
Asa, Adinda, dan Wendy memasukkan membawa makanannya ke dapur, meletakkan diatas meja terutama makanan yang tidak perlu dimasukkan kedalam lemari pendingin. Wendy memasukkan semua minumannya di lemari pendingin.
“gila, banyak banget dagingnya.” Ucap Wendy saat melihat lemari pendingin yang isinya daging, bukan hanya itu, juga ada ayam, sosis, dan bahkan juga ada sayuran.
Asa melihat lemari bahan makanan pun ada banyak saus yang sudah tersedia. Beberapa menit sebelah mereka tiba di villa, ayah Asa mengirim pesan kepada Asa kalau dia mengirimkan banyak makanan untuk menemani selama liburan di villa, nanti juga dibantu sama Bu Indah, istri mang Arif untuk memasak nasinya.
“wahh kayaknya emang udah di siapin deh. Lo niat banget sa.” Ucap Adinda sambil melihat lemari penyimpanan makanan yang Asa buka.
“gue juga nggak tau.” Jawab Asa santai menutup lemarinya kembali, dan duduk di meja makan.
“ngga ada yang tau kalo ini villa punya keluarga lo?.” Bisik Wendy penasaran.
“ngga, jangan ada yang tau soal itu.”
Perbincangan mereka bertiga terhenti tatkala Issa dan Bagas datang dari pintu depan sambil membawa gitar mereka. Issa dan Bagas sengaja membawa gitar agar tidak sepi nanti malam, karena belum tentu villa ada music, walaupun nyatanya fasilitas di villa ini lebih dari cukup untuk bersenang-senang.
“sa, dipanggil mang Arif didepan.” Ucap Issa.
“ohh iya.” Asa keluar dari villa menemui mang Arif yang memang menunggunya di depan villa sambil membawa makanan yang cukup banyak.
“non Asa, ini titipan dari nyonya.” Ucap mang Arif sambil memberikan makanan jadi yang dibungkus di dua paper bag.
“mama kesini mang?.” Tanya Asa penasaran karena dia tidak melihat siapapun didepan.
“engga non, tadi orang yang nganter kesini.”
“makasih mang.”
Asa melihat ponselnya yang berdenting pesan masuk dari kedua orang tuanya yang seakan sedang janjian mengirimkan pesan yang hampir sama “have fun sayang.” Asa memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoodie yang di pakai, baru saja akan membawanya masuk, Issa datang mengambil alih dua paper bag yang Asa bawa.
“gue bantuin.” Ucap Issa sambil tersenyum, Asa pun membalas senyuman Issa “dari siapa? Lo pesen makanan?.” Tanya Issa penasaran.
“emm iya kemarin bilang ke mang Arif buat makan siang biar ngga perlu masak.”
“ohhh gitu.”
Mereka berdua berjalan menuju ke dapur, semua sudah berkumpul di meja makan yang cukup besar, sangat cukup jika digunakan untuk 10 orang. Issa meletakkan paper bag berisi makanan itu diatas meja, sedangkan Asa mengeluarkannya dan membagikan ke semua orang yang ada disana untuk makan siang.
Mereka menghabiskan makan dengan bercanda satu sama lain, diantara semua yang ada disana, hanya Asa yang selalu tertawa mendengar recehan Julian, yang bahkan jika bagi orang lain sama sekali nggak lucu.
“nggak lucu lo Jul.” kesal Haikal karena terus mendengar Julian mengoceh disebelahnya.
“apaan sih, Asa aja ketawa berarti lucu lah.”
“hahahah iya lucu.” Jawab Asa sambil tertawa
Julian pun mengeluarkan (tangan love) kepada Asa, namun kemudian mendapatkan tatapan tidak suka dari Issa.
“ampun bos..” ucap Julian takut pada Issa.
Setelah menghabiskan makan siang, mereka berencana untuk jalan-jalan di sekitar villa, tidak jauh dari villa ada aliran air sungai yang sama sekali tidak deras dan juga jernih, sebenarnya ada pusat air terjunnya, tapi harus masuk ke dalam hutan untuk sampai ke air terjun.
Issa terus menempel di sebelah Asa, alih-alih bergabung dengan Haikal atau Julian yang jalan lebih dulu, Issa memilih terus berjalan disebelah Asa.
“lo sering kesini?.” Tanya Issa yang memecah keheningan.
“nggak juga, tahun ini juga baru ini kesini.”
“nggak juga, gue niatnya mau sewa tapi dia ngga mau karena emang ngga pernah disewa in. kenapa?.”
“nggak papa, gue penasaran aja.”
Mereka semua tiba di pinggiran sungai, semua turun ke sungai, termasuk Asa yang di bantu Issa untuk turun ke sungai padahal sebenarnya dia bisa turun sendiri.
“thanks.” Ucap Asa yang mendapatkan tatapan tidak suka dari Gea.
Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing bermain air, berbeda dengan Asa, Wendy, dan Adinda yang memilih duduk di batu untuk berbincang masalah mata kuliah semester depan apalagi mereka juga harus mempersiapkan untuk magang dan kkn di semester berikutnya sebelum mengerjakan tugas akhir (skripsi).
Gea menghampiri Issa dan menyentuh tangan Issa karena hampir jatuh, untung Issa juga cepat bertindak membantu Gea agar tidak jatuh.
“makasih.”
“hati hati ge.”
“iya, lo masih care sama gue.”
“lo mau jatuh mas ague biarin.” Jawab Issa seadanya, namun pemandangannya masih tertuju pada Asa yang tertawa dengan teman-temannya.
“lo suka sama tuh orang? Apa sih yang bikin lo suka sama dia, cantikan juga gue.”
Issa melihat ke arah Gea “Asa beda, dia punya hal yang bikin gue nyaman sama dia, ngga ada tuntutan apapun, dan gue selalu ketawa di dekat dia.” Jawab Issa yang berhasil membuat Gea kikuk.
“tapi lo yakin dia suka sama lo juga? Dia aja nggak peduli sama lo sa.”
“gue nggak peduli gimana perasaan dia ke gue sekarang tapi gue pasti kejar dia sampai kapan pun.”
Bagas menghampiri mereka berdua, membuat Gea meninggalkan Issa dengan Bagas.
“lah malah pergi.” Ucap Bagas bingung. “kenapa sih?.”
“biasalah.”
“kalo dia suka sama lo, harusnya dia nggak putusin lo dulu.” Ucap Haikal menghampiri Issa dan Bagas.
“gue udah nggak peduli soal itu dan jangan dibahas lagi.”
Hari sudah menjelang sore, mereka semua kembali ke villa untuk membersihkan badan. Kebetulan ada kolam renang di halaman belakang jadikan Issa, Bagas, Haikal, kecuali Julian memutuskan untuk berenang terlebih dahulu. Untuk Julian dia lebih dulu mandi dan mengganti pakaian karena dia sendiri tidak bisa berenang seperti yang lain.
Asa keluar dari kamarnya memakai kaos putih dipadukan dengan celana olahraga panjang abu-abu, wanita itu menuruni tangga menuju ke halaman belakang yang sudah kosong tidak ada orang yang berenang, sedangkan lampu sudah menyala dan tempat untuk barbeque mereka juga sudah disiapkan oleh mang Arif.
Asa mengambil karpet khusus untuk halaman belakang kalau ada acara dan meng gelarnya, dia juga mengambil makanan ringan yang ada di dalam, bersyukur malam ini langit sangat cerah dan bertabur bintang. Saat mengambil beberapa makanan ringan beserta minumannya, Haikal datang untuk membantu.
“ada barbeque nya sa? Kapan beli?.” Tanya Haikal sambil membantu Asa membawa bahan makanan yang sudah di keluarkan Asa dimeja makan.
“udah, nitip mang Arif kemarin.”
“ohh terus bayarnya berapa?.”
Julian datang ke dapur membuka lemari pendingin, dia juga terkejut saat melihat banyak daging dengan harga yang cukup mahal di dalamnya.
“gila, ini serius?.” Ucap Julian tidak percaya. Sedangkan Asa hanya nyengir seakan hal seperti itu adalah hal yang cukup biasa baginya.