Issa Asa

Issa Asa
Song 2.3




Setelah beberapa menit berlalu, Wendy pun mulai tenang, dia memakan makanan yang dibawa oleh Asa, sedangkan Adinda tengah membuatkan minuman di dapur, karena diantara mereka bertiga hanya Adinda yang sangat tau perihal dapur mengingat dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan orang tuanya sibuk bekerja, jadi Adinda lah yang bertugas memasakkan makanan untuk kedua adiknya.


Adinda datang dengan nampan berisi jus untuk mereka bertiga, setelah menaruhnya di meja, Adinda duduk di sebelah Wendy. Posisi Asa berada di sebelah kiri Wendy dan duduk di karpet bawah sofa sambil makan buah. Mereka mengubah film horror menjadi playlist music.


Adinda mengambil snack di meja kemudian membukanya, wanita itu melihat ke arah Wendy yang akan bercerita perihal putusnya dengan Dio. Wendy dan Dio sudah menjalin hubungan sejak mereka sekolah menengah atas, awalnya Wendy tidak menyukai Dio yang sangat mengganggu kehidupannya, alias Dio yang mengejar-ngejar Wendy hingga pada akhirnya Wendy menerima cinta Dio, namun sekarang telah berakhir tragis.


“jadi awalnya gue curiga kan sama Dio, sebenarnya gue udah curiga lama banget, tapi gue kayak mikir nggak mungkin lah Dio kayak gitu, kalian juga tau Dio kayak gimana. Terus kemarin gue habis double date kan sama Asa juga, pulang dari Dufan gue sama Dio makan dulu, dia ijin ke toilet tapi ninggalin hp nya. Salah gue juga sih harusnya gue ngga buka hp nya kan jadi liat.” Jelas Wendy yang mengingat-ingat kejadian kemarin, Asa hanya mengusap paha Wendy sambil mendengarkan ceritanya.


“gue itu niatnya mau foto-foto pake hp dia karena hp nya baru, waktu gue buka kebetulan masih ngebuka aplikasi line, ada akun cewek di sana terus gue buka chatnya, ternyata mereka ituan. Itu statusnya mereka FWB an dan emang sering jalan bareng. Ngga sampek situ aja, ada chat lain sebelumnya, cewek open bo. Sumpah gue ngga ngerti lagi sama jalan otak Dio.” Wendy mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh saat menceritakan semuanya. “ya udah gue marah banget disana, gue udah nggak peduli semua orang liat kita, gue putusin dia.”


“udah Wen, jangan kayak gini lagi atau sedih-sedih lagi, apalagi Dio juga udah ngga peduli sama perasaan lo.” Ucap Adinda sambil mengusap pundak Wendy.


“emang semua yang berseragam kayak gitu ya?.” Tanya Asa dengan polos.


“isshhh Asa.” Protes Adinda


“iya bener kok, gue juga udah feeling kalo Dio jadi polisi dia bakal aneh-aneh kalo LDR, dan bener kan.” Ucap Wendy kesal “mending sama Issa aja, ganteng, baik, nggak suka nyakitin.”


“kan Issa udah sama Asa Wen.” Ucap Adinda mengingatkan.


“iya juga, tapi apa ngga boleh buat gue bentar ngehalu.”


“boleh kok, gue juga ngga ada hubungan apa-apa sama Issa, atau mau gue panggilin kesini biar menghibur lo?.”


“nggak gitu juga kali sa.”


Asa hanya tertawa, kemudian mereka bertiga memutuskan untuk karaoke di kamar Wendy. Yang membuat Asa sekarang tidak nyaman berada di kamar Wendy adalah karena ada foto poster Issa di dindingnya, bukan hanya satu, ada beberapa di dinding yang menempel.


Asa hanya duduk di sofa sambil menyanyi sesekali, karena dia benar-benar tidak nyaman ada poster Issa.


“Asa kenapa sih nggak ikutan nyanyi?.” Tanya Wendy


“habisnya gue bosen liat muka Issa.”


“sorry ya cowok lo ada di kamar gue.”


“apaan sih bukan cowok gue juga.”


“otw kan tapi.” Ledek Adinda


“nggak.” Perhatian Asa teralihkan saat melihat notifikasi masuk ke ponselnya, notifikasi dari Issa yang beberapa kali mengirimkan pesan. Asa pun mulai membalas seadanya.


ISSA : [14.30] gue udah dirumah


  [15.00] lo tidur ya sa?


  [15.15] selamat tidur Asa cantik.


  [16.00] belum bangun cantik?


ASA : [16.10] sorry, gue di rumah Wendy


ISSA : [16.10] gue kira tidur, ngapain sa?


Setelah membalas pesan dari Issa, Asa ingat soal liburan ke villa Bandung.


“apaan?.”


“mau nggak liburan ke villa Bandung?.”


“villa punya keluarga lo?.” Tanya Adinda


“sama siapa? Emang keluarga lo disana?.” tanya Wendy juga.


“temen-temen Issa sih.” Jawab Asa


“mereka tau kalo lo punya villa di bandung? Atau mereka tau kalo lo keluarga konglo?.” Tanya Wendy penasaran.


“gue nggak konglo dan mereka nggak tau soal itu, jadi kalian ikut ya, gue nggak ada temen.”


“gue ikut.” Ucap Wendy senang “karena ada Issa hehehe.”


“lo ngga ngerti-ngerti ya wen, Issa punya sahabat lo. Gue juga ikut deh.”


“waaahh makasih, akhirnya punya temen.”


Asa kemudian mengetik kembali pesan ke Issa mengenai dia yang ikut ke liburan ke villa di Bandung.


ASA : [16.25] sa, gue ngajakin Wendy dan Adinda ikutan ya?


ISSA : [16.26] soal liburan ya? Boleh aja, lebih banyak lebih bagus


ASA : [16.30] ntar soal transportasi ke Bandung nya, biar Wendy bawa mobil.


ISSA : [16.30] ngga usah, lo sama temen-temen lo ikut bareng mobil gue aja


ASA : [16.35] terus temen-temen lo gimana?


ISSA : [16.36] Haikal sama Julian ikut mobil gue, Bagas sama Gea dan temen-temen Gea ikut di mobil Bagas. Tenang aja


ASA : [16.37] oh gitu


ISSA : [17.00] kalo sabtu minggu ini bisa sa?


ASA : [17.23] bisa kok, biar gue bilang temen gue ya.


ISSA : [17.24] makasih sa.


Asa baru pulang dari rumah Wendy jam 9 malam, mengendarai mobil sendiri menuju ke rumahnya yang cukup jauh dari rumah Wendy dan Adinda. Sampai dirumah, Asa memasukkan mobilnya kedalam garasi dibantu mba Aila yang kebetulan memang menunggu Asa pulang untuk membukakan gerbang karena Asa memakai mobil hari ini.


Mobil yang memiliki plat B 454 A adalah mobil kado dari Deon, ayahnya. Saat umur Asa masih 17 tahun, Alasan Asa tidak memakai mobil itu karena dia sama sekali tidak ingin mobil, tidak ingin harta melimpah atau kebutuhan yang selalu terpenuhi, dia hanya ingin keluarga yang utuh, saling menyayangi satu sama lain. Setidaknya kalau tidak ada waktu untuk keluarga, minimal tidak saling membenci satu sama lain. Rumah yang harusnya sangat hangat, bagi Asa rasanya seperti di kutub, sangat dingin bahkan membuat Asa menggigil hebat.


“kata nyonya, non Asa ngga pernah pake mobil kalo keluar.” Ucap mba Aila yang menghentikan langkah Asa menaiki tangga.


“bukan urusan mba Aila, jadi nggak usah ikut campur soal ini.” Jawab Asa ketus untuk pertama kalinya.


“maaf non.”


Asa menghiraukan ucapan mba Aila kemudian pergi menaiki tangga menuju ke lantai dua menuju ke kamarnya, Asa memasukkan kunci mobilnya ke dalam laci, melepaskan hoddienya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan.