Issa Asa

Issa Asa
Song 3.5




Issa turun dari panggung belakang, pria itu akan pergi ke ruang istirahatnya. Alin datang dengan membawa buket bunga ucapan selamat pada kakaknya itu.


“hai kak, selamat ya atas single barunya.” Ucap Alin sambil memberikan bunganya, dia juga memeluk Issa, Issa pun membalas pelukan Alin dan mengusap kepala gadis itu sayang.


“thanks ya... dimana mama dan papa?.” Tanya Issa, biasanya kedua orang tuanya hadir tapi bahkan dia hampir tidak pernah bertemu saat menyiapkan single terbarunya ini.


“papa sama mama ada pertemuan dengan rekan bisnisnya. Maaf ya, mereka juga menyampaikan ucapan selamat pada kakak.”


“tidak masalah, masuk lin.”


Alin dan Issa masuk ke ruang istirahat Issa, sebelum membawakan lagu keduanya nanti karena masih ada break istirahat sebentar.


“lagu kakak bagus banget, buat kak Asa ya?.” Tanya Alin penasaran, biasanya kakaknya itu membuat lagu sesuai apa yang di lihat, tapi sekarang sepertinya membawa lagu sesuai dengan pengalaman diri sendiri.


“sok tau lo.”


“ihh tapi kayaknya bener deh, btw aku denger loh kakak udah jadian sama kak Asa.”


“tau darimana?.” Tanya Issa, karena dia tidak memberitahu siapapun kecuali ketiga sahabatnya dan juga sahabat Asa pasti tahu soal itu.


“kak Haikal.” Jawab Alin santai, namun tatapan Issa malah menyelidik gadis itu.


“sejak kapan lo berhubungan sama Haikal?.” Tanya Issa penasaran.


“apaan sih kak, engga.” Alin beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Issa, namun dia bertemu dengan Gea yang tengah berdiri didepan pintu ruangan Issa sambil tersenyum manis pada Alin, reaksi Alin seperti biasanya, wajah kesal.


Issa keluar berniat mengejar Alin karena penasaran tapi langkahnya di hentikan oleh Gea yang ternyata berdiri didepan pintu ruang istirahatnya.


“ngapain lo disini?.” Tanya Issa bingung.


“gue Cuma mau ngasih ini.” Gea memberikan sebuah paper bag dan bunga pada Issa “selamat ya buat single baru lo.” Ucap Gea.


“thanks.” Issa menerima pemberian Gea.


Kegiatan mereka berdua terhenti tatkala Wendy dan Adinda datang dengan membawa sebuah kotak dan juga bunga.


“Wendy, Adinda.” Sebut Issa saat melihat kedua sahabat Asa itu mendatanginya.


“hai Issa, selamat ya atas single barunya.” Ucap Wendy sambil memberikan hadiah pada Issa. Sambil memberikan hadiah tersebut, Wendy berbisik pada Issa “di dalamnya juga ada hadiah dari Asa.” Ucapan Wendy yang membuat Issa bahagia.


“thanks ya.”


“sama-sama.”


Waktunya Issa naik ke panggung kembali untuk menghibur fans nya hingga akhir, dia membawakan seluruh lagunya yang hanya berjumlah tiga biji. Tapi dia juga membawa dan mengcover lagu-lagu western yang tengah banyak di dengarkan banyak semua orang.


Setelah konser itu berakhir, Issa pulang kerumahnya, semua hadiah yang dia dapatkan di taruh di ruang santai di lantai satu kecuali kotak yang diberikan oleh Wendy, karena Issa langsung membawanya naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.


Issa membuka tali pita yang diikatkan pada kotak tersebut, didalamnya ada hadiah dari Wendy dan Adinda tapi ada kotak kecil hadiah yang dimaksud oleh Wendy yaitu dari Asa untuknya. Issa pun buru-buru membuka kotak tersebut, berisi sebuah jam tangan bermerek Rolex, merek yang cukup mahal jika di pakai oleh Issa, namun Issa sangat senang menerima hadiah tersebut, terutama surat yang ada didalamnya.


Memang jam tangannya sangat mahal tapi bukan itu yang membuatnya sangat istimewa melainkan pemberian dari Asa yang membuatnya terlihat sangat istimewa.


‘aku harap kamu menyukainya Issa’


Pagi itu Issa menemui kedua orang tuanya di rumah, ibunya sering memanggil Issa untuk pulang, tapi karena Issa yang sangat sibuk jadi tidak sempat pulang. Saat masuk dia langsung bertemu dengan ayahnya yang tengah membaca majalah di ruang keluarga sedangkan ibunya berada di dapur dengan Alin adiknya membuat sebuah kue seperti biasanya saat hari libur.


“gimana kerjaan sama kuliah kamu?.” Tanya William pada putra keduanya yang masih berumur belasan tahun.


“lancar kok pah, kenapa? Tumben nanya soal itu dadakan.”


“nggak papa pengen nanya aja. Udah dikasih tahu kakakmu?.”


“apa?.”


“Hanny hamil, kakakmu akan punya anak dan papa sama mama akan punya cucu.” Jawab Fahira sambil membawa kue yang di buatnya dan di letakkan diatas meja.


“waahh selamat, bagus lah akhirnya kakak punya anak.”


“hubunganmu sama Asa gimana?.” Tanya Fahira penasaran.


“apa? Baik-baik aja kok ma.”


Fahira melihat kearah William.


“kenapa sih?.” Tanya Issa penasaran.


“sebenarnya sejak awal kamu itu sudah di jodohkan sa, awalnya kakakmu yang di jodohkan tapi karena kakakmu sudah menikah, jadi ya kamu harapannya.” Ucap Fahira lembut.


“apaan sih ma? Dadakan banget, lagi prank ya? Mana kamera nya? Issa ngga akan kena tipu.”


“itu sungguhan Issa.” Ucap William dengan wajah seriusnya.


“tapi papa sama mama kan tahu Issa suka sama siapa? Papa sama mama juga tahu kalau Issa hanya akan bersama Asa. Kalian juga menyukai Asa.”


“mama tahu, tapi perjodohan ini sudah dilakukan sejak kamu dalam kandungan nak.” Jawab Fahira membuat Issa semakin kesal mendengarnya.


“Issa tidak ingin melakukannya, lagipula Issa juga masih kuliah.” Issa beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan rumah.


Issa masuk kedalam mobilnya, sebelum menjalankan mobilnya, pria itu melihat pesan masuk dari Asa yang mengatakan baru saja pulang kuliah, sama seperti sebelumnya, Asa berada di semester lima sekarang sedangkan Issa masih masuk kuliah di semester satu.


Issa tersenyum setelah membalas pesan dari Asa, pria itu melajukan mobilnya menuju ke tempat tongkrongan bersama teman-temannya yang sudah ada disana sejak awal. Niatnya mamang setelah dari rumah kedua orang tuanya, Issa akan pergi kesana, tapi ternyata lebih cepat kedatangannya hanya karena kedua orang tuanya membahas hal yang membuat Issa kesal.


Sampai di tempat tongkrongan, terlihat Julian yang baru saja datang dan memesan minuman, sedangkan Haikal dan Bagas sudah ada disana sebelumnya tengah mengerjakan tugas kuliah.


Issa duduk diantara mereka dengan wajah bahagia, dia telah mempelajari itu dari Asa. Asa mengatakan satu hal yang membuat Issa merasa bahwa benar apa yang dikatakan oleh Asa, yaitu kita tidak boleh tidak bahagia saat bersama orang yang membuat kita bahagia, apapun masalahnya, kita harus terus tersenyum, tidak semua orang merasa nyaman dengan orang yang mengekspresikan masalahnya secara gamblang terutama mereka yang berstatus teman.


“cepet amat.” Ucap Julian duduk di sebelah Issa sambil memakan cilok yang dia beli di gerobak abang-abang depan.


“ngapain juga lama-lama.” Jawab Issa santai.


“lo ngga tau ya sa, Julian lagi deket sama Wendy.” Ucap Bagas yang membuat Issa melihat kearah Juliah terkejut.


“seriusan lo?.” Tanya Issa.


“berisik dah, tunggu aja lah ntar.” Jawab Julian kesal, Julian bukan tipe cowok yang serius tapi kalau masalah percintaan, jangan di tanyakan lagi gimana setianya dia sama mantannya dulu walaupun pada akhirnya karena terlalu baik jadi di selingkuhin.