
“kamu boleh masuk.” Ucap satpam penjaga depan setelah menutup panggilan telepon. Gerbang pun dibuka secara otomatis, tidak begitu terkejut tapi rumah milik keluarga Atmaja dua kali lipat lebih mewah dari rumah keluarga Issa. Issa berjalan menuju ke pintu utama rumah tersebut, namun belum sampai di pintu seorang wanita sekitar umur 30an menghampiri Issa dari dalam rumah.
“tuan Alghissa?.” Tanya nya pada Issa.
“iya.” Jawab Issa singkat.
“mari ikut saya, nona Alyasa sudah menunggu di ruangannya.”
Rumah yang sangat besar dan mewah, hanya ada para pelayan yang berlalu lalang kesana kemari dari membersihkan hiasan hingga membersihkan lantai rumah tersebut. Masuk kedalam rumah itu akan langsung disuguhkan dengan sofa ruang tamu yang cukup luas, sebelah kanan ada tangga naik ke lantai dua dan lantai tiga, tapi bawah tangga juga ada lift.
Wanita itu membawaku naik ke lantai dua melalui lift, padahal aku bisa naik melalui tangga tapi katanya area tangga masih dibersihkan di jam segini karena tuan pemilik rumah tidak ada di rumah jadi rumah harus dibersihkan, setelah tuan pemilik rumah tidak ada kegiatan bersih-bersih kembali. Wanita itu memperkenalkan dirinya dengan nama Fira, kepala pelayan di rumah keluarga Atmaja, berasal dari Indonesia juga dan sudah sangat lama bekerja dengan kakek Asa disini.
Sebuah pintu kayu berada didepanku, pintu yang tengah tertutup rapat. Fira mengetuk pintu tersebut, tidak membutuhkan waktu yang lama pintu pun terbuka tapi bukan Asa yang membukanya, wanita muda tetapi tidak terlalu muda, menatap sinis ke arahku.
“nona Alyasa sudah menunggu di sana, silahkan masuk.” Ucapnya kemudian keluar dari ruangan tersebut yang sepertinya kamar sekaligus ruang kerja milik Asa.
Pintu tertutup.
“Issa.” Panggilan yang sangat Issa rindukan, suara yang telah lama ingin dia dengar tapi tidak bisa. Mata Bisa melihat sosok itu berdiri di depannya, dengan wajah yang ceria seperti biasanya, namun malah membuat Issa sangat khawatir.
Issa menarik tubuh Asa kedalam pelukannya, mendekap tubuh itu sangat erat. Asa tersenyum dan membalas pelukan Issa, mengusap punggungnya lembut.
“lo kenapa nggak bales chat gue sama sekali?.” Protes Issa dengan tubuh yang masih memeluk erat Asa.
“maaf gue ngga bisa karena ponsel gue di ambil kakek, gue dapet ponsel baru, semua akun media sosial gue dipegang asisten gue.” Jawab Asa sambil menunjukkan ponsel barunya.
Issa melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah Asa.
“apa lo nggak papa ketemu gue kayak gini?.”
“nggak papa kok, gue udah bilang ke asisten gue kalau nggak perlu kasih tahu ke kakek soal ini. Duduk.” Asa menyuruh Issa untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya, kamar itu memang sangat luas, bahkan ada sofa sekaligus meja untuk bersantai, juga ada ruangan kerjanya yang penuh dengan peralatan yang Asa butuhkan, ada satu ranjang besar tempat untuk tidur.
“thanks.”
“gimana lo bisa tahu alamat gue disini?.”
“paket yang dikirim kesini, gue tau alamat lo dari situ.”
“apa nggak masalah kalo lo kesini? Gue sering liat fancam lo manggung di beberapa tempat.”
“gue nyari waktu biar bisa kesini, ada yang mau gue omongin sama lo sa.”
“ngomong aja.”
“gue suka sama lo, sejak awal gue suka sama lo, sedikitpun gue nggak pernah fokus setelah lo pergi, gue pengen ungkapin ini sebelum lo kesini, tapi gue gagal dan malah nggak bisa ketemu lo.” Ucap Issa panjang lebar, namun raut wajah Asa berubah secara drastis. “gue nggak nuntut lo buat suka sama gue juga kok, gue nggak mau perasaan gue jadi penyakit karena gue simpan terus lama-lama.” Lanjut Issa.
“lo tau kan lo itu populer sa? Lo juga tau kan kalau hubungan yang akan di bangun di antara kita nggak akan pernah bisa berhasil?.”
Asa memainkan jari-jari tangannya sambil menunduk “gue awalnya juga nggak tahu gimana perasaan gue ke lo, gue nggak suka sama lo dan nggak pernah berfikir suka sama lo. Tapi sejak kita jauhan, gue baru tahu kalau perasaan yang hadir saat kita sama sekali tidak bertemu, itu adalah perasaan suka.” Ucap Asa yang membuat Issa langsung memeluknya.
“ayo backstreet, please... gue bakal cari cara biar kita bisa sama-sama sampai akhir.” Mohon Issa setelah melepaskan pelukannya, Issa menatap Asa dalam.
Asa mengangguk, walaupun banyak keraguan di dalam hatinya.
“jadi kita jadian sekarang?.” Tanya Issa dengan bahagia.
“iya, tapi kita LDR.”
“memangnya kenapa? Aku bisa kesini kapan saja kan.”
“kenapa jadi aku kamu?.”
“karena kita sudah jadian.”
“terimakasih Issa.”
Karena kakeknya pulang sedikit terlambat, Asa mengajak Issa untuk jalan-jalan di Singapura mumpung Issa ada disini. Mereka menikmati hari dengan sangat bahagia, dari main game hingga berbelanja makanan untuk mengisi perut. Tapi dengan catatan asisten Asa ikut berada di belakang mereka berdua, kalau tidak mungkin kakeknya tidak akan mengijinkan Asa keluar rumah.
Mereka berdua duduk di salah satu kedai kopi yang ada di sana, kedai yang cukup ramai tapi Asa masih mendapatkan tempat kosong. Memesan kopi kesukaan juga makanan ringan sambil bercerita banyak hal.
“bukannya kamu masuk kuliah minggu ini?.” Tanya Asa penasaran, karena jam liburan telah berakhir.
“iya benar, aku skip satu minggu.”
“apa tidak masalah?.”
“tentu tidak, aku bisa mengatur itu. Bagaimana kalau besok pergi jalan lagi?.”
“aku akan lihat apakah kakek memperbolehkanku atau tidak. Mama ku tidak pernah setuju aku tinggal dengan kakek karena kakek tipe orang yang sangat merencanakan suatu hal dengan detail termasuk masa depan anak cucu nya.”
“kamu baru mau bercerita perihal ini.”
“karena sepertinya tidak masalah kalau aku bercerita.”
“aku selalu menunggu kamu terbuka denganku Asa, aku senang mendengar kamu bercerita banyak hal.”
“aku percaya kamu jadi pendengar yang sangat baik. Mungkin bagi banyak orang, aku adalah manusia paling beruntung lahir di keluarga ini, keluarga yang semua orang tahu berapa kekayaannya, aku bisa mendapatkan semua yang aku mau, barang yang aku inginkan tanpa harus bersusah payah. Tapi aku sama sekali tidak merasa bahwa aku bahagia, aku bersyukur tapi aku tidak bahagia seperti apa yang di lihat banyak orang. kedua orang tua ku menikah karena perjodohan, mereka pikir cinta akan tumbuh jika mereka telah memiliki anak, tapi nyatanya hampir setiap hari mereka malah berantem, dari aku masih kecil hingga sebesar ini.” Asa tersenyum sambil bercerita mengenai hidupnya.
Issa perlahan menggenggam kedua tangan Asa berusaha menyalurkan kekuatan pada wanita itu.
“apa aku menyedihkan sekarang?.” Tanya Asa dengan wajah ceria nya kembali, dia memang selalu bisa mengubur kesedihan secara cepat.
“aku lebih kasihan kalau kamu terlihat bahagia, karena aku tahu kamu tengah menyembunyikan sesuatu Asa.” Ucap Issa yang membuat Asa terdiam.