KING GULF

KING GULF
Chapter 22



Suasana menjadi sangat hening selepas kepergian First. Hanya helaan nafas berat terdengar dari Bright yang lelah karena kesal setelah berhadapan dengan First.


"Tuan kau baik-baik saja?" Bright melirik orang yang tengah mengajaknya berbicara, ia baru menyadari jika orang itu datang bersama First tadi.


"Aku Win. Aku anak dari tuan Pan. Kau bisa mempercayaiku, aku tidak mendukung mereka. Bahkan keluargaku ikut mencari yang mulia raja sekarang" Bright menatapnya.


"Apa maumu?" Win melirik kanan kirinya dan melemparkan sebuah kunci pada Bright.


"Nanti malam setelah pergantian para petugas penjara. Mereka adalah orang-orang kepercayaan keluargaku. Keluarlah saat malam hari dan mereka akan menunjukan jalan keluar untukmu" Bright masih menatapnya dengan curiga.


"Percayalah. Kau bisa datang ke rumahku nanti dan berikan ini pada mereka" Ucap Win memberikan tanda pengenalnya.


"Tuan aku harus pergi sekarang. Berhati-hatilah" Ucap Win terburu-buru dan langsung pergi.


...****************...


First berjalan cepat dengan kesal. Padahal jenderal Bright sudah berada di penjara, tapi ia masih kalah dengannya.


"Hah! Benar-benar mengesalkan wajah tampanku jadi membiru karenanya" Ucap First. Ia berbalik kebelakang saat menyadari tidak ada yang meresponnya. First mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Win yang seharusnya kini ada dibelakangnya.


"Dimana dia?" Tak lama ia melihat Win yang baru keluar.


"First tunggu aku" Ucap Win berpura-pura terengah-engah.


"Kenapa kau begitu cepat. Kau meninggalkanku hingga hampir tersesat di dalam sana" First menatapnya sedikit curiga.


"Kau yang sangat lamban. Ayo cepat, banyak tugas yang harus ku kerjakan" Win bernafas lega karena First tidak mencurigainya. Ia melirik kebelakang sebelum ia kembali mengikuti First.


...****************...


Bright menatap kunci dan sebuah tanda pengenal dihadapannya. Ia belum sepenuhnya percaya, namun jika itu kesempatan untuk bisa mencari Gulf, dia pun akan melakukannya walaupun ia harus mendapatkan siksaan sekalipun.


...****************...


Mew menatap seorang vampir yang baru saja ditangkap olehnya bersama Boat.


"Kau tidak akan bicara?!" Tanya Boat. Vampir itu hanya tertawa tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mew mendekati Boat.


"Aku rasa akan percuma, sama seperti yang sebelumnya, dia akan memutuskan untuk bunuh diri daripada menjawab pertanyaan kita" Ucap Mew. Mereka beberapa kali sudah menangkap para vampir itu untuk ditanyai, namun tak ada hasilnya.


Setelah diselidiki, begitu banyak vampir yang mendiami istana, Weir sengaja membuat tempat khusus untuk para vampir itu dan sudah dipastikan orang-orang yang menghilang itu dijadikan makanan untuk para vampir. Setiap hari terdengar jeritan dari gua yang pernah ditemukan oleh Boat.


Mew dan Boat tidak bisa menyerang mereka karena terlalu banyak vampir yang berada ditempat itu. Mew pun tidak bisa memanggil bantuan, para pemburu tidak diperbolehkan untuk memasuki kawasan kerajaan. Semua perbatasan dijaga dengan ketat.


...****************...


Sementara ditempat dengan minimnya pencahayaan, bunyi rantai terdengar nyaring menyebar ke seluruh ruangan yang begitu sepi. Gulf membuka matanya, sangat jelas matanya kini berwarna merah. Ia tersenyum dengan smirknya, tubuhnya terasa begitu berenergi. Ia pun dengan mudah melepaskan rantai yang menjerat tangan dan kakinya.


Gulf melangkah keluar dari kolam yang selama ini merendamnya. Suara langkah kaki terdengar, Pete masuk ke dalam, ia terkejut melihat Gulf yang sudah terlepas dari ikatannya.


"Yang mulia kau sudah sadar?" Pete sedikit ragu, karena kini aura Gulf menjadi sedikit berbeda. Gulf menatap Pete dan dalam sepersekian detik Gulf sudah berada di hadapannya dengan tangan yang mencengkram leher Pete. Pete yang terkejut pun menahan tangan Gulf sekuat yang ia bisa. Ia mencoba mengumpulkan kekuatannya dan langsung mendorong dada Gulf yang akhirnya cengkraman itu pun terlepas.


"Tenanglah yang mulia. Ada apa denganmu? Aku hanya ingin mengantarkan ini untukmu" Ucap Pete gugup ia pun membuka kantong yang sedari tadi ia bawa. Gulf melihat didalam kantong itu terdapat beberapa kantong darah. Gulf dengan cepat mengambilnya dan meminumnya dengan rakus. Pete perlahan mundur dan keluar dari ruangan itu.


...****************...


Pete kembali bersama Apo setelah ia memberitahu kondisi Gulf. Keduanya melihat Gulf yang masih sibuk meminum darahnya.


"Gulf. Kau ingat aku?" Tanya Apo. Gulf menatapnya ia pun tersenyum mendekatinya.


"Siapa kau? Kau yang memberiku ini?" Tanya Gulf menunjukan kantong darah yang hampir habis, ia menatapnya dari dekat. Apo melihat kedua matanya. Kutukannya sudah dibersihkan, namun sekarang karakteristik vampirnya sedang mendominasi.


"Ayo keluar dari sini dan jangan berbuat ulah" Ucap Apo. Gulf pun mengikutinya dari belakang diikuti Pete dibelakangnya.


...****************...


Apo mengarahkannya ke dalam sebuah rumah kecil sebagai tempat untuk Gulf tinggal.


"Duduk!" Gulf tidak mendengarkan, melainkan ia tengah mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Gulf!!" Panggil Apo sedikit lebih keras. Gulf menatap Apo tidak suka. Ia mencoba mengabaikannya dan berbalik untuk pergi, namun dengan cepat Apo melilitkan rantai padanya yang membuat Gulf tidak bisa bergerak. Gulf berusaha melepaskannya namun sekuat tenaga ia berusaha, rantai itu tidak terlepas.


"Tuan apa yang terjadi? Dia bahkan tidak mengenaliku" Ucap Pete.


"Karena ia belum terlatih. Jiwa vampirnya mengambil alih tubuhnya"


"Lalu bagaimana cara mengembalikannya?"


"Kita harus membuatnya sadar kembali. Bawa dia ke ruanganku" Pete perlahan mendekati Gulf, ia takut karena sekarang Gulf menatapnya marah.


"Yang mulia ini demi kebaikanmu" Ucap Pete pelan sedikit ketakutan.


...****************...


Bright membuka matanya, ia melihat seseorang yang tengah sibuk entah melakukan apa. Win yang menyadari suara dibelakangnya, ia pun berbalik dan melihat Bright yang sudah sadar.


"Jenderal akhirnya kau sadar. Ini minumlah dulu" Bright menerimanya dan meminum minumannya. Win meletakkan tangannya di kening Bright membuatnya sedikit terkejut.


"Demamnya sudah turun. Sesampainya kau disini, kau langsung tak sadarkan diri"


"Berapa hari aku tidak sadarkan diri?" Tanya Bright dengan suara yang serak.


"Sekitar lima hari kurasa"


"Apa?!!" Bright langsung berusaha untuk bangun dibantu Win.


"Aku harus segera pergi"


"Tidak!" Win menahannya.


"Situasinya sedang buruk diluar. Orang-orang sedang mencarimu sekarang"


"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa diam saja saat rajaku menghilang" Win menatap Bright yang tengah bersiap.


"Baiklah sepertinya aku tidak bisa menahanmu. Tapi temui ayahku dulu" Bright pun hanya mengangguk.


...****************...


Bright berhadapan dengan tuan Pan, ia menatapnya curiga. Ia sedikit khawatir jika tuan Pan berpihak dengan Weir dan ini merupakan bagian dari rencananya.


"Tuan terimakasih kau sudah merawatku" Ucap Bright.


"Hm. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar yang mulia yang membunuh orang-orang itu?"


"Tidak seperti itu!" Jawab Bright cepat.


"Yang mulia hanya sedang dikendalikan dia tidak berniat melakukan semua itu" Lanjutnya.


"Dikendalikan oleh apa?" Bright menatap tuan Pan dan Win yang menatapnya penasaran. Ia tidak bisa menjawab untuk masalah ini. Tidak sampai rajanya itu memperbolehkannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Tuan Pan sangat ingin tahu apa yang terjadi, tapi dia cukup mengerti untuk tidak melanjutkan pembicaraan tentang itu. Melihat Bright yang terdiam, ia pun memutuskan akan bertanya langsung pada rajanya suatu hari nanti.


"Baiklah lupakan. Kau yakin akan mencarinya keluar?" Tanya Tuan Pan.


"Ya"


"Bawalah beberapa obat-obatan, kau belum pulih sepenuhnya" Bright mengambil kantong obat-obatan yang sudah disiapkan. Bright menatap Win yang sedari tadi berada disamping ayahnya.


"Terimakasih. Kalau begitu aku pamit pergi" Brightpun keluar. Win menatap kepergian Bright.


"Pho apa kau yakin membiarkannya?"


"Itu keinginannya. Sebaiknya kau kembali ke asrama dan awasi First"


...****************...


Setiap hari Mew dan Boat menyeret beberapa vampir dan membunuhnya, namun itu percuma jika hanya dilakukan dua orang. Mereka membutuhkan banyak pemburu untuk menyerang sekaligus.


...****************...


Bright berjalan dengan sedikit meringis, badannya terasa sangat kaku sekarang. Ia menutup kepalanya dengan tudung jaketnya. Jalanan begitu banyak penjaga yang kesana kemari. Ia sebenarnya bingung harus mencari kemana dulu, namun ia penasaran dengan kondisi istana. Berjalan sebentar membuatnya merasa lelah, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan menariknya ke sebuah gang yang sepi. Bright dengan sigap mengeluarkan pedangnya membuat bekapannya terlepas.