Issa Asa

Issa Asa
Song 2.2




Asa terlihat sudah mematikan panggilan teleponnya, kemudian berjalan menuju ke meja Issa dan teman-temannya, lalu duduk kembali di kursinya bersamaan dengan makanan mereka yang sudah datang. Asa tersenyum pada semua yang duduk di satu meja tersebut.


“temenku ngasih gratis kok, asal ngga di kotoran banget, maksudnya sampahnya dibuang ke tempat sampah.” Ucap Asa yang membuat terkejut semua teman-teman Issa termasuk Issa juga.


“seriusan?.” Tanya Julian tidak percaya “jangan-jangan tempatnya angker.” Julian mulai curiga.


“nggak kok aman kayaknya.” Jawab Asa kembali.


“emang lo pernah kesana sa?.” Tanya Haikal.


“pernah, tapi terakhir tahun lalu.”


“coba liat villa nya.” Tanya Bagas penasaran.


“alamatnya di jalan sekar nomor 12.”


Semua mulai mengecek ponselnya, villa yang ada di alamat tersebut. namun Issa malah melihat kearah Asa bertanya-tanya membuat Asa yang merasa di perhatikan kembali melihat ke arah Issa.


“kenapa?.” tanya Asa bingung.


“pemiliknya siapa?.” Tanya Issa penasaran.


“punya keluarga teman, tapi-.” Jawab Asa namun pembicaraannya terhenti karena Julian memotong.


“tapi ngga pernah di sewa in ke siapapun, ini punya konglomerat yang dulu sempat tinggal di Bandung tapi kemudian pindah ke Singapura.” Jelas Julian


“hahaha itu dia.” Jawab Asa.


“kok lo bisa kenal sih sa?.” Tanya Issa kembali.


“kenal aja.” Jawab Asa singkat yang kemudian mulai fokus memakan makanannya yang sudah tiba.


“berarti anaknya seumuran lo ya sa?.” Tanya Bagas.


“lah disini malah cucunya yang seumuran kita, eh kayaknya sih seumuran Asa.”


“iya itu temen gue.” Jawab Asa singkat.


“pantesan, baguslah kalo gitu kita kesana aja, lumayan dapet gratis. Tapi Asa juga harus ikut.” Ucap Bagas.


“iya, lo kan juga udah libur sa.” Sambung Issa, walaupun banyak kecurigaan di kepala Issa mengenai siapa teman Asa yang memiliki kekayaan sebesar itu. Mengingat bagaimana mereka mengizinkan Asa untuk menggunakan villa nya berarti Asa sangat dekat dengan keluarganya atau dekat dengan cucu dari keluarga itu yang bisa saja cucu nya laki-laki.


“ntar gue kabarin lagi kalau bisa.”


Sedari tadi Gea hanya diam, antara benci dan sangat kesal. Asa seakan menjadi perhatian semua teman-temannya, padahal biasanya Gea selalu menjadi ratu di tongkrongan Issa, tapi setelah kedatangan Asa, semuanya melihat kearah Asa, padahal Asa sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Gea, terutama kecantikan dan tentu saja Gea lebih kaya jika dilihat dari penampilan Asa yang biasa saja.


Mereka semua berpisah untuk pulang setelah perbincangan mengenai liburan semester, Issa mengantarkan Asa pulang kerumahnya, selama dalam perjalanan tidak ada perbicangan sama sekali, hingga mereka sampai didepan rumah Asa. Asa turun dari motor Issa dan mengembalikan helm yang ia pakai.


“sa, kalo gue ikut, gue boleh ajak Wendy sama Adinda ngga?.” Tanya Asa


“boleh, ajak aja, lebih banyak lebih bagus.” Jawab Issa dengan senang.


“oke makasih.” Asa tersenyum


“gue balik duluan ya.”


“hati-hati.”


Asa masuk kedalam rumahnya setelah Issa meninggalkan rumahnya, mobil milik Diana berada di garasi berarti ibunya berada di rumah sekarang. Asa tidak berharap apapun saat masuk rumah, apalagi saat melihat ibunya yang baru saja keluar dari ruang kerja membawa sebuah map merah.


“Asa udah makan?.” Tanya Diana sambil sibuk sendiri.


“sudah ma.” Jawab Asa singkat “mama berangkat lagi?.”


“iya ada kerjaan di luar kota.”


“kalau mama sama papa cerai, hak asuh kamu akan pindah ke kakek, mama sama papa nggak mau lepasin kamu dengan didikan kakek, jadi kita bicarakan ini lain kali ya sayang, mama pergi dulu.” Diana mengecup kepala Asa kemudian pergi dari rumah lagi untuk bekerja.


Asa hanya menghembuskan nafasnya berat, entah Asa harus bahagia atau tidak karena baginya percuma jika kedua orang tuanya tetap bersama juga akan bertengkar setiap hari, tapi kalau bercerai akan lebih membuat Asa kehilangan semuanya, kehilangan keluarga yang sangat ia sayangi walaupun dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang itu secara nyata. Asa melihat potret fotonya dengan kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga, seakan keluarga yang sangat harmonis.


“non Asa tidak apa-apa.” tanya mba Aila yang membuat Asa menoleh dan tersenyum kecut.


“nggak papa, Asa naik dulu mba.”


“iya non.”


Asa menaiki tangga menuju ke kamarnya.


ASA : [14.01] guys


WENDY : [14.02] gue putus sama Dio


ADINDA : [14.02] seriusan lo?


ASA : [14.02] bukannya baru jalan


WENDY : [14.10] Dio ketahuan jajan


ASA : [14.10] OTW


ADINDA : [14.11] OTW dari kampus


Asa yang akan pergi ke kamar mandi, kembali mengambil hoodie nya dan mengikat rambutnya, mengambil kunci mobil yang ada di laci dan juga tak lupa tas selempang nya. Bukan pertama kali Asa memakai mobil tapi sejak kuliah dia jarang memakai mobil kalau tidak hal yang mendesak, kayaknya juga mobilnya di garasi mulai berdebu karena jarang dipakai, tapi kalau soal manasin mesin jangan di tanyakan karena Asa melakukan itu setiap pagi walaupun tidak dipakai.


“non Asa mau kemana?.” Tanya mba Aila yang sudah memotongi buah untuk Asa.


“mau ke rumah Wendy dulu.”


“ya udah ini dibawa ya non.” Mba Aila memasukkan potongan buah kedalam kotak dan memberikan pada Asa.


“makasih mba, jalan dulu.”


“hati-hati non.”


Asa mengeluarkan mobilnya dan langsung pergi ke rumah Wendy, rumahnya cukup jauh tapi karena sering main kesana jadi terasa sangat dekat. Sebelum ke rumah Wendy, Asa lebih dahulu menghampiri Adinda di kampus karena Adinda tidak membawa kendaraan hari ini ke kampus.


Setelah menghampiri Adinda, mereka berdua langsung ke rumah Wendy yang sebenarnya juga dekat dengan rumah Adinda.


“lo ngga tau kalo Wendy putus?.” Tanya Asa


“harusnya gue yang nanya ke lo, emang lo ngga tau kalo dia putus, kan kemarin baru jalan.”


“Wendy kemarin baik-baik aja kok.”


“gue udah feeling soal Dio sebenarnya, tapi Dio kelihatan sayang banget sama Wendy jadi agak kaget juga sih.”


Mobil Asa sampai di depan rumah Wendy, setelah memarkirkan di depan rumahnya yang kebetulan kosong. Apalagi rumah Wendy yang nampak sepi karena kedua orang tuanya bekerja, artinya Wendy sendiri di rumahnya hari ini.


Adinda membuka pintu rumah Wendy yang tidak di kunci, terlihat Wendy yang berada di depan televisi dengan banyak makanan dan juga tisu, padahal dia tengah menonton film horor. Kebiasaan kalau Wendy galau, dia nontonnya film horror sambil nangis tersedu-sedu dan sampah dimana-mana terutama makanan ringan.


Asa masuk mengikuti Adinda sambil membawa makanan ringan di kantong plastic, makanan ringan yang ia beli di supermarket depan perumahan tempat tinggalnya. Adinda menghampiri Wendy dan memeluknya, begitupula Asa yang juga memeluk Wendy. Tangis Wendy menjadi pecah, sedangkan Adinda dan Asa hanya bisa mengusap punggungnya sambil mengatakan semuanya pasti baik-baik saja.


Setelah Wendy mulai tenang, Asa mengambilkan tisu dan mengusap wajah cantik Wendy yang penuh air mata membasahi. “Wen, jangan sedih lagi ya.” Ucap Asa lirih.


“Asa…” Wendy cemberut kemudian memeluk Asa erat


Asa mengusap punggung Wendy “ngga papa Wen.” Tangan Adinda juga tidak lepas mengusap punggung Wendy lembut.