Issa Asa

Issa Asa
Song 3.0




Pagi itu kedua orang tua Asa pulang kerumah dengan menggunakan mobil masing-masing setelah kakek Asa mengatakan perihal berita yang tengah melebar dan banyak diperbicancangkan publik di internet dan terutamanya media sosial yang ramai membahas itu, ada kaitannya dengan seorang artis muda berbakat seorang penyanyi yang banyak di gandrungi para remaja perempuan yaitu ISSA dan hubungannya dengan keluarga Atmaja.


“jadi kamu bisa katakan pada papa siapa Issa.” Ucap Deon selaku ayah kandung Asa yang bertanya pada putri satu-satunya yang sangat dia sayangi.


“teman.” Jawab Asa singkat jelas dan padat.


“kamu yakin sayang?.” Tanya Diana yang terlihat sangat tidak yakin dengan jawaban Asa.


“kalian mau jawaban apa? Kenyataannya memang seperti itu. Asa akan keluar ke publik seperti seharusnya.” Ucap Asa membuat kedua orang tua nya cukup terkejut, Asa sangat tidak ingin semua orang tahu mengenai identitasnya kecuali kedua sahabatnya, saat gadis itu mengatakan ingin memperkenalkan diri di publik sebagai cucu keluarga Atmaja, maka Asa siap dengan semua tanggung jawab nya untuk menjaga nama baik keluarga.


“apa kamu yakin?.” Tanya Deon kembali.


“yakin pa.” Asa sangat yakin dengan keputusannya kali ini, selain dia tidak ingin karir Issa dipertaruhkan hanya karena urusan masalah keluarganya, juga dia ingin bersikap lebih dewasa untuk menanggapi semuanya, dia tidak akan terus bersembunyi.


Hari ini kebetulan kedua orang tuanya akan mengadakan konferensi pers untuk menjawab pertanyaan mengenai perceraian antara Deon dan Diana, kedua orang tua Asa. Dan karena Asa ingin mengungkapkan identitas cucu keluarga Atmaja, maka dia hadir di antara Diana dan Deon, walaupun kemudian dia menjadi sorotan media.


Seperti apa yang dia katakan pada media mengenai statusnya dan hubungannya dengan Issa, hari itu juga banyak berita bertebaran mengenainya, bahkan instastory lama Issa pun menjadi tanda tanya hubungan keduanya, ada yang bilang kalau backstreet, ada juga yang bilang friendzone dan lain-lain. Tapi yang paling utama saat Asa baru saja tiba di rumahnya, dia mendapatkan panggilan dari kakeknya untuk pergi ke Singapura hari itu dan jam itu juga.


“Asa tidak apa-apa ma, pa.” Ucap Asa pada kedua orang tuanya saat berada di bandara berpamitan kepada kedua orang tuanya. Kepindahan Asa ke Singapura cukup mendadak karena keputusan Asa untuk mengatakan pada publik mengenai identitasnya mengingat Asa adalah cucu satu-satunya keluarga Atmaja karena Deon adalah anak tunggal dan hanya memiliki anak kandung satu yaitu Alyasa Putri Atmaja atau Asa.


Asa hanya membawa tas selempangnya yang berisi paspor dan dokumen identitas lainnya serta ponsel, kabar kepergian Asa ke luar negeri juga sudah di dengar dua sahabatnya, walaupun mereka sedih tapi mereka hanya bisa memberikan dan mendoakan yang terbaik untuk Asa. Pesawat Asa sudah lepas landas lima menit yang lalu saat Issa baru saja tiba di bandara, dia telat hanya beberapa menit saja tapi sudah tidak bisa bertemu dengan Asa lagi. Tapi Issa bertemu dengan kedua orang tua Asa yang berjalan keluar bandara.


“permisi om tante.” Sapa Issa sedikit takut dan tidak nyaman karena dia yang membuat Asa dalam masalah.


“siapa?.” Tanya Diana bingung.


“saya Issa, teman Asa.”


“oh kamu yang namanya Issa.” Ucap Deon dengan wajah dinginnya


“maaf om.”


“kenapa kamu kemari? Mau mencari Asa? Asa sudah pindah, lebih baik kamu lupakan Asa dan jangan temui dia lagi, saya tidak mau jika putri saya terkena masalah kembali.”


“Deon.” Lirih Diana merasa tidak enak dengan Issa yang baru mereka temui. “maaf ya Issa, tapi Asa akan tinggal dengan kakeknya mulai hari ini, benar kata om, kamu tidak perlu menemui Asa lagi.”


“maaf om tante, gara-gara saya, Asa jadi terkena masalah, tapi jujur saja saya menyukai Asa sejak awal, saya tidak tahu bagaimana perasaan Asa pada saya, tapi saya tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak mengungkapkan perasaan saya ini-.”


“kalau memang kamu menyukai Asa, harusnya kamu katakan pada publik bagaimana perasaanmu, bukan malah membuatnya terkena masalah sana sini.”


“maaf saya salah.”


Diana menyentuh pundak Issa “Asa ada di Singapura, tante juga tidak tahu bagaimana kedepannya, untuk sementara waktu liburan ini Asa akan disana dengan kakeknya, kemungkinan dia akan pulang ke Indonesia lagi setelah liburan berakhir untuk mengurus kepindahannya kesana, jadi kamu yang sabar, maafkan ucapan papa Asa ya, dia memang sedikit keras.”


“nggak papa tan, Issa yang salah.”


Diana tersenyum kemudian meninggalkan Issa disana sendirian.


Issa kembali kerumah dengan tangan kosong, tanpa mengatakan apapun pada Asa bahkan bertemu pun tidak bisa, pesan yang dikirimkan ke Asa pun masih centang satu dan belum Asa jawab sama sekali sejak tadi. Dirumah Issa masih ada Julian dan Bagas bahkan bertambah Haikal yang menunggu kabar Issa.


Tapi saat Issa kembali, wajah Issa sudah menggambarkan semuanya, wajah lesu tanpa semangat sedikitpun.


“apa yang harus gue lakukan?.” Ucap Issa dengan wajah bengong duduk di sofa sebelah Bagas.


“lo nggak ketemu Asa?.” Tanya Bagas penasaran.


Asa hanya menggeleng.


“kata Wendy, Asa ke Singapura, kenapa nggak lo samperin kesana aja?.” Tanya Julian yang membuat Issa menoleh.


“gue ketemu sama orang tua Asa, walaupun mama nya nggak ngelarang gue buat ketemu dengan Asa, tapi papanya dengan tegas nggak setuju hubungan gue sama Asa.”


“belum juga maju udah ditolak duluan.”


“kalau kata gue sih mending lo samperin kesana aja.” Haikal mulai berbicara dan memberikan solusi yang sama dengan apa yang Julian katakan.


“bener kata Julian dan Haikal, mending lo samperin langsung kesana.” Bagas mulai setuju juga dengan Julian dan Haikal.


“tapi alamatnya? Gue bahkan nggak tau harus menemui dia dimana, hpnya nggak aktif sama sekali, dia juga kayaknya nggak akan balas pesan gue lagi.”


“salah sendiri lo bilang kalau Asa Cuma temen lo, harusnya lo bilang kalo lo suka sama dia, kalo gini caranya lo itu tarik ulur Asa terus, nggak ada kepastian.” Haikal mulai mengomeli Issa, sejak awal sejak Issa mengatakan di instagramnya mengenai hubungannya dengan Asa sebelum pers yang meliput wajah Asa dan keluarga, sebelum Asa juga mengatakan kalau hubungannya dengan Issa hanya pertemanan biasa, Haikal sangat tidak setuju.


“kali ini gue setuju sama Haikal, tapi apa boleh buat, sudah terlanjur kejadian.”


“awalnya gue juga nggak setuju buat bilang kalau hubungan gue sama Asa Cuma sebatas teman, tapi kenyataannya memang seperti itu, dan juga gue takut karir gue hancur.”


“duh, terserah lo deh sa, gue nggak paham lagi sama hidup lo dah.” Haikal beranjak dari duduknya dan pergi dari rumah Issa, perasaannya sudah dibuat kesal sejak pagi tadi karena story Issa.