
Dio
"Ra kapan-kapan kita ketemu yuk"
Chairara
"Ayok gue udah kangen banget sama lo"
Dio
"Cie ada yang kangen sama aku"
Chairara
"Ya udah kalo lo ngga kangen gue"
Dio
"Bercanda Ra gitu aja ngambek"
Chairara
"Ya habis lo nyebelin"
Dio
"Kalo aku ngga kangen sama kamu aku ngga bakal nyusulin kamu ke jakarta Ra"
Chairara
"Nah kan ketahuan siapa yang paling kangen"
Dio
"Awas ya kalo kita ketemu kamu aku makan"
Chairara
"Oke kita liat aja"
Read
Chaira POV
Gue sebenernya kangen banget sama lo yo kalo gue bisa milih gue lebih milih lo tapi apa gue bisa memilih
Sementara posisi gue sekarang dijodohin bukan pilih sendiri.
Dio asal lo tau lo adalah cinta pertama gue sewaktu kecil gue belum bisa nglupain lo gitu aja.
Gue banyak berharap banget sama lo.
Tapi bentar lagi gue bakal jadi milik orang lain dan lo cuma jadi temen gue.
Gue kangen sama lo Dio!
Kalo boleh gue batalin perjodohan ini gue udah batalin dari kemarin tapi lo tau kan gimana sifat ayah gue dan gue sebenernya juga udah sayang sama Kak Devano tapi gue juga masih cinta di lo Dio karena lo cinta pertama gue dan gue ngga mungkin nglupain gitu aja.
Gue pengen ketemu sama lo Dio
Kenapa lo hadir saat sudah seperti ini disaat gue udah mau jadi milik orang, kenapa Dio?
Lo jahat sama gue Dio lo hadir disaat yang ngga tepat
Dio gue sayang sama lo, gue kangen, gue nungguin lo Dio
Aku di kamar liatin foto masa kecil aku sama Dio dan di situ aku juga nangis tak bersuara
Kalian tau gimana sakitnya nangis tanpa suara kan?
Nah itu yang aku rasain di situ aku bener-bener nyesel gue masih sayang banget sama Dio, Dio adalah laki-laki ke-2 yang dekat denganku setelah ayah.
Dulu semasa kecil aku pernah mikir aku sama Dio menikah tapi itu dulu dan sekarang aku berjauhan sama Dio.
Aki ga tau perasaan aku sekarang gimana yang pasti aku masih cinta dan sayang sama Dio karena sudah lama aku menyukainya.
Pada saat itu hatiku benar-benar hancur entah kenapa aku jadi ragu untuk melanjutkan perjodohan ini karena aku sayang sama sama Dio, nggak mungkin untuk melanjutkan ini karena sampai saat ini saja belum ada rasa cinta sama Kak Devano dan aku takut jika suatu saat aku melukai hati kak Devano dengan cara masih masih menyimpan rasa untuk lelaki lain tapi bukan suaminya.
Di sisi lain aku bingung aku harus apa karena tidak mungkin atau mustahil jika aku membatalkan Perjodohan ini ini
Aku di kamar menangis tanpa henti karena aku bingung harus apa dan satu jalan untuk meredakan kesedihan aku saat ini yaitu dengan cara menangis
Disaat aku menangis kepalaku terasa pusing dan tiba-tiba pandangan menjadi gelap semua
_________________________________________________
Di saat Rara menangis Kepala Rara terasa pusing dan pandangan menjadi kabur kemudian menjadi gelap semua
Rara tergeletak di samping tempat tidurnya
Bunda yang tidak tahu jika Rara menangis di kamarnya pun masih menonton TV dengan Nafisa akan tetapi Nafisa sudah harus beristirahat kemudian bunda mengantarkan Nafisa ke dalam kamar Rara.
Pada saat Bunda membuka pintu Bunda terkejut dengan yang tergeletak di karpet/tikar samping tempat tidurnya
"Astagfirullah Rara!" teriak Bunda terkejut
"Rara sayang bangun nak" bunda menepuk nepuk pipi Rara
"Nafisa tolong ambilkan hp bunda ya di sofa tadi" titah bunda terhadap Nafisa
Nafisa pun turun untuk mengambilkan ponsel bundanya. Setelah mengambil ponsel Nafisa buru-buru naik dan memberikan ponselnya kepada bunda
Bunda pun segera menelepon ambulance.
10 menit kemudian Rara dilarikan ke rumah sakit dan masuk ke dalam IGD
Bunda dan Nafisa duduk di ruang tunggu dan bunda mengabari ayah, Caca dan Devano
Ayah pun dari restoran langsung berlari ke rumah sakit karena sesakit-sakitnya Rara ia tidak pernah pingsan dan ini pertama kalinya Rara pingsan maka dari itu ayah sangat khawatir.
Begitu pula Devano ia langsung pergi ke rumah sakit karena khawatir dengan Rara. Devano merasa khawatir karena ia baru saja foto dengan Rara dan Rara kelihatan baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang IGD
"Keluarga Nona Rara?" tanya dokter saat keluar dari ruangan
"Saya bundanya dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya bunda khawatir
"Rara mengalami stres dan tekanan darahnya sangat rendah jadi dia pingsan" jawab dokter
"Maksud dokter Rara sedang banyak pikiran?" tanya bunda lagi
"Iya bu tolong saat ini jangan bebani dia dengan banyak pikiran dulu ya karena bisa menyebabkan depresi, saya permisi ya bu" dokter meninggalkan ruangan
"Iya terimakasih dok" kata bunda
Kemudian bunda dan Nafisa masuk ke dalam ruangan Rara dan Bunda memangku Nafisa duduk di bangku samping brankar Rara
"Nak kamu kenapa sampai kayak gini?" bunda mengelus tangan Rara yang sudah dipasang selang infus
"Bunda" kata Caca yang datang bersama Zara
"Caca Zara" jawab bunda
"Bun Rara kenapa bisa pingsan dia kan ngga pernah pingsan sebelumnya" tanya Caca
"Ya Allah Ra lo kok bisa gini sihh" Caca mendekat ke samping Rara
Sampai Devano dan ayah datang Rara pun belum sadar juga.
Bunda dari tadi hanya menangis dibahu Zara karena Caca mengajak Nafisa untuk ke rumahnya sementara Zara lah perempuan yang menemani bunda
"Bunda sabar ya Rara baik-baik aja kok" Zara berusaha menenangkan bunda
"Rara ada cerita ke kamu atau Caca ngga nak tentang apapun?" tanya Bunda yang sudah agak tenang
"Ngga bunda kita biasa aja ngga ada cerita apapun" jawab Zara
Tiba-tiba tangan Rara bergerak
"Rara sayang" bunda senang karena Rara sudah sadar
"Bunda Rara dimana?" tanya Rara
"Kamu di rumah sakit" jawab bunda
"Kenapa Rara bisa di sini bun?" tanya Rara lagi
"Tadi kamu pingsan" jawab bunda
"Ra lo sebenernya kenapa? Kenapa bisa sampai kayak gini?" tanya Zara
"Gue gapapa kok cuma kecapean" jawab Rara
"Bunda, Nafisa sama ayah kemana?" tanya Rara
"Ayah ada di luar, Nafisa dibawa pulang sama Caca ngga baik lama-lama di rumah sakit, kalau ayah di luar sama Devano" jawab bunda
"Mau dipanggilin mereka Ra?" tanya Zara kemudian Rara mengangguk dan Zara memanggil ayah dan Devano
"Rara kamu udah sadar nak?" tanya ayah dan Rara hanya mengangguk
"Ra kamu ngga papa kan?" tanya Devano
"Aku ngga papa aku cuma kecapean" jawab Rara
"Nak kalo kamu ada pikiran jangan di pendam sendiri ya" kata bunda Rara pun hanya bisa mengangguk
Hari menjelang malam Rara harus menginap 1 malam agar keadaannya pulih
"Devano, Zara udah malam lebih baik kalian pulang kami yang jaga Rara di sini" kata ayah
"Devano di sini aja yah" tolak Devano
"Kasihan Caca nak dia hanya berdua sama Nafisa kamu pulang ya" bujuk bunda
"Ya udah Zara pulang ya bun yah" pamit Zara
"Naik apa nak?" tanya bunda
"Zara bawa mobil bun, Zara pulang ya" jawab Zara
"Ya sudah hati-hati" kata bunda Zara pun mengangguk dan meninggalkan ruangan Rara
"Ya sudah Devano juga pulang ya bun yah, kalau ada apa-apa kabarin Devano ya" kata Devano
"Iya nak hati-hati ya" jawab ayah
Kemudian Devano juga meninggalkan ruangan Rara
Bunda dan ayah beristirahat kasur penunggu pasien yang ada di ruangan Rara.
***
Pagi harinya Rara sudah diizinkan pulang oleh dokter akan tetapi Rara tidak boleh banyak pikiran karena itu akan berpengaruh pada psikisnya
Sampai di rumah Caca, Zara, Nafisa, Mama dan Papa sudah menunggu. Papa dan Mama yang dari Jepang langsung terbang pulang ke Indonesia setelah mengetahui Rara masuk rumah sakit. Dan Devano menjemput Rara walaupun sudah ada kedua orang tuanya tetap saja Devano ingin menjemput calon istrinya.
Mereka menyambut Rara dengan senang
"Kakak" Nafisa berlari memeluk Rara
"Nap" Rara mengelus rambut Nafisa
"Istirahat dulu nak kan baru pulang" kata Papa
"Iya pah" kemudian Rara duduk di shofanya
Kemudian mereka berbincang-bincang sebentar dan Mama Sara mengingatkan Rara untuk istirahat.
Rara pun naik ke kamarnya
Saat sudah berbaring ponsel Rara berdering
Dio
"Chaira kamu udah sembuh?"
Chairara
"Kok lo tau?"
Dio
"Aku selalu ada di dekatmu"
Chairara
"Iya gue udah sembuh"
Dio
"Kamu kenapa bisa gitu?"
Chairara
"Gue gapapa cuma kecapean"
Dio
"Ya udah kamu istirahat lanjut nanti lagi biar kamu cepet pulih"
Chairara
"Ya udah by Yo"
Read
Kemudian Rara tertidur
~Bersambunggg
Makasih yang udah membaca novel aku.
Tolong Likenya dan jika ada saran tulis aja di kolom komentar.
Terimakasih teman-teman ✨