
“Kak Nap mau adik” dengan polosnya Nafisa berkata seperti itu kepada Rara
“Nap doain aja ya” kata Rara
“Ya sudah ayo pulang biar kalian biar bisa siap siap kembali” kata Papa
Kemudian mereka pamit untuk pulang.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di kediaman Keluarga Abraham dan Rara bersama Devano pamit untuk ke kamar agar ia bisa mengecek persiapan mereka.
Sore hari Rara dan Devano sudah siap untuk berangkat ke Bali, etelah setengah jam mereka sampai di bandara dan mereka sudah melihat keluarga ayah menanti mereka.
Setelah pesawat pribadi Devano datang Rara dan Devano pun berpamitan kepada keluarga mereka tak lupa menanyakan apa yang diminta sebagai buah tangan.
"Semuanya kami pamit ya." kata Devano.
"Jagain anak bunda ya sayang." Kata Bunda
"Iya bun pasti" jawab Devano dengan senyuman
"Kakak." rengek Caca dengan menghampiri Rara.
"Apaan sih kok jadi kayak anak kecil." kata Rars
"Jangan lupa ya." ingat Caca
"Lupa apanya?" tanya Rara
"Itu yang aku minta sama kakak." jawab Caca
"Insyaallah, udah lepasin aku mau peluk yang lainnya." kata Rara
Kemudian Rara memeluk bunda, mama, dan Oma Ratna kemudian barulah Nafisa.
"Pada mau nitip apa nih?" tanya Devano
"Udah yang penting kalian kembali dengan selamat itu sudah cukup." jawab Ayah
"Iya dan jika boleh bawakan calon cucu buat kami." tambah Papa
"Kalau itu insyaallah ya." canda Devano yang sudah melihat raut muka yang berbeda di muka Rara.
"Baiklah kami pergi dulu." pamit Rara dan Devano
Kemudian mereka masuk ke dalam pintu penerbangan banyak petugas bandara yang mengamankan jalannya agar Keluarga Abraham tidak terganggu.
Di dalam pesawat Rara hanya diam karena lelah tak berapa lama Rara tertidur di bahu Devano, Devano pun menoleh dan tersenyum.
Setelah sampai di bandara Devano tidak tega untuk membangunkan Rara dengan itu Devano menggendong Rara dan keluar lewat pintu khusus agar orang lain tak melihat Devano yang menggendong Rara.
Sampai di mobil Devano menidurkan Rara dengan perlahan dan setelah itu barulah ia duduk di samping Rara.
“Mas kita dimana?” tanya Rara dengan masih mengerjapkan matanya.
“Di mobil kenapa?” Devano bertanya balik.
“Lho aku gimana turun dari pesawatnya coba?” tanya Rara penasaran.
“Kamu melayang.” canda Devano.
“Aku serius mas.” kata Rara.
“Aku juga serius ngapain aku bercanda.” jawab Devano.
“Iiihh serius kan aku tadi tidur.” kata Rara.
“Ya aku gendong lah ya kali kamu melayang gitu.” jawab Devano terkekeh.
“Ihhh kok kamu nggak bangunin aku aja?” tanya Rara.
“Kasian kamu aku nggak tega kalau harus bangunin kamu.” jawab Devano.
“Makasih ya mas.” kata Rara.
“Iya kamu tidur lagi aja.” saran Devano.
“Nggak deh aku mau liat jalanan aja.” jawab Rara.
Kemudia Rara selama perjalanan hanya menikmati pemandangan Kota Bali pada malam hari dan Devano fokus dengan laporan perusahaannya. Rara hanya diam sesekali bertanya kepada Devano kapan sampainya.
Setelah beberapa menit mereka sampai resort keluarga Devano dan Rara bersama Devano pun langsung masuk ke dalam kamar VIP yang diperuntukkan keluarga Devano.
Barang-barang mereka sudah dimasukkan oleh pelayan resort. Rara pun merebahkan tubuhnya di kasur.
“Kamu capek sayang?” tanya Devano.
“Nggak mas aku cuma merenggangkan ototku saja karena terlalu lama tidur di pesawat.” jawab Rara.
“Bersih-bersihlah dahulu setelah itu kita makan malam.” titah Devano.
“Iya mas.” Rara pun pergi melangkah ke dalam kamar mandi.
~Bersambunggg
Makasih yang udah like dan komen.
Untuk yang belum like dan komen jangan lupa tinggalkan jejak Like dan komennya yaa.
Jangan lupa juga untuk vote dan beri kritik dan saran☺️