Issa Asa

Issa Asa
Song 1.6




Asa berada didepan kaca rias setelah memakai dress yang baru ia beli tadi siang, wanita itu sangat cantik dengan dress putih, rambut tergerai berwarna coklat juga riasan wajah yang natural. Asa keluar dari dalam kamarnya setelah mba Aila mengatakan kalau Issa sudah berada didepan menunggunya. Asa pun dengan membawa paper bag berisi kado untuk kedua orang tua Issa, keluar menemui Issa. Betapa terkejutnya Issa saat melihat Asa yang biasanya tidak pernah memakai dress kini berpakaian sangat indah, walaupun Asa selalu cantik dimatanya tapi malam ini Asa terlihat sangat menawan dan cantik tentunya.


“Issa.” Panggil Asa saat melihat Issa yang terus terdiam.


“ehh iya?.”


“kita jadi berangkat kan?.”


“jadi-jadi.” Issa membukakan pintu mobilnya untuk Asa masuk.


Mereka menuju ke lokasi acara pesta berada, acara yang dilakukan rumah keluarga Issa, rumah yang cukup mewah di pusat kota. banyak mobil yang sudah terparkir di sekitar sana, mobil tamu dari kedua orang tua Issa.


Issa berjalan masuk beriringan dengan Asa, mereka sempat beberapa kali berbincang terutama soal Asa yang ternyata membawa kado untuk orang tua Issa membuat Issa sangat tidak enak. Tapi Asa mengatakan kalau dia hanya menghargai undangan Issa, jadi untuk yang pertama kalinya, Asa ingin memberikan kesan terbaik dari hidupnya hari ini.


Semua terutama yang mengenal Issa menyapanya, saat pria itu baru saja masuk, sesekali menggoda Issa karena sudah membawa wanita ke pesta kedua orang tuanya. Issa adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya yang paling tua adalah laki-laki tapi tidak bisa hadir karena masih berada di luar negeri, sedangkan adiknya perempuan kemungkinan selalu ada karena masih menempuh sekolah menengah atas kelas 10 atau satu SMA.


“kakak!.” Suara cepreng yang terdengar di telinga Issa dan Asa membuat dua orang tersebut menoleh kesumber suara.


Seorang gadis memakai dress biru muda indah berwajah cantik sedikit mirip dengan Issa menghampiri Issa dan memeluknya erat.


“kenapa kakak tidak pernah pulang?.” Tanyanya dengan cemberut.


“kakak sibuk.”


“hufftt, ini siapa? Kenapa tidak di kenalkan pada Alin?.” Gadis yang menyebut dirinya Alin tersebut menatap tajam kearah Asa, namun Asa hanya memberikan senyuman lebar membuat Alin tidak jadi menatapnya kesal.


“Asa.” Ucap Asa memperkenalkan diri dengan sangat baik.


“Alin. Pacarnya kak Issa ya? Yang di bilang di live? Kak Issa udah putus ya sama kak Gea? Baguslah kalau udah putus, kesel banget sama kak Gea.”


“berisik banget sih lo lin.” Ucap Issa yang menghentikan celotehan Alin, namun hal tersebut membuat Asa terkekeh. “ayo.” Issa mengajak Asa pergi.


Saat berlalu pergi, Asa menengok kearah Alin kembali, kemudian Alin memberikan bahasa isyarat untuk berbincang dengannya, Asa pun menunjukkan jempolnya sambil tersenyum.


Tiba lah saat yang sangat membuat Asa takut yaaitu bertemu dengan kedua orang tua Issa, jantung Asa berdebar sangat kencang seakan mau meledak, namun Issa menggenggam tangannya erat seakan memberikan kekuatan kalau dia akan baik-baik saja.


“malam pa, ma.” Sapa Issa “selamat aniv ya…” ucap Issa sambil memeluk kedua orang tuanya, Issa juga memberikan sebuah kotak kado untuk kedua orang tuanya.


“waahhh thanks honey.”


“terimakasih ya.”


Pandangan kedua orang tua Issa tertuju pada Asa yang berdiri dibelakang Issa.


“ohh iya, ini kenalin teman Issa.”


“malam om tante, saya Alyasa, selamat anniversary pernikahan.” Asa menyalami kedua orang tua Issa.


“terimakasih ya.” Ucap kedua orang tua Issa.


Kemudian Asa memberikan paper bag kado pada orang tua Issa.


“kenapa repot-repot, sudah datang saja tante da nom seneng banget loh.”


“engga kok tan, hanya hadiah kecil semoga tante dan om suka.”


“makasih ya.”


“iyaa tante.”


“ma, pa, Issa kesana dulu ya.”


“oke, have fun honey, jangan lupa ajak Alyasa keliling ya.”


Issa pun mengajak Asa keliling di acara pesta, sesekali memakan makanan ringan yang sudah di sediakan. Saat tengah makan, terlihat Gea, Bagas, Julian, dan Haikal yang baru saja datang memberikan selamat kepada orang tua Issa, Issa tidak ingat kalau mengundang Gea juga, dia hanya ingat kalau mengundang ketiga temannya tanpa Gea.


“sebentar ya.” Issa meninggalkan Asa menghampiri teman-temannya.


Asa pun hanya diam sambil minum-minuman yang sudah di sediakan disana, Alin pun datang menghampiri Asa.


“hai kak Asa.” Sapa Alin dengan gembira.


“hai Alin.”


“kak udah lama sama kak Issa?.”


“apanya?.”


“jadiannya.”


“aku ngga jadian sama Issa.”


“PDKT kak masihan?.”


“engga tau juga, ngga bisa bilang apa-apa sih, yang pasti aku sama Issa hanya teman.”


“tapi lebih dari temen juga ngga papa kok kak, lagian kesel banget kalau kak Issa masih sama Gea.”


“ngga boleh gitu lah, adik harus selalu mendukung keputusan dan hubungan dari kakaknya, kan demi kebahagiaan Issa juga.”


“iya sih, tapi Gea muka dua banget.”


“daripada ngomongin soal orang lain, gimana nih kamu? Katanya baru masuk SMA ya? Gimana teman-temannya?.”


“biasa aja sih kak, tapi banyak kating yang ngebully temen aku. Banyak juga yang deketin Cuma karena mau tau soal kak Issa.”


“hahahah gitu ya, syukur kamu ngga di bully.”


“itu pun karena kak Issa, kalau bukan karena kak Issa, kayaknya aku juga dibully sih. Eh bentar ya kak, acara udah mau mulai.”


Acara pun di mulai, Issa dan Alin berada di antara kedua orang tua mereka. Sedangkan Asa melihat dari pinggiran kolam renang di antara tamu-tamu yang lain, semua tepuk tangan terdengar meriah, hingga sebuah lengan seakan mendorong Asa hingga membuatnya terjatuh di kolam renang.


Asa yang notabe nya tidak bisa berenang hanya berusaha menyelamatkan diri walaupun tidak mungkin jika Issa tidak langsung terjun masuk kedalam air untuk menyelamatkannya, Issa membawa Asa menuju ke tepian kolam dan menekan dada Asa, tidak ada pergerakan walaupun nadi Asa masih ada, Issa pun tidak punya pilihan lain selain memberikan nafas buatan pada wanita itu hingga Asa mengeluarkan banyak air dari mulutnya sambil terbatuk-batuk. Issa memeluknya erat mengusap rambut Asa yang basah, dia tidak peduli dengan tamu yang melihatnya, Issa membopong Asa menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.


“maaf.” ucap Issa setelah menidurkan Asa di ranjang kamarnya.


“ngga papa, makasih udah selamatin gue, maaf ya acaranya jadi berantakan karena gue.”


“ngga, gue harusnya yang minta maaf karena ngga bisa jagain lo.”


“ngga papa sa.” Asa sangat tidak nyaman sekaligus terharu melihat sikap Issa, dalam hidupnya tidak pernah sekalipun merasakan jadi orang paling berharga.


Pintu terketuk, kemudian Alin masuk membawa dress ganti untuk Asa yang kebetulan bertubuh sama dengan Alin.


“kak, maaf ya.” Ucap Alin


“kenapa jadi pada minta maaf.”


“sebenarnya tadi aku lihat kak Gea di belakang kak Asa, aku udah feeling ngga enak.”


“GEA?.” Tanya Issa kembali pada adiknya.


Alin hanya mengangguk sangat yakin.