
Asa baru saja keluar dari rumahnya sambil membenarkan tas selempang yang ia pakai, hari ini dia akan keluar double date dengan Wendy dan Dio pacarnya, sedangkan Asa mengajak Issa yang sekarang sudah berada didepan rumahnya menggunakan motor.
“pakai motor ngga papa kan?.” Tanya Issa khawatir, takutnya Asa ingin naik mobil.
“gue lebih suka naik motor kok.” Asa menerima helm yang diberikan oleh Issa dan memakainya.
Asa naik keatas motor Issa, mereka berdua menuju ke lokasi dimana Wendy menunggu. Dufan adalah tujuan untuk double date hari ini, walaupun Issa dan Asa belum ada pernyataan apakah hubungan antara keduanya, tapi dia tetap mengiyakan ajakan Wendy yang kebetulan pacarnya libur dan pulang ke rumah untuk bertemu dengan Wendy juga.
Asa melambaikan tangannya pada Wendy yang juga melambaikan tangan pada Asa, Asa dan Issa berjalan menghampiri Wendy yang sudah menunggu di dekat pintu masuk. Setelah membeli tiket masuk, mereka berdua masuk ke dalam, menikmati banyak wahana yang bisa mereka coba atau makan makanan ringan yang di jual di beberapa outlet kecil.
Saat berada di Dufan, Wendy sudah berniat untuk naik kora-kora dengan Dio, tapi Asa tidak ingin naik wahana tersebut, jadilah Issa dan Asa berada di salah satu outlet tengah menunggu es krim yang mereka beli. Asa mendapatkan es krim rasa coklat kesukaannya sedangkan Issa memilih rasa durian x vanilla. Mereka berdua duduk disalah satu bangku kosong melihat orang yang berlalu lalang dengan keluarga atau pacar atau siapapun yang disayang.
“mau nyoba ngga?.” Tanya Issa sambil menyodorkan sendok berisi es krim rasa durian vanilla miliknya.
“boleh.” Asa menerima suapan dari Issa “ngga suka durian.”
“padahal enak loh.”
“mau nyoba punya gue ngga?.”
“boleh.” Gentian Issa menerima suapan dari Asa “gue ngga suka coklat tapi kalo dari tangan lo rasanya jadi enak banget.” Ucap Issa yang membuat Asa tertawa renyah.
Dufan itu cukup ramai kalau weekend dan ngga mungkin ngga ada yang kenal Issa, beberapa orang juga memotret Issa dari jauh, alhasil masuk akun lambegosip lagi mereka berdua. Wendy dan Dio datang dengan wajah gembira menghampiri Issa dan Asa.
“bro mau ikut gue beli makanan dulu ngga?.” Ajak Dio
“oke.” Issa menitipkan es krimnya pada Asa kemudian ikut Dio untuk membeli makanan, tinggalah Asa hanya bersama Wendy.
Wendy merangkul pundak Asa “jadi sampai mana hubungan lo sama idol ague?.” Tanya Wendy yang membuat Asa nyengir.
“ngga ada hubungan apa-apa, Cuma teman.” Jawab Asa santai.
“iissshhh lo bilang gitu terus, masa sih ngga ada perkembangan sama sekali, masa sih Issa ngga gerak sama sekali.” Protes Wendy.
“jadi, Issa pernah nawarin gue, tapi gue masih ragu, gue butuh waktu lagian hari itu juga ngga jelas-jelas banget mau Issa apaan.”
“berarti belum nembak lo secara resmi.”
“belum, tapi gue ngga berharap, karena gue juga ngga tau bakal nerima atau engga, gue masih pengen sendiri.” Jelas Asa.
Beberapa menit kemudian Issa dan Dio datang dengan membawa makanan dan minuman yang mereka beli, karena sudah siang waktunya makan siang juga, mereka menghabiskan makan siang di sana layaknya piknik padahal bukan tempat yang cocok untuk piknik.
Issa memberikan kulit ayamnya di makanan Asa, “lo suka itu kan?.” Tanya Issa sambil tersenyum.
“thanks.” Jawab Asa yang juga tersenyum manis pada Issa.
“kenapa kalian so sweet banget sih, Dio aku juga mau kulit.” Ucap Wendy pada Dio yang tengah memakan kulit ayamnya.
“lahh udah masuk ke mulut yang.”
Selesai mengisi perut masing-masing dan membuang sampah bekas makanan ke tong sampah, mereka berempat kembali menikmati jalan-jalan menghabiskan weekend hingga sore hari berpisah di parkiran. Wendy dengan Dio menggunakan mobilnya, sedangkan Issa dan Asa menaiki motor vespa hitam milik Issa keliling kota di sore hari. Bercerita banyak hal di atas motor yang berjalan pelan membelah jalanan walaupun terkedang harus berhenti karena kemacetan jalanan.
Issa menghentikan motornya di sebuah toko bunga, mereka berdua turun dari motor, Issa membantu Asa melepaskan helm yang Asa pakai padahal Asa ingin melepasnya sendiri tapi tiba-tiba Issa membantunya melepaskan. Asa kemudian tersenyum dan meletakkan helemnya di motor, mereka berdua pergi ke toko bunga tersebut, Issa mengatakan kalau ingin membeli bunga untuk ibunya, lebih tepatnya ibunya menyuruh Issa membeli bunga setelah jalan-jalan dengan Asa.
Asa menyentuh bunga tulip berwarna kuning.
“lo mau?.” Tanya Issa
“engga kok.” Jawab Asa yang kemudian melihat-lihat yang lain.
Issa mengambil bunga mawar putih cukup banyak dan membawa nya ke penjaga toko untuk di bungkus, kemudian dia juga mengambil sepuluh tangkai bunga tulip yang juga di bungkus. Sedangkan Asa menunggu di luar karena Issa mengatakan hanya tinggal membayar karena sudah hampir selesai di bungkus. Tidak butuh waktu lama, Issa keluar dengan membawa bunga tulip kuning yang di bungkus rapi dan memberikannya pada Asa.
“buat lo.” Ucap Issa
“ha? Bener?.”
“bener lah.”
“terimakasih.” Asa menerima pemberian bunga dari Issa.
Mereka berdua kembali naik keatas motor, Asa membawa bunga mawar milik ibu Issa juga membawa bunga tulip miliknya pemberian dari Issa. Motor Issa berhenti didepan gerbang rumah Asa, Asa melambaikan tangannya pada Issa yang mulai menjauh untuk pulang.
Untuk pertama kalinya Asa masuk kedalam rumahnya sambil tersenyum, tersenyum pada bunga yang berada di tangannya. Mba Aila yang tengah menyiapkan makan malam ikut senang melihat Asa yang tidak seperti biasanya, Asa terlihat sangat ceria setelah sepanjang hari keluar untuk jalan-jalan, biasanya Asa pulang dengan wajah lesu dan berjalan pun seakan terlihat sangat lelah.
“non Asa mau mba ambilkan vas bunga?.” Teriak mba Aila dari lantai satu saat Asa baru saja tiba di lantai dua.
“boleh mba, tolong bawa ke kamar Asa.” Teriak Asa dari lantai dua.
Asa masuk kedalam kamarnya, meletakkan bunga yang ia bawa di meja. Melepaskan sepatu juga tas selempangnya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Keluar dari kamar mandi, vas yang ia pesan pada mba Aila sudah berada di meja sebelah bucket bunga tulip miliknya. Asa memindahkan bunga tersebut kedalam vas dan meletakkan di nakas sebelah tempat tidurnya.
Gadis itu keluar kamar menuruni tangga, dia dikejutkan dengan kedua orang tuanya yang berada di meja makan seakan menunggu Asa datang. Asa hanya terdiam di depan tangga menuju ke lantai dua, bahkan untuk pertama kalinya setelah sekian lama kedua orang tuanya tidak bertengkar, bahkan pertengkaran mereka itu bukan perihal perselingkuhan, melainkan soal waktu yang kedua tidak saling terima jika sama-sama sibuk dan membiarkan Asa sendiri dirumah.
“Asa, sini sayang.” Ucap Diana, mama Asa yang masih berpenampilan rapi sepulang kerja.
Asa duduk di depan ibunya, dengan makan malam mereka yang sudah siap di meja makan. Asa kembali melihat kedua orang tuanya yang nampak saling tertawa entah karena apa, Asa sendiri tidak tau apa yang mereka bahas dimeja makan. Mba Aila datang membawa makanan penutup serta beberapa makanan ringan dan meletakkan di atas meja makan.
“non Asa, non.” Panggilan mba Aila terdengar di telinga Asa.
Mata Asa terbuka, melihat jam yang menujukkan pukul 7 malam, saat mba Aila berada di sisi kanannya karena Asa berada di meja belajar ketiduran.
“waktunya makan malam non.”
“mama sama papa pulang mba?.”
“tuan dan nyonya kan masih diluar kota non.”
“ahh gitu ya, bentar lagi Asa turun mba.”