
Perdebatan antara Issa dan Manajernya terhenti saat televisi yang menyala di ruangan itu memberitakan mengenai keluarga Atmaja, yang dimana keluarga tersebut merupakan keluarga yang tengah mereka debatkan sejak tadi. Tayangan yang menayangkan secara jelas kedua orang tua Asa di ikuti oleh Asa yang duduk di antara ayah dan ibunya, mereka bertiga tersebut, tak terkecuali Asa yang juga tersenyum pada media yang tengah meliputnya.
Perkenalan pun di mulai dari kedua orang tua Asa, kedua orang tua Asa seperti yang sudah diberitakan bernama lengkap Deon Atmaja dan Diana Cassandra, “ini putri tunggal kami berdua.” Asa tersenyum saat ayahnya mulai menyebut dirinya.
“halo, saya Alyasa Putri Atmaja atau sering dipanggil Asa, anak dari kedua orang tua saya papa Deon Atmaja dan mama Diana Cassandra, umur saya 20 tahun ini, dan saya berkuliah di salah satu universitas yang ada di Indonesia. Sejak awal saya tidak pernah berada di luar negeri seperti yang banyak media beritakan, kedua orang tua saya sudah sepakat untuk menyembunyikan identitas saya sebelum saya mulai dewasa, tapi karena saya sudah dewasa, sekarang saya bisa menjaga diri saya sendiri.
Pertanyaan berikutnya mengenai kabar perceraian.
“saya akan menjawabnya, sebagai pihak terkait, seorang ibu, dan seorang istri. Mengenai perceraian antara saya dan suami saya memang sudah diputuskan sejak awal, difikirkan sangat matang. kami hanya tidak ingin hidup dingin, Asa tidak pernah mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan sebagai seorang anak dari kedua orang tuanya, kami terlalu sibuk berdebat satu sama lain, banyak perbedaan sejak awal kami menikah, kami pikir setelah memiliki Asa semuanya akan berjalan seharusnya seperti yang sudah direncanakan, tapi ternyata salah, terus ada pertengkaran yang diakhiri dengan menyibukkan diri. sehingga membuat kami melupakan keluarga, bahkan anak kami satu-satunya, bersyukur bahwa Asa tumbuh sangat baik, dia sangat mengerti kedua orang tuanya.” jelas Diana yang mendapat persetujuan dari Deon.
Pertanyaan berikutnya mengenai pendapat keluarga besar.
“sebenarnya sejak awal papa sangat menentang perceraian, bahkan sampai hari ini dia tidak akan pernah setuju, tapi ini keputusan kami berdua.” jawab Deon yang tentunya pertentangan itu berasal dari kakek Asa.
Pertanyaan berikutnya pendapat Asa.
“semua pilihan papa dan mama.” jawab Asa singkat sambil tersenyum.
“semua pertanyaan sudah terjawab, kami akan mengakhiri pers hari ini.” ucap Deon yang mulai akan berdiri dari tempat duduknya.
“bagaimana dengan hubungan Asa dengan Issa, penyanyi muda bertalenta dan sangat digandrungi kaum remaja saat ini?.”
“kami sudah selesai pers hari ini.” jawab Deon kembali, namun tangan Asa menghentikan langkah kaki ayahnya dan membuat pria itu duduk kembali.
Asa tersenyum pada media dan mulai berbicara “saya akan meluruskan apa yang seharusnya diluruskan agar tidak ada kesalahpahaman dan merugikan pihak lain, saya mengenal Issa, Alghissa Pradipta seorang penyanyi yang sangat bertalenta dan hebat, dia adalah sosok yang baik, dia teman yang baik. kami berteman belum lama ini, mengenai hubungan, tidak ada hubungan yang lebih spesial antara saya dan Issa, kami hanya berteman, layaknya teman biasa, tidak lebih.” jawab Asa seadanya, memang kenyataannya Asa dan Issa hanya berteman baik “jadi saya mohon tidak ada yang menyangkut pautkan keluarga saya dengan karir Issa, terimakasih.”
tayangan itu terakhir dengan wajah Issa yang melongo, dia tidak menyangka kalau Asa akan mempertaruhkan semuanya untuk memperbaiki masalah Issa, mungkin sudah saat nya Asa mengatakan pada publik siapa dia sebenarnya tapi Issa sangat yakin betul bahwa keputusan Asa ini berkaitan dengan pemberitaan mengenai Issa semalam.
“puas lo bang?.” tanya Issa pada managernya yang sebenarnya cukup terkejut Asa melakukan itu cukup cepat dan memperbaiki semua permasalahan yang ada.
Mobil Issa berhenti di depan rumahnya, pria itu masih berada di dalam mobil enggan untuk keluar, dia melihat notifikasi dari ponselnya yang bukan notif yang dia tunggu. Issa mengirimi pesan pada Asa tapi belum ada jawaban juga sejak tadi pagi, dia penasaran apa yang dilakukan oleh Asa, apakah dia ada masalah ataukah tidak.
Dia tidak bisa lagi sembarangan datang kerumah Asa seperti semalam atau mereka berdua akan terkena masalah lagi kalau ada publik yang tau dan mempostingnya lagi. Banyak pesan masuk dari Bagas yang menanyakan lokasi Issa, tapi Issa hanya menjawabnya di rumah. Issa pun memarkirkan mobilnya di depan garasi dan keluar untuk masuk kedalam rumah.
belum sampai di depan pintu, Bagas datang dengan motornya bersama Julian.
“lo kemana aja sih nyet.” kesal Bagas, karena memang sudah beberapa kali Bagas menghubungi Issa tapi tidak ada jawaban.
“habis dari manajemen.” jawab Issa singkat kemudian melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
“lo nyerah?.” tanya Julian penasaran dengan Issa yang tengah murung.
“gue nggak pernah nyerah, gue rela kehilangan popularitas gue demi sama Asa, tapi gimana kehidupan Asa? apa dia butuh gue? apa gue nggak akan bisa masalah buat dia?.”
Bagas dan Julian terdiam, memang benar kata Issa, belum tentu kehadiran Issa akan memperbaiki seluruhnya minimal tidak menimbulkan masalah untuk Asa. Hingga pesan dari Asa pun diterima Issa, Issa langsung membukanya saat Asa mengatakan kalau dia akhirnya akan pindah kampus di luar negeri karena permintaan kakeknya, itu adalah sebuah perjanjian yang harus Asa lakukan walaupun dia harus meninggalkan teman-temannya.
“Asa akan pergi.” ucap Issa yang kemudian beranjak dari tempat duduknya, dia mengambil kunci motor yang ada di tangan Bagas dan pergi begitu saja.
Issa mengendarai motor milik Bagas dan pergi kerumah Asa, dengan kecepatan tinggi Issa mengendarai motor Bagas, kalau pakai mobilnya pasti akan sangat lama karena harus melewati macet juga.
sampai di depan rumah Asa, lumayan sepi di rumahnya hanya ada mbak Aila yang tengah menutup gerbang rumah Asa. Issa langsung turun dari motor dan menghampiri mbak Aila yang ada didalam gerbang rumah.
“mbak, Asa nya ada?.”
“lohh non Asa nggak bilang ke mas Issa? non Asa nya udah berangkat sejak tadi ke Bandara.”
“makasih mbak.” Issa langsung pergi menuju ke Bandara, Issa mungkin tidak akan bisa menghentikan Asa untuk pergi tapi setidaknya dia bertemu dengan Asa untuk terakhir kalinya sebelum berpisah jauh karena dia ingin mengungkapkan perasaannya.