Issa Asa

Issa Asa
Song 1.5




Asa dan Issa duduk di salah satu meja kosong, mereka berdua sudah memesan makanan yang mereka ingin makan. Sambil makan, Issa bercerita banyak hal mengenai dirinya sedangkan Asa hanya menjadi pendengar yang baik sekaligus bertanya yang ia tidak mengerti dari cerita yang Issa ceritakan. Selesai makan dan mengelap bibirnya menggunakan tisu yang sudah di sediakan, Issa mengajak Asa ke mall untuk berbelanja hadiah ulang tahun pernikahan orang tuanya.


Mereka menuju ke salah satu mall yang ada di kota tersebut, mall yang cukup ramai pengunjungnya. Asa mengajak Issa masuk kesalah satu store yang menjual aksesoris, walaupun Asa sendiri tidak tau apa yang di sukai orang tua karena dia tidak dekat dengan kedua orang tuanya. Tapi setiap ibu menyukai perhiasan, sedangkan ayah, dia fikir akan suka sejenis jam tangan.


“bagaimana kalau jam tangan?.” Tanya Asa pada Issa


“waaah kita punya selera yang sama, gue juga niat mau beliin jam tangan couple.”


“boleh sih couple bagus.”


Mereka kearah etalase yang menjual banyak jam tangan, Issa dan Asa memilih satu persatu jam tangan yang sekiranya sangat cocok. Hingga jari mereka menunjuk jam tangan yang sama, membuat keduanya tertawa, karena lagi dan lagi mereka memilih barang yang sama.


“yang ini?.” Tanya pelayan toko


“iya mba, coba liat dulu.”


Pelayan tersebut mengeluarkan pasangan jam tangan dengan harga yang cukup mahal, satu pasang jam tangan itu di hargai dengan harga 15jt rupiah, cukup menguras uang, Asa melihat kearah Issa, namun kemudian Issa setuju membeli jam tangan tersebut.


Setelah membayarnya dikasir dan menerima paper bag kecil berisi kado ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Issa dan Asa berjalan di dalam mall, Issa berniat membelikan sesuatu untuk Asa tapi dari tadi Asa hanya diam.


“sa, lo ngga pengen makan apa gitu?.” Tanya Issa memecahkan keheningan antara keduanya.


“gue pengen es krim.”


“boleh, ayo ke kedai es krim.”


“ayo.” Asa menjawabnya dengan sangat bahagia, mereka berdua menuju ke kedai es krim, Asa memilih es krim dengan rasa coklat mix cappuccino, sedangkan Issa hanya memilih rasa vanilla.


Setelah menerima es krimnya, mereka duduk di salah satu meja kosong dan menikmati es krim tersebut sebelum akhirnya kembali jalan-jalan di mall.


Mereka melanjutkan jalan-jalan di mall, jam mulai sore saat Asa mengajak pulang karena harus mengerjakan tugas. Issa pun mengantarkan Asa pulang kerumahnya, motor Issa berhenti didepan rumah Asa.


“sa, besok dateng ya ke acara ulang tahun pernikahan nyokap bokap gue?.”


“gue?.” Asa menunjuk dirinya sendiri.


“iya lo, gue mau ngajak lo kesana.”


“tapi gue belum pernah keacara kayak gitu, takutnya gimana-gimana. Terus gue juga belum beli kado.”


“ngga usah, lo temenin gue doang aja, please.”


Melihat wajah Issa yang memohon padanya, Asa pun setuju “ya udah deh, jam berapa?.”


“jam 6 gue jemput kesini ya.”


“oke deh.”


“gue balik duluan.”


“hati-hati Issa.”


Issa pun meninggalkan rumah Asa, kebetulan di rumah ada kedua orang tua Asa yang sepertinya pulang hari ini. Asa masuk kedalam rumah tanpa permisi seperti biasanya, namun kedua orang tuanya menghentikan langkah Asa.


“Asa, mama sama papa mau bicara.”


Asa pun dengan wajah dinginnya, duduk di sofa di antara mereka berdua yang ada di ruang keluarga.


“mama dan papa akan bercerai, terserah kamu mau ikut siapa.” Ucap Diana tegas.


“Asa ngga ikut siapa-siapa.” Jawab Asa singkat yang kemudian dia beranjak dari duduknya “terserah kalian kalau ingin bercerai dari pada terus berantem, Asa akan tinggal sendiri di kos kalau memang kalian bercerai.” Lanjut Asa, wanita itu berjalan meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Asa menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut, sentah kenapa air mata itu keluar sendiri, terisak lirih didalam selimut, beberepa kali ketukan di pintu tak di hiraukan oleh Asa. Bahkan notif dari ponselnya dia sudah tidak peduli lagi, semakin lama menangis, semakin Asa lelah dan mulai tertidur.


Pagi itu Asa bangun dengan mata yang bengkak, karena semalaman menangis, dia harus menggunakan masker mata untuk menghilangkan bengkak nya, untung bisa hilang. Karena dosen hari ini tidak bisa masuk, Asa hanya di beri tugas sebagai pengganti. Asa ingat dengan ulang tahun pernikahan orang tua Issa, dia menuju ke kamar mandi membersihkan badannya kemudian pergi untuk membeli hadiah kecil, karena tidak mungkin Asa tidak membeli hadiah di acara ulang tahun yang mengundangnya.


Asa menuju kesebuah mall, dulu Asa juga ingin membelikan untuk kedua orang tuanya, dasi untuk ayahnya dan sepatu highhells untuk ibunya tapi sepertinya Asa akan membeli itu untuk orang lain. Harapannya semoga orang tua Issa suka dengan hadiah yang Asa berikan. Setelah membeli hadiah serta sudah di bungkus dengan sangat rapi, Asa menuju ke toko dress, butik langganan ibunya, terakhir kali kesana saat SMA ulang tahun kakeknya.


“anaknya Diana ya?.” Tanya pemilik butik yang kebetulan teman ibu Asa


“iya tante, Asa.”


“iya Asa, tante lupa nama kamu, mau cari apa?.”


“Asa mau cari dress buat pesta ulang tahun pernikahan yang simpel dan tidak mencolok.”


“siapa yang ulang tahun? kayaknya mama sama papa kamu bukan bulan ini.”


“orang tua temen tan.”


“ohh gitu, sebentar ya kebetulan tante punya dress yang bagus dan cocok buat kamu.”


“iya tan.”


Pemilik butik tersebut masuk untuk mengambilkan dress yang Asa minta sekaligus menghubungi Diana untuk memberitahukan kalau putrinya berada disana. Diana hanya memesan untuk memberikan pakaian terbaik untuk Asa pakai, masalah harga dia yang akan membayarnya.


Pemilik butik keluar dengan membawa dua dress berwarna putih dan silver, putihnya terkesan sangat elegant sedangkan kalau Silver terlihat lebih dewasa jika di pakai oleh Asa.


“Asa pilih yang putih aja tan.”


“pilihan yang bagus.”


“tolong dibungkusin ya.”


“iya sebentar ya, langsung ke kasir aja.”


“oke tan.”


Asa menuju ke kasir, namun dia hanya di beritahu bahwa harganya hanya 150rb rupiah, dia sangat terkejut.


Pemilik toko memberikan paper bag berisi dress pada Asa.


“ini harganya emang segitu tan?.”


“khusus buat kamu.”


“ngga mau tan, aku bayar penuh aja.”


“udah ngga papa bawa aja.”


“serius?.”


“iya, sana udah, pulang atau pergi ke salon dulu.”


“makasih banyak tante.”


“sama-sama sayang.”


Asa sedikit curiga dengan harganya yang terlalu murah ditambah sikap pemilik toko, tapi dia tidak peduli lagi, diberi harga yang murah harusnya Asa bersyukur jadi uangnya bisa dia tabung lagi untuk menyewa kamar kos, setelah orang tuanya bercerai.