
Pagi itu Asa berangkat ke Jakarta dengan kakeknya juga beberapa bawahan kakeknya yang memang bertugas untuk menjaga keselamatan tuan Atmaja dan cucunya. Asa dan Tuan Atmaja duduk di kursi belakang kemudi, pekerjaan tetap berlanjut selama dalam perjalanan karena beberapa kali tuan Atmaja mengerjakan pekerjaan kantornya melalui tab yang dia bawa. Sedangkan Asa menemui mimpi sambil mendengarkan musik melalui airpods yang dia bawa. Musik yang di dengarkan Asa berkali-kali hingga hari ini adalah musik milik Issa yang berjudul Mistake, katakanlah Issa belum bisa move on atas keputusannya sendiri, tapi nyatanya dia memang masih belum move on.
Perjalanan yang panjang akhirnya tiba di rumah milik keluarga Asa yang ada di Jakarta, kakeknya juga punya rumah disini tapi dia memilih tinggal di rumah milik orang tua Asa yang telah lama ditinggalkan, hanya saja terkadang juga kedua orang tua Asa berkunjung sesekali karena rumahnya kosong, pembantu Asa waktu itu juga sudah selesai kontrak, atau lebih tepatnya sudah diberhentikan karena tidak ada yang harus dirawat sejak Asa pindah ke Singapura.
Mobil berhenti didepan rumah Asa, melihat sudah sampai di rumah, Asa dan kakeknya keluar dari mobil. Gerbang terbuka, tapi ada dua mobil berada di sana, milik ayah dan ibu Asa. Asa fikir mereka tengah menunggu Asa dan kakeknya tiba.
Asa berjalan lebih dahulu masuk, sedangkan kakeknya masih berbicara dengan seseorang melalui telepon di dekat mobil. Mata Asa membelalak saat melihat kedua orang tuanya berada di ruang keluarga bersantai saling memeluk satu sama lain.
“pah, mah.” Panggil Asa yang membuat mereka berdua saling melepaskan dan melihat kearah pintu.
“Asa.” Diana beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Asa.
Kakeknya tiba di pintu, Diana dan Deon sama-sama terkejutnya saat melihat ayahnya juga datang menemani Asa.
“pah, ngapain papa juga disini?.” Tanya Deon seperti tengah terpergok melakukan sesuatu.
“memangnya tidak boleh datang kerumah sendiri.” Tuan Atmaja langsung masuk melewati Asa dan kedua orang tua nya.
Asa pun ikut berjalan di belakang kakeknya melewati kedua orang tuanya yang sangat aneh. Tuan Atmaja duduk di sofa ruang tamu dengan gayanya yang sangat angkuh, Asa duduk di sebelahnya dengan sangat santai sambil menatap kedua orang tuanya yang duduk di depan mereka.
“kenapa kalian tidak rujuk saja?.” Tanya tuan Atmaja yang membuat Asa, Diana, dan Deon bersamaan menoleh ke pria tua itu. “aku sudah tahu kalau kalian berdua diam-diam bertemu, kalau saling mencintai tidak perlu mempersusah diri melakukan perpisahan.” Lanjut tuan Atmaja.
“tapi papa sama mama udah cerai kek.” Ucap Asa lirih pada kakeknya.
“kata siapa? Mereka mengundur perceraian.” Jawab tuan Atmaja dengan santai.
“apa? Jadi papa sama mama nggak jadi cerai?.” Tanya Asa penasaran.
“bisa papa jelaskan semuanya. Awalnya memang papa sama mama niat bercerai, tapi kami membutuhkan waktu untuk memperbaiki diri masing-masing dan mengintrospeksi diri atas saran dari kakekmu, hingga akhirnya hari ini ketahuan.” Jelas Deon yang entah kenapa membuat Asa sangat senang mendengarnya, dia tidak pernah menyangka kalau akhirnya dia mungkin bisa mendapatkan apa yang dia harapkan selama ini walaupun dia sudah bukan anak kecil lagi.
“pah, kalau kami berniat untuk bersama kembali, apa Asa bisa ikut tinggal dengan kami lagi?.” Tanya Diana penuh dengan harapan.
“bawa saja.” Jawab tuan Atmaja yang membuat Asa menoleh ke arahnya.
“ma, pa. Kalaupun kalian akan kembali bersama, Asa akan tetap tinggal dengan kakek.” Ucap Asa yang membuat kedua orang tuanya sangat terkejut “Asa adalah cucu satu-satunya kakek, kalau Asa tinggal dengan mama dan papa, kakek tidak ada temannya.” Lanjut Asa.
Asa tidak pernah menyangka kalau akhir dari kisah keluarganya akan sehebat ini, kedua orang tuanya kembali bersama. Mereka menyempatkan waktu selalu menanyakan kabarnya, tapi keputusan Asa untuk tinggal dengan kakeknya adalah keputusan yang telah lama dia ambil bahkan sebelum dia berniat untuk datang ke Singapura waktu itu, terutama saat kedua orang tuanya sering bertengkar.
Sore hari, Asa diantarkan oleh sopir kakeknya untuk menemui teman-temannya di sebuah cafe tempat biasa Asa berkumpul dengan kedua sahabatnya. Mereka Wendy dan Adinda sudah lebih awal tiba disana dan memesan minuman yang mereka bertiga suka, cafe 123 yang hingga hari ini masih beroperasi dan banyak pengunjungnya.
Asa duduk diantara mereka berdua, setelah saling memeluk satu sama lain karena saling merindukan. Kabarnya Adinda sudah mendapatkan pekerjaan di Batam, sedangkan Wendy dia masih belum selesai kuliahnya. Tapi Asa baru saja selesai sidang terakhirnya, hanya menunggu nilai yang belum keluar.
“gimana kabar lo?.” Tanya Adinda penasaran, apalagi sekarang Asa semakin luar biasa penampilannya, dia memang anak orang kaya yang hartanya tidak akan habis kalau dia hanya bermalas-malasan hingga tua.
“baik, kabar kalian gimana?.” Tanya Asa santai, sama seperti dahulu, Asa masih seorang yang baik dan murah senyum.
“tanya tuh Wendy, udah dilamar sama Julian.” Sindir Adinda yang membuat Wendy senyum-senyum sendiri.
Wendy menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. “iya, jadi Julian ngajak gue buat tunangan lebih dahulu sambil nunggu dia lulus kuliah dulu.” Jelas Wendy dengan bahagia.
“emang Julian nggak kerja dulu wen?.” Tanya Asa polos, bagi Asa kalau menikah harus di utamakan kehidupan ekonomi, kalau belum bekerja mau dikasih makan apa Wendy nanti.
“Asa isshh... Julian itu udah punya penghasilan sendiri dari bantu perusahaan ayahnya.” Bantah Wendy dengan kesal.
“habisnya kan Julian belum lulus udah lamar-lamar aja.” Jawab Asa kembali.
“udah-udah, hari ini gue mau kita seneng-seneng.” Ucap Adinda.
“wait.” Asa berjalan menuju ke pintu dan menerima paper bag dari sopirnya, dua paper bag yang dia bawa diberikan pada Wendy dan Adinda. “buat kalian berdua, jadi jangan nagih oleh-oleh lagi.” Ucap Asa sambil tertawa.
“demi apa? Ini kan tas yang gue mau.” Ucap Wendy sambil mengeluarkan isi paper bag yang diberikan Asa.
“lo tau aja gue butuh buku ini, mana cetakan pertama lagi, mahal banget ini.” Ucap Adinda tidak kalah heboh.
“gue tahu kalau kalian suka itu, jadi kebetulan aja gue liat jadi ya gue beli, btw dapet buku lo susah tau din, untung kakek gue dapet.”
“thanks tuan Atmaja.” Ucap Adinda senang.
Mereka bercerita banyak hal, dari masa kuliah saat Asa berada di luar negeri hingga mengenai pasangan mereka masing-masing. Asa sangat senang mendengar kedua sahabatnya yang sekarang sudah banyak berubah, mungkin kisah percintaannya saja yang masih stuck tapi melihat teman-temannya seperti ini membuat Asa ikut senang.