
Issa menjalankan mobilnya meninggalkan area perumahan Asa, namun baru sampai di dekat gerbang masuk perumahan, dia melihat bunga yang ia berikan pada Asa ketinggalan di mobilnya. Mau tidak mau Issa kembali ke rumah Asa untuk mengantarkan bunga milik Asa yang ketinggalan. Sampai dirumah Asa, Issa mengirim pesan pada Asa namun tidak ada balasan, Issa pun keluar dari dalam mobilnya dan menuju kerumah Issa, karena dia parkir sedikit jauh dari rumah Asa.
Saat akan memencet bel rumah, Issa mendengar suara pecahan gelas dari rumah Asa. Issa sangat panic, tapi kemudian dia melihat pintu rumah Asa terbuka, Asa keluar dari dalam rumahnya sambil menggunakan Airpods di telinganya, masih memakai pakaian yang sama seperti tadi. Issa sedikit menjauh dari gerbang rumah Asa.
Saat membuka gerbang, Asa melihat kearah Issa, namun Issa dengan sangat jelas melihat kalau Asa habis menangis. Tapi wanita itu tersenyum padanya sangat manis dan menghampirinya dengan wajah ceria.
"lo masih disini, ngapain?." Tanya Asa dengan wajah cerianya.
"gue masu ngasih ini, bunga lo ketinggalan di mobil gue." Isa memberikan bucket bunga pada Asa.
"oohh makasih ya, maaf lupa." Asa mengambil bunganya dari tangan Isa sambil terus tersenyum.
"ngga papa, tadi gue chat lo tapi kayaknya lo belum buka chat gue."
"iya? Gue ngga tau, bentar." Asa mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan benar ada pesan masuk dari Issa. "maaf gue ngga tau."
"kalau boleh tau lo mau kemana kalau bukan mau nemuin gue diluar."
"itu- emm gue mau ke supermarket depan."
"ya udah mau gue anterin aja?."
"ngga perlu kok, lo harusnya balik kan ke café 123?."
"ngga papa masih lama kok mereka. Gue temenin aja ya."
"ya udah deh."
Asa kembali masuk kedalam mobil Issa menuju ke supermarket yang ada di depan perumahan tempat Asa tinggal, kalau jalan kaki pun sebenarnya tidak jauh, lagipula disekitar sana aman tidak ada orang jahat kalaupun malam, dekat perumahan juga kalau malam masih ramai.
Mobil Issa berhenti didepan supermarket, Asa langsung keluar dari dalam mobil Issa dan pergi masuk kedalam supermarket. Asa mengambil dua minuman kaleng dan makanan ringan juga roti, setelah itu membayarnya di kasir. Sedangkan Issa menunggu di luar, karena di luar ada tempat untuk duduk, sebelum di tempati orang lain, Issa lebih dahulu menempati tempat duduk tersebut.
Asa keluar dari supermarket dan duduk didepan Issa. Memberikan satu kaleng minuman pada Issa juga manaruh makanan di meja untuk mereka makan berdua. Asa membuka kaleng minumannya dan meminumnya, sebenarnya Issa ingin sekali bertanya apa yang terjadi dirumah Asa namun kemudian dia sadar kalau sebenarnya Asa tidak baik-baik saja apalagi melihat wajahnya yang pura-pura ceria, membuat Issa sangat sedih.
"emang lo belum makan?." Tanya Issa memecahkan keheningan.
"tadi di café makan dikit." Jawab Asa
"kan Cuma makanan ringan, mau makan bareng ngga? Gue juga laper nih."
"emang mau makan apa jam segini?." Tanya Asa penasaran.
"kayaknya deket sini ada nasi goreng, kalo mau ayo."
"boleh deh, gue laper sih."
Issa memasukkan makanan yang Asa beli kedalam kantong plastic, mereka berdua masuk kedalam mobil menuju ke tempat nasi goreng yang Issa maksud. Issa juga taunya saat mengantarkan Asa pulang tadi tidak sengaja melihat ada gerobak nasi goreng yang cukup ramai pembeli.
Mobil Issa terparkir di sebrang jalan, karena hanya ada di sebrang jalan untuk parkir mobil. Issa dan Asa keluar dari dalam mobil, Asa nampak tidak nyaman untuk menyebrang jalanan, Issa pun menggandeng tangan Asa dan mengajaknya menyebrang jalanan.
"thanks." Ucap Asa saat sudah berada didekat gerobak nasi goreng yang Issa maksud.
"lo ngga bisa nyebrang ya?."
"ngga papa ada gue, santai aja ngga akan gue tinggalin kok."
"hehehe sorry, habisnya emang gue ngga bisa nyebrang jalan."
"ngga masalah, ayo." Issa mengajak Asa menuju ke tukang nasi goreng tersebut dan memesan dua porsi nasi goreng telur pedas dan minumnya teh hangat.
Mereka berdua menunggu di salah satu meja, memang yang beli cukup banyak jadi mereka harus menunggu.
"lo tau dari mana ada nasi goreng disini, gue aja baru tau."
"tadi waktu nganterin lo pulang, gue ngga sengaja liat karena rame."
"ohh pantesan."
"lo ngga di cariin kalau pulangnya kemaleman sa?." Tanya Issa yang mulai pensaran
"engga kok, gue udah bilang kalau mau beli makanan di luar, soalnya nyokap gue ngga masak."
"ohh gitu ya."
Makanan mereka pun datang, bau nya saja sudah menggugah selera makan, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebenarnya beberapa kali Bagas menghubungi Issa namun karena ponsel Issa di silent jadi Issa sendiri tidak tau kalau Bagas menghubunginya.
Asa memakan makanannya dengan lahap, ternyata nasi goreng disana melebihi ekspetasi enaknya, alias enak pake banget. Setelah selesai makan, Issa mengantarkan Asa pulang, berbeda dengan sebelumnya yang ada dua mobil di dalam gerbang, tapi kali ini kembali sepi seperti tidak ada orang sama sekali.
"makasih ya udah nganterin." Ucap Asa yang kemudian wanita itu keluar dari mobil Issa
"sama-sama, masuk sana dulu."
"gue masuk duluan." Asa membuka gerbang rumahnya dan masuk kedalam, Asa melambaikan tangannya pada Issa sambil tersenyum. Melihat mobil Issa yang mulai menjauh, Asa pun masuk kedalam rumahnya, pecahan gelas yang di dapur masih ada, dengan wajah lelahnya Asa mengambil sapu dan membersihkan pecahan-pecahan tersebut dan membuangnya ke tong sampah.
Issa membuka ponselnya saat banyak pesan dan telepin masuk dari Bagas tiga puluh menit yang lalu, Issa langsung pergi ke café 123. Dia membantu Bagas, Julian, dan Haikal membereskan peralatan musiknya dan memasukkan kedalam mobil.
"lo kemana aja sih sa." Ucap Bagas kesal.
"nganterin Asa pulang, terus nemenin dia makan dulu." Jawab Issa jujur.
"pantesan ngga di angkat, lagi bucin ternyata." Haikal menyahut.
"lain kali bilang sa, jadi kita ngga ganggu." Tambah Julian
"iya tau gitu kan gue juga engga telponin lo terus anjing."
"sorry, lagian gue silent jadi ngga tau kalo lo telpon."
Setelah membereskan semuanya, Issa dan ketiga temannya kembali kerumah Issa. Mereka semua sudah berjanji akan menginap di rumah Issa malam ini, sambil bermain uno atau melakukan apapun yang menyenangkan.
Sampai di rumah Issa, semua membantu mengembalikan peralatan yang mereka bawa ke studio music dilantai dua. Setelah itu semua istirahat di ruang keluarga lantai dua sambil menonton film, Issa mengambil banyak makanan dari lemari pendingin, dia juga menghangatkan makanan yang bisa di makan, bahkan juga membuat mie instan untuk menemani menonton film.
Disaat seluruh temannya tertawa karena filmnya yang lucu, Issa hanya diam masih memikirkan Asa, apa yang terjadi pada wanita itu kenapa dia memiliki dua kepribadian yang berbanding terbalik.
"orang yang ketawa nya paling keras itu biasanya yang paling banyak masalah hidupnya." Ucap Julian yang membuat Issa menoleh, Julian tengah membicarakan film yang mereka tonton tapi Issa merasa bahwa Asa seperti itu.