Issa Asa

Issa Asa
Song 2.7




Hari terakhir berada di villa, mereka semua ber beres untuk pulang ke Jakarta kembali, karena masih banyak kegiatan yang harus mereka lakukan, termasuk Issa yang harus melanjutkan karyanya yang sempat tertunda karena liburan bersama teman-teman. Issa membantu Asa membawa tasnya padahal Asa sudah mengatakan kalau dia bisa melakukannya sendiri.


Semua sudah siap berada di mobil untuk kembali pulang, Asa dan yang lain berpamitan pada mang Arif. Mobil meninggalkan area villa, melaju di jalanan dengan cukup santai, Issa melihat Julian, Wendy, dan Adinda yang duduk di belakang dari kaca ternyata mereka melanjutkan tidur.


“nggak tidur sa?.” Tanya Issa pada Asa yang masih melihat jalanan depan.


“engga ngantuk, lo juga jangan ngantuk.” Ucap Asa diselingi bercanda an.


“sa, gue boleh nanya ngga?.”


“nanya aja.”


“sebenarnya lo itu anak keluarga Atmaja ya?.” Pertanyaan yang sukses membuat Asa terkejut, kemudian Asa melihat kebelakang, untungnya mereka semua tidur dengan pulas.


“lo tau dari mana?.”


“ada foto bokap lo di rumah lo, dan itu pak Deon Atmaja kan?.”


“iya, gue nggak nyangka kalo lo bakal langsung tau soal gue.”


“kenapa lo bilang kalo villa itu punya temen lo?.”


“karena gue ngga mau kalian sungkan sama gue. Keluarga gue juga bukan keluarga sempurna seperti yang banyak diberitakan.” Jawab Asa sembari tersenyum, sepertinya wajah Asa memang ditakdirkan untuk selalu membuat sekitarnya bahagia dan nyaman.


Issa sangat ingat saat akan mengantarkan bunga ke rumah Asa dan mendengar pecahan gelas dan banyak hal ramai lainnya di rumah Asa. Tangan Issa menggenggam tangan Asa erat sambil tersenyum pada wanita itu lembut.


“lo masih ada gue buat cerita, gue siap jadi pendengar yang baik buat lo. Lo itu manusia, bukan robot yang harus di setting buat bahagia, kalo lo sedih, lo boleh sedih, jangan di pendam sendiri.” Ucap Issa panjang lebar namun berhasil membuat hati Asa tersentuh.


“thanks.”


Mobil Issa berhenti depan rumah Asa, membantu Asa dan teman-temannya mengeluarkan barang-barang dari mobil Issa. Setelah selesai semua, Issa pulang ke rumahnya sendiri dengan Julian.


“gue dengerin obrolan lo sama Asa.” Ucap Julian yang membuat Issa menoleh. “pantesan Asa kelihatan kayak ngga asing, ternyata dia cucu keluarga Atmaja.”


“kalo udah denger, gue harap lo tutup mulut, karena kasihan Asa yang sudah nutupin malah lo bongkar.”


“tenang aja, ngga nyangka doang gue, kalo gitu pepet terus aja lumayan dapet konglo.”


“gila lo, gue suka sama Asa sejak awal, gue kira juga nggak bakal dapet konglo. Karena jujur gue malah ngerasa kecil sekarang deket dia.”


“apa bedanya lo sama Asa, kalian sama-sama dari kalangan berada, gimana coba kalau misal nikah, kasihan anak lo ngga ngerasain miskin dong.”


Issa menatap tajam ke arah Julian, namun mendapatkan wajah cengengesan Julian yang berniat hanya bercanda pada Issa. Mobil Issa masuk ke area rumah Issa, berhenti di depan garasi mobil, disana sudah ada Haikal dan Bagas yang sudah menunggu, dari wajah Bagas dan Haikal terlihat kalau mereka cukup lama menunggu.


“biasa, pisah sama doi pasti lama lah.” Jawab Julian santai.


Issa keluar dari mobilnya mengambil kunci di dalam sling bag nya kemudian membuka pintu rumah. Mereka bertiga masuk beserta Issa yang masuk setelah mengambil tasnya di bagasi mobil dan menutupnya kembali.


Issa masuk ke dalam kamarnya, meletakkan tas di sebelah keranjang baju kotor dan mengambil ponselnya yang ada di saku, banyak hal yang tidak Issa ketahui mengenai Asa. mendekati wanita itu seperti warna abu-abu, terlalu tidak jelas, bukan orangnya tapi kehidupannya, mengetahui bahwa Asa adalah cucu keluarga Atmaja, Issa merasa sangat tidak pantas.


pintu kamar Issa terbuka, Bagas masuk dan duduk di kursi depan meja kerja Issa. “lo kenapa? sejak balik diem mulu, nggak gabung sama yang lain juga.”


“gue nggak papa, lo mau makan? pake gofood aja, ntar pesenin gue juga.”


“sudah dari tadi, gue kesini mau manggil lo buat ikut makan.”


“ya udah duluan aja gue bentar lagi nyusul.”


“jangan lama-lama, semua udah pada laper.”


“iya iya.”


Bagas keluar dari kamar Issa lebih awal, setelah Issa mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih, Issa keluar dari kamar menuju ke meja makan, sudah ada ketiga temannya yang tengah makan makanan di meja makan, mereka bertiga memesan makanan dari kfc, hanya ayam dan nasi tapi karena kelaparan, mereka semua memakan dengan lahap, kecuali Issa yang santai memakan makanannya.


selesai makan, Issa naik ke lantai dua menuju ke balkon menyalakan rokoknya. belum sampai lima belas menit Julian datang mengambil satu batang rokok milik Issa dan ikut menghisapnya sambil duduk di sebelah Issa.


“masih mikirin soal Asa?.” tanya Julian, tipe orang yang tidak pernah serius tapi pertanyaan Julian terdengar sangat serius.


“tidak.”


“apa masalahnya kalau Asa cucu keluar Atmaja? bukannya lo mau merebut hatinya? lo lupa niat lo?.”


“gue inget, tapi gue udah ngerasa nggak pantas aja buat Asa, awalnya gue sangat percaya diri karena gue ISSA, tapi dibandingkan dengan Asa, gue kecil.”


Julian menyentuh pundak Issa “tugas lo itu gampang, bikin hatinya milih lo, udah gitu doang, nggak perlu peduli gimana keluarganya, kalau lo suka, ya kejar.”


Issa melihat kearah Julian “sejak kapan lo serius?.”


“GA! pikir aja lah sendiri, gue mau main musik.” Julian mematikan rokoknya dan masuk ke studio musik membuat Issa mengulas senyum kemudian tertawa.


Issa juga mematikan rokoknya dan ikut masuk ke studio musiknya, pria itu mengambil gitar yang menyender di sofa dan mulai memetiknya. Hari semakin gelap saat semua temannya berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing, Haikal lebih dahulu pulang sebelum sore, karena dia ditunggu keluarganya ada acara keluarga. sedangkan Julian dan Bagas baru saja meninggalkan rumah Issa.


seharian ini Issa belum mendapatkan pesan dari Asa sama sekali, terakhir kali Issa mengirimi chat mengatakan kalau sudah sampai dirumah dan Asa sama sekali belum membalas pesannya. saat berjalan di ruang keluarga, tv masih menyala, namun yang menjadi perhatian Issa adalah pemberitaan yang ada di tv, saat wajah kedua orang tua Asa terpampang di layar.


Issa mematikan tv nya dan mengambil kunci motor yang ada di laci kamarnya dan pergi meninggalkan rumah, kepalanya penuh dengan wajah Asa, perjalanannya terasa sangat panjang, dengan langit yang gelap, namun jalanan terang karena lampu yang mengisi setiap sisi. Issa mengambil kartu tamu untuk masuk ke perumahan tempat Asa tinggal, rumah Asa nampak tidak sepi karena banyak wartawan yang datang, namun rumah itu dalamnya seakan tidak ada penghuninya. beberapa kali Issa mencoba menghubungi Asa namun tidak ada jawaban sama sekali.