It'S Me Kajesa

It'S Me Kajesa
Bab 14 Masalah



"Aww sakit" Rara memegang pipinya yang perih


"Dasar wanita ga tau diri ya lo main rebut pacar orang aja" kata perempuan itu yang ternyata Sisca


"Lo yang apa-apaan kita udah ngga ada hubungan apa apa lagi ya." bentak Devano


"Sayang kok kamu belain dia" kata Sisca


"Kita itu sudah putus. Dasar wanita murahan!" bentak Devano


"Kalian selesaiin dulu masalah kalian, dan kamu kak aku mau ke ruang pribadi aku dulu jangan samperin aku kalau masalah kalian belum selesai" kata Rara sedikit membentak karena sakit hati akibat perkataan Sisca


"Aku akan menyusulmu nanti" jawab Devano


"Intan tolong bawakan saya kompresan es ya" titah Rara kepada Intan pramusajinya


"Baik mba" jawab Intan


Rara pun berjalan ke ruang pribadinya yang ada di restoran


Di luar ruang pribadi Rara


"Lo mau ngapain lagi kesini setelah lo buat kepercayaan gue hancur gitu aja?" tanya Devano dengan nada tinggi


"Aku mau ngejelasin sama kamu kalau aku tu ngga ngapa-ngapain sama dia" jawab Sisca dengan nada memelas


"Lo masih mau ngebela diri lo sendiri setelah gue tau yang sebenarnya?" tanya Devano kembali


"Tapi itu ngga seperti apa yang kamu kira" bela Sisca


"Mending sekarang lo pergi dari sini daripada lo buat masalah lagi" kata Devano


"Cepett pergi" tambah Devano dengan membentak


"Oke liat aja nanti" ancam Sisca


Kemudian Sisca pergi


"Apa yang mau dilakuin sama wanita jalan* itu" kata Devano lirih


Devano tak ambil pusing ia segera pergi ke meja pelayan untuk bertanya dimana ruang pribadi Rara


"Mbak dimana ruangan Rara" tanya Devano kepada salah satu pelayan


"Itu mas di ujung sana belok ke kiri nanti ada tulisannya Ruangan Chaira" tunjuk pelayan itu


"Makasih mbak" kata Devano


Kemudian Devano menghampiri Rara di ruangannya


Tok tok tok


Ketuk Devano


"Masuk" kata orang yang ada di dalam


Kemudian Devano masuk dan menghampiri Rara


"Mbak, Intan balik kerja ya" Intan meminta izin kepada Rara yang sedari tadi menemani Rara dan mengobati pipi Rara


"Iya makasih tan" kata Rara


"Iya mba permisi, misi mas" kata Intan sopan


"Ra maafin Sisca ya kita udah ngga ada apa-apa lagi" Devano membuka suaranya


"Aku mau pulang kak" Rara mengalihkan pembicaraan


"Ra dengerin aku dulu aku mau ngejelasin semuanya sama kamu" Devano berusaha menjelaskan kepada Rara


"Aku mau pulang dulu kalo kamu masih mau di sini kak, permisi" Rara berdiri ingin keluar dari ruangannya


"Aku antar Ra" kata Devano dengan lesu karena penjelasannya tidak digubris sama sekali dengan Rara


Devano pun mengantarkan Rara terlebih dahulu.


Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara hanya keheningan yang menemani mereka


Tanpa sadar air mata Rara jatuh di pipinya.


Rara pun segera menghapus dengan punggung tangannya.


Devano yang melihat hal itu hanya diam karena jika dia berbicara toh Rara juga tidak akan menceritakan segala unek-unek yang ada dihatinya


Setelah menempuh perjalanan mereka pun sampai di rumah Rara dan Rara pamit terhadap Devano


"Kak makasih" kata Rara singkat. Rara pun langsung masuk ke dalam rumah tanpa melihat bunda


"Ra tunggu" Devano mengejar Rara hingga pintu depan dan melihat raut wajah bunda yang penuh tanda tanya


"Nak Devano Rara kenapa matanya sebab begitu?" tanya bunda dengan halus


"Tadi ada sedikit masalah aja bun, kalau gitu Devano pamit ya udah mau sore" Devano mencium punggung tangan bunda


"Ya sudah hati-hati ya nak" kata bunda


"Iya bun assalamualaikum" Devano pun keluar berjalan keluar dari rumah Rara


"Waalaikumsalam" jawab bunda


Setelah Devano pergi bunda menghampiri Rara yang ada di kamarnya


"Sayang bunda masuk ya nak" Bunda pun masuk ke kamar Rara dan melihat Rara yang sedang menangis di bantal


"Rara sayang ada apa? Cerita sama bunda" bujuk bunda dengan lembut


"Bunda" isak Rara dengan memeluk bunda erat


"Hei ada apa kok tambah nangis" tmbubda masih dengan kelembutannya


Setelah Rara bercerita bunda mulai bertanya kepada Rara


"Sekarang pipinya masih sakit?" Rara pun menggeleng


"Ya sudah sekarang Rara istirahat bunda temenin ya" kata bunda dan Rara pun mengangguk


Di kediaman Abraham


"Lho kak kok udah pulang? Raranya mana?" tanya Caca yang penasaran kenapa kakaknya pulang cepat


"Ada di rumahnya" jawab Devano dengan lesu


"Loh loh kok bisa" teriak Rara tapi tidak di gubris sama sekali dengan Devano


***


Beberapa jam kemudian Rara terbangun dari tidurnya ia segera menunaikan sholat asar.


Setelah itu ia turun ke bawah untuk makan karena tadi ia tidak jadi makan.


"Loh ayah udah pulang?" tanya Rara yang melihat ayah mengambil air di dapur


"Iya tadi ayah selesai bertemu klien terus pulang, oh iya nak tadi katanya kamu sama Devano pergi ke restoran?" Rara yang sedang mengambil nasi lalu menjawab


"Iya yah. Yah Rara mau ngomong penting habis Rara makan" kata Rara


"Yaudah ayah tunggu di depan tv ya" jawab ayah. Rara pun hanya mengangguk


Setelah makan Rara menyusul kedua orang tuanya di depan tv dan duduk di depan ayah dan Bundanya.


"Rara mau ngomong apa nak?" tanya bunda yang penasaran akan hal yang ingin disampaikan anaknya


"Yah Rara mau ada pertemuan keluarga lagi" pintar Rara


"Lho memang ada apa mau bertemu lagi?" ayah yang belum mengetahui permasalahan anaknya bertanya bingung


"Rara hanya ingin lebih sering ada pertemuan keluarga aja" jawab Rara yang enggan menceritakan semua


"Baik kalau itu mau kamu sebentar ayah telfon papanya Devano dulu" ayah pun segera menghubungi Papa Aditya


Setelah menghubungi ayah menyampaikan kepada Rara dan Bunda


"Nanti kita makan malam bersama di restoran kita jam 7" kata ayah kemudian duduk kembali


Malam hari pukul setengah tujuh mereka berangkat ke restoran keluarga Rara


Sesampainya disana mereka disambut oleh para karyawannya


Mereka menuju ke ruang privat room dan menunggu Keluarga Abraham tiba.


Sambil menunggu Rara izin untuk pergi ke ruangannya


"Yah Rara ke ruangan Rara bentar ya" Rara pun turun untuk pergi ke ruangan pribadinya


Disana ia menyiapkan mentalnya agar berani mengutarakan maksud makan malam ini


Setelah merasa tenang ia kembali ke lantai 2 dimana ruang yang akan digunakan saat akan keluar dari ruangannya ia dikejutkan oleh Caca yang masuk ke dalam ruangannya.


"Astaga sejak kapan lo di situ maesarohh?" Rara yang terkejut pun bertanya kepada Caca


"Hehe gue nyusulin lo kata bunda lo di sini ya udah gue ke sini. Eh Ra btw lo tumben ngajakin kita makan malam lo aja waktu itu kayak ngga nerima perjodohan ini" Caca duduk di sofa yang ada di ruangan Rara


"Gue mau perjodohan ini dibatalin dan dilanjutkan setelah kakak lo selesai dari masalahnya" jawab Rara


"Ra emang ada apa? Masalah apa?" Caca yang sudah tau pun pura-pura tidak tahu agar Rara mau bercerita


Rara menceritakan semua kejadian yang terjadi saat makan siang dan air matanya yang turun dengan derasnya di pipi putihnya.


"Ya ampun Ra sampai segitunya Sisca lo tenang aja" Caca yang merasa kasihan kemudian memeluk sahabatnya.


"Semoga ada jalan ya sabar gue bakal selalu memberikan dukungan yang baik ke lo" hibur Caca


"Makasih ya Ca lo dah ngertiin gue" Rara mengusap air matanya dengan tissu


"Ya udah sekarang kita keluar ya udah ditunggu pasti" ajak Caca


Mereka pun keluar dan masuk ke dalam ruangan yang ada di lantai dua tempat yang digunakan untuk makan malam


Rara pun menyalami mama dan papanya Devano


"Lho sayang matamu kenapa kok sembab?" Mama Sara mengusap wajah Rara


"Itu mah tadi Rara kelilipan waktu mau kesini. Iya kelilipan" sambung Caca untuk menutupi apa yang terjadi


"Ya sudah kita makan malam dulu baru ngobrol" kata ayah


Setelah makan malam Rara memulai pembicaraan.


"Ayah, bunda, Mama Sara , Papa Adit, dan kak Devano Rara mau bicara tentang perjodohan ini" Rara mengawali pembicaraannya


"Mau ngomong apa emangnya nak?" tanya Papa Aditya


"Rara mau perjodohan ini" ucap Rara tertunda dan ia memberi isyarat terhadap Caca


Caca hanya menjawab dengan anggukan kepala


~Bersambungg


Terimakasih bagi yang membaca novel aku


Maaf ceritanya tidak sesuai harapan kalian


Aku minta dukungan dari kalian untuk selalu like, komen, dan vote akun aku


Terimakasih💛