Issa Asa

Issa Asa
Song 0.9




Issa melihat Asa beranjak dari tempat duduknya berjalan kearahnya, Issa pun menghentikan langkah Asa dengan bertanya singkat pada wanita itu.


"mau kemana sa?."


"eh itu ke toilet dulu." Jawab Asa singkat kemudian langsung berjalan pergi, terlihat Asa sangat tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Issa, mungkin karena semua orang jadi melihat kearahnya jika dia berinteraksi dengan Issa.


Issa kembali melihat penampilan Bagas, namun beberapa saat kemudian dia juga melihat Gea yang pergi ke arah toilet, entah kenapa feeling Issa tidak enak. Issa pun beranjak dari tempat duduknya pura-pura kearah dalam, tapi sebenarnya Issa hanya ingin memastikan kalau Asa baik-baik saja jika bertemu dengan Gea.


Issa berdiri didepan toilet wanita mendengarkan suara yang sangat jelas di telinganya saat Asa dengan tegas memberitahu Gea. Dia tidak menyangka kalau Asa bisa sangat serius, langkah Asa terdengar akan keluar dari toilet, Issa langsung masuk ke toilet laki-laki yang berada di sebelah toilet wanita.


Setelah Asa pergi, Issa keluar dari toilet laki-laki dan menghentikan langkah Gea yang akan pergi. Issa menatap tajam kearah Gea yang sangat terkejut karena Issa tiba-tiba ada didepannya.


"astaga Issa."


"lo ngapain? Apa yang lo bilang ke Asa?."


"gue ngga bilang apa-apa."


"gue denger semuanya, Ge. Kita udah selesai, lo ngga bisa ngelarang gue buat deketin siapapun."


"gue nyesel sa, gue pengen balikan sama lo." Ucap Gea lirih, walaupun wajah Gea membuat Issa sedikit luluh, tapi dia tidak akan pernah balikan dengan orang yang telah membuangnya.


"gue ngga akan pernah balik sama lo, gue udah ngga ada sedikitpun perasaan ke lo Ge, jadi ngga usah ganggu hidup gue lagi apalagi lo menghalangi niat gue buat deketin Asa." Jelas Issa yang kemudian meninggalkan Gea disana, double kill Gea malam ini kesal nya.


Issa kembali duduk ke tempat duduknya, dia kembali melihat kearah Asa yang nampak membereskan barangnya kedalam tas kecil. Seakan Asa akan pulang lebih awal, entah apa yang Asa bicarakan dengan kedua temannya, kemudian Asa meninggalkan Café. Dengan cepat Issa juga beranjak dari tempat duduknya keluar dari Café, tangannya menghentikan lengan Asa yang akan menuju ke pinggir jalan. Asa menoleh kebelakang, kearah Issa yang menahan tangannya.


"lo mau pulang? Gue anterin sa." Ucap Issa to the point.


"tapi gue udah pesen ojek online."


"maaf." Issa mengambil ponsel Asa yang tengah mencari ojek online, dan membatalkan pencarian driver "udah, jadi gue bisa nganter lo pulang kan? Please..."


"ya udah deh."


"yess!."


Issa mengajak Asa menuju ke mobilnya, bahkan membukakan pintu untuk Asa masuk. Asa pun masuk kedalam mobil Issa, duduk di sebelah kemudi, lekas setelah Issa masuk, mobil tersebut meninggalkan parkiran café membelah jalanan menuju ke rumah Asa.


Selama dalam perjalanan, sama sekali tidak Issa sia-sia kan kesempatan untuk mengobrol dengan Asa.


"lo bilang ngga dateng tadi." Ucap Issa memecah keheningan


"iya tadinya gue tidur terus Wendy ke rumah gue."


"ohh gitu, gue harus berterimakasih ke Wendy karena udah bawa lo ke sana."


"tapi gue seneng lo dateng sa."


"hahaha mau gimana lagi."


"ohh iya soal Gea, gue udah ngga ada hubungan apa-apa sama Gea, jadi lo jangan dengerin apa kata dia ya."


"lo-." Asa melihat kearah Issa


"iya gue tadi ngga sengaja denger lo ngobrol sama Gea."


"ngga papa santai aja, lagian Gea Cuma salah faham doang, toh kita ngga ada hubungan apa-apa juga."


"tapi gue niat deketin lo sa."


"lo yakin? Gue ngga secantik Gea, gue jauh dari semua cewek yang suka sama lo, kenapa ngga sama cewek lain aja."


"tapi lo suka ngga sama gue?."


"apa? gue baru kenal lo, gue ngga tau, yang pasti gue mau temenan sama lo kok tenang aja."


"ngga papa temen doang yang penting lo udah ngasih celah buat gue."


Mobil Issa berhenti didepan rumah Asa, rumah yang nampak tidak seperti seperti sebelumnya, ada dua mobil di dalam. Mobil milik kedua orang tua Asa yang sepertinya baru saja pulang bekerja, Asa langsung keluar dari mobil Issa setelah mengucapkan terimakasih pada pria itu. Asa melambaikan tangannya pada Issa yang sudah mulai menjauh dari area rumahnya.


Sebelum masuk kedalam rumah, Asa mengambil nafas dalam-dalam kemudian membuka gerbang rumahnya kemudian masuk kedalam. Suara pecahan gelas terdengar dari dalam rumah, Asa mengeluarkan airpods nya dan memasangkan di telinga, memutar lagu dengan volume penuh kemudian berjalan mengabaikan kedua orang tuanya yang tengah bertengkar di dapur, Asa berlalu menuju ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


Asa masuk kedalam selimut tanpa mengganti pakaiannya, terus menutup matanya sambil mendengarkan music sangat keras. Hampir setiap malam seperti itu dan Asa merasa sangat lelah, setiap pagi dia bahkan tidak pernah sarapan dengan kedua orang tuanya, apalagi untuk makan malam tidak pernah sama sekali. Terakhir kali mungkin beberapa bulan lalu itupun karena perayaan ulang tahun Asa dan semua kerabatnya datang ke rumah, tentu saja keluarganya akan terlihat seperti keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan.


Air mata Asa jatuh dengan tiba-tiba tanpa Asa persilakan, bukan pertama kali Asa menangis dalam diam di dalam selimut dengan lampu tidur yang remang-remang. Dia hanya ingin hidup layaknya anak-anak lain penuh kasih sayang dan di hargai, bukan hanya sebuah pajangan kala keluarga lain menanyakan seorang anak. Sebenarnya nama panjang Asa adalah Alyasa Putri Atmaja, keluarga ayahnya dari keluarga Atmaja, dan dia akhirnya mendapatkan nama belakang Atmaja karena Asa adalah cucu satu-satunya keluarga Atmaja, paman dan bibinya tidak ada yang memiliki anak selain ayahnya.


Jika ditanya apakah Asa kekurangan dalam hal materi, maka jawabannya tidak sama sekali, Asa selalu mendapatkan apa yang ia mau kecuali kasih sayang kedua orang tuanya. Ibunya yang sibuk sebagai seorang pengacara dan ayahnya yang sibuk berbisnis, ayahnya juga lulusan hukum tapi kemudian dia melanjutkan bisnis keluarga. Seperti yang sudah di ketahui kalau kedua orang tua Asa menikah karena perjodohan antar keluarga.


Asa keluar dari selimutnya, keluar dari kamarnya menuruni tangga, masih terdengar hal yang sama saat keluar orang tuanya bertengkar entah karena apa. Asa memutuskan keluar dari rumah, kedua orang tuanya bertanya pun tidak, atau bahkan tidak melihat kalau Asa keluar dari rumah.


Tepat saat membuka gerbang, Asa melihat Issa yang berdiri tidak jauh dari rumahnya melihat Asa dengan pandangan teduh. Asa menghampus air matanya dan menghampiri Issa sambil tersenyum manis.


"lo masih disini, ngapain?." Tanya Asa


"gue mau ngasih ini, bunga lo ketinggalan di mobil gue."


"oohh makasihh ya, maaf lupa." Asa mengambil bunga nya dari tangan Isa sambil terus tersenyum.