
“Waktu aku kuliah di London ada 2 yang satu itu kayak Sisca mata duitan yang satu lagi biasa aja malahan sekarang berteman baik, dan Sisca jadi ada 3.” Jawab Devano
“Yang baik namanya siapa?” Tanya Rara yang ingin tau masalalu Devano
“Oh dia namanya Shelinda dia orang Indo juga kita kenal udah lama dari waktu SMA.” Devano menceritakan masalalunya.
“Kamu ada inisiatif untuk balikan sama dia? Karena kan dia lebih baik dari 2 mantan kamu lainnya.” Tanya Rara yang masih memeluk lengan Devano.
“Ciee ada yang cemburu.” Ledek Devano.
“Iih apaan sih kan aku cuma mau tau masalalu kamu aja, kalau nggak mau kasih tau ya udah.” Jawab Rara kesal kemudian melepaskan tangannya dan menghadap ke jendela.
“Sayang masalalu itu nggak usah diungkit lebih baik menyiapkan masa depan dan pastinya lebih baik. Aku nggak ada niatan sama sekali untuk balikan sama mantan-mantan aku karena mereka juga pasti punya kehidupannya sendiri juga kan. Dan sekarang aku juga udah ada kamu jadi ngapain aku kembali ke masalalu jika di masa depan sudah ada yang lebih baik.” Devano menarik Rara agar menghadapnya dan memeluknya.
“Bener ya, kalau sampai kamu selingkuh di belakang aku awas aja.” Ancam Rara.
“Iya istriku.” Entah mengapa muka Rara memerah mendengar kata ‘istriku’.
“Lah mukanya merah.” Devano kembali mengejek Rara.
“Apaan sih.” Rara menenggelamkan wajahnya yang merah di dada Devano.
Kemudian Rara menghabiskan sisa perjalanannya untuk tidur dan setelah beberapa jam mengudara Rara dan Devano telah sampai di bandara Soekarno Hatta. Rara dan Devano langsung keluar karena barang-barangnya sudah diurus oleh pengawal Devano.
Caca bersama keluarganya dan keluarga Rara telah menunggu di ruang tunggu. Nafisa yang lebih dulu melihat Rara keluar dari pintu kedatangan pun melepaskan tangannya dari tangan bundanya dan berlari menghampiri Rara.
“Kakak!” Seru Nafisa.
Bunda yang terkejut kerena tangannya dilepaskan oleh Nafisa pun tersenyum lega karena Nafisa menghampiri Rara yang sudah keluar dari pintu kedatangan. Semua pun berdiri ikut menghampiri Rara dan Devano. Rara pun tersenyum saat Nafisa menghampirinya ia pun menurunkan badannya menyamput pelukan Nafisa, kemudian Nafisa digendong oleh Devano.
Semuanya bergantian berpelukan dengan Rara dan yang terakhir Caca ia juga paing ama berpelukan dengan sahabatnya yang kini menjadi kakak iparnya.
“Gue kangen banget sama lo kak.” Kata Caca.
Kemudian Caca melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kabar kalian?” Tanya Oma.
“Alhamdulillah baik oma.” Jawab Rara dengan senyumnya.
“Ya udah yuk balik Rara dan Vano pasti udah capek.” Titah Mama Sara.
Kemudian mereka pulang namun mereka mampir dulu ke restoran Ayah Rizal untuk makan malam. Setelah makan malam keluarga Devano dan Rara pulang ke rumah masing-masing karena Rara yang sudah mengeluh lelah.
Sesampainya di kediaman Abraham Rara dan Devano pun berpamitan untuk masuk ke dalam kamar mereka.
“Sayang?” Panggil Devano.
“Ya?” Jawab Rara yang tengah membuka hijabnya.
“Kamu capek nggak?” Tanya Devano.
“Lumayan emang kenapa mas?” Rara berbalik menghadap Devano.
“Nggakpapa ya udah kamu bersih-bersih terus tidur.” Kata Devano sendu.
“Kamu mau ngapain emangnya?” Tanya Rara yang duduk di samping Devano.
~Bersambunggg
Jangan lupa like, komen, dan votenya yaaa.
Makasih udah baca novel aku.