
Setelah jam sekolah telah berakhir Ody pun berjalan ke parkiran untuk membawa mobilnya. Sesampainya di rumah ia melihat ayah dan bundanya duduk bersantai di ruang keluarga. Ody masuk ke dalam rumah dan menghampiri ayah bundanya, setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk ganti baju, Ody pun turun menghampiri ayah dan bundanya sebelum itu ia makan siang terlebih dahulu. Ody duduk di antara ayah dan bundanya dan menatap ayahnya.
"Ayah tadi bilang sesuatu sekarang aja," kata Ody.
"Umur kamu berapa? Bentar lagi 18 kan?" Ody hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayah ingin kamu segera menikah karena ayah akan menjalani bisnis di luar negeri dan ayah harap kamu ada yang menjaganya" Ody menatap bundanya lalu tersenyum.
"Ga usah menikah kan bisa yah, ada bunda kan, lagi pula Ody bisa menjaga diri Ody sendiri"
"Bunda akan mengikuti ayah perjalanan bisnis untuk beberapa waktu, maka dari itu ayah menjodohkan kamu dengan anak sahabat ayah" Ody menggeleng pelan menatap ayahnya.
"Ayah ngapain si jodohin Ody segala, Ody akan menjaga diri Ody sendiri ada bibi juga yang menemani Ody di rumah, ayah tidak perlu khawatir. Iya kan bunda?"
Bunda pun tersenyum, "Nak kekhawatiran kita sebagai orang tua itu jauh lebih besar dengan apa yang kamu pikirkan, mungkin benar apa yang kamu ucapkan namun orang tua tidak akan tenang meninggalkan anaknya sendiri dalam jangka waktu yang tidak sebentar, mungkin ada Bi Ina dan Mang Jajang yang menjaga kamu tapi mereka tidak setiap saat tau keadaan kamu Ody, suami mu nanti yang akan benar-benar menjaga kamu"
Ody tertunduk mendengarkan ucapan bundanya.
"Pikirkan baik-baik Ody, ayah dan bunda hanya mau kamu baik-baik saja" Ayah mengusap kepala Ody.
Ody pun pamit pergi ke kamar meninggalkan orang tuanya. Pikirannya sedang tidak bisa di ajak bekerjasama, ia merebahkan badannya dan menatap langit-langit kamarnya. Ia berfikir jika ia menikah dan akan menjadi istri bagaimana jika suaminya tidak mencintai dia, membayangkan jika harus hamil di usia muda menjadi ibu rumah tangga yang benar-benar tidak ada dalam impiannya.
"Impian aku menjadi wanita berpendidikan dan juga berkarier akan hancur begitu saja, bagaimana jika mertuaku jahat, suamiku juga mempunyai wanita lain, hamil di usia muda yang setelah itu hanya mengurus anak. AKHHH tidak, itu tidak boleh terjadiii" Ody menggelengkan kepalanya membayangkan itu semua.
"Tapi, ada enaknya juga setelah menikah bisa bucin sama suami, tapi bagaimana jika calon suamiku mempunyai pacar, oh tuhannn aku pusing memikirkannya. Tapi kalau aku menyetujui perjodohan ini aku akan meminta mahar yang banyak agar suamiku tidak jadi menikahi ku, em kira-kira apa ya" Ody memikirkan mahar yang akan membuat calonnya jatuh miskin
"Oh ya! Aku juga akan meminta jaminan pendidikanku sampai aku jadi sarjana, aku akan meminta mahar rumah, emas 1 kilogram, lalu mobil, emm apa lagi ya? oh bagaimana jika pulau pribadi, agar jika berlibur tidak usah repot-repot, oh tuhan semoga calon suamiku kaya tujuh puluh turunan" Ody lelah memikirkannya.
Tak lama ada notifikasi pesan masuk
Unknown
'Jea aku merindukanmu'
Ody berfikir siapa yang mengirim pesan seperti itu dan ia teringat hanya teman kecilnya yang memanggilnya dengan nama itu.
'Oh tuhan dia kembali.' batin Ody
^^^MaudyKaj****esa^^^
Unknown
'Emang ini Ean?'
Ody mendengus pelan mendengar jawaban itu.
^^^MaudyKajesa^^^
^^^^^^'Ean jangan mulai ya, siapa yang panggil aku dengan nama itu, huh!'^^^^^^
Ean jelek
'Iya Jea jelek, Ean di Jakarta mau ketemu?'
^^^MaudyKajesa^^^
^^^'Ih Eann sejak kapan, kenapa ga bilang sii, tapi ayo kapannnn?'^^^
Ean jelek
'Udah lama si'
'Besok Ean kabarin lagi ya sayang'
^^^MaudyKajesa^^^
^^^'Okee Ean jelee'^^^
^^^read^^^
Ody bersorak gembira karena Ean sudah kembali kepadanyaa, dan akan menemuinya. Ody lelah memikirkan Ean dan perjodohannya ia pun tertidur.
tbc -
jangan lupa like, komen, vote dan tambahkan ke favorit ya :)
naylaa •_•