
Issa menyalakan motornya kembali, namun tiba-tiba getar ponsel dari dalam saku celananya membuat Issa menghentikan kegiatan dan memilih untuk membuka ponselnya lebih awal. Panggilan masuk dari Julian.
“kenapa?.” tanya Issa terburu.
“barusan Wendy menghubungi gue, lo tau dimana Asa?.”
“gue ada di depan rumahnya, Asa nggak balas pesan gue, dia juga nggak angkat telepon dari gue.”
“kayaknya Asa ada dirumahnya, lo cari cara aja biar bisa masuk kesana.”
“serius?.”
“Asa nggak keluar rumah sejak tadi, seharusnya dia ada di dalam.”
“oke thanks.”
Issa mematikan ponselnya, memarkirkan motornya tidak jauh dari rumah Asa, kemudian berjalan menuju ke samping rumah Asa yang kebetulan ada tanah kosong, disana ada pagar tembok rumah Asa, yang penting Issa bisa masuk dulu ke dalam pagar rumahnya tanpa lewat depan.
dengan usaha yang sangat keras, akhirnya Issa berhasil menaiki tembok rumah Asa, dia berjalan menuju ke area belakang rumah Asa.
“astaga kaget.” ucap mbak Aila yang tengah membersihkan sampah di depan pintu halaman belakang.
“maaf mbak, Asa nya dirumah?.”
“non Asa nggak bisa diganggu mas Issa.”
“sebentar saja mbak, lihat doang kok, engga ganggu.”
“non Asa di lantai dua, masuk saja mas.”
“makasih mbak.”
Issa masuk kedalam rumah Asa, dengan lirih menaiki tangga menuju ke lantai dua, pintu kamar yang bertuliskan punya Asa terlihat terbuka sedikit, Issa melihat Asa yang duduk bersandar di ranjang tempat tidur, matanya sembab, dia menangis tapi tidak bersuara, namun terlihat jelas kalau Asa tengah manangis, apalagi mata dan hidungnya yang merah.
melihat wajah Asa yang sangat berbeda dari biasanya membuat Issa mematung di tempatnya, hatinya seakan teriris, entah kenapa membuat Issa ikut sakit saat hanya melihat wajah putus asa dari Asa.
bukan hanya Asa yang mengalami hal yang sama, banyak anak juga mengalami kejadian yang sama tetapi melihat Asa yang selalu ceria dan tiba-tiba menjadi pendiam, terasa sangat berbeda. seakan Asa telah berusaha sangat jauh tapi hasilnya tetap saja sama, Issa belum lama mengenal Asa, tapi sejak awal Issa seakan mengerti ada banyak kesakitan yang Asa sembunyikan dari balik senyuman ceria nya, dan hari ini Issa mengetahui hal tersebut, bahkan seluruh negeri tau akan hal itu, ada anak yang harus dikorbankan dari perpisahan kedua orang tuanya.
Issa berjalan menuju ke pintu kamar Asa, mata Asa melihat sosok Issa yang berdiri mematung di depan pintu yang hanya terbuka sedikit. Asa mengusap air matanya dan melihat ke samping. Issa pun masuk kedalam kamar Asa, dan duduk di sebelahnya, dia juga memberikan beberapa lembar tisu untuk Asa.
“lo berhak buat menangis kok.” ucap Issa yang membuat Asa semakin mengeluarkan air mata.
“sorry gue nggak bisa ngasih waktu buat lo sendiri, tapi gue nggak akan ganggu lo, lo boleh nangis sepuasnya di pundak gue, lo boleh mengeluarkan keluh kesah lo ke gue, lo berhak buat sedih sa.”
tiba-tiba Asa memeluk Issa erat, tangisnya yang tertahan sejak tadi mulai pecah. air mata Asa membasahi kaos yang dipakai Issa, namun tangan Issa tidak berhenti mengusap rambut panjang Asa yang tergerai. suara tangis Asa terdengar sangat kacau, tidak ada yang bisa Issa lakukan selain memberikan Asa waktu untuk mengeluarkan semuanya.
hampir lima belas menit berlalu, keduanya duduk dengan tenang, mata sembab Asa masih terlihat tapi perasaannya sudah mulai membaik. tidak ada perbincangan antara keduanya, hingga Issa mulai membuka pembicaraan, namun bersamaan dengan Asa yang juga akan mulai bicara.
“lo duluan.” ucap Issa pada Asa.
“nggak papa kok sa, harusnya sejak awal lo nggak perlu sembunyikan kesedihan lo.”
“thanks, lo mau ngomong apa?.”
“nggak ada, tapi gue mohon ke lo, mulai hari ini lo punya gue buat temen cerita apapun masalah lo.”
“gue nggak pernah cerita ke siapa-siapa soal hidup gue, dan gue mau kayak gitu terus.”
“itu pilihan lo sih, gue siap dengerin kalo lo mau cerita ke gue.”
“makasih, oh ya lo masuk dari mana kesini?.”
“manjat tembok sebelah rumah.”
“rumah gue banyak wartawan, padahal nyokap bokap gue udah nggak pernah pulang kerumah lagi. sebenarnya gue juga nggak terlalu sedih melihat mereka akhirnya bercerai setelah sekian lama banyak perdebatan yang gue denger.” Asa tersenyum kecut. “semua orang juga tau kalau mereka itu menikah karena perjodohan antar keluarga, tapi biasanya setelah punya anak perasaan akan mulai tumbuh, nyatanya tidak. setelah ini hak asuh gue akan pindah ke kakek gue.”
“lo pindah?.”
“mungkin setelah lulus kuliah, sayang kalau pindah sekarang. dibandingkan dengan keluarga lo yang hangat, jujur gue iri, gue sebenarnya nggak terlalu butuh semuanya, gue pengen punya keluarga kayak keluarga Wendy atau Adinda. tapi gue nggak pernah merasa tidak beruntung dengan apa yang gue punya sekarang, semua tersedia, hanya ada yang kurang sedikit.” Asa melihat kedepan dengan tatapan kosong.
tangan Issa menyentuh tangan Asa, menggenggam nya erat.
“lo pasti sekarang kasihan ke gue kan?.”
“gue nggak pernah kasihan ke lo, gue cuma nggak akan bisa bertahan kalau di posisi lo, dan gue kagum sama lo sa.”
“gue nggak ada kelebihan yang bisa di banggain kayak lo.”
jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, semua wartawan sudah meninggalkan area depan rumah Asa, keadaan sudah sepi seperti seharusnya. Issa berpamitan pulang pada Asa, kembali ke motornya yang ada tidak jauh dari rumah Asa. tapi sepertinya dia tidak beruntung karena saat Issa keluar dari gerbang rumah Asa, ada yang memotretnya bahkan malam itu juga tersebar foto Issa yang baru saja keluar dari rumah Asa.
kabar bahwa cucu tunggal keluarga Atmaja berada di Singapura masih beredar sejak dulu, bahkan rumah itu baru diketahui wartawan setelah kabar perceraian kedua orang tua Asa tersebar publik. tidak ada yang tau bahwa putrinya atau Asa berada di Indonesia sejak awal, tidak ada yang tau sama sekali. hingga saat foto Issa tersebar, semua menyimpulkan sendiri-sendiri, banyak yang mengatakan kalau Issa adalah simpanan Diana atau ibunda Asa, tapi ada juga yang mengatakan kalau Issa dekat dengan cucu keluarga Atmaja yang kebetulan pulang ke Indonesia.
beberapa panggilan masuk ke ponsel Issa, termasuk panggilan dari manager nya. konspirasi mulai bermunculan dan banyak yang mencari tau mengenai Asa, wanita yang pernah masuk di postingan Issa kemarin.
pertama kali yang Issa lakukan saat mengetahui berita tersebut, dia meminta maaf melalui telepon pada Asa. untungnya Asa hanya menanggapi dengan santai, cepat atau lambat semua akan tau mengenai identitas aslinya apalagi perceraian kedua orang tuanya yang menjadi bahan pembicaraan banyak media.
keesokan harinya, Issa menemui managernya di kantor manajemen yang menaungi Issa, mereka melakukan klarifikasi mengenai foto yang beredar semalam. juga menjelaskan bahwa memang Issa pergi kerumah keluarga Atmaja, tapi bukan sebagai simpanan, kebetulan teman Issa adalah cucu dari keluarga Atmaja, hanya itu yang bisa Issa jelaskan dimedia. masalah pertanyaan mengenai foto Asa, dia tidak menjelaskan dan memilih untuk bungkam.
“jadi Asa siapa?.” tanya manager Issa
“cucu keluarga Atmaja.”
“gila, lo yakin berhubungan sama dia? lo tau kan keluarganya lagi kacau.”
“nggak usah bahas ini bang, gue kenal Asa, dan masalah keluarganya tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan Asa.” ucap Issa tegas.