
Diana mendatangi perusahaan milik keluarga Atmaja yang ada di Singapura tanpa sepengetahuan mantan suaminya, Deon. Diana hanya ingin membawa Asa kembali kerumah, dia ingin Asa kembali dengannya, tanpa aturan seperti yang tuan Atmaja buat pada anak dan cucu nya.
“Diana, ada apa kamu kemari?.” Tanya tuan Atmaja yang baru saja keluar dari ruangan meeting.
“ini soal Asa pah.”
“keruanganku.”
Diana pun masuk kedalam ruangan presiden direktur, selama kurang lebih hampir satu jam, tidak menghasilkan apapun, karena sejak awal sudah sesuai perjanjian, Asa akan dirawat oleh kakeknya dan akan ikut aturan kakeknya jikalau Diana dan Deon bercerai, apapun itu alasannya.
Diana keluar dari ruangan tuan Atmaja, bersama dengan Deon yang akan masuk kedalam ruangan ayahnya.
“Diana, ngapain disini?.”
“Deon.” Diana langsung memeluk Deon erat.
Karena dilihat banyak karyawan lain, Deon mengajak Diana untuk pergi ke tempat istirahat miliknya yang ada di gedung tersebut. Deon mengambilkan minuman hangat untuk Diana yang tengah duduk di sofa sambil melamun.
“aku minta maaf atas apa yang terjadi pada kita berdua dan tentang pernikahan kita yang tidak berhasil.” Ucap Diana yang membuat Deon menatapnya hangat.
“harusnya aku yang meminta maaf padamu lebih awal, aku bukan ayah yang baik untuk Asa, juga bukan suami yang baik untukmu. Jika saja kita berdua mau membuka hati masing-masing mungkin akhirnya tidak akan serumit ini.”
“terkadang aku berfikir bagaimana perasaan Asa, tapi pikiran itu tiba-tiba menghilang saat kita beradu mulut satu sama lain, aku seperti menyesal telah melahirkan Asa. Tapi Asa juga manusia, dia juga anak yang butuh kasih sayang orang paling terdekatnya.” Air mata Diana jatuh.
Deon mulai mendekat dan memeluk mantan istrinya erat.
“aku juga meminta maaf padamu Diana.” Ucap Deon lirih.
Hari-hari telah berlalu, Asa menyelesaikan kuliahnya dengan sangat baik dan sekarang proses sidang tugas akhirnya. Kehidupannya masih sama seperti sebelumnya. Dengan banyak fasilitas di rumah keluarga Atmaja, kakeknya juga sering menemuinya untuk memberitahu masalah bagaimana Asa kedepannya.
Malam ini Asa dan tuan Atmaja akan pergi ke Indonesia untuk berkunjung ke makam neneknya yang ada di bandung, sekaligus untuk menghadiri pesta bisnis rekan kerja kakeknya yang ada di Indonesia. Sebenarnya Asa tidak perlu ikut tapi karena mereka juga akan ke makan nenek, jadi sekalian ikut hari itu.
Bawahan tuan Atmaja menjemput mereka di bandara, perjalanan menuju ke bandung tidak menghabiskan waktu yang lama. Hingga mereka tiba di rumah keluarga Atmaja yang ada di bandung, dulu Asa juga sempat tinggal disana beberapa tahun saja yang kemudian akhirnya pindah ke Jakarta dengan kedua orang tuanya.
Dengan memakai dress berwarna hitam, Asa dan kakeknya pergi ke makam neneknya. Terlihat sangat jelas di mata kakeknya kalau kakeknya sangat mencintai neneknya lebih dari apapun. Setelah dari makam, mereka memutuskan untuk mencari makan malam di salah satu resto yang dilewati, hanya makan berdua saja.
“kamu mau dengar soal nenekmu?.” Tanya tuan Atmaja pada Asa, cucunya.
“memangnya kenapa kek?.” Sejak awal Asa tidak pernah dekat apalagi berbincang sangat panjang dengan kakeknya, karena Asa tidak terlalu menyukai kakeknya.
“kakek bisa mencintai nenek?.” Tanya Asa penasaran.
“awalnya kakek sulit mencintai nenek, tapi itu tadi karena terbiasa, jadi tumbuh rasa cinta dan sama sekali kakek tidak ingin kehilangan nenek. Sayangnya saat papa mu lahir, nenek meninggal dunia.”
Melihat wajah kakeknya yang menahan sedih membuat Asa ikut sedih.
“maafin Asa nggak nurut sama kakek.”
“wajar, tapi sebagai orang tua tidak mungkin memilihkan orang yang buruk untuk anak dan cucunya, kakek memilihkan yang terbaik untukmu Asa.”
Asa beranjak dari tempat duduknya, memeluk kakeknya erat. Dia sedikit menyesal karena tidak mengikuti apa yang dikatakan oleh kakeknya mengenai masa depannya hanya karena kakeknya sudah menjodohkan dia dengan seseorang yang bahkan tidak Asa kenal sebelumnya.
“setiap jalan itu ada aja batu yang bikin tersandung, tapi bagaimana caranya kamu bisa bangkit kembali dan berjalan kembali.” Ucap tuan Atmaja “setelah kehilangan nenekmu, dunia kakek terasa sangat hancur, perusahaan mulai tidak baik-baik saja, tapi karena papa mu, kakek punya harapan kembali, mata papamu sangat mirip dengan nenek. Dia yang buat kakek bangkit kembali untuk mendapatkan semuanya.” Lanjutnya.
Setelah makan malam dan memperbincangkan banyak hal, mereka kembali pulang kerumah keluarga yang ada di Bandung. Karena pekerjaan yang cukup banyak, kedua orang tua Asa tidak bisa menghampiri mereka di Bandung dan malah menunggu mereka di Jakarta karena besok Asa dan tuan Atmaja akan pergi ke Jakarta karena ada acara bisnis yang harus dihadiri.
Asa duduk di ranjangnya, dia menghubungi Wendy dan Adinda kalau dia ada di Indonesia sekarang dan akan menjadwalkan pertemuan kembali, karena cukup lama mereka tidak bertemu. Adinda sudah lulus lebih awal karena mengerjakan tugas akhirnya dengan cepat, sedangkan Wendy masih proses, walaupun setiap hari rasanya seperti hari bahagia karena Julian yang terus memberikannya kejutan.
[ASA] : besok gue mau ke jkt.
[WENDY] : demi apa tuing.
[WENDY] : sumpah pokoknya harus ketemu di tempat biasa titik.
[ADINDA] : kenapa nggak bilang-bilang sih, gue lagi ada di Batam.
[WENDY] : balik lahh
[ASA] : iya bener, gue kan Cuma bentar di jkt.
[WENDY] : nohh nggak kasihan apa
[ADINDA] : iya iya gue balik.
Setelah berbincang melalui grup, Asa jadi ingat Issa, entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan Issa, tapi sepertinya Issa tidak akan mau bertemu dengannya kembali, apalagi putusnya mereka menimbulkan rasa sakit yang besar untuk Issa. Asa pun melihat instagram Issa yang sekarang tidak dia ikuti, Issa pun juga tidak mengikutinya, mereka bagaikan orang asing satu sama lain. Banyak postingan Issa yang baru, dia juga selalu memposting acara musiknya, kebetulan Issa akan mengeluarkan Album sebentar lagi, entah kapan dan judulnya apa, Asa tidak tahu soal itu. Tau perihal album baru saja dari Wendy yang kebetulan Wendy mendapatkan bocoran dari Julian, pacarnya.