
Pagi-pagi sekali Issa sudah siap dengan pakaian rapi kemeja berlengan pendek dengan celana panjang, tak lupa membawa tas tangan berisi dompet, ponsel, rokok beserta korek api, dan juga minyak wangi yang tidak pernah tertinggal. Issa mengambil kunci motornya di laci kemudian menuju garasi menyalakan motornya sebentar lalu mengeluarkan motor tersebut, vespa berwarna hitam, motor pertama yang ia beli sebelum akhirnya membeli mobil dan rumah.
Issa melajukan motornya membelah jalanan menuju perumahan tempat Asa tinggal, dia menyapa satpam penjaga depan perumahan menerima kartu tamu lalu melanjutkan menuju ke rumah Asa. Rumah itu nampak sepi dengan gerbang yang terbuka, pembantu rumah Asa menghampiri Issa, wanita itu habis berbelanja sayuran digerobak sayur yang berhenti didekat sana.
“cari non Asa mas?.” Tanya mba Aila.
“iya, Asa nya ada?.”
“non Asa ada didalam kayaknya masih siap-siap mau kuliah, masuk dulu mas.”
“makasih.” Issa memarkirkan motornya kemudian mengikuti mba Aila masuk kedalam rumah.
“silakan duduk mas, saya ambilkan minum terlebih dahulu.”
“ngga usah mba.”
“ya sudah sebentar, saya bilang ke non Asa dulu.”
“makasih mba.”
Selama Issa menunggu Asa datang, pria itu melihat banyak foto di rumah Asa, foto saat Asa masih kecil juga satu foto besar yang menunjukkan Asa dan kedua orang tuanya, mereka sangat bahagia tersenyum pada kamera. Foto yang sepertinya di ambil beberapa tahun yang lalu karena Asa sudah cukup remaja didalam frame tersebut.
Asa terlihat menuruni tangga dengan tas selempang yang dia pakai juga buku yang sangat tebal di bawanya. Asa tersenyum pada Issa kemudian menghampiri pria itu, apapun permasalahan yang telah terjadi jangan lupa untuk tersenyum, itulah prinsip Asa.
“lo ngapain kesini pagi-pagi?.” Tanya Asa bingung
“nganterin lo kuliah.” Jawab Issa santai.
“kan gue ngga minta lo buat nganterin gue.”
“iya, gue yang mau kok. Soal kemarin gue udah jelasin semuanya.”
“gue udah tau, lo ngga perlu kayak gitu juga, gue jadi ngga enak, lagian kita Cuma temen.”
“sekarang emang temen, tapi gue mau deketin lo lebih dari temen.”
“liat-liat ntar aja ya sa.” Jawab Asa singkat namun jelas dan padat.
“gue nungguin kok, jadi lo mau kan gue anterin? Gue udah jauh pagi-pagi kesini buat ketemu lo.”
“ya udah deh, lagian juga hemat ongkos. Bentar ya.” Asa menuju ke dapur mengambil bekal makanannya dan memasukkan kedalam tas, Asa selalu membawa bekal makanan karena dia melewatkan sarapan kalau pagi jadi harus membawa bekal sebagai gantinya.
Asa dan Issa pun keluar dari rumah menuju ke depan, Issa memberikan helm nya pada Asa.
“padahal gue juga punya helm sendiri.” Ucap Asa tapi tetap menerima helm dari Issa
“itu baru kok khusus buat lo pake kalo jalan sama gue pake motor.”
“thanks.” Asa memakai helmnya kemudian naik keatas motor Issa.
Motor tersebut melaju cukup santai dijalanan menuju ke kampus Asa yang tidak begitu jauh tapi karena jalanan pagi macet jadi sampainya juga agak lama. Beberapa menit kemudian sampai di kampus Asa, Asa turun dari motor Issa dan melepaskan helmny lalu memberikan kembali pada Issa.
“ntar lo balik jam berapa biar gue jemput?.”
“ngga usah, gue pulang naik angkutan umum aja.”
“ngga papa gue juga ngga sibuk kok.”
“ntar deh gue kabarin.”
“oke jangan lupa kabarin karena gue nungguin lo.”
“oke, makasih Issa.”
“sama-sama, semangat kuliahnya.”
Asa hanya tersenyum, setelah Issa pergi kemudian dia masuk ke dalam gedung menuju ke kelasnya bergabung dengan yang lain untuk mengikuti kuliah pagi itu. Sedangkan Issa menuju ke perusahaan agensinya untuk menemui managernya, dia harus menjelaskan seluruh live yang ia lakukan semalam.
Issa bertemu dengan sang manager di ruangannya, sambil menyerahkan lagu baru yang tengah Issa garap, walaupun masih 75% jadi karena niatnya Issa akan mengeluarkan album yang berisi sekitar 3 lagu atau lebih, itu adalah impiannya, dia juga hanya ingin lagu itu ciptaannya saja.
“gue lagi deketin cewek bang, terus Gea nyari masalah dengan foto yang beredar, gue Cuma jelasin ke cewek yang gue deketin biar ngga salah faham.”
“lo tau kan konsekuensinya di dunia hiburan kayak gimana.”
“iya gue tau, tapi gue bener-bener jatuh cinta sama dia, ini lagu yang gue buat karena dia.”
“baguslah kalau punya pengaruh baik, ntar kalo udah jadi lo kirim ke gue file nya. Lo jadi buat album kan?.”
“jadi, ini masih satu lagi, ntar gue buat lagi.”
“oke sip, tidak masalah. Gue denger lo kuliah?.”
“nyokap sama bokap nyuruh.”
“ngga papa, masalah waktu biar gue yang urus.”
“thanks bang.”
Setelah berbincang cukup lama dengan managernya, Issa sesekali melihat ponselnya siapa tau ada notif dari Asa tapi hingga jam 11 belum juga ada notif masuk dari Asa.
“lo mau makan siang sama gue aja ngga nih?.” Tanya manager Issa
“tunggu.”
Pesan masuk dari Asa pun Issa terima, Issa tersenyum senang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“gue ada urusan dulu bang, ntar kalo ada apa-apa lo kabarin gue aja. Duluan.” Issa meninggalkan ruangan managernya.
“diih si bocah.”
Issa menuju ke kampus Asa menggunakan motornya dengan cuaca yang sangat panas, terik matahari yang menyengat di kulit. Hingga dia pun sampai didepan gerbang fakultas Asa, Asa keluar dari loby menghampiri Issa sambil memberikan satu bungkus es dalam cup bertuliskan es.teh.
“nih, lo haus kan?.” Ucap Asa sambil memberikan minuman pada Issa
“thanks.” Issa menerimanya dengan senang dan meminumnya.
Walaupun sangat panas, tapi Asa selalu menunjukkan wajah senyumnya yang sangat membuat hati Issa ikut merasa dingin. Bahkan sesekali Asa tertawa saat melihat orang yang bahkan sama sekali tidak lucu lewat di depan mereka.
“lo udah makan sa? Mau makan dulu?.” Tanya Issa
“belum, boleh deh makan dulu.”
Issa memasangkan helm nya ke kepala Asa, padahal Asa sebelumnya sudah mau menerima helm dari tangan Issa, tepi ternyata Issa ingin memasangkan ke kepala Asa langsung. Setelah itu Asa naik keatas motor Issa, mereka berdua menuju ke dalah satu tempat makan dengan menu utamanya ayam, ayam geprek. Kalau siang cukup penuh pengunjung tapi karena itu tempat makan, setelah makan selesai orang juga langsung pulang jadi masih ada tempat yang tersisa untuk mereka berdua.
Semua melihat kearah Issa, siapa yang tidak mengenal Issa apalagi kalangan anak-anak muda sangat tau yang namanya Issa.
“kak Issa.” Panggil salah satu wanita menghampiri Issa dengan wajah bahagia.
“iya?.”
“kak, aku mau minta foto.” Ucapnya sambil membawa ponsel.
“boleh.”
“selfie ngga papa ya kak?.”
“mau gue foto in aja?.” Tanya Asa yang langsung di jawab kebahagiaan salah satu fans Issa. “sini.” Satu jepretan, dua jepretan hingga tiga jepretan, Asa mengembalikan ponsel itu pada pemiliknyaa.
“makasih banyak kak.”
“sama-sama.”
“cocok banget sama kak Issa.” Ucapnya kembali sambil tersenyum bahagia, setelah itu kembali ke tempat duduknya.
Mendengar ucapan fansnya, malah Issa yang tersenyum, sedangkan Asa malah seperti orang tidak enak karena mau di gimanapun, Asa belum percaya diri jika di bandingkan dengan Issa.