
Issa baru saja turun dari panggung setelah membawakan lagunya, hanya satu kali menyanyi untuk hari ini. Issa melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah menunjukkan pukul 11 malam, bukan masalah pukul berapa sekarang tapi masalah jam tangan yang melingkar di tangannya itu. Sampai sekarang Issa tidak bisa melupakan Asa sama sekali, kalau ada mantan yang tidak bisa dilupakan maka Issa akan menjadi Asa. Wajahnya saat tersenyum dan tertawa terus mengusik isi kepalanya, kalau ada berita mengenai Asa, dia selalu menghindarinya tapi dia tetap penasaran tentang apa dan bagaimana keadaan Asa sekarang, padahal sudah hampir dua tahun berlalu.
“besok kosong ya, soalnya bokap sama nyokap lo minta waktu lo buat dateng ke acara makan malam.” Ucap manajer Issa, yang bahkan Issa sendiri tidak tahu kenapa tidak menghubunginya secara langsung seperti biasanya.
“oke bang.”
Issa masuk kedalam mobilnya untuk pulang kerumah, tiba-tiba notif masuk ke ponselnya, ‘Alyasa Putri menyukai postingan anda’ seperti tengah di beri harapan kembali, Issa melihat akun instagram Asa yang sudah tidak dia follow sejak putus.
Setelah melihat akun Asa, kemudian dia mendapatkan pesan dari Julian kalau Asa akan datang ke jakarta besok, karena sekarang Asa ada di Bandung. Entah kenapa Issa senang mendengarnya, padahal Asa datang ke Indonesia bukan untuk menemuinya.
Sampai dirumahnya, Issa langsung memasukkan mobil ke garasi dan mulai beristirahat sebelum melakukan kegiatan lain besok.
Pagi menyapanya kembali, saat Issa baru saja terbangun dari tidurnya karena suara gaduh di lantai satu. Issa baranjak dari ranjangnya. Menapakkan kaki di lantai marmer yang dingin dan menuruni tangga menuju ke lantai satu.
“kal, ngapain lo disini pagi-pagi.” Tanya Issa bingung saat melihat Haikal ada di dapurnya.
“gue nyiapin sarapan buat lo.” Ucap Haikal sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
“pasti lo ada maunya kan.” Issa duduk dimeja makan, masakan Haikal tidak pernah gagal menggugah selera makannya.
“gue pinjam mobil, mau jemput Adinda bandara.”
“apa gue bilang pasti lo ada maunya kan.” Issa beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil kunci mobilnya yang ada di laci dan memberikan pada Haikal. “noh, jemput sana, jangan sampai anaknya nunggu.”
“thanks, gue duluan ya, selamat makan tuan Issa.”
“sialan tuh anak.”
Haikal meninggalkan rumah Issa menggunakan mobil Issa untuk menjemput Adinda. Issa hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan salah satu sahabatnya itu, selain Haikal yang hampir tidak pernah menyukai wanita karena tidak mau ribet dengan sifat wanita, melihatnya sekarang yang bucin parah dengan Adinda membuat Issa ikut senang.
Diantara semua teman-temannya, hanya Issa yang sekarang menjomblo, terkadang fans nya malah terlihat sangat khawatir apalagi Issa yang hampir tidak tidur dengan baik karena mengerjakan project besarnya sebentar lagi. Tapi kesendirian Issa membuatnya lebih fokus untuk meraih karirnya hingga puncak, terbukti beberapa kali bahkan hampir sangat sering Issa mendapatkan job udangan manggung di acara-acara musik. Namun, terkadang dia juga mengasihani dirinya sendiri yang belum bisa melupakan mantan terakhirnya hingga hari ini.
Issa menghabiskan makanannya kemudian naik ke lantai dua setelah mencuci piring kotor, pria itu membersihkan tubuhnya dan memakai baju rapi untuk pergi kuliah. Karena mobil di pakai oleh Haikal, dia memakai motornya pagi itu. Seperti biasanya dia sampai di kampus sekitar pukul 9 pagi karena kelasnya jam 9 dan kemungkinan menunggu dosen lima belas menit.
Setelah memarkirkan motornya di parkiran motor, Issa berjalan menuju ke gedung kampusnya dan masuk kedalam kelas. Karena Issa adalah musisi yang punya jadwal terbang sendiri, jadi dia hampir tidak mengenal teman satu kelasnya. Issa duduk di salah satu kursi kosong dan mendengarkan dosen yang tengah menjelaskan didepan.
Issa masuk kedalam gedung, banyak karyawan yang menyapanya, dia pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Tibalah dia di studio musik, bukan miliknya secara pribadi tapi hari ini memang tidak ada yang memakai studio dan dia sengaja meminjamnya untuk sebentar hari ini karena Issa kosong, hanya ada acara makan malam dengan keluarganya.
“lah lo ngapain disini?.” Tanya Manajer Issa yang baru saja masuk studio sambil membawa beberapa kertas.
“mau tes lagu.” Jawab Issa sambil mencari nada yang pas untuk lagu yang dia tulis.
“sampai mana?.”
“udah selesai, hanya tes beberapa yang kurang pas.”
“kemarin lo ngasih 5 lagu kan? Itu udah gue urus, ntar kalau udah selesai full se-album bakal gue urus hak cipta nya.”
“ada yang kurang nggak bang?.” Tanya Issa
“lagu utama lo yang judulnya “---“ kan?.”
“Iya bener.”
“masalah MV masih ngekonsep ini.”
“gercep juga.”
“targetnya kan awal bulan depan, makanya jangan lama-lama ini kalau mau nambah lagu lagi.”
“iye sabar, ntar gue kirim ke lo ya lagu yang lagi gue kerjain ini, kalau nggak suka ntar gue ganti baru.”
“gue sih suka liriknya, tapi ntar dulu nadanya gimana, masalah itu biar dibantuin anak-anak lah.”
Perbincangan mereka terus berlanjut hingga Issa menyelesaikan lagunya yang ke-6, Issa berpamitan untuk pulang terlebih dahulu karena harus siap-siap acara makan malam dengan keluarga besarnya, sebenarnya makan malam itu akan dihadiri oleh kedua orang tua Issa, adiknya, juga kakak dan istri dari kakaknya yang sekarang telah memiliki anak bayi sekitar umur 1,5 tahunan.
Issa melihat penampilannya di cermin kamar, sudah sangat rapi mengenakan setelan jas berwarna navy dan dalaman kaos putih, layaknya Issa pada umumnya, dia bukan pemimpin perusahaan seperti kakaknya yang harus memiliki penampilan yang lebih Formal, dia hanya seorang musisi biasa yang memilih style khasnya sendiri. Tak lupa memakai sepatu pantofel hitam, menyemprotkan minyak wangi dan juga memakai jam tangan yang tidak pernah dia tinggalkan kalau pergi kemana-mana.
Lagi-lagi Haikal belum mengembalikan mobilnya, Issa harus mengenakan motor kembali untuk pergi ke tempat makan malam yang lokasinya di salah satu restoran yang ada di hotel bintang lima, seformal apa acara ini harus makan malam di luar membuat Issa kesal saja. Issa memakai helmnya dan meluncur ke tempat tersebut, jam menunjukkan pukul 8 malam saat Issa sampai di parkiran hotel, memang hotelnya milik kalangan atas jadi di parkiran tidak ada motor, semuanya mobil. Issa melepaskan helmnya, dan sedikit merapikan rambutnya yang berantakan kemudian berjalan masuk kedalam gedung hotel tersebut.