sangat kuat. Tidak akan ada yang berani menyerang dan juga... Apa maksudmu dengan para pemburu? P'Mew dan yang lainnya tidak membunuh semua vampir"


"Kau tahu? Pemburu vampir bukan hanya mereka"


"Ada pemburu lain?" Gulf tahu jika ada pemburu lain selain kelompok Mew. Ia teringat saat mengunjungi mansion pemburu untuk bertemu Mew, Gulf secara tidak sengaja melihat Mile bersama seseorang dan ia tidak bisa melihat wajah orang itu yang tertutupi sebuah jubah. Mungkin berita tentang dirinya yang seorang vampir sudah sampai ditelinga mereka. Ia tidak ingin membahayakan rakyatnya jadi ia berencana meminjam orang-orang Apo untuk melindungi kerajaannya.


"Ya, dan mereka lebih kejam. Mereka membunuh semua vampir tanpa memandang vampir itu baik atau jahat. Mereka juga yang membunuh orang-orangku" Gulf sedikit tidak percaya klan Nattawin pernah mendapat serangan dari para pemburu. Jika memang seperti itu, kemungkinan besar kelompok pemburu itu sangat kuat. Ia menjadi penasaran dengan keberadaan mereka dan seperti apa mereka.


"Benarkah? Kalau begitu, biarkan aku meminjam orang-orangmu untuk melindungi kerajaanku"


"Aku akan meninggalkan beberapa orangku disini dan setelah aku kembali akan aku kirim lebih banyak orang"


"Kau memang yang terbaik phi" Gulf cukup senang Apo langsung memahaminya.


"Terserah. Aku harus kembali sekarang"


"Phi sering-seringlah datang ke istanaku. Kau masih bagian dari kerajaanku. Lupakan masa lalu, masalahmu dengan ibuku. Sekarang dia bahkan sudah tidak ada"


"Akan ku pikirkan" Gulf melihat kepergian Apo yang dengan cepat menghilang dari pandangannya. Beruntung Apo ternyata seorang yang mudah di ajak bekerja sama.


...****************...


Gulf kembali masuk ke kamarnya. Perhatiannya langsung tertuju pada seseorang yang bertelanjang dada di atas kasurnya. Apa yang dia lakukan?


"Apa yang kau lakukan phi?" Mew tersenyum melihat kedatangan kekasihnya itu.