
Lagi-lagi Julian menjadi bahan ceng-cengan di geng mereka karena dekat dengan Wendy, sejak awal memang sudah sangat terlihat kalau Julian tertarik dengan Wendy walaupun Wendy adalah salah satu Fans Issa yang kemungkinan bisa direbut Issa, tapi karena Issa sudah bersama dengan Asa, jadi Julian mencoba mendekati Wendy lebih intens.
“kalo lo lagi deketin adek gue ya kal?.” Tanya Issa yang membuat semua menoleh ke arah Issa bersamaan.
“lo gila ya sa, lo kan tau Haikal lagi gencar deketin Adinda.” Jawab Bagas tegas, karena kasihan pada Haikal yang terus ditolak Adinda dengan alasan Haikal lebih muda.
“iya lo anjirr, Haikal udah di titik penghabisan ngejar Adinda yang susah banget.” Lanjut Julian.
“tapi kayaknya adek gue baper ke lo kal.” Ucap Issa yang membuat Haikal terkejut, karena bagi Haikal, adik Issa adalah adiknya juga, bukan untuk hubungan lebih dari itu.
“padahal gue nggak ngapa-ngapain, bener deh.” Haikal merasa bersalah dengan Issa karena itu menyangkut adik kandung Issa sendiri.
Flashback
Haikal baru saja tiba dirumah Issa untuk mengembalikan buku milik Issa yang ia pinjam, karena sering datang kesana jadi Haikal menganggap rumah Issa sebagai rumah sendiri, apalagi dia tahu dimana Issa menaruh kunci rumah dan gerbangnya. Kalau kunci gerbang, Issa memberikan duplikatnya pada salah satu temannya, tapi kalau kunci rumah selalu diletakkan didalam pot bunga sebelah pintu masuk.
Baru saja tiba, Haikal melihat sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang rumah Issa, juga seorang wanita yang tengah mengintip ke dalam gerbang. Haikal pun memarkirkan motornya dan menghampiri wanita tersebut.
“cari siapa?.” Tanya Haikal, hingga wanita itu menoleh ke arahnya.
“kak.” Ucap Alin, Haikal pun tahu kalau itu Alin, adik dari Issa.
“lo ngapain disini?.” Tanya Haikal bingung.
“nyari kak Issa.”
“Issa nya lagi liburan ke luar negeri, lo nggak dikasih tahu?.”
Alin menggeleng, Haikal pun membuka pintu gerbang rumah Issa dan masuk kedalam mengajak Alin untuk masuk terlebih dahulu.
Setelah menaruh buku milik Issa di raknya, Haikal mengambil air minum dingin dari dalam lemari pendingin dan memberikannya pada Alin yang duduk di ruang tamu.
“tapi katanya kak Issa ada manggung beberapa kali aja, dia nggak bilang kalo mau liburan ke luar negeri.” Ucap Alin.
“emang dadakan.”
“kak, boleh minta kontaknya nggak? Soalnya kak Issa balesnya lama banget.”
“boleh boleh.” Haikal memberikan nomor ponselnya pada Alin.
Flashback Off
“setelah itu Alin sering nanya-nanya soal lo, masa gue nggak jawab sih sa, gue mana tahu kalo dia baper ke gue.” Jelas Haikal.
“sabar- sabar kal, santai aja.” Ucap Julian sambil merangkul Haikal.
“gue tahu kalo Alin baperan anaknya, emang gitu apalagi sama cowok yang baik ke dia kayak lo ini.” Jawab Issa santai, mau bagaimana lagi kalau emang Alin suka ya sakit hati biar ditanggung Alin sendiri.
“terus gimana dong adek lo? Apa gue bilang aja kalo gue udah ada cewek?.” Tanya Haikal.
“emang lo udah jadian sama Adinda?.” Tanya Bagas menyindir.
“belum tapi otw kan sama saja gas.”
“biarin aja lah.” Ucap Issa memberikan solusi tapi masih membuat Haikal tidak tenang.
Perbincangan mereka terhenti saat Gea datang menghampiri meja mereka berempat, tidak ada yang merasa mengundang Gea tapi entah kenapa Gea bisa tau mereka disana, kecuali Bagas, karena Bagas paling dekat dengan Gea diantara mereka berempat.
Julian, Haikal, dan Issa melihat kearah Bagas yang beranjak dari tempat duduknya menutup laptop dan memasukkan laptopnya ke dalam tas.
“Jul, nitip laptop gue yak.” Ucap Bagas pada Julian.
Ternyata Bagas sudah ada janji dengan Gea.
“lo liat itu kan?.” Tanya Julian tidak percaya.
“jangan-jangan Bagas di manfaatin.” Lanjut Haikal.
“ngaco lo semua pada, lagian Bagas lagi seneng-senengnya ngapain sih di curigain.”
“habisnya Gea itu tergila-gila banget sama lo sa, terus tiba-tiba sama Bagas.”
“bener kata Julian.”
“udahlah mending bantuin gue ngerjain tugas gue aja.”
Di tempat lain yang lebih ramai, Asa tengah berbicara dengan kedua orang tua nya yang kebetulan ada di Singapura mengunjunginya setelah bercerai. Tidak ada kakek disana karena memang kakeknya jam segini masih berada di kantor untuk bekerja seperti biasanya.
“Asa mau pulang ma.” Ucap Asa pada ibunya.
“sabar, tunggu sampai kamu lulus sayang.”
“tapi kakek otoriter ma, emang Asa mau di jodohin?.”
“apa?.” Mamanya bahkan tidak tahu kalau putrinya akan dijodohkan juga, kemudian Diana melihat ke arah Deon.
“kakekmu emang kayak gitu, biar nanti papa yang bicara ke dia.” Ucap Deon yang membuat Asa lebih senang.
“benar, percaya ke papa mu ya.”
“intinya Asa nggak mau di jodohin sama siapapun, Asa nggak mau punya nasib yang sama kayak papa dan mama.” Ucap Asa yang mengundang kekecewaan orang tuanya.
Asa berjalan meninggalkan mereka berdua dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
“sejak kapan ayahmu menjodohkan cucunya?.” Tanya Diana kesal.
“aku tidak tahu, tapi seharusnya ini termasuk dalam perjanjian kalau kita bercerai, selain hak asuh Asa pindah ke tangan papa, juga hidup Asa akan diatur oleh papa sepenuhnya.”
“Asa anakku, aku tidak akan membiarkan papa mu membuatnya menderita.” Diana meninggalkan Deon yang tengah pusing memikirkan banyak hal, bukan hanya masalah perusahaan tapi juga masalah anaknya.
Windi yang baru saja mengerjakan beberapa hal untuk masa depan Asa, masuk kedalam kamar Asa dan duduk di kursi sebelah ranjang Asa. Asa masih tiduran di ranjang sambil bermain ponselnya, berkirim pesan dengan Issa.
“nona Alyasa baik-baik saja?.” Tanya Windi penasaran.
“menurutmu kenapa kakek tidak menyukai Issa?.” Tanya Asa penasaran.
“karena tuan besar belum mengenal Alghissa.”
“apa aku harus mengenalkan Issa lebih dekat dengan kakek?.”
“sepertinya jangan nona, nona tau sendiri bagaimana tabiat tuan besar, kalau dia tidak suka maka akan tidak suka apalagi posisi Alghissa adalah pacar nona Alyasa.”
“apa aku harus putus dengan Issa?.” Tanya Asa kembali.
“saya tidak ingin nona Alyasa menahan rasa sakit lebih lama, memperpanjang perpisahan yang akan membuat hati semakin sakit nantinya. Saya rasa memang nona Alyasa lebih baik putus dengan Alghissa itu.”
Asa terdiam, apa yang dikatakan oleh Windi ada benarnya. Toh mereka berdua tidak akan pernah bisa berjodoh apalagi berhubungan hingga akhir, rasanya percuma jika terus berhubungan jika akhirnya tetap sama, malah membuat rasa sakitnya semakin membekas karena rasa suka yang semakin dalam.
Nama Issa terpampang di layar ponselnya, dia menimbang kesana kemari berharap bisa memutuskan keputusan terbaik atas hubungannya dengan Issa yang tidak jelas akhirnya.